
Sampai di rumah Kiara di minta Bunda Intan untuk istirahat. Kiara menurut dan pergi ke kamar nya.
Di dalam kamar Kiara termangu menatap langit-langit kamar nya.
Kiara tidak menduga jika hal seperti itu akan terjadi pada nya. Ingin tidak ambil pusing dan tidak peduli tapi sering terjadi.
Saat Kiara ingin memejamkan mata nya, Kiara mendengar ketukan pintu. Kiara menoleh dan melihat Axel.
" Kenapa Axel? "
Tanya Kiara
" Kiara, kamu udah baikan? "
Tanya Axel
" Udah "
Ucap Kiara
" Aku boleh cerita gak? "
Tanya Axel
" Cerita aja "
Ucap Kiara
" Tadi pas aku sama ayah di rumah sakit, aku sempet gak sengaja nabrak laki-laki abis itu aku sempet ngeliat masa lalu nya. "
Ucap Axel
" Terus? "
Tanya Kiara
" Aku ngeliat dia lagi berantem , bukan tapi bertarung sama perempuan tinggi nya kaya kamu pake caping jadi gak keliatan muka nya "
Ucap Axel
Kiara yang mendengar itu diam mematung, apakah laki-laki yang ia sempat lihat saat Nimas Rara santang meminjam tubuh nya.
Laki-laki dengan aura negatif dan jubah hitam.
" Terus? "
Tanya Kiara lagi
" Terus aku minta maaf sama dia abis itu udah "
Ucap Axel
" Muka nya kaya gimana? "
Tanya Kiara
" Gak terlalu keliatan, soal nya dia pake hoodie "
__ADS_1
Ucap Axel
" Yaudah aku pergi dulu ya, kamu istirahat "
Ucap Axel kemudian berjalan keluar dari kamar Kiara.
Kiara menghela nafas kesal, dia sudah lelah dengan semua ini.
Tapi Kiara teringat sesuatu.
" Paman Maung, Paman Maung, Paman Maung "
Kiara memanggil nama Paman Maung sebanyak 3 kali.
Tak lama Paman Maung datang.
" Ada apa Kiara? "
Tanya Paman Maung
Kiara menceritakan apa yang di ceritakan Axel tadi.
Paman Maung diam sejenak.
" Paman, aku mau lanjutin belajar bela diri "
Ucap Kiara
Ucapan nya itu membuat Paman Maung menoleh.
" Apakah kau yakin? "
Tanya Paman Maung
Ucap Kiara
" Baiklah kalau begitu, pejamkan mata mu "
Ucap Paman Maung yang di angguki Kiara.
*****
" Sekarang buka mata mu "
Ucap Paman Maung
Kiara pun membuka mata nya.
" Paman ayo mulai "
Ucap Kiara yang sudah bertekad
Paman Maung menganggukkan kepala nya, dan mengajarkan Kiara beberapa gerakan yang langsung di ikuti dengan baik oleh Kiara.
Paman Maung terdiam melihat stamina Kiara yang tidak seperti biasa nya.
Pasti Nimas sudah memberikan air dari mata air suci kepada Kiara. Batin Paman Maung.
__ADS_1
Kiara sendiri memutuskan untuk menerima semua nya dengan lapang dada. bagaimana diri nya punya kemampuan bisa melihat makhluk ghaib, kejadian yang berhubungan dengan alam ghaib dan hal-hal yang misterius lain nya yang Kiara terima.
Kiara sudah bertekad untuk mengangkat kepala nya tinggi-tinggi dan tidak akan pernah menundukkan kepala nya, jelas karena dia ingin melindungi orang-orang yang dia sayangi.
Apalagi saat Kiara mendengar bahwa Axel sudah bertemu dengan laki-laki berjubah hitam itu.
Tidak, tidak akan Kiara tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada orang-orang yang ia sayangi.
*****
Setelah Kiara selesai berlatih bela diri bersama Paman Maung, Kiara menatap jam yang menunjukkan 12.00 siang.
Kiara memutuskan untuk mandi dan sholat.
Setelah selesai mandi dan sholat Kiara turun ke bawah dan melihat Mbak Inah sedang menyiapkan makan siang.
" Mbak Inah, Kiara boleh bantu? "
Tanya Kiara
" Gak usah non, ini udah tinggal sedikit lagi, non kan abis pulang dari rumah sakit "
Ucap Mbak Inah
" Gak papah Mbak "
Ucap Kiara memaksa
" Anu, yaudah deh non Kiara bisa tolong cuci sayuran sana "
Ucap Mbak Inah sembari menunjuk sayuran yang habis di rajang dengan rapih.
Kiara menganggukkan kepala nya dan mengambil sayuran itu.
Setelah selesai mencuci sayuran, Kiara melihat sang bunda dan ayah yang baru keluar dari kamar. Kiara mendekati nya.
" Bunda, Ayah "
Ucap Kiara
" Sayang, kamu udah baikan? "
Tanya Ayah Fandi
" Udah ayah "
Ucap Kiara
" Yaudah, bisa tolong panggilin Axel buat makan? "
Tanya Bunda Intan
" Oke "
Ucap Kiara kemudian pergi untuk memanggil Axel makan.
Setelah Kiara memanggil Axel, Kiara dan Axel langsung duduk di meja makan bersama dengan kedua orang tua nya.
__ADS_1
Mereka makan bersama, Kiara menghela nafas nya dia akan mencoba mempertahankan suasana hangat ingin sebisa mungkin.