
Aditya PoV.
Sudah dua hari ini. Aku menunggu Silfi hingga jam sebelas. Namun, belum ada Mama Latania datang.
Aku menjaga Silfi sambil mengerjakan pekerjaanku menurut Papa Johan, tidak harus berangkat ke kantor hari ini.
Padahal aku ingin sekali bertemu Mawar yang sudah aku abaikan sejak kemarin. Beginikah beratnya mempunyai istri dua? oh ya Tuhan... nasi sudah menjadi bubur, semua harus aku jalani dengan ikhlas.
Akhirnya lagi-lagi Mawar yang aku korbankan. Oh Mawar... ragaku memang di sini. Tetapi... jiwaku melayang bersamamu.
Aku tidak akan berhenti mencintaimu istriku... seperti matahari yang selalu mencintai bumi.
Kamu hadir, dalam hidupku memberi cinta, membawa bahagia, memberikan rindu yang takan ada habisnya.
Jika kamu tahu Mawar... semua tidak seindah yang kamu bayangkan. Jika kamu nanti tahu, aku telah beristri lagi.
Betapa tidak? aku harus merawat Silfi. Dan harus memenuhi tanggung jawabku sebagai SDM.
Mengadakan pelatihan, pembinaan, dan bahkan pendidikan agar dapat meningkatakan karyawan dan mengembangkan karirnya.
Hanya kamu Mawar... penyemangatku andai ada kamu disisiku.
"Mbak, makan siang dulu ya" tampak petugas mengantar makan siang untuk Silfi dan meletakkan di meja samping Silfi.
Membuyarkan lamunan ku.
"Terikasih" ucapnya.
Aku menatap Silfi ingin bangun tampak kesulitan. Aku segera berdiri membantu Silfi duduk agar posisi nyaman.
"Makan dulu, aku suapi ya?" kataku, ia mengganguk.
"Dit, terimakasih ya" katanya, bibirnya bergetar menahan tangis setelah menghabiskan makanannya.
"Untuk apa?" tanyaku. Aku hapus air matanya yang mulai menetes.
"Aku nggak berguna Dit, aku hanya bisa menyusahkan kamu"
"Kamu sudah bersedia menikahi wanita penyakitan seperti aku"
"Bahkan, aku belum bisa memberikan kewajiban aku sebagai istri melayani kamu"
"Seettt..." Aku tutup bibirnya dengan jariku. Aku hapus lagi air matanya yang semakin mengalir deras. 😢.
"Assalamualaikum..." kami serentak menoleh ke arah pintu.
"Waalaikumusallam..."
"Maaf ya Dit... kamu nggak ada yang gantiin. Mama ada urusan sebentar soalnya" tutur Mama Latania, ia berjalan menuju sofa dan meletakkan tas di atas meja.
"Nggak apa-apa Ma" jawabku berbohong.
"Sekarang kamu ke kantor ya... Papa menuggu" ucap Mama.
"Iya Ma" sahutku. Aku segera berkemas sebelum ke kantor akan menemui istriku terlebih dahulu.
"Aku berangkat dulu ya..." aku cium kening Silfi. Ia mengangguk kemudian mencium punggung tanganku.
"Hati-hati Dit" ucapnya setelah aku menggunakan jas.
"Iya, kamu juga hati-hati ya, semoga cepat sembuh." ucapku sambil mendekat dan mengelus kepala pelontosnya.
__ADS_1
"Adit berangkat Ma"
"Iya Dit"
Tidak mau buang waktu lagi, aku segera masuk kedalam mobil. Ambil handphone ternyata sudah garis merah harus di charger.
"Mudah mudahan... masih bisa" gumamku.
Segera aku tulis pesan, jika buat telepon pasti tidak akan cukup batre nya.
"Maw... maaf ya, aku dari kemarin nggak mengabari kamu"
"Oh, memang Mas lagi dimana? nggak kenapa-kenapa kan?"
"Nggak apa-apa kok sayang, aku lagi kerja, ada tugas dari boss" ucap ku dalam pesan. Tidak seluruhnya berbohong memang ada tugas dari mertuaku.
"Oh, ya sudah... yang penting Mas nggak kenapa-kenapa"
"Mungkin aku pulangnya malam ya, jika kemalaman tidur saja" "Sebenarnya... ada yang Mas ingin bicarakan sama kamu"
"Okay...Mas, aku tunggu"
"Gitu dulu ya, batrenya habis nih"
"Okay... Mas... I love you"
"I love you too much"
Aku tutup handphone, kemudian bersandar di jok mobil. Pikiran ku melayang ke mana-mana. Istriku memang sangat baik. Tidak pernah marah kepadaku. Bahkan, perlakuan Ibuku yang selalu menyakitinya pun tidak ia ambil hati.
Tetapi... apakah dia bisa memaafkan aku setelah aku membohongi, menyakiti, dan menduakan?
Aku hanya bisa pasrah saat ini. Aku segera bangkit dan menyalakan mobil kemudian berangkat ke kantor.
*****
Sebelum dzuhur Mawar sudah selesai melakukan serangkaian tes. Ia duduk di lobby menunggu Intan.
"Sudah lama menunggu kak Mawar?" tanya Intan berjalan cepat mendekati Mawar.
"Baru kok, cari makan yuk" ajak Mawar, ia ingin traktir makan Intan. Karena, ia sudah memberi informasi tentang kampus yang sedang mengadakan tes beasiswa.
"Ayo kak, mau makan apa?" tanya Intan menoleh Mawar yang berjalan bersebelahan.
"Tadi waktu berangkat, ada warung gado-gado, di pinggir jalan. Seger kali ya" sahut Mawar di tengah terik matahari, begini membayangkan makan gado-gado pasti segar.
"Okay... kak"
Mereka berjalan menuju tempat gado-gado. Mawar segera memesan dua porsi gado-gado pakai lontong.
"Kamu di jemput lagi Tan?" tanya Mawar sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Nggak kak, Mas Abim kan kerja" sahut Intan.
"Oh, terus... mau naik apa?" tanya Mawar. Sambil membersihkan mulutnya dengan tissue. Karena sudah selesai makan.
"Naik taksi kak, sebab, Ayah sama Ibu kerja juga" ucap Intan.
"Kakak sendiri naik apa?" Intan balik bertanya.
"Pesan Ojol saja nanti" sahut Mawar kemudian meneguk air putih dalam gelas.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu disini sama orang tuamu? terus kalau di kampung tinggal sama siapa?" tanya Mawar, ia pikir ibunya Intan tinggal di kampung.
"Di kampung tuh di tempat nenek kak, aku sekolah di kampung sejak SMP sampai SMA." tutur Intan.
Mawar menganggukan kepala paham.
"Kita pulang yuk" ajak Mawar.
"Ayo, kakak main saja dulu kerumah aku kak" tawar Intan.
"Lain kali dech Tan, aku mau pulang nih nyiapin makan malam nanti sore buat suami kakak" sahut Mawar.
"Kak Mawar ini alesan! masak buat nanti malam masih lama kali kak" ahahaha... mereka pun tertawa. Kemudian berpisah, Mawar memesan Ojol. Kemudian Intan memesan taksi.
******
Sore hari setelah beristirahat Mawar memasak di dapur di bantu Simbok. Seperti biasa Mawar memasak kesukaan Adit.
Selesai masak, Mawar mandi dan ganti pakaian. Setelah rapi, Mawar berdiri di balkon, tanganya bertumpu di pagar. Angin sore sepoi-sepoi menerpa wajahnya.
Sinar matahari yang hampir tengelam tampak indah lukisan sang penguasa langit dan bumi. Membuat siapa pun yang melihatnya enggan untuk berpaling.
Tangan kekar memeluk perut rampingnya. Mawar tidak kaget, karena sudah tahu tangan siapa.
"Seeing your smile is happiness for me" ucap Adit.
Mawar kemudian berbalik badan.
"Your smile is literallily the cutest thing I 've ever seen my life. Mawar menimpali.
Cup. Adit mengecup bibir Mawar yang selalu ia rindukan.
"Mas kemana aja sih? kok nggak kasih kabar!" kata Mawar mengerucutkan bibirnya.
"Aku tuh kesel... tau nggak! aku sudah masakin rendang malah kasih kabar saja nggak! boro-boro pulang" omel Mawar.
"Maaf" hanya itu yang terlontar dari mulut Adit.
"Jangan-jangan Mas ada wanita lain! hayo... ngaku?" todong Mawar.
Deg deg deg. Jantung Adit terpompa cepat pandangannya lurus ke depan memandangi lembayung senja. Tidak berani menimpali atau menatap Mawar.
"Sudah... mendingan Mas mandi dulu dech... biar segar" kata Mawar.
"Iya" sahut Adit melangkah kekamar mandi. Niat hati ingin bicara yang sudah di susun sejak tadi pagi pun hilang. Setelah menatap wajah sendu Istrinya.
*****
Malam harinya.
"Mas" aku mau bicara. ucap Mawar yang sedang tidur berbantalkan tangan suaminya.
"Maw" Ada yang ingin aku bicarakan.
Ucap mereka bersamaan.
"Hehehe..."
Mereka mentertawakan ucapannya yang kompak. Saat ini mereka sedang bercengkrama di tempat tidur.
"Mas dulu dech, yang ngomong"
__ADS_1
"Kamu saja dulu" sahut Adit.
Mereka pun terdiam masih merangkai kata masing-masing.