Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Ulangtahun.


__ADS_3

"Happy birth day to you"


"Happy birth day to you"


Tepuk tangan meriah dari anak-anak yatim piatu dan juga tetangga komplek, yang sudah berkumpul di kediaman Mawar.


Tampak lantai bawah sudah di sulap. Dihiasi balon-balon, kado bertumpuk disalah satu meja.


Mawar dan Adit, bukan hanya mengundang anak yatim, anak-anak komplek sekitar juga diundang.


Bhanu sedang duduk di kursi di dampingi kedua orang tuanya. Ya, saat inilah tepatnya satu tahun usia Bhanu. Mawar merayakan dengan wujud syukur atas rezeki yang Allah titipkan kepada keluarga kecilnya, dengan mengundang anak yatim.


"Selamat ulangtahun cucu Uti" Pak Sutisna dan Ibu Riska meletakkan kado, diatas meja setelah mencium cucunya lalu berdiri disamping Anak kandung dan menantunya.


"Terimakasih Uti... Abah..." ucap Mawar dan Adit.


"Atiiih..." satu kata keluar dari mulut Bhanu yang baru belajar bicara.


"Sama-sama sayang" Sahut Pak Sutisna dan Ibu Riska.


"Cucu kesangan... muach... muach..." Ibu Reny dan Pak Renggono juga membawa kado. "Ini dari Eyang akung, dan Eyang Uti" sambung Bu Reny. Meletakkan kado juga.


"Ini dari tante" Diah juga menyerahkan kado.


"Terimakasih tante" Mawar mewakili Bhanu.


Sementara Melati sibuk membagikan nasi kotak, kue-kue, dan juga amplop, kepada para anak yatim di bantu Diah setelah datang.


"Selamat ulang tahun... selamat ulang tahun..." Papa Johan dan Mama Latania yang baru datang beryanyi sambil bertepuk tangan keduanya tampak bahagia.


Disusul Riko di belakang membawa kado yang sangat besar, entah apa isinya.


"Terimakasih kakek... nenek..." ucap Mawar.


"Sama sayang..."


Kemudian datang Abi Azis, Umi kalsum, Aditia, dan Ais istrinya yang sudah berperut besar. Rupanya Aditia dan Ais istrinya, cepat akan diberikan momongan.


"Terimakasih... Om Azis... tante Kulsum" ucap Mawar setelah keduanya memberi selamat kepada Bhanu.


"Kak Mawar... anakmu tampan sekali "ucap Ais.


"Siapa dulu dong, Ayahnya" Adit tersenyum kemudian tepuk dada.


"Tapi Bhanu nggak ada mirip-miripnya sama kak Adit tuh, semuanya mirip kak Mawar, iya nggak Mas?" Ais menoleh Aditia suaminya.


"Betul" ucap Aditia.


Adit langsung menatap anak dan Istrinya bergantian kemudian tersenyum.


"Duduk Syah" ucap Mawar kasihan melihat Ais yang sudah hamil tujuh bulan.


"Terimakasih kak" Ais pun menggandeng suaminya mencari tempat duduk.


"Sayang, lihat... Bhanu mempunyai kakek dan nenek empat." Mawar menggendong Bhanu mendekati para sesepuh yang berbaris rapi.

__ADS_1


Pak Sutisna, Ibu Riska. Pak Ronggono, Ibu Reny. Papa Johan Mama Latania, dan yang terakhir Abi Azis dan Umi. Mawar memberi tahu Bhanu satu persatu walaupun sudah sering bertemu.


"Mama nggak di aku nih?" Mama Sahina dan Papa Wahit baru datang di ikuti Abim dan Intan.


Mama Sahina segera bergabung kepada para pinisepuh. Setelah mencium Bhanu dalam gendongan Mawar.


"Terimakasih Bu, Pak sudah datang." ucap Mawar.


"Sama-sama sayang" sahut Mama Sahina.


Kemudian Abim dan Intan menemui Melati yang sedang membagikan kue.


"Hai... calon kakak ipar" Intan berseru menghampiri Melati diikuti Abim.


Melati bersama Diah yang sedang menyusun kue, mendongak serentak.


"Jangan lebay" Melati mencubit bibir Intan. Pasalnya, Melati tidak enak dengan Diah.


Sementara Diah diam seribu bahasa tetap fokus dengan kue nya.


"Kak Diah, apa kabar?" tanya Intan.


"Kabar saya sedang tidak baik" ucapnya kemudian meninggalkan mereka.


"Yee... orang disapa, sinis! sudah bagus aku mau menyapa" Intan kesal, tapi sudah tidak ada orangnya.


"Sudah... jangan mendramatisir" Melati menengahi. "Sudah yuk, bantuin aku, ini bawa ke anak yang di ujung sana, belum kebagian amplop mereka" Melati memberikan beberapa amplop kepada Intan.


"Siap kakak Ipar" Intan melenggang pergi senang bisa menggoda Melati.


Melati hanya menggelengkan kepala. Kemudian kembali meletakkan kardus-kardus makanan kedalam nampan agar memudahkan ia untuk mengangkatnya.


"Saya bantu apa?" tanya Abim basa-basi.


"Nggak usah bantu apa-apa kak, tolong kak Abim. Bersikaplah lebih dewasa, selesaikan masalah kakak dengan Diah!" ketus Melati.


"Maksudnya apa?" tanya Abim entah tidak tahu, atau memang pura-pura tidak tahu.


"Nggak usah pura-pura nggak ngerti! kak, saya maupun Diah sudah sama-sama dewasa. Jadi tidak bisa kakak bohongi!" Melati berdiri ingin mengangakat nampan. Namun lenganya ditahan Abim.


"Ada apa dengan kamu Mel? bukankah kamu yang sudah menerima perjodohan orang tua kita, terus kenapa kamu ragu?" kata Abim santai.


Melati menghempas tangan Abim. "Tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah sudah cukup tegas setiap mengambil keputusan."


Melati pun pergi meninggalkan Abim Melati kesal. Pasalnya Abim tidak bisa memilih antara dirinya dengan Diah. Persetan dengan cinta, nyatanya selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan.


Sudah cukup kakaknya saja, yang mengalami penderitaan selama ini hanya gara-gara mempertahankan cinta. Tetapi tidak, untuk dirinya. Melati kemudian bergabung dengan Intan dan Diah.


Abim menjatuhkan bokongnya di kursi sofa. Abim memijit pelipisnya entah apa yang ada dalam pikiranya hanya Abim yang tahu.


*******


Waktu sudah sore, acara ulangtahun telah usai, anak-anak sudah pulang. Namun, para pinisepuh masih berbincang-bincang. Kecuali Abi Azis dan keluargnya tadi sudah pulang. Tampak Adit dan Abim pun turut bergabung.


"Bagaimana rencana pernikahan Abim dengan Melati Na, bukankah kalian ingin menjodohkan mereka?" tanya Mama Latania kepada Sahina dan Riska.

__ADS_1


Abim yang sedang berbincang-bincang dengan Adit menoleh. Sedetik kemudian kembali menunduk.


Mama Sahina menatap Ibu Riska minta penjelasan.


"Sepertinya Melati masih belum siap menikah sekarang jeung Latania" sahut Bu Riska.


"Loh, memang kenapa?" tanya Mama Latania.


"Sekarang masih 21 tahun jeung, dia sudah memutuskan akan menikah di atas usia 23 tahun. Saya tidak bisa memaksa kehendaknya." terang Bu Riska dan di angguki oleh Mama Sahina.


"Begitu kan Bim?" tanya Pak Sutisna. Abim tidak menjawab hanya membalas dengan senyuman.


"Iya Mas Sutisna, jika belum mau menikah, biarkan saja, anak muda sekarang tidak mau jika dipaksa- paksa" terang Papa Johan.


"Betul, Pak" sahut Pak Sutisna.


Pak Ronggono dan Ibu Reny hanya menjadi pendengar setia.


"Mas gendong Bhanu dulu ya, aku mau mandi" Mawar menghampiri Adit, menggendong Bhanu.


"Ibu saja yang menggendong" ucap Ibu Reny yang paling dekat dengan Mawar. Ibu Reny mengangsungkan tangannya, tapi Bhanu tidak mau.


"Sama Uti ya" ucap Ibu Riska, Bhanu juga tidak mau.


"Ya sudah... sekarang tinggal pilih Bhanu mau di gendong siapa?" tanya Papa Johan.


Bhanu mengansunkan tangan ke Mama Latania.


"Oh, sini, sini," Mama Latania kegirangan, lalu menggendong Bhanu. "Nah, aku kan yang terpilih menjadi nenek" ucap Mama Latania bangga. Kemudian semua tertawa melihat wajah Mama Latania seperti anak kecil menang berebut mainan.


******


Malam harinya keadaan sudah sepi, semua sudah pulang. Pak Sutisna, Ibu Riska, dan Melati pun sudah tidur.


Mawar duduk di depan kaca, melihat tampilan dirinya setelah membersihkan wajah.


"Yang..." Adit memeluknya dari belakang dagunya ia tempelkan di pundak Mawar. Adit mencium Aroma tubuh Mawar membuatnya bergairah.


"Apa" kata Mawar memandang wajah Adit dipantulan kaca.


"Sudah waktunya Bhanu kita beri adik." ucap Adit, lalu menggendong Mawar membawanya keranjang.


"Maaaasss..."


...Tamat. ...


******


Haii... reader yang baik hati, dan tidak sombong. Terimakasih yang masih setia mengikuti *Cerita Mawar* hingga part 90. 💪💪💪


Akhirnya budhe bisa menuntaskan cerita ini. Maafkan budhe karena sudah membuat hati kalian campur aduk.


Terimakasih atas komentar kalian yang membangun. Membuat budhe semangat menulis. Kadang sambil nglenggut ngantuk tetap budhe teruskan menulis.


Salam hangat selalu, love you ❤❤❤

__ADS_1


Jika berkenan, ikuti cerita Budhe yang baru. CINTA SEGITIGA.



__ADS_2