
Setelah pura-pura menolak makanan yang di bawa menantunya. Ibu Reny kemudian keluar menemui Ibu Riska lalu duduk berhadapan.
"Apa kabar Mbak Reny" Ibu Riska menjabat tangan besanya.
"Kabar baik, besan sendiri bagaimana?" Ibu Reny balik bertanya.
"Alhamdulillah... baik" sahut Bu Riska singkat.
"Ibu tidak mau pulang? memang tidak kasihan dengan Renggono, harus masak sendiri, cuci baju sendiri, makan pun sendiri. Kasihan kan dia" kata Pak Sutisna. (Almarhum MG Z) 🤣🤣🤣.
"Mas Renggono saja nggak masalah kok, kenapa besan justeru yang pusing sih?! ketus Ibu Reny. "Mas Renggno itu memang biasa begitu, walaupun ada saya juga, mengerjakan apa-apa sendiri, hebat to? sayang banget sama saya" sahut Bu Reny dengan bangganya, padahal Pak Renggono melakukan itu hanya karena tidak betah melihat rumahnya berantakan setiap hari.
Pak Sutisna tidak menyahut lagi. "untuk apa mengajak ngobrol orang sinting? pikirnya.
"Mbak, kontrak rumah sebesar ini berapa perbulan?" tanya Bu Riska kepada besanya. Bu Riska berpikir, kontrak rumah besar, dan mewah seperti ini pasti mahal, apa lagi di kota besar seperti Jakarta pasti merogoh kocek yang besar.
Bu Riska belum tahu jika rumah ini, adalah rumah Mawar yang di berikan Mama Latania. Sedangkan yang Ibu Riska dengar kabar dari kampung bahwa besanya kontrak rumah di Jakarta.
"Loh, loh. Sampean belum tahu to? rumah ini kan pemberian menantu saya, yang notabene orang kaya itu" dengan sombongnya beliu berucap.
"Ini di minum dulu Bu" Mawar membawa nampan, berisi 6 gelas teh yang masih ngebul, lalu meletakkan satu persatu di depan Bapak, Ibu, dan mertuanya.
"Terimakasih nak" ucap Ibu Riska.
Sedangkan Ibu Reny hanya diam saja mengangkat satu gelas kemudian. "Gleg" "Aaaggh... panaaas..." Ibu Reny berlari kebelakang ambil air putih dari dispenser lalu meneguknya untuk mengurangi rasa ba al pada lidahnya karena kepanasan.
Mawar tahu akan hal itu ingin mengejarnya. Namun Pak Sutisna menahan dan menyuruh anaknya duduk di sebelahnya.
"Hihihi..." Melati cekikikan rasanya ingin guling-guling melihat kecerobohan Ibu Reny. Pasalnya, sudah tahu minuman masih ngebul main teguk.
"Seeettt..." Ibu Riska menutup mulutnya dengan jari agar Melati diam.
"Huh! ceroboh sekali sih kamu?! sarkas Bu Reny kepada menantunya setelah sampai di ruang tamu menatap Mawar mengitimidasi.
"Maaf bu" sahut Mawar, walaupun bukan salahnya Mawar menatap mertuanya iba.
__ADS_1
Pak Sutisna ingin berucap rasanya kesal didepanya saja besanya itu berani memarahi anaknya. Apalagi jika tidak ada dirinya. Namun, dengan cepat Ibu Riska menggenggam tangan suaminya memberi isyarat seolah berkata "Biarkan saja, tidak usah di tanggapi"
Dulu Pak Sutisna tidak pernah sekalipun mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Namun setelah mengetahui Adit menikah lagi rasa sabarnya hilang 180 derajat.
"Kita teruskan pembicaraan kita tadi" ucap Bu Reny duduk kembali sambil mengulum-ngulum lidahnya karena masih terasa tidak enak.
"Adit itu... sekarang punya istri kaya raya loh. Ya ini contohnya, saya di berikan rumah semewah ini, enak to?" Bu Reny memutar telunjuk, menunjuk sekeliling.
"Tidak seperti anakmu yang hanya bisa menadah saja!" ucapnya, kemudian melirik Mawar merendahkan.
Mawar menunduk sambil memainkan jari Pak Sutisna yang di sebelahnya, tidak perduli ocehan mertuanya baginya kata-kata itu sudah sering ia dengar.
"Adit itu sekarang jadi orang kaya loh, harusnya anakmu senang, kuliah di bayarin, di buatkan rumah, enak to!" nyiyir Bu Reny ridak tahu jika besanya mendengarkan ocehan yang kampungan itu, yang tadinya ingin silaturahmi dengan baik-baik gagal sudah.
Bu Riska mendadak hatinya panas, mendengar penghinaan Bu Reny.
"Maaf Mbak, sebagai laki-laki harusnya Adit malu jika yang Mbak bilang itu benar"
"Jangan Mbak pikir saya tidak tahu perjuangan anak saya selama ini" Air mata Bu Riska pun luruh.
Pak Sutisna mengusap-usap punggung istrinya.
"Kalau saya jadi Mbak Reny, akan jatuh harga diri saya, karena yang Mbak pikirkan hanya uang-uang, dan uang"
"Sampai mengemis kepada kedua menantu Mbak!" Ibu Riska sudah sangat emosi.
"Saya tidak perlu cerita lagi Mbak, orang satu kampung tahu kok bagaiman pengorbanan anak saya, bahkan dunia pun tahu"
"Selama ini saya hanya diam, karena sebagai orang tua saya tidak mau memaksa kehendak anak saya. Sebab, anak saya dan anak Mbak saling mencintai. Namun, hati saya semakin lama semakin sakit Mbak!" huhu huuu.
"Dulu, suami saya melarang anaknya untuk menjadi menantumu, karena suami saya tahu hal ini pasti akan terjadi"
"Tetapi sebagai orang tua yang tahu perasaan anak saya, dan anakmu saya yang membujuk suami saya agar merestui mereka untuk bersatu, tapi saya sekarang menyesal."
"Ternyata saya sudah salah, karena memasukkan anak saya, kekandang hari mau." hiks hiks Bu Riska bersedih sambil meluapkan emosinya.
__ADS_1
"Ibu... jangan begitu Bu..." Mawar bangkit dari duduknya, kemudian menubruk pangkuan ibu lalu telungkup bahunya bergetar sambil menangis. Mawar hatinya tak kalah hancur mendengar tangis Ibunya yang selama ini, air mata itu tidak pernah ia lihat.
Melati pun ikut menggeser duduknya merapat ke samping Ibu tanganya memeluk pinggang Ibu, dan menempelkan kepalanya di pundak Ibu ikut menangis. Ketiga wanita itupun saling berpelukan dan menumpahkan air matanya.
"Uh! drama amat sih!" boro-boro menyadari kesalahanya Ibu Reny justru bicara ketus.
"Brak"
Pak Sutisna tiba-tiba bangkit, kemudian menggebrak meja tepat di depan Bu Reny, hingga Bu Reny terkejut melompat dari kursi berjalan mundur hingga bersandar ke tembok, kakinya gemetaran menatap mata Pak Sutisna yang seperti ingin membunuh.
"Crecek , krecek, krecek."
Bu Reny menunduk menatap celananya sudah basah. Semenjak dari bangun tidur tadi belum sempat pipis, hingga membanjiri lantai.
"Ada apa ini?" Diah mendekat, mendengar gebrakan meja tadi rupanya ia terbangun.
"Heh! kamu ini anak kulihan kan?" Pak Sutisna mendekati Diah.
"Ajari ibumu ini, agar bisa bersikap sopan! setidaknya sedikit mengurangi dosa, sepertinya tidak lama lagi ibumu akan mati!" pungkas Pak Sutisna menunjuk Bu Reny.
"Kita pulang sekarang." kata Pak Sutisna tegas, kemudian membangunkan anak dan istrinya yang masih menangis.
Ketiganya berdiri, Bapak memeluk pundak Istrinya melangkah keluar di ikuti Mawar.
Melati diam sejenak ingat kata-kata Bu Reny kepada kakaknya yang dengan sombongnya kolesterol jika makan daging. Sikap jahilnya bangkit setidaknya menghibur diri sendiri.
Tidak banyak bicara Melati jalan ke dapur mengangkat rantang yang masih penuh membawanya pulang akan lebih baik, daripada memberi makan orang sombong seperti mertua kakaknya.
Melati balik badan melewati Ibu Reny dan Diah. "Dendengnya saya bawa pulang lagi Bu, saya kasihan kalau kolesterol Ibu kambuh" Melati mengangkat rantang di depan Bu Reny lalu menggoyang-goyang.
Diah tidak tahu apa yang terjadi hanya diam seribu bahasa.
Melati melirik ompol Bu Reny yang menggenang. "Ih jijik" ucapnya kemudian keluar rumah menyusul keluarganya.
Bu Reny hanya bengong menyesali rantang yang di bawa kembali oleh Melati.
__ADS_1