
"Mau di masak apa singkongnya Bu?" tanya Mawar. Kemudian ambil mangkok untuk menempati gudeg. Memisahkan sayur krecek, telur, opor ayam dan sayur nangka.
"Nggak tahu! orang selevel saya masa di suruh ngupas singkong!" sahutnya bersungut-sungut.
"Sombong!" Mawar membatin.
"Diah kemana Bu? kok nggak kelihatan?" Mawar mengedarkan pandangannya.
"Di kamar kali?!
"Membawa apa kamu?" tanya Bu Reny, sebab tercium aroma sedap masakan membuat perutnya keroncongan, tanpa menoleh obyek, sok sibuk dengan singkong dan pisau ditanganya.
"Gudeg Bu, nanti buat makan malam." sahut Mawar sambil mencuci tangan karena tanganya ketumpahan kuah opor ayam.
"Oh, mbok ya, kalau mau ngasih mertua tuh mentahnya saja, enakkan masakannya Bapak, daripada membeli gudeg! kalau makan gudeg tuh suka kembung perut saya!" omel Ibu Reny tapi dalam hatinya ingin cepet mencicipi gudeg.
"Ya kalau kembung gampang to Bu, tinggal di kerok." Mawar terkekeh.
"Soalnya saya sudah 6 tahun menjadi menantu Ibu, jadi paham apa kesukaan Ibu, makanya saya membeli gudeg."
"Kalau Ibu pura-pura nolak, nanti saya ikutan Melati, saya bawa pulang gudeg nya." sindir Mawar.
"Apa kamu bilang?! tukas Ibu Reny menatap Mawar tajam.
"Oh, Ibu mau mentahnya? tenang to Bu, nanti aku kasih kok" sahut Mawar mengalihkan. Mawar senyum-senyum sendiri tanpa memperhatikan Bu Reny, selalu menggunakan akhir kata to.
"Kenapa kamu senyum-senyum?! Bu Reny kesal menantunya itu di omeli malah tersenyum.
"Ya senang to Bu, kan suami saya sudah pulang."
"Klontang" Ibu Reny menjatuhkan pisau dari tanganya.
"Yang benar kamu? awas! jangan meledek orang tua, nanti kamu kwalat!" tuding Bu Reny.
"Ya benar lah Bu, tuh orangnya di luar."
Bu Reny kemudian berdiri, bergegas keluar.
Mawar menatap langkah mertuanya yang setengah berlari, sampai tidak terlihat. Mawar tersenyum.
"Sudah kebal Bu, ternyata aku menikah dengan anakmu ada hikmahnya. Menjadi lebih kuat, menghadapi empat orang yang mempunyai karakter berbeda." gumam Mawar.
Mawar kemudian melanjutkan mengupas singkong. Ia cuci lalu di susun di dalam panci setelah di potong-potong direbus dengan gula merah. Yang Mawar tahu, itu makanan kesukaan mertuanya laki-laki.
Sambil menunggu singkong empuk Mawar membuat teh manis menyusun kue kedalam piring yang ia beli di restoran tadi, kemudian membawanya keluar.
****
"Adit anakku... hiks hiks hiks, kamu kemana saja Ibu kangen nak" Bu Reny memeluk anaknya.
"Ceritanya panjang Bu, nanti kalau sudah istirahat aku ceritakan" Adit menenangkan Ibunya yang menangis sesegukan.
Ibu melepaskan pelukanya, kemudian mengajaknya duduk di sofa. Di sofa sudah ada Diah, yang masih mengusap sisa air mata setelah tadi menangisi kakaknya juga.
"Kok kakimu masih pincang Dit? pasti sakit sekali ya?" Ibu memijit-mijit kaki anaknya.
__ADS_1
"Sudah nggak begitu kok Bu" sahut Adit.
Obrolan terjeda karena Mawar membawa minuman. Setelah meletakkan di atas meja, Mawar ikut bergabung duduk di sebelah suaminya.
"Riko kemana Mas? kok nggak ikut gabung?" tanya Mawar.
"Sudah pulang dia, mengembalikan mobil Papa, sekalian ambil motor." terang Adit.
"Oh" hanya itu jawaban Mawar.
"Istrimu hebat loh Dit" Pak Renggono mengganti topik. semua mata menoleh Mawar.
"Memang hebat Pak, istri siapa dulu dong" Adit mengusap kepala istrinya.
"Bapak bisa saja." sahut Mawar.
"Kamu pasti belum tahu kan Dit, Istrimu itu sudah menjadi pengusaha" tutur Pak Renggono, bangga dengan kerja keras menantunya itu.
"Dia itu membuka warung baso, laris manis, di tambah lagi membuka minimarket." tutur Bapak.
"Oh iya, aku sudah tahu" sahut Adit. Selama di Malaysia Adit minta anak buahnya memantau Mawar. Semua yang Mawar lakukan Adit mengetahui sampai sedetail-sedetail nya.
"Selamat yank" ucap Adit. "Ciumnya nanti kalau sudah nggak ada orang" bisik Adit. Cubitan Mawar langsung mendarat di perut suaminya.
Adit memang belum sempat mengucapkan selamat kepada istrinya.
****
Waktu bergulir sore berganti malam, mereka menikmati makan malam bersama.
"Sudah nggak kuliah dia tuh, kuliah cuma tiga bulan" Bu Reny yang menyahut. "Sejak kamu hentikan biaya kuliahnya, ya sudah. "Gatot." adu Bu Reny.
"Tapi kamu kerja kan?" tanya Adit.
Diah menggeleng.
"Sudah aku tawari kerja di Toko kita juga nggak mau kok Mas" Mawar menimpali.
"Kenapa nggak mau kerja sama kak Mawar?" tanya Adit kepada Diah yang dari tadi hanya diam.
"Aku nggak mau kerja kalau di Toko Mas, nanti saja kalau Mas ada lowongan aku kerja di kantor Mas saja." sahut Diah enteng.
"Mau kerja apa kamu di kantor? lulusan SMA mah paling menjadi OG. Kalau kamu mau, nanti buat lamaran saja." sahut Adit.
"Yah, Mas mah tega!" Diah merengut kesal.
Mawar menatap Diah sebenarnya kasihan, bisa saja dia membiayai kuliahnya. Tetapi orang seperti Diah, harus di beri pelajaran, agar tidak terlalu manja. Lagi pula Diah selalu semena-mena kepada orang yang tidak di sukai.
"Sudah malam yank, pulang yuk kamu kan seharian nggak istirahat." kata Adit.
"Oh iya Mas" Mawar kemudian membuka tas slempang kecil dan mengambil 5 lembar uang merah.
"Ini Bu, mentahnya." ucap Mawar menirukan perkataan mertuanya tadi menyerahkan uang kepada mertuanya.
"Eh jangan" Adit menarik tangan Mawar.
__ADS_1
"Biar aku saja yang memberi, simpan saja uang mu." ucap Adit. Adit lalu membuka dompet.
Bu Reny melirik isi dompet Adit, dengan mulut terbuka melihat isi dompet. Karena Bu Reny duduk di sebelah kanan Adit, sedangkan Mawar duduk di sebelah kiri.
"Ini buat Ibu" Adit menyerahkan 5000 ringgit malaysia.
Ibu menerima uang dari Adit kemudian di bolak balik. "Lah, ini uang apa to, nggak laku ini sih" Ibu menatap Adit.
"Aku belum sempat menukar Bu, kalau begitu besok saja ya" sahut Adit.
"Nanti aku saja yang menukarkan di bank kak" Diah menawarkan diri.
"Jangan, kalau sama Diah Mah, bisa-bisa di ambil sama dia." Bu Reny resah.
"Kalian ini loh! tiap hari ribut masalah uang terus, malu kalau kedengaran orang lain." Pak Renggono yang dari tadi hanya menyimak akhirnya berkomentar, rasanya malu dengan menantunya itu.
"Ya sudah Diah, ini buat kamu, terus yang punya Ibu jangan di otak atik ya "Adit menyerahkan 1000 ringgit malaysia kepada Diah.
"Yee... yeee... terimakasih kak" Diah kegirangan.
"Tapi kamu besok-besok cepat cari kerja ya" titah Adit kepada Adiknya.
"Siap kakak" sahut Diah entah sungguh-sungguh atau tidak, hanya Diah yang tahu.
Mawar dan Adit pun akhirnya pulang, setelah pamit kepada keluarganya.
Sampai di rumah waktu sudah larut penghuni rumah sudah sepi, mungin semua sudah tidur. Karena Mawar selalu membawa kunci sendiri, sehingga tidak mengganggu keluarganya yang sedang tidur.
Sampai di kamar. Mawar langsung bergegas kekamar mandi banyak yang harus di lakukan di sana.
Sementara Adit merebahkan tubuhnya. Menatap seisi kamar yang sudah 7 bulan tidak ia tiduri rasanya nyaman sekali.
"Kekamar mandi dulu Mas, jangan tidur dulu" ucap Mawar sambil mendudukkan bokongnya di depat kaca, memakai vitamin wajah setelah di bersihkan agar besok tidak kusam.
"Kamu cantik" ucap Adit memeluk Mawar dari belakang dagunya berpangku di pundak.
"Sudah, kekamar mandi sana gih" ucap Mawar.
"Baik Tuan putri"
"Lebay deh! Tuan putri-Tuan-putri terus dari tadi." kata Mawar risih di panggil itu.
Adit tidak menimpali kemudian segera ke kamar mandi.
Mawar ketempat tidur merebahkan tubuhnya, sambil check handphone yang dari pagi ia abaikan setelah kirim pesan mengabari Melati tadi pagi.
Ternyata tidak ada pesan berarti semua lancar.
"Kamu harum" ucap Adit setelah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan ******, langsung menyusup ke dalam selimut istrinya.
"Ih pakai celana dulu apa, kan sudah di siapkan tadi." kata Mawar heran dengan kelakuan suaminya.
"Ngapain pakai celana toh nanti di buka juga." Adit mengedipkan mata kemudian bermain-main di leher istrinya. Mawar pun merasakan sentuhan-sentuhan Adit yang sudah lama tidak ia rasakan mendesah lembut
"Awaaasss... budhe mau minggiiiiiiirrrrr... dulu aaah.... sedang proses pembuatan dedek 🤣🤣😋.
__ADS_1