Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Mendadak Direktur.


__ADS_3

Setelah check google tentang penerimaan mahasiswa baru sudah lewat. Adit menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Ia merenung, padahal ia ingin sekali mengantarkan istrinya mencari kampus pilihanya.


Namun, nyatanya saat ini sudah ada pengumuman itu artinya, istrinya sudah diterima sebagai mahasiswi. Ia menyesal melewatkan momen itu dan tidak memperhatikan istrinya sampai Mawar mencari kampus sendiri tanpa ia tahu.


Adit check gps ingin mengetahui di mana Istrinya kuliah, nanti ia berniat akan menjemputnya.


"Kalau sudah selesai... kasih kabar ya sayang... nanti aku jemput" Begitulah isi pesan Adit. Namun mawar hanya membaca saja tidak berniat membalas.


📞Kring... kring...


Adit "Assalamu, alaikum..."


Johan "Waalaikumusallam..." "Sebelum berangkat kekantor, kamu kerumah dulu ya Dit, ada yang ingin Papa sampaikan." suara Papa Johan.


"Baik Pa."


Adit segera bangkit dari duduknya ambil kunci mobil kemudian berniat berangkat.


"Saya berangkat dulu Mbok" pamitnya kepada Simbok.


"Iya Tuan" sahut Simbok bergegas ke halaman rumah membuka pintu pagar. Adit pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah mertua Indah.


.


.


Disalah satu keluarga bahagia dan sejahtera, pagi ini sedang berkumpul untuk sarapan pagi.


"Siang nanti, gw nggak bisa jemput loe Tan" kata Abim kepada adiknya sambil menggigit croisan coklat.


"Nggak apa-apa kok kak, nanti aku naik taksi saja" sahut Intan setelah meneguk susu murni.


"Nanti teman Intan pulang dari kampus mau mampir kesini, boleh nggak Ma?" tanya Intan.


"Laki-kaki atau perempuan?" tanya Papa dan Mama barengan menatap lekat kepada Intan menunggu jawaban. Jika tamunya laki-laki tentu tidak di perbolehkan.


"Perempuan lah Ma... sudah punya suami kok?" sahut Intan. "Eh Ma, teman Intan itu aslinya dari kampung sebelah kampung nenek loh"


"Siapa orang tuanya? siapa tahu Mama kenal?" tanya Mama Sahina.


"Nggak tahu Mah, kak Mawar itu rajin loh, dikampung kan suka jualan kripik singkong" terang Intan.


"Oh yang barengan kamu satu bus waktu itu?" tanya Papa.

__ADS_1


"Betul Pa" sahut Intan.


"Ajak saja kesini, Mama jadi pingin kenalan" Mama Sahina memberi Saran.


"Iya Ma, nanti Intan ajak kesini" sahut Intan bersemangat, tadi dia sudah chatting Mawar katanya mau mampir kesini.


"Tapi kalau hari ini Mama nggak ada jam kosong" sahut Mama menyesal. "Nggak apa-apa Ma, kan nggak harus hari ini juga. Kapan-kapan saja ketemunya."


"Ajak saja kesini. Buat teman kamu di jalan, kakakmu tidak bisa jemput kan?"


"Iya Pa"


"Ada apa Bim kamu nggak bisa jemput adikmu?" tanya Wahit, sebab biasanya Abim selalu menyempatkan waktu jika makan siang untuk pulang dulu. Karena jarak antara rumah dan kantor tidak terlalu jauh. "Ada masalah sama pekerjaan kamu?" sambung Papa Wahit sambil menyeruput secangkir kopi.


"Ada rapat penting hari ini Pa. Menurut selentingan, akan ada peralihan jabatan Dirut, yang akan di limpahkan kepada menantunya." tutur Abim.


"Oh, jadi Johan sudah punya menantu ya? kok tidak mengundang keluarga kita?" tanya Papa Wahit. Papa Johan adalah sahabat Papa Wahit sejak SMA dulu.


"Mama pernah dengar, anak Latania katanya sakit, sakit apa?" tanya Mama Sahina.


"Kurang tahu Mah" sahut Abim sambil mengelap mulutnya dengan tissue. "Menantunya baru kerja dua bulan Ma, dia kan satu tim sama aku." tutur Abim.


"Padahal dulu Johan pernah janji ingin menjodohkan kamu sama anak gadisnya. Tapi memang sih, umurnya jauh lebih tua daripada kamu" tutur Papa.


"Iya, Papa tahu, lagian sekarang kan Silfi juga sudah menikah" pungkas Papa.


Usai sarapan pagi, keluarga itu pun langsung berangkat ke tujuan masing-masing. Yakni, Papa Wahit dan Mama Sahina berangkat satu mobil beliu bekerja sebagai dosen di tiga kampus sekaligus. Hanya berbeda waktu jam ngajar saja.


Sedangkan Intan berangkat ke kampus barunya di antar kakaknya. Saat ini Intan akan daftar ulang, tidak bedanya dengan Mawar.


.


Pada tgl 12 juli tahun 1990. Jam sembilan pagi dewan dereksi sedang mengadakan rapat serah terima jabatan Direktur utama pt Primajaya.


Di aula gedung lantai tiga, telah di lakukan penandatanganan berita acara. Yang sebelunya kekuasaan di pegang oleh Johan felik kini di serahkan kepada Derektor pengganti Wahyu Aditya.


Acara tersebut di hadiri oleh menejer yang mempimpin divisi. Derektur keuangan, menejer yang memiliki hubungan langsung dengan karyawan SDM Abimanyu dan timnya.


Dan juga seluruh karyawan pt Primajaya. Tepuk tangan meriah oleh para karyawan. Sebenarnya banyak yang merasa iri dengan Wahyu Aditya. Sebab, karyawan baru dua bulan kerja yang awalnya menjabat sebagai menejer SDM tiba-tiba melejit menjadi Dirut pt Primajaya.


Apa boleh buat bahwa keputusan mutlak di tangan Johan felik. Acara di lakukan live di televisi. Wahyu Aditya sendiri tidak konsentrasi sesekali melihat jam tangannya. Sebab tadi sudah berjanji akan menjemput istrinya lagi-lagi ia lewatkan.


"Selamat Pak Aditya" ucapan para menejer. "Selamat Pak Aditya saya turut senang" ucapan Abimanyu menjabat tangan Aditya.

__ADS_1


"Terimakasih Bim, manggilnya seperti biasa saja, tidak perlu pakai Pak" ujar Aditya, awalnya Abim memanggil dengan sebutan Mas. Sebab, usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Yakni Adit 26 tahun dan Abim 23 tahun.


*****


Di kampung dirumah Adit sedang menyaksikan acara di televisi.


"Pak, anak kita jadi derektur Pak... anak kita akan menjadi orang kaya." Ibu Reny tampak heboh.


"Kita susul kesana ya Pak, toh, Diah anak perempuan kita juga kan kost di sana" rengek Ibu Reny kepada Pak Renggono. Adik Aditya Diah Susanti baru tiga hari ini berangkat ke kota tinggal di kost. Sebab, ia akan kuliah di Jakarta tentu Aditya yang membiayai.


"Tidak usah kesana Bu... biar saja anak-anak kita mandiri.


Kita cukup mendoakan dari sini." sahut Pak Renggono.


"Ah Bapak! pokoknya Ibu mau kesana, kalau Bapak menolak aku sendiri saja!" paksa Bu Reny.


"Terus... Ibu mau tinggalkan Bapak sendiri?" tanya Pak Renggono kesal.


"Apa boleh buat!" ketus Ibu Reny.


Pak Renggono pun terdiam, menarik nafas panjang. Sudah tahu watak Istrinya yang keras kepala lebih baik menurut.


"Terus kapan Ibu akan berangkat?" tanya Pak Renggono.


"Nanti Ibu telepon Adit sama Diah dulu Pak" jawab Ibu Reny bersemangat.


****


Di rumah Pak Sutisna pun sedang bersantai menonton televisi.


"Menantu kita baru kerja sudah jadi boss ya Pak" kata Ibu Riska.


"Iya, tapi kok perasaan Bapak malah tidak enak ya Bu" jawab Pak Sutisna.


"Sama Pak, Ibu juga jadi gelisah, ada apa dengan Mawar ya Pak" Ibu Riska pun mendadak gusar.


"Tidak usah di pikirkan Pak, Bu. Kita doakan saja, semoga kak Mawar baik-baik saja" sahut Melati.


"Kamu tidak mau merantau seperti orang-orang nak?" tanya Ibu Riska menoleh Melati yang masih mantengin televisi.


"Tidak Bu, Melati mau cari kerja yang dekat sini saja" sahut Melati tentu tidak mau meninggalkan orang tuanya setelah kepergian Mawar.


Padahal Adit menawarkan agar Melati melanjutkan kuliah. Adit yang akan membiayai. Namun Melati menolak tidak ingin merepotkan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2