Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Harus Caesar.


__ADS_3

Mawar segera dibawa keruangan pemeriksaan, ditangani oleh dokter. Diluar ruangan periksa. Papa Johan tampak panik dan mondar mondir.


"Sudah Pa, jangan mondar mondir terus" titah Mama, kasihan juga melihat suaminya bolak bolik.


"Aku bingung Ma, Adit belum sembuh dari sakitnya, dan kini justeru Mawar yang mengalami kontraksi, padahal usia kandungannya baru tujuh bulan." keluh Papa, perasaannya kini campur aduk.


"Aku tahu Pa, kita hanya bisa berdoa saat ini, dan kita upayakan agar Mawar dan bayinya selamat." Mama menggenggam tangan suaminya.


Papa Johan menghela nafas berat, dia berpikir, dialah yang membuat kekacauan ini hingga keadaan menjadi semakin runyam seperti sekarang.


"Ceklek" pintu ruangan dibuka, membuyarkan lamunan Pak Johan. Seorang suster menyembulkan wajahnya dari pintu.


"Keluarga Mawar" panggil suster.


"Saya sus" Mama Latania menghampiri suster.


"Mari masuk keruangan dokter Bu, dokter ingin bicara." kata Suster.


"Baik sus" Mama Latania masuk keruangan dokter di ikuti Papa Johan.


"Duduk Pak, Bu" Dokter menunjuk kursi dengan jempolnya.


"Terimakasih dok" sahut Mama Latania dan Papa Johan bersaamaan, kemudian mereka duduk di depan dokter.


"Begini Pak, Bu, Nona Mawar sepertinya sudah ingin melahirkan, tapi... setelah menjalani pemeriksaan, dan usia kehamilan yang baru tujuh bulan, posisi bayinya pun, masih dalam keadaan sungsang" terang dokter sambil membaca catatan.


"Jadi, Nona Mawar harus segera di caesar." dokter menambahkan.


"Tapi apa penyebabnya dok, sehingga bayi Mawar mengalami lahir prematur?" tanya Mama tampak bersedih.


"Banyak faktor Bu, Nona Mawar memang sedang mengalami setres berat." dokter menatap Mama dan Papa bergantian.


"Bisa juga, mungkin karena Nona Mawar menangis terus menerus, hingga mengalami kecemasan yang luar biasa, tertekan, dan hormon yang disalurkan janin melalui plasenta pada bayinya, akan mengalami hal yang sama, seperti yang di alami ibunya." dokter menjelaskan panjang lebar.


"Lakukan yang terbaik dok, kami mohon, selamatkan dua-duanya." kata Papa Johan.


"Kita semua harus berdoa ya Pak" sahut dokter.


"Kami minta tanda tangan, suami Mawar kemana?" tanya dokter heran karena Mawar tidak di dampingi suaminya.


"Suaminya sedang sakit dok, kebetulan dirawat disini juga, biar saya yang akan bertanggung jawab." ucap Pak Johan. Kemudian menandatangani keputusan caesar.


"Baiklah" sahut dokter singkat.


"Saya boleh menemuinya dok?" tanya Mama.


"Silahkan Bu"


Mama menemui Mawar setelah di izinkan dokter. Menurut dokter Mawar harus puasa dulu, sore hari baru akan di lakukan operasi.


"Bagaimana nak, sakit sekali?" Mama Latania duduk diranjang pasien mengusap lembut perut Mawar.

__ADS_1


"Iya, tapi bukan sakitnya yang membuat saya takut Bu, melainkan bagaiamana kalau saya nanti harus menjalani operasi caesar." Mawar merangkul Mama mencari tempat untuk bersandar.


Dalam keadaaan seperti ini harusnya ada suami di disampingnya. Namun yang Mawar tahu suaminya kini telah menikah lagi membuat Mawar tampak depresi.


"Terus kenapa nak? tenang, semua akan baik-baik saja." Mama Latania menenangkan.


"Tapi... bayi ini belum waktunya lahir Bu." Mawar bingung memikirkan keselamatan anaknya. Pasalnya jika lahir nanti maka anaknya akan lahir prematur dan Mawar tidak akan sanggup menghadapi kemungkinan terburuk.


"Seeettt... sabar... serahkan semuanya kepada Tuhan, jangan terlalu banyak pikiran, semoga kamu dan anakmu sehat nak."


"Terimakasih Bu"


"Saya mau ketemu Ibu saya Bu" ucap Mawar. Seketika mengingat Ibu kandungnya. Ibu yang telah mengandung, dan melahirkan dirinya. Mawar sadar, ternyata begini rasa sakit ketika ingin melahirkan. Dosa-dosanya terhadap Ibunya kembali memenuhi memorinya. Ternyata dosanya cukup banyak selama ini, bahkan Mawar belum meminta Maaf.


"Baik nak, Mama telepon Ibu kamu dulu ya" sahut Mama kemudian menghubungi keluarga Mawar.


*****


Di ballroom rumah sakit, Papa Johan termenung sendirian. Kata-kata Mawar ketika di hotel tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.


Andai bisa memutar waktu akan merubah alur cerita yang beliau tuliskan. Namun, semua sudah terlambat, semua sudah terjadi, hanya tinggal penyesalan yang tersisa.


Sudah banyak luka yang Papa Johan torehkan kepada Mawar. Pak Johan meremas rambunya gusar.


Papa sadar, niatnya menikahkan Silfi dengan Adit ternyata membuat Mawar trauma berkepanjangan. Hingga Mawar menyangka bahwa pernikahan keponakannya pun suaminya yang akan menikah.


Belum lagi, apa yang akan terjadi dengan Mawar dan anak yang dikandung Mawar ketika caesar nanti. Pasalnya anak itu belum waktunya lahir.


Papa Johan juga memikirkan Adit, saat ini keadaanya masih sangat mengkhawatirkan. Papa Johan bingung apa saat ini yang harus ia lakukan.


Papa menekan pagar ballroom menatap langit samar-samar terdengar Adzan dzuhur. Papa sadar, sudah lama sekali mengabaikan panggilan ilahi.


"Ya Allah... masih adakah ampunanmu untuk pria yang sudah setua hamba" gumamnya.


Kemudian beliau berjalan tertatih-tatih menuju mushola rumah sakit. Ambil air wudhu, yang sudah sekian tahun beliau tinggalkan.


Papa Johan bersujud memohon ampunan mendoakan Silfi yang telah tiada, mendoakan Mawar dan juga Adit agar cepat keluar dari persoalan pelik yang mereka hadapi.


*****


"Pak Sutisna" sapa Pak Johan ketika dari musholla berpapasan dengan Pak Sutisna, Bu Riska, dan Melati di lobby.


"Bagaimana keadaan anak saya Pak?" tanya Bu Riska matanya masih sembab seperti baru habis menangis.


"Mari kita temui Bu" Pak Johan mengajak keluarga Pak Sutisna menemui Mawar. Mereka berjalan cepat lima menit kemudian sampai di tempat. Namun kosong Papa Johan segera telepon Mama ternyata Mawar sudah di pindah ke ruangan VIP.


Tok tok tok.


Ceklek.


Pak Johan masuk di ikuti keluarga Pak Sutisnya. Tampak Mawar duduk di ranjang pasien sambil meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja nak?" tanya Pak Sutisna lalu duduk di sebelah anaknya.


"Bapak..." Mawar tidak menjawab justeru mencium punggung tangan Pak Sutisna.


"Mawar... apa saja yang kamu rasakan nak?" Bu Riska menatap anaknya dari atas sampai bawah, kemudian berakhir di perut.


"Bu..." satu kata dari Mawar kemudian berdiri dan memeluk Ibunya. "Perut aku yang sakit Bu tapi sudah nggak apa kok" kilahnya.


Bu Riska balik memeluk anaknya keduanya larut dalam tangis. Bu Riska mencium pipi dan dahi Mawar. Melati yang masih diam di samping ranjang pun ikut memeluk. Bu Riska memeluk kedua anaknya ia merasa bersalah tidak bisa menjaga kedua anaknya.


"Mawar minta maaf Bu, Mawar selama ini salah sama Ibu" ucap Mawar terisak.


"Tidak perlu minta maaf nak, Ibu yang salah" Ibu mengusap kepala Mawar kemudian merenggangkan pelukanya.


Mama Latania terharu melihat keakraban keluarga Pak Sutisna.


"Mari kita duduk di sini saja" Pak Johan mengajak Pak Sutisna duduk di sofa di susul Mama Latania.


"Apa yang terjadi dengan kandungan kamu nak? apa kata dokter?" Ibu menatap sendu anaknya.


"Anak Mawar kemungkinan besar lahir prematur Bu" lirih Mawar.


"Apa? tapi, apa kata dokter, bayi dalam kandungnmu sehat kan nak?" tannya Ibu terkejut kemudian mengelus perut Mawar.


"Ini salah Mawar Bu, Mawar belum bisa menjadi seorang Ibu, Mawar sudah membuat anak Mawar tidak betah di perut Bu." hiks hiks hiks tangis Mawar pun meledak.


"Sudah nak, pesan dokter tadi apa? kamu tidak boleh menangis lagi kan? itu sangat berpengaruh dengan bayimu nak" Mama Latania menyahut dari sofa.


"Benar kata Bu Latania nak, sudah-sudah... jangan menangis lagi ya..." ucap Ibu.


"Mawar mau pipis" ucapnya kemudian.


"Biar Mela, yang antar Bu" Melati mengantar kakaknya ke kamar mandi.


"Jeung saya mau bicara" Mama Latania mendekati Ibu Riska. Kemudian menceritakan tentang semua yang terjadi hari ini, tidak ada yang di tutup-tutupi.


Kecuali kepergian Mawar selama seminggu itu Mama Latania tidak mengetahui.


"Jadi, Mawar salah paham jeung?" tanya Bu Riska.


"Iya, tapi sampai saat ini kami belum menceritakan keadaan Adit jeung, kemungkinan setelah operasi selesai kami akan ceritakan." pungkas Mama Latania.


Bu Riska pun menyetujui.


******


"Hallo reader thank you for your time, comments, support.👍👍👍


"Terimakasih juga karena sudah mengikuti cerita budhe hingga part ini, pendukung lama maupun yang baru 💕


"Maafkan karena tidak bisa menjawab komentarnya satu persatu, yang penting sehat semua. Salam peluk cium dari jauh 🤝🤝🤝 ❤❤❤

__ADS_1



Pamer sandal jepit, ya... budhe baru beli dengan Ibu Reny tadi pagi. 🤣🤣🤣 Salam kenal.


__ADS_2