
Tidak ada kehidupan yang tidak ada masalah di dalamnya. Semua manusia pasti mempunyai permasalahan yang berbeda. Namun, hanya bagaima bisa berlapang dada, menerima ujian yang Allah berikan. Karena, Allah tidak akan menguji hambanya di luar kapasitas umatnya.
.
.
"Bagaimana ceritanya? kok sampai anak boss bisa cinta banget sama Mas?" tanya Mawar sambil mengaduk-aduk minuman cokelat capucino tanpa melihat lawan bicara.
"Dulu, Silfi sebagai dosen panggilan memberikan seminar di kampus-kampus tentang pengembangan usaha mandiri"
"Saat sedang menyampaikan materi di forum mendadak dia pingsan, dengan cepat aku angkat tubuhnya, karena saat itu aku yang paling dekat" tutur Adit jujur.
Mawar kemudian mendelik kesal membayangkan Adit mengangkat tubuh wanita lain. Tetapi Mawar menyembunyikan rasa cemburunya.
"Kenapa Mas, dulu nggak pernah cerita?" tanya Mawar kecewa.
"Yah, aku pikir, nggak perlu lah... lagian kan aku juga nggak ada perasaan apa-apa sama dia waktu itu."
"Aku bawa dia kerumah sakit bersama kedua teman. Karena klinik kampus peralatan tidak memadai"
"Aku menunggunya sampai dia sadar, kemudian mengantar dia sampai halaman kostnya" Menggunakan Mobil salah satu teman."
"Sampai di kost, ternyata ada sopir sama ART. Menurut sopirnya, biasanya dia di antar ketika hendak kemanapun, tapi hari itu dia menolak" tutur Adit.
"Nah, setelah itu, aku nggak tahu lagi. Dua bulan kemudian, dia tiba-tiba mengajar di kampus UP dan menjadi dosen pembimbing aku" tutur Adit mengingat saat itu.
"Bu Silfi dosen yang baik dan ramah, banyak teman-teman aku yang kagum"
"Walau usia mereka terpaut jauh denganya," sambung Adit menuturkan apa yang ia tahu saat itu.
"Temasuk Mas Adit?" tanya Mawar menyelidik.
"Tentu tidak dong sayang...sampai saat ini yang ada di hati aku cuma kamu" kata Adit. Mawar menatap suaminya tidak ada kebohongan di matanya. Mawar percaya itu. Namun, kepercayaan itu sirna ketika ingat bahwa Adit kini telah menikah lagi. Mendadak Mawar diam.
"Kok, malah bengong sih?" Adit mengelus kepala istrinya sayang.
Mawar menghela nafas berat menelungkup di meja restoran.
"Tapi kenyataannya, dosen itu sekarang menjadi istrimu Mas, dan bukan tidak mungkin, cepat atau lambat Mas akan mencintai dirinya." Mawar mendadak gusar. Tetapi, Mawar sudah harus siap menerima kenyataan itu. Jika suatu saat nanti Adit mencintai Silfi ia harus rela, dan tidak mau egois.
__ADS_1
Adit yang akan menuntunya ke surganya Allah. Mawar tidak ingin suaminya menjadi suami yang tidak Adil kepada istri-istri nya.
"Aku tidak tahu Maw, jika aku boleh memilih. Aku hanya ingin bersamamu." lirih Adit.
"Aku juga tidak menampik kenyataan bahwa Silfi sudah menjadi istri aku. Itu artinya, aku akan sering bersamanya"
"Aku nggak ingin berjanji padamu Maw, bahwa aku tidak akan mencintai Silfi suatu saat nanti" Jujur Adit walau bagaima dia laki-kaki yang punya rasa. Terlebih Silfi sudah menjadi istrinya. Tentu dalam hal ini tidak ingin berjanji kepada istrinya untuk tidak mencintai Silfi.
"Aku mengerti Mas, tapi aku punya satu permintaan" ucap Mawar mengangkat kepalanya menatap Adit yang masih tertunduk lesu.
"Apa?" Adit memutar tubuhnya menghadap istrinya. Tangannya tertumpu di meja menopang pelipisnya.
"Aku nggak mau tinggal di rumah itu Mas" kata Mawar yang masih berhadapan dengan suaminya.
"Kenapa?" tanya Adit kaget.
"Aku ingin kita mengontrak rumah Mas, biarpun sepetak nggak jadi persoalan bagi aku"
"Aku tidak mau tinggal di rumah yang sudah jelas milik maduku." jujur Mawar.
"Baiklah, sayang... apa yang kamu minta Mas turuti" "Terus kamu maunya dimana? nanti kita cari," sambung Adit sedih, menatap istrinya yang sudah ia duakan.
Yang di tatap meneguk coklat yang biasa ia lakukan ketika sedang stres, membuatnya lebih tenang. Mungkin hanya sugesti. Namun, kenyataannya demikian.
"Baiklah" sahut Adit, padahal dia tidak rela istrinya bekerja. Apalagi sampai ambil kuliah malam. Tapi Adit tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengiyakan. Adit paham, istrinya tipe orang yang tidak ingin bergantung walaupun kepada dirinya sekali pun.
"Atau... aku tinggal di asrama kampus saja ya Mas" ide Mawar ngelantur.
"Kamu ini ngomong apa sih?" tanya Adit kesal, mana mungkin istrinya tinggal di asrama yang hanya di huni para siswa yang belum menikah.
"Sudah ayo, malam ini kita nonton film ya" ajak Adit bersemangat.
"Nonton? tumben" sahut Mawar selama menikah belum pernah di ajak suaminya menonton. Tentu Mawar antusias.
"Ya, anggap saja kita merayakan ulang tahun kamu. Maaf ya telat" ucap Adit mengecup kening istrinya tidak perduli banyak orang yang melihat.
"Jadi Mas ingat, ulang tahun aku?" tanya Mawar berbinar. Ia pikir suaminya melupakan itu.
"Tentu ingat, kemarin aku mau ucapin. Eh, kamu keburu ngambek" terang Adit.
__ADS_1
Mereka pun beranjak menuju parkiran masuk ke dalam mobil. Adit menjalankan mobilnya menuju bioskop. Namun, di tengah perjalanan handphone Adit bergetar.
"Angkat dulu Mas, siapa tahu penting" kata Mawar mendengar handphone Adit yang terus bergetar tidak di angkat oleh Adit.
"Baiklah" ucap Adit lalu menepikan mobilnya terlebih dahulu.
Adit "Hallo"
Johan: (....)
Adit: "Iya Pa."
Adit menjatuhkan tubuhnya di kursi pengemudi.
"Kenapa Mas?" tanya Mawar, menatap Adit yang sedang tidak baik -baik saja.
"Terpaksa nontonnya batal Maw, aku harus segera kerumah sakit" ucap Adit menyesal.
"Sudah, nggak apa apa kok, nonton film bisa lain kali. Lebih baik Mas kerumah sakit dulu" Mawar memberi saran.
"Aku turun di sini saja Mas, mau pesan ojol saja" usul Mawar, kemudian hendak membuka pintu.
"Tunggu! kamu ini ngomong apa sih dari tadi ngelantur terus" kata Adit kesal mana mungkin dia membiarkan istrinya pulang sendiri. Adit pun putar balik mengantarkan Mawar terlebih dahulu.
Di dalam mobil saling diam. Mawar merenung, sebenarnya ia kecewa tidak jadi menonton. Tapi biar bagaimana ia harus mengalah. Ini baru permulaan. Hal-hal seperti ini pasti akan selalu ia hadapi. "Kuatkan imanku ya Allah" doa Mawar dalam hati.
Mobil pun sampai di depan rumahnya. "Hati-hati ya Mas, nggak usah terburu-buru" ujarnya sambil menepuk nepuk pundak suaminya.
"Terimakasih sayang..." Adit mengecup bibir istrinya. Setelah Mawar turun kemudian kembali menjalankan mobilnya.
*****
"Siapa yang membuat desain sketsa ini Tan? kamu?" tanya Mama Sahina ketika sedang menemui Intan dikamarnya. Kebiasaan Mama Sahina ketika pulang mengajar, selalu menemui buah hatinya terlebih dahulu. Pandangannya tertuju di meja belajar anaknya.
Mama Sahina kagum melihat sketsa desain gaun muslim yang sempurna. Mama sahinya sebagai dosen desainer yang profesional tahu kwalitas gambar yang terletak di meja belajar Intan.
"Ada apa Ma?" tanya Intan, tidak mendengar pertanyaan Mama. Sebab, tadi sedang di kamar mandi.
"Ini kamu, yang membuat gambar?" Mama menunjukkan gambar ke arah Intan.
__ADS_1
"Bukan Ma, itu teman Intan yang tadi pagi Intan ceritain" tutur Intan. "Lagian, sejak kapan Intan suka menggambar Ma" Intan memang tidak mau mengikuti jejak Mamanya untuk menjadi desainer walaupun Mama Sahina mengarahkan.
"Besok dia bisa kesini nggak? Mama mau ketemu, kebetulan Mama besok nggak ada jam ngajar" kata Mama sambil senyum menelisik coretan Mawar ketika iseng di kamar Intan.