
Malam harinya Adit ditemani Risky. Sebab, Pak Renggono telepon, katanya sedang masuk angin, jadi tidak bisa menemani anaknya.
Adit tidur dengan gelisah miring kiri kanan tidak ada posisi yang pas.
Andai ada Mawar di sisinya mungkin sudah mendengkur. Adit mencoba bangun melihat Risky sudah terlelap di sofa. Dengan susah payah, Adit akhirnya terpejam juga.
Pagi harinya Adit sudah lebih segar. Kekamar mandi tidak perlu di antar lagi.
"Sudah enakan Pak?" tanya Risky setelah dari kamar mandi, melihat Adit sedang duduk. Memainkan handphone sambil senyum-senyum.
"Lagi baca apa sih, pak? kok senyum-senyum sendiri." Risky mendekat boss nya.
"Lagi kirim pesan sama Istri lah memang apa" sahutnya.
"Tolong temani aku kekamar Istriku ya Ris, sekalian aku mau lihat anakku."
"Siap Pak"
Adit keruangan Mawar di antar Risky hanya sampai dipintu luar. "Saya tinggal dulu ya Pak, saya mau urus agar Pak Adit segera bisa pindah ke kamar ini." kata Risky, kemudian pergi setelah di iyakan Adit.
Adit membuka pintu perlahan, tampak sepi hanya ada istrinya yang sedang menyisir rambut panjangnya di ranjang pasien.
"Mas... kamu kesini?" tanya Mawar terkejut. "Kalau masuk tuh ketuk pintu Mas, aku kirain orang jahat." ucapnya mrengut.
Mawar saat ini hanya sendiri. Pak Sutisna beserta Istri disuruh pulang sama Mawar sejak tadi Malam.
"Masa sih... aku di sangka penjahat... kamu hanya sendiri?" Adit mengedarkan pandanganya kesekeliling.
"Iya, Mas sudah lebih baik?" Mawar kemudian menyimpan sisir setelah mencepol rambutnya.
"Sudah enakan kok" ucapanya kemudian duduk di ranjang disisi Istrinya.
"Rambut mu semakin panjang" Adit menatap rambut Mawar.
"Ya jelas semakin panjang, Mas, kalau semakin pendek, berarti di potong." keduanya terkikik.
"Ibu kemana?" tanya Adit, sebab tadi malam mertuanya menjenguk dirinya.
"Aku suruh pulang tadi malam, biar beristirahat, kasihan, cape." jawab Mawar, sedangakan Mawar tadi malam ditemani Melati.
"Melati barusan pulang" imbuhnya, tadi setelah Mawar selesai mandi, dan makan pagi. Melati pamit pulang nanti sore baru kemari lagi.
"Ya sudah, nggak apa-apa, nanti aku mau pindah kesini kok"
"Kok bisa?" Mawar menoleh cepat karena Adit duduk disampingnya.
"Ya kalau bisa, Risky sedang mengurusnya, aku sudah enakan kok, jadi sekalian bisa mengurusi kamu."
"Sekarang nengok baby boy yuk" Adit merapikan rambut Mawar yang keluar sedikit, sebab Mawar setelah menyisir memakai kerudung asal.
"Memang boleh ya Mas?" Mawar mengerutkan dahi.
"Kita tanya dulu, kalau boleh... kalau nggak boleh ya sudah" sahut Adit pajang. "Ini di pakai kursinya" titah Adit mendorong kursi roda yang tidak jauh dari ranjang kemudian membantu Mawar naik.
"Kamu cantik" ucap Adit ketika berjongkok membetulkan kaki Mawar, pandangan mereka bertemu. Adit mencuri bibir merah alami tanpa polesan.
"Iihh... jangan mesum, kita harus puasa 40 hari" Mawar kaget tanganya menghadiahkan cubitan ke perut suaminya. Pasalnya, Adit tiba-tiba menyerang mendadak.
__ADS_1
"Yang harus puasa kan anu ku, kalau cuma begini bolehlah..." Adit kembali mengulangi kali ini durasinya lebih lama.
"Eemmppp... Mas" Mawar menepuk pundak Adit, jika tidak di hentikan bisa berbahaya.
"Sudah ayo, katanya mau nengok baby boy."
"Nggak jauh dari sini kok, kamarnya" Mawar mengalihkan agar suaminya cepat berdiri.
"Okay..."
Adit mendorong Mawar dengan kursi roda keruang rawat baby. Setelah menanyakan kepada petugas apakah di izinkan menengok. Ternyata boleh, asal steril dan menggunakan pakaian yang di sediakan oleh rumah sakit.
"Ya Allah... lucunya Mas..." Mawar melihat bayi lucu tampak menggeliat di dalam box mulutnya bergerak-gerak seperti ingin minum.
"Mirip kamu ya, hidungnya mancung" Adit tersenyum sumringah, walaupun bayinya kecil. Namun tampak sehat.
********
Siang harinya, Adit sudah di pindahkan kelantai bawah menjadi satu kamar ruang inap bersama Istrinya.
"Bagaimana keadaan kamu Dit?" tampak Papa Johan datang membesuk bersama Istrinya, membawa buah-buahan.
"Sudah lebih baik Pa, berkat kehadiran Istri" Adit melirik Mawar tampak menunduk. Papa Johan pun turut menoleh. Adit kemudian menyalami Papa dan Mama Latania.
"Maaf ya sayang, tadi malam Mama nggak bisa jenguk kamu, Mama ngantuk, nggak tahu kenapa tadi malam rasanya lelah sekali" tutur Mama, setelah meletakkan buah kemudian duduk di sisi ranjang Mawar.
"Ibu pasti capek lah, kan mondar mandir terus" ucap Mawar, memang benar adanya karena beliau bolak balik dari rumah, ke hotel, kerumah sakit, balik kehotel hingga malam hari.
"Nggak apa-apa, Ibu nggak jenguk saya juga, justeru saya sudah banyak merepotkan Ibu," sahut Mawar tampak menghindari tatapan Papa Johan yang mendekatinya. Malu karena sudah berbuat tidak sopan kepada beliau.
"Ter-- terimakasih Pak" tetap menunduk.
Papa sadar Mawar merasa tidak nyaman berada didekatnya kemudian kembali duduk di samping Adit.
"Tadi saya menemui dokter katanya anak kalian sehat kok" sambung Mama.
"Alhamdulillah Bu, tadi saya sudah nengok bersama Mas Adit, lucu Bu" Mawar tersenyum ingat anaknya tadi rasanya ingin cepat menggendong.
"Sukurlah nak"
"Kalau Papa yang nengok, diperbolehkan masuk kedalam tidak?" tanya Papa menoleh Mawar, ingin mencairkan suasana.
"Sa-- saya nggak tahu" Mawar menggeleng.
Adit dari tadi mengamati interaksi Istrinya tampak tegang berhadapan dengan mantan mertuanya merasa heran. Pasalnya, Adit belum tahu apa yang terjadi.
"Ibu kan kemarin yang mengantar aku kerumah sakit, Mas" Mawar menoleh Adit yang ngobrol dengan Papa Johan di ranjang sebelah.
"Kok bisa, Papa sama Mama yang antar kamu?" selidik Adit, memandang ketiganya bergantian. Papa menatap Mawar kedua pasang mata mereka saling bertemu, buru-buru Mawar menunduk.
"Kamu mau buah sayang, Mama cuci ya?" Mama mengalihkan karena melihat Mawar tampak gelagapan, keceplosan dengan kata-katanya sendiri.
Mama ambil buah, kemudian mencucinya, mengedipkan mata kepada Adit agar tidak meneruskan pertanyaanya.
"Tidak usah Bu, nanti biar Mela saja yang mencuci." ucapnya.
"Sampai kapan sih nak? kamu mau memanggil saya Ibu. Kalau Ibu itu ya Bu Riska, sama Bu Reny, sedangkan saya, Mama." titah Mama Latania yang sedang mencuci buah, posisi membelakangi Mawar. Mama sudah sejak lama ingin Mawar menganggap dirinya Mama, karena semenjak Silfi tiada Mawar Mama angkat sebagai anak.
__ADS_1
"Iya Ma" Mawar mengalah.
"Ini nak, dimakan buahnya" Mama menyerahkan buah apple kepada Mawar.
"Buat Adit mana?" tanya Adit di ranjang sebelah.
"Iihh... Mas Adit mah, nggak sopan sama orang tua" Mawar memelototi Adit. Adit menyeringai menatap Mawar.
"Ada, kamu mau pisang apa apple?" tanya Mama mengacungkan dua buah.
"Pisang saja Ma"
Mama Latania memberikan dua pisang yang satu untuk Adit, dan yang satu untuk suaminya.
"Pernikahan Aisyah dengan Aditia lancar Pa?" tanya Adit setelah menghabiskan pisangnya.
Mawar menoleh cepat, menatap wajah Adit kemudian kembali menunduk.
"Lancar, kemarin ada sedikit kesalahpahaman tapi sudah bisa di selesaikan kok" Papa Johan melirik Mawar.
"Salah paham? salah paham bagaimana Pa?" Adit menatap Papa penasaran.
"Papa" ucap Mama, memberi isyarat agar jangan bercerita, biar Mawar sendiri yang akan menceritakan kepada Adit. Sebab, Mawar sepertinya tidak nyaman dengan suaminya.
Mereka ngobrol hingga menjelang sore, kemudian pamit pulang.
"Mama pulang ya, nak" Mama Latania ambil tas yang di letakkan di kursi sofa kemudian kembali menemui Mawar.
"Terimakasih ya Bu"
"Kamu ini dari tadi terimakasih terus" keduanya terkekeh.
"Papa pulang ya nak, semoga kalian cepat sembuh." Papa Johan mendekati Mawar.
"Aamiin... " Mawar meraup wajahnya.
Papa Johan kemudian melangkah ingin segera keluar menyusul Mama yang sudah jalan lebih dulu. Namun baru dua langkah bertindak.
"Pak" suara Mawar menghentikan.
Papa Johan balik badan mendekati Mawar, kesempatan ini tidak di sia-siakan olehnya. Mama dan Adit saling pandang seolah Adit bertanya kepada Mama. "Ada apa?" Mama menggeleng.
"Maaf Pak, saya sudah tidak sopan." akhirnya kata itu meluncur dari mulut Mawar, masih menunduk.
"Sudah... jangan di pikirkan nak, Papa tahu, siapapun yang ada diposisi kamu, pasti akan mengalami trauma, Papa yang salah" Papa Johan menyadari.
"Kita jadi kan pelajaran, Papa juga akan memperbaiki kesalahan papa, karena sudah menorehkan luka dihati kamu."
"Iya, tapi saya malu, saya seperti orang yang nggak pernah sekolah, harusnya saya berpikir dulu, sebelum bertindak." sesal Mawar kali ini sudah berani menatap Papa Johan.
"Hehehe... kamu ini, baik-baik ya, jangan banyak pikiran, supaya cepat pulih" titah Papa kemudian menghampiri Mama.
Adit bengong seperti sapi ompong, mendengar berbincangan mantan mertua dengan istrinya masih belum bisa mengerti ada masalah apa.
Mama tersenyum melihat keduanya sudah agak mencair. Mawar sudah tidak gugup seperti tadi, Mama masih menunggu Papa berdiri di dekat pintu ingin keluar.
Papa dan Mama pun akhirnya pulang.
__ADS_1