
Hari berganti minggu sebulan sudah baby boy sudah di bawa pulang. Ia sudah diberi nama ADITYA BHANU BAGASKARA. Bayi yang lucu walaupun kecil tampak sehat.
"Aku mau gendong Bhanu dulu sebelum berangkat yang" ucap Adit setelah sarapan. Adit tidak pernah melewatkan sehari pun untuk tidak menimang Bhanu, kadang sedang tidur pun di angkat, seperti sekarang ini.
"Mas kebiasaan dech, orang lagi tidur juga" Omel Mawar.
"Sebentar" Adit tetap menggendong walaupun sudah di larang. "Oeekk oeekk" benar juga tidur Bhanu pun terusik. Adit menyeringai langsung mendapat cubitan dari istrinya.
"Di bilangin, jangan di ganggu juga"
"Oeekk... oeekk"
"Cup cup, sayaang... Adit menggoyang-goyang Bhanu. Adit merasakan air hangat membasahi celana bahannya padahal sudah berpakaian rapi.
"Sini, sini. Di gendong sama bunda ya" Mawar inggin mengambil alih dan berniat menyusui Bhanu asinya pun sudah penuh.
"Ngompol yang, ahahaha..." Adit dan Mawar pun tertawa, pagi-pagi Bhanu memberi hadiah Ayahnya. Dari subuh tadi memang sengaja tidak di pakaikan pampers kasihan Bhanu, jika terus menerus di pakaikan pampers.
Adit menidurkan Bhanu di box. "Aku ganti popoknya ya" dengan cekatan Adit menyiapkan popok.
"Biar aku mandikan sekalian, jangan di ganti dulu" titah Mawar.
"Oh gitu ya. Hehehe...anak Ayah... pagi-pagi, kasih hadiah ya" Adit menempelkan jarinya ke bibir Bhanu.
"Iihh... kebiasaan, tangan suka di tempelin di mulut dedek! kuman tahu!" Mawar menggeser tangan suaminya.
"Galak amat sih... " Adit memeluk Mawar dari belakang.
"Awas... aku mau mandiin dedek" Mawar meninggalkan Adit kemudian memandikan Bhanu. Adit menyusul kekamar mandi mengganti pakaiannya yang kena ompol
Setelah rapi, Bhanu kemudian di beri Asi oleh Mawar sambil duduk di sofa di depan televisi.
"Terimakasih sayang..." Adit memeluk pundak Mawar lalu memberi kecupan hangat di pipi kiri.
"Terimakasih untuk apa?" Mawar nenoleh.
"Untuk semuanya. Kamu sudah membuat hidup aku lebih berwarna, memberikan seorang Bhanu yang tampan" kata Adit kemudian menyelipkan rambut istrinya di daun telinga.
"Membuat hidup aku menjadi lebih baik, maaf ya, selama ini sudah memperlakukan kamu dengan tidak adil" Adit kemudian berjongkok di depan Mawar mencium pipi Bhanu dan kembali mencium dahi Mawar dengan lembut.
Mawar tidak bisa berkata apa-apa ia menangis terharu, tangis bahagia membelai rambut Adit yang sudah kelimis.
"Aku berangkat ya" ucap Adit kemudian berdiri.
"Hati-hati Mas" Mawar mencium punggung tangan suaminya.
Adit mengangguk tersenyum sumringah, melambaikan tangan kemudian masuk kedalam mobil. Mawar memperhatikan kepergian suaminya hingga mobilnya melesat pergi.
Mawar melepas Asinya setelah Bhanu tidur, kemudian menidurkan didalam box.
"Mbok Paijem" panggil Mawar setelah menyelimuti Bhanu kemudian mengambil handuk yang tersampir di jemuran.
__ADS_1
"Ya non" Mbok Paijem bergegas menghampiri. "Ada apa non?"
"Nggak ada apa-apa Mbok, hanya mau titip Bhanu, kalau bangun tolong di beri susu ya, saya mau mandi dulu," Mawar menunjukkan botol yang berisi asi.
"Siap Non"
Mawar bergegas mandi, saat ini statusnya sudah berbeda, tentu tidak bisa berlama-lama dikamar mandi seperti dulu.
"Nangis nggak Mbok?" lima belas menit kemudian Mawar sudah rapi menghampiri Simbok yang duduk di pinggir box.
"Nggak kok Non, anteng."
"Terimakasih ya, Mbok"
"Sama-sama Non" Simbok kembali ke dapur.
"Oeeek oeek..." Bhanu rupanya tahu, ketika Bundanya selesai mandi kemudian bangun.
"Uluuuh, uluuuh... ganteng nya... anak bunda, haus ya. Hauuuss..." Mawar mengangkat Bhanu kemudian memberikan Asi.
Begitulah kegiatan Mawar saat ini. Mawar bermain dengan anaknya hingga siang hari, setelah anaknya tidur ia bergegas kedapur mencari makanan karena perutnya terasa lapar.
"Masak apa Mbok" Mawar membuka tudung saji. Ada ayam goreng, tempe tahu, sambal, tidak lupa Simbok selalu menyiapkan sayur bening yang berwarna hijau, agar Asi nya lancar.
"Non mau makan?" simbok mendekati Mawar.
"Iya Mbok"
"Tolong panggil Bapak sama Ibu Mbok, disuruh makan siang dulu" titah Mawar.
"Assalamualaikum" tampak Bu Reny datang bersama Pak Renggono.
"Waalaikumsalam..." Mawar mendekati mertuanya kemudian mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Mana cucu Ibu?" tanya Bu Reny.
"Baru bobok Bu, sebaiknya kita makan saja dulu" Mawar mengajak mertuanya makan.
Pak Renggono duduk di sofa kemudian Bu Reny mengikuti Mawar menuju meja makan.
"Ini... Ibu membawa sop iga dengan kacang merah, bagus untuk kamu yang lagi menyusui" ucap Ibu Reny, sejak Mawar mempunyai anak, sikap mertua perempuannya pun berubah 180 derajat.
"Ibu masak sendiri?" tanya Mawar sambil menuang sop iga kedalam mangkok.
"Iya, ibu kan belajar dari kamu"
Mawar menatap Bu Reny senang.Ia menjadi ingat Rosita. Rosita dulu pernah bilang seiring berjalannya waktu jika Mawar sudah mempunyai anak, sang mertua akan berubah dan ternyata benar.
"Ayo, dimakan, kok malah bengong" Bu Reny menepuk pundak Mawar.
"Iya Bu"
__ADS_1
Semua berkumpul dimeja makan, termasuk Pak Renggono. "Eh ada Mbak Reny, sudah lama Mbak?" Ibu Riska masuk bersama Pak Sutisna.
"Baru masuk Ris, kalau nggak melihat cucu sehari saja, rasanya seperti ada yang bilang" Bu Reny tersenyum membayangkan cucunya yang lucu.
"Ayo kita makan bareng." tutur Bu Reny.
Mereka makan bersama keadaan dimeja makan tampak hangat. Bu Reny ngobrol dengan besanya kadang tergelak tawa.
"Basonya masih banyak Ris?" tanya Ibu Reny kemudian meneguk air dalam gelas.
"Alhamdulillah... sudah habis Mbak, tadi ada borongan orang komplek katanya mau ada acara ulang tahun anaknya."
"Nanti kalau cucu kita sudah agak besar, kita bawa pulang ya Ris, kita pamerin sama orang kampung." terkekeh.
"Sikap sombong Bu Reny masih ada walaupaun sedikit.
"Siap Mbak."
Setelah makan Bu Reny dan Bu Riska bermain dengan cucunya. Mawar disuruh istirahat dari mulai memberi susu, mengganti pampers kedua nenek itu melakukan dengan suka cita.
Hingga sore hari memandikan Bhanu pun dilakukan oleh kedua nenek itu. setelah Mawar mandi Bu Reny dan Pak Renggono pamit pulang.
"Besok uti kensini lagi ya sayaang..." ucap Bu Reny, kemudian pulang naik motor bersama suaminya.
*****
Malam harinya gantian Adit yang bermain dengan anaknya, setelah makan malam. Kali ini di tidurkan di ranjang di sebelah Adit.
"Cape yang" Adit memijit kaki Mawar setelah Bhanu tidur, dan di pindahkan di box.
"Nggak kok Mas, tadi tuh Bhanu di urus sama kedua neneknya." terang Mawar. "Terus aku disuruh tidur" sambungnya.
"Ibu tadi kesini?" tanya Adit sambil menarik-narik jari jemari kaki istrinya.
"Iya Mas, dari siang sampai sore orang tua kita mengurus cucunya sambil ketawa-ketawa, beliau akur Mas..."Mawar tersenyum.
"Kebahagian aku tuh, sekarang lengkaaap... Mas" Mawar tidur terlentang menatap langit-langit plafon sambil tersenyum senang, mengingat Ibu mertuanya bisa akrab dengan Ibu kandungnya.
Adit mendengarkan celotehan istrinya sesekali meliriknya turut senang.
"Sejak awal kita menikah aku selalu berdoa, agar Ibu bisa menyayangi aku apa adanya, dan sekarang Allah telah mengabulkan doaku" lagi-lagi Mawar tersenyum.
"Iya, semoga Ibu akan selalu seperti itu yang." Adit akhirnya bersuara.
"Iya, aku bersyukur Mas, diberi orang tua, yang sayang sama aku, anak yang lucu, tapi" Mawar terdiam.
"Tapi kenapa yang?" Adit mengerutkan dahi.
"Tapi... aku minta sama Mas, jangan sampai mengulangi kesalahan lagi."
"Kamu masih ragu sama aku, aku sekarang sudah memiliki semuanya untuk apa lagi macam-macam." tegas Adit.
__ADS_1
"Mudah-mudahan, Mas nggak menyia-nyiakan kepercayaan aku, jika sampai itu terjadi lagi, aku akan potong anumu." Mawar memperagakan dua jarinya seperti menggunting sesuatu.
Adit menyeringai.