Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Kekecewaan Sutisna.


__ADS_3

Mawar masih berbincang-bincang dengan Rosita ternyata perlu juga curhat kepada orang yang bisa di percaya. Bisa mengurangi beban berat yang selama ini ia pikul sendiri. Orang tua kandungnya pun tidak pernah tahu ada apa dalam cerita kehidupan Mawar.


"Hai... boleh gabung?" seorang pemuda tiba-tiba berdiri menghampiri mereka dan nyomot baso dalam mangkok Mawar tanpa ragu-ragu melahapnya.


"Heh! jorok amat sih loe!" sentak Rosita. "Mana sok akrab lagi" sambungnya.


Ali-ali menjawab, pemuda itu justeru duduk di depan Mawar.


Sedangkan Mawar hanya tertegun menatap laki-laki aneh di depanya.


"Ih, songong! nggak sopan" Omel Rosita kesal.


"Kenapa sih loe? sewot amat, orang yang punya baso saja boleh kok" sanggah pemuda itu.


"Iya nggak dek, kenalkan namaku Rony" Rony mengangsungkan tangan.


"Mawar" ucap Mawar menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Sekilas Rony menatap cincin kawin yang melingkar di jari manis Mawar. "Oh sudah nikah"


"Boleh minta lagi nggak, basonya?" Rony kembali menyomot.


"Makan saja semua, saya sudah kenyang" sahut Mawar menyodorkan mangkok baso miliknya.


Dengan santainya Rony menikmati baso milik mawar hingga tandas. Masih belum puas juga, Rony meneguk sisa teh Mawar.


"Lapar apa rakus pak?! ketus Ros.


"Dua duanya" sahut Rony tanpa beban.


"Anak ekonomi bukanya masuk pagi ya? kok belum pulang?" tanya Mawar.


"Kok tau! kalau gw anak ekonomi?" Rony menatap Mawar.


"Anak TK juga tahu keles, almamater loe tulisanya apa?" tukas Ros.


Tanpa menjawab Rony melirik almamater yang ia kenakan. Kemudian tersenyum.


"Harusnya sudah pulang, tapi tadi katanya mau ada seminar jam 3. Eh, ternyata pembicara inti berhalangan hadir." ucap Rony.


"Beliau itu pembicara yang beuuh... keren jika mendengarkan sambutanya rasanya ingin cepat mempratekkan." tutur Rony.


"Dari mana pembicaranya?" tanya Mawar, memperhatikan Rony yang sedang makan seperti orang kelaparan.

__ADS_1


"Dari pt Primajaya" sahut Rony netranya fokus kemakanan tanpa memperhatikan Mawar.


"Dari pt Primajaya?" Mawar tampak kaget. "Siap namanya?" Mawar menyelidik.


"Silfia Johan" sahut Rony.


"Oh, saya tadi juga mendengar, pembicaraan anak-anak ekonomi katanya cantik dan anggun, apa benar begitu?" Mawar menyembunyikan rasa terkejutnya. Oh berarti Silfi sudah sembuh? syukur alhamdulillah. Mawar ucap syukur.


"Betul, tapi masih lebih cantik kamu" Rony menggombal.


"Oh ketika lewat tadi banyak anak ekonomi yang membicarakan tentang kecerdasan beliau" tutur Mawar, tidak menimpali gombalan teman yang baru di kenal itu.


Ada kelegaan di hati Mawar, setelah mendengar bahwa Silfi sudah sembuh. Mawar tidak tega ketika membayangkan kepala pelontos dengan berbagai alat di tubuhnya.


"Betul, ketika sedang memaparkan materi, dapat dengan mudah kita serap"


"Bagaimana caranya mahasiswa memuat suatu produk, dan setrategi di emplemansikan dalam suatu perusahaan untuk memasarkan produk agar menghasikan persaingan di era pasar bebas." papar Rony.


"Ah, anak ekonomi mah, memberi penjelasan ke anak ekonomi lah... bukan ke kami" ucap Rosi.


"Ya nggak masalah Ros, aku malah senang bisa menambah ilmu" tegas Mawar.


"Betul sekali, selagi kita masih muda pelajari apapun agar kita bisa terapkan di kemudian hari" tutur Rony. Walaupun mereka baru kenal mereka langsung ngobrol akrab dan nyambung.


*****


"Ibu... hiks hiks" Melati menangis memeluk Ibunya ketika baru pulang dari rumah temanya.


"Kamu kenapa Mel, datang-datang kok menangis?" Ibu Riska heran kemudian mendorong pundak anaknya.


"Kak Mawar Bu, kasihan kak Mawar." "hiks hiks hiks" Melati kembali menangis.


"Sini-sini... kamu cerita dulu, sama Ibu" Bu Riska menuntun anaknya kemudian duduk di bale bambu.


"Tadi aku main kerumah teman Bu, temanku cerita kalau kak Adit menikah lagi" hiks.


"Apa?! Ibu Riska tersentak kaget.


"Iya Bu, terus kejadian ini, sudah 4 bulan yang lalu Bu, kasihan kak Mawar Bu" hiks hiks.


"Pasti kak Mawar menderita Bu, ayo kita jemput kak Mawar Bu" Melati menggoyang-goyang pundak Ibu sambil terisak.


Ibu Riska tercekat, tenggorokannya terasa kering, bibirnya kelu untuk bicara.

__ADS_1


"Ibu jawab Bu, kenapa Ibu hanya diam?" hiks.


"Apa benar yang kamu bilang nak?" tanya Ibu Riska lirih.


"Benar Bu, teman melati itu dulu teman sekolahnya Diah"


"Diah sendiri yang cerita, malah Ibu Reny sudah tiga bulan tinggal di sana Bu" tutur Melati panjang lebar.


"Apa lagi ini nak?" Ibu Riska semakin syok. Ibu Riska tahu bagaimana perlakuan mertua Mawar kepada anaknya. Terus apa yang terjadi jika Mertua Mawar tinggal disana. Ibu Riska menjerit dalam hati.


"Assallaamualaikum" di tengah ketegangan Pak Sutisnya baru pulang jualan. Pak Sutisna menepikan gerobaknya, di sudut halaman rumah.


Sebenarnya Pak Sutisna sudah tidak boleh jualan, Adit selalu tranfer ke rekening Melati. Tapi Pak Sustina bukan orang yang malas. Tetap berjualan untuk makan sehari-hari. Sebenarnya Pak Sutisnya menyerahkan uang tersebut kepada Melati agar untuk biaya kuliah, tapi melati lebih baik bekerja dulu.


Begitulah keluarga Mawar, berdiri di kaki sendiri akan lebih baik, daripada harus merepotkan orang lain.


"Loh ada apa ini kok pada nangis?" tanya Pak Sutisna setelah sampai di ruang tamu menatap anak dan istrinya.


Melati tidak menjawab langsung masuk kedalam kamar.


"Nggak apa-apa Pak" sahut Ibu Riska mengusap air matanya kemudian kedapur membuat minuman hangat untuk suaminya. Sebenarnya Ibu Riska sudah tidak tahan ingin menumpahkan unek-uneknya. Namun kasihan suaminya setidaknya biar istirahat dulu.


****


Malam harinya Ibu Riska, menceritakan kepada suaminya yang di alami anaknya di Jakarta.


"Kurang ajar tuh Adit! berani-beraninya dia mempermainkan anak perempuanku!" ucap Pak Sutisna mengepalkan tangan.


"Selama ini, aku sudah mengalah tidak pernah mencampuri urusan rumah tangganya walaupun Mawar di jadikan gedibal!" Pak Sutisnya mengucap sumpah serapah yang selama ini tidak pernah ia ucapkan.


"Sabar Pak, semua sudah terjadi, kita mau bagaimana lagi?" Bu Riska menenangkan.


"Bapak nggak akan tinggal diam Bu, selama ini Bapak mengalah karena menghormati Renggono" Pak Sutisnya tahu jika Pak Renggono satu-satunya orang baik di keluarga itu.


"Ibu tahu kapan kita pernah kasar terhadap anak-anak kita, karena Bapak ingin anak-anak tumbuh dengan lembut, di tengah-tengah leluarga yang hangat" Pak Sutisna ingat ketika kedua anaknya masih balita dulu ingin rasanya kembali ke masa itu.


Kedua anaknya tumbuh dengan rasa kasih sayang. Pak Sutisnya tidak menyangka bahwa anaknya akan menderita setelah dewasa.


"Besok kita ke Jakarta Bu, harus di beri pelajaran Aditya sekali-kali" tegas Pak Sutisna.


"Iya, tapi Bapak jangan marah-marah, nanti darah tingginya naik loh" Hibur Bu Riska sambil memijit betis suaminya yang tampak semua uratnya kaku.


Karena di usia tuanya masih gigih mencari nafkah untuk keluarga kecilnya. Ibu Riska sebenarnya tidak kalah sakit hatinya. Namun Ibu Riska ingin terlihat tegar di depan suami dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2