
Silfia Johan PoV.
Sudah sekian lama aku merasakan kesakitan. Tetapi aku merasa sudah tidak kuat lagi menahan rasa ini. "Ya Tuhan... aku bukan mengeluh atas ujian yang engkau berikan tapi kini aku sudah siap jika engkau panggil." inilah do'a ku.
Setelah sadar dari pingsanku, aku minta Mama untuk memanggil Mawar. Jika dia marah padaku, aku pasrah, karena aku sudah merebut suaminya. Ternyata dugaanku salah, Mama benar, Mawar orang terbaik yang pernah aku temui.
Aku peluk, cium, wanita yang aku sakiti, terasa lega dalam hatiku. Aku pikir Mawar akan memaki aku, mencakar wajahku, ternyata lagi-lagi dugaanku salah, sungguh dia wanita cantik tidak hanya wajahnya tetapi juga hatinya.
"Mawar, Adit beruntung, memiliki istri seperti kamu" Aku tatap wajahnya mataku kini mulai buram, dan kepalaku semakin sakit, tetapi aku paksakan, untuk berbicara kepadanya.
Author PoV.
Silfia berbicara dengan Mawar menumpahkan segala rasa. Suaranya semaikin lama, semakin melemah.
"Mawar, se..sekali lagi a...aku mohon maaf, a...aku kembalikan A...Adit kepadamu." Suara Silfi terputus-putus tenggorokannya terasa kering.
"Aku sudah memaafkan Mbak, aku juga minta maaf, Mbak" sahut Mawar menggenggam tangan Silfi. "Mbak yang kuat ya" sambungnya.
"Papa... Mama..." lirih Silfi tangannya menggapai gapai ingin memegang kedua orang tuanya.
"Iya sayang... " Papa Johan dan Mama Latania berjongkok di samping ranjang. Papa mengusap kepala anak kesayangan, kemudian, Mama menggenggam tanganya.
Mawar juga masih menggengam tangan kiri Silfi yang semakin dingin. Mawar tidak kuat menahan isaknya.
"Ma...Pa... maafkan Silfi" ucap Silfi. "A...aku nggak kuat lagi Ma..." Silfia pun terkualai, matanya lalu terpejam. "Sayang...kamu harus kuat" Mama Latania berdiri memeluk erat tubuh Silfi, air matanya berderai.
Mawar yang duduk di samping Silfi segera berdiri memencet tombol. Tidak lama kemudian, dokter datang memeriksa keadaan Silfi, dokter pun menggeleng mengangkat tangan tanda menyerah.
"Dokter... selamatkan anak saya dokter..." Papa Johan tahu gelagat dokter mendekat dan memohon.
"Maaf pak, kami sudah berusaha, tapi... Tuhan berkehendak lain." sahut dokter.
"Silfiiii... " jerit Papa Johan memeluk tubuh anaknya, tubuh tuanya berguncang menahan tangis. Papa Johan menganggap usahanya selama ini sia-sia, ia bekerja keras selama ini hanya untuk anaknya. Tetapi dengan kepergian Silfi pupus sudah semua harapan. "Kamu harus sadar nak, sadarlah silfi..." Papa menangis menggucang tubuh anak perempuannya satu-satunya.
Lain Papa Johan, lain Mama Latania. Latania terlihat lebih tabah.
"Daripada kamu merasakan sakit, terus menerus, Mama sudah ikhlas nak" Mama mencium pipi anaknya.
Mama Latania sadar, kini silfi sudah tiada, pergi untuk selamanya. Jodoh, rezeki, dan maut sudah di atur, hidup hanya sementara siapapun menunggu giliran. Hidup ibarat kata hanya singgah meneguk air, kemudian kembali lagi.
Silfi kini pergi dengan damai senyum di bibirnya. Ia pergi dengan tenang, banyak orang-orang yang menyayangi semasa hidupnya, Papa, Mama, Mawar, dan orang-orang yang pernah dekat denganya.
Sesungguhnya semua yang manusia miliki hanya titipan.
__ADS_1
Jika sang pemilik mengambilnya kini harus siap melepaskan.
Papa Johan masih seperti orang nglinglung, beliau belum ikhlas melepaskan kepergian anaknya.
"Sudahlah Pa, Papa yang sabar, ya" Latania merangkul suaminya memberi kekuatan.
Mawar kemudian keluar dari ruangan, meninggalkan Papa Johan dan Mama Latania. Mawar duduk di kursi ruang tunggu mencari nama yang bertuliskan "love" yaitu nama suaminya yang Mawar beri di aplikasi whatsapp. Mawar kemudian memencet nomor handphone dengan tangan bergetar.
Berkali-kali telepon belum juga di angkat. Namun Mawar tidak menyerah.
"Hallo sayang..."
Akhirnya Adit mengangkat telepon.
"Hallo Mas..." hiks hiks hiks. Mawar tak kuat menahan tangis.
"Loh, kenapa Maw? ada apa Maw? kenapa kamu menangis Maw?" cecar Adit di seberang sana.
"Mbak Silfi Mas...Mbak Silfi..." hiks hiks.
"Kenapa Silfi?"
"Silfi meninggal Mas" tut Mawar langsung memutus sambungan telepon tak kuat lagi untuk bicara.
"Aku segera pulang"
"Hati-hati Mas"
"Iya sayang" tut.
Mawar kemudian menghubungi Bi Paijem, menghubungi Melati, yang terakhir menghubungi Mama Sahina.
Mawar menyimpan handphone di tas slempang kemudian, kembali keruangan. Di ruangan sudah ada tiga petugas, merapikan jenasah.
Silfia di bawa turun kelantai dasar disana supir ambulance sudah menunggu. Jenazah Silfia di bawa pulang kerumah duka di dalam ambulance tampak Papa Johan dan Mama Latania mendampingi jenazah anaknya.
Tuiiing...tuiing... tuiiing" ambulan meluncur cepat di iringi mobil-mobil kerabat dekat, kerabat jauh, orang-orang kantor, para alumni mahasiswa.
Sedangkan mobil Pak Johan, di bawa supir.
Mawar tampak berjalan paling belakang mengendarai motornya.
Sampai di rumah duka, Silfia segera di mandikan di kafani. Kerabat dekat membacakan AL quran.
__ADS_1
"Saya turut berduka cita Mbak" ucap Mama Sahina, kemudian memeluk sahabatnya.
"Terimakasih Na" sahut Latania.
Mama Sahina melepas pelukanya kemudian, menatap Mawar yang duduk di samping jenasah sedang membaca Alquran.
Mama Sahina bertanya-tanya dalam hati. Ada hubungan apa antara Mawar dan Silfi. Sebab, Mawar mengaji dengan mata sembab. Mama Sahina tidak pernah tahu apa yang terjadi. Mawar maupun Ibu Riska sahabatnya tidak pernah menceritakan apa pun kepadanya di tambah lagi, tadi yang menghubunginya juga Mawar.
Tapi Mama Sahina tidak sepatutnya menanyakan hal itu saat ini. Mama Sahina segera bergabung dengan yang lain.
Mama Sahina tidak tahu bahwa kedua anaknya pun tahu rahasia antara Mawar dan Silfi.
Waktu sudah sore Mama Latania ingin segera mengebumikan jenazah anaknya. Awalannya Papa ingin menunggu Adit. Namun Mama Latania melarang. Sebab, tidak mungkin menunggu Adit hingga besok pagi.
Jenazah almarhumah Silfi segera di kebumikan. Isak tangis memenuhi penjuru pemakaman.
Banyak mahasiswa yang datang ke pemakaman mengantar Silfi ke peristirahatan terakhir. Semua mengucap doa yang baik untuk Silfi, kini Silfi terbujur kaku di liang lahat. Tidak ada lagi Silfi yang humoris, tidak membosankan jika mengajar, tidak ada lagi Silfi yang cerdas, cepat di mengerti jika menyampaikan materi. Namun, kebaikan Silfi semasa hidupnyalah yang akan tetap harum dan tetap di kenang.
"Selamat jalan Bu Silfi" doa para mahasiswa.
"Selamat jalan Mbak Silfi" ucap Mawar sambil menabur bunga di pemakaman hanya tinggal bertiga di tempat itu. Yakni, Papa Johan, Mama Latania dan Mawar sendiri.
Papa Johan masih memeluk batu nissan dengan air mata yang tak kunjung reda.
"Sudah Pak Johan...ikhlaskan Mbak Silfi, semoga Mbak Silfi di terima disisinya " ucap Mawar kepada Pak Johan.
Namun Pak Johan tidak menjawab, masih tidak percaya bahwa anaknya kini telah pergi. Jika boleh mengubah takdir, Papa ingin Tuhan memanggil sesuai urutan dan dirinya lah yang akan pergi lebih dulu.
"Benar kata Mawar Pa, sekarang kita pulang ya" Mama Latania membangunkan suaminya. Papa pun berdiri berjalan di samping istrinya. Mawar mengikuti beliau kemudian naik kedalam mobil, supir segera menjalankan mobilnya. Papa Johan membuka jendela menatap di mana peristirahatan terakhir anaknya.
*****
"Haii readher... budhe senang kalian mendukung karya abal-abal aku" 💪💪
"Mohon maaf jika terjadi pro kontra, cerita ini hanya fiktif."
"Aku senang kalian memberi komentarmu, kritik dan saran aku tunggu."
"Tapi budhe mohon jangan ada yang menulis kata penghuni kebun binatang, berbicara kotor, sungguh aku menangis😢😢😢.
Tapi pihak NT sungguh bijaksana jika ada komentar tersebut, tidak muncul di platform. Hanya budhe yang bisa membaca.
"Semoga kalian sehat terus." 💕
__ADS_1