Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Cukup Aku Saja Yang Terluka


__ADS_3

"Sudah Pak, lebih baik kita tidur" pungkas Bu Riska, menyudahi obrolan. Namun keduanya hanya gulang guling memikirkan anaknya yang sedang menderita, tidak bisa memeluk dan menasehati seperti dulu.


*******


Malam telah merangkak Adit duduk di luar ruang ICU Sudah sejak jam lima sore tadi. Mama dan Papa mertuanya juga masih mondar mandir di tempat yang sama.


"Sebaiknya kamu pulang dulu nak, beristirahatlah" Mama Latania mengusap punggung Adit.


"Tapi Ma?" Adit tidak melanjutkan ucapannya.


"Sudahlah nak, tidak ada yang bisa kita lakukan disini, jangan sampai malah kita yang akan sakit nantinya" titah Mama mertua.


"Terus Mama sama Papa sendiri bagaimana?" Adit tidak tega melihat Mama mertunya netranya cekung karena kurang tidur.


"Jangan pikirkan kami Dit, benar kata Mama, kamu sebaiknya pulang." pungkas Papa Johan.


"Baik Pa"


Adit kemudian pulang menjalankan mobilnya menuju rumah Mawar.


Deru mobil di jalanan yang sudah sepi. Hanya ada satu dua mobil saja yang melintas karena waktu mendekati pukul 00.


Adit hatinya terombang ambing.


Silfi koma di rumah sakit, hidupnya kini menjadi semakin rumit. Entah langkah apa yang akan ia ambil kini seolah semua menjadi buntu. Hanya Mawar yang bisa membuatnya tenang saat ini. 10 menit kemudian Adit sampai di rumah.


Saat ini mereka tidak lagi tinggal di rumah yang lama, melainkan sudah pindah ke rumah yang baru sejak dua bulan yang lalu.


"Loh Mas... kok pulang?" tanya Mawar, ketika Adit sudah sampai di rumah. Sebab, malam ini jatahnya menginap di rumah Silfi.


Tidak menjawab Adit justeru memeluk tubuh Istrinya. Tubuh yang bisa membuatnya tenang.


"Silfi koma, Maw" ucap Adit mendekap erat bahu Mawar.


"Astagfirlullah... bukanya kemarin sudah membaik?" tanya Mawar.


Adit mengurai pelukanya kemudian menatap wajah Istrinya yang selalu membuatnya teduh.


"Duduk Maw, aku mau bicara" ucap Adit, kemudian menceritakan semuanya masalah foto, masalah Silfia minta di ceraikan.


"Ya Allah... kasihan sekali Mbak Silfi" ucap Mawar membayangkan seandainya terjadi kepadanya. Walaupun bagaimana Mawar masih tetap bersyukur karena Allah memberinya kesehatan. Jika capek bekerja bisa istirahat dan makan dengan lahap. Sedangkan Silfi, ia tidur dalam kesakitan.


"Terus apa yang sebaiknya aku lakukan Maw, apakah aku harus menceraikan Silfi setelah dia sembuh nanti?" Lirih Adit.


"Apa yang Mas bilang?! Mawar menatap Adit tajam.

__ADS_1


"Jadi laki-laki itu harus tegas! jangan mencla mencle." kata Mawar kesal.


"Sudah cukup Mas menyakiti aku, dan jangan lagi sakiti waniti lain, apalagi orang yang tidak berdaya seperti Mbak Silfi."


"Menyesal itu di belakang, dan penyesalan saja tidak ada gunanya"


"Mas sudah berani melangkah dan teruskan langkah itu sampai tujuan" "Jangan berbelok arah untuk yang kedua kali karena ada kerikil dan batu sandungan"


"Mas tidak boleh seenaknya main menikah kemudian menceraikan."


"Semua sudah terjadi, persoalan ini kita hadapi sama-sama, bukan kita hindari" tutur Mawar tegas.


Adit tertegun menatap wajah Istrinya. Adit sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Entah terbuat dari apa hati istri di depanya ini.


"Mas dulu sudah mengambil keputusan tanpa sepengetahuan aku kan? menjalani poligami tidak semudah yang Mas bayangkan."


"Harus memiliki sikap Adil di antara para istrinya, tidak boleh condong kesalah satu pihak istrinya, sebab akan terjadi kezaliman" Mawar memberi ceramah membuat hati Adit semakin porak poranda.


"Yah, ini mungkin sudah takdir Mas, keputusan Mas sepihak ternyata membuat banyak orang yang tersakiti"


"Silfi, Mas Adit sendiri, Bapak, Ibu, apa yang akan mereka lakukan nanti jika sudah mengetahui laki-laki yang aku bela mati-matian dulu ternyata justru menjadi senjata makan tuan".


"Tapi bagi aku sendiri, mau apa lagi? ya sudahlah... mungkin dengan aku bersabar menerima perlakuan orang-orang yang selalu melukai hatiku, bisa mengurangi dosa-dosaku" "Karena aku pernah melawan orang tuaku, padahal aku sudah tahu beliau adalah surgaku."


Adit seperti tertampar, mengingat dulu ketika ingin menikah dengan Mawar hingga bersujud di kaki Pak Sutisna. Agar Pak Sutisna merestui pernikahanya dan bahkan Adit berjanji akan selalu membuat Mawar bahagia bersamanya. Tetapi Adit tidak bisa menepati janji itu.


Adit gusar berkali kali menjambak rambutnya dan meremas dagunya.


"Tidak usah di jambak-jambak begitu rambutnya Mas, nanti botak loh" Mawar berusaha berseloroh.


"Yang harus Mas perbaiki saat ini dan seterusnya adalah berusahalah untuk bersikap Adil"


"Aku juga tidak akan egois, karana aku sadar. Bahwa Mas Adit sekarang bukan hanya milik aku seorang.


(Nabi dalam hadist riwayat Abu Daut An-Nasa-i, At Tirmidzi bersabda. "Siapa saja orangnya yang memiliki dua Istri lalu lebih cenderung, pada salah satunya. Pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.")


Adit tersentak kaget menatap Mawar kemudian menunduk. Setiap Menatap mata Mawar yang meneduhkan membuat Adit takut, takut kehilangan Mawar.


Mawar menelisik wajah Adit tampak pucat dan bergetar. Sebenarnya Mawar tidak tega menceramahi, apa lagi suaminya sendiri. Namun Adit tidak boleh menikahi perempuan lantas main cerai-cerai seenaknya sendiri.


Biar bagaiman Mawar juga perempuan pasti merasakan sakit hati yang sama jika di permainkan.


"Sekarang Mas lebih baik Mandi gih, badanya bau obat tuh" ucap Mawar. Mawar tidak sengaja sekilas melihat kiss mark bekas tanda cinta memenuhi dada suaminya karena kancing kemeja suaminya terbuka setengah.


Harus sabar, harus sabar, saat ini Adit bukan milikku sendiri. Memang sudah sepantasnya jika Adit melakukan itu. Ini hubungan yang halal.

__ADS_1


"Terus sekarang aku harus bagaiamana Maw?" Adit mengulangi pertanyaan rupanya ceramah Mawar belum membuatnya mengerti.


"Nggak bagaimana-bagaimana kita harus berusaha membuat Mbak Silfi senang agar sedikit mengurangi rasa sakitnya. Kita beri semangat, hari minggu besok kalau aku lagi nggak kerja aku mau ikut Mas menjenguk kerumah sakit." pungkas Mawar.


*****


Keesokan harinya di tempat yang berbeda. Di salah satu rumah keributan seperti ini sering terjadi.


"Mbok Paijem... kaos kaki saya dimana sih?! bentak Diah.


"Di lemari bekas non Mawar Mbak" sahut Simbok.


Semenjak Mawar dan Adit pindah dua bulan yang lalu, Ibu Reny dan Diah menempati rumah yang dulu di rempati Adit.


"Cariin dulu!" sarkas Diah, dari lantai dua.


"Sarapan kok belum mateng sih?! Ibu Reny ikut membentak sambil memegangi tudung saji.


"Astagfirlullah...saya harus mengerjakan yang mana dulu ini?" Mbok Paijem pun ikut emosi sudah tidak sanggup selama dua bulan di perlakukan seperti ini.


"Kaos kaki dulu! mau berangkat kuliah nih!"


"Masak dulu Mbok keburu lapar!" ketus Ibu Reny.


"Maaf ya, saya di gaji nyonya Latania, untuk membereskan rumah, bukan untuk mengurusi kalian"


ucap Simbok kesal.


"Kerjakan sendiri, kalian punya kaki dan tangan" kata Simbok, kemudian Simbok melangkah kekamar tidak mempedulikan Ibu dan anak yang berteriak teriak.


.


"Hallo reader yang baik hati dan tidak sombong🙌 sudah hampir part 30 budhe ✍ belum menyapa kalian."


"Maaf kalau membuat kalian kesal membaca cerita amburadul budhe✍ yang tidak sesuai dengan hati kalian.🤝


"Terimakasih atas respon dan support yang kalian berikan.💕


"Jika boleh meminta lebih.


Teruslah mengeluarkan unek unek.


Beri like dan Vote


Terimakasih💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2