
"Yang... kamu sama Papa ada apa sih? jangan-jangan... ada main, di belakang aku" tuduh Adit asal, sebenarnya hanya ingin menggoda Mawar saja, mana mungkin istrinya berbuat begitu.
Mawar melotot kesal. "Ngomong nggak di saring! aku tuh bukan kamu yang gampang mengobral cinta!" rupanya Mawar menganggap serius, perkataan Adit.
"Ahahaha, bercanda" Adit justeru ngakak.
"Nggak lucu!" Mawar melirik sebentar kemudian mlengos.
"Makanya cerita dong, aku penasaran nih" kata Adit.
Mawar menarik napas panjang kemudian menceritakan kepada Adit mengapa dirinya sampai kabur, dan melabrak pernikahan Aditia dihotel.
"Jadi kamu sangka yang menikah dihotel itu aku." Adit geleng-geleng.
"Iya, sepulang dari rumah Nini, aku pulang naik taksi, terus mampir ke butik, dandan ke salon, supaya aku nggak malu-maluin ketika menggagalkan pernikahan yang aku pikir pernikahan, Mas" Mawar menyesal mengingat itu.
"Terus"
"Terus, aku berangkat sama supir taksi, uh, ternyata sial, Mas... di tengah perjalanan malah macet"
"Begitu perjalan lancar waktunya kurang 10 menit"
"Pak, cepatan, pak" Mawar menirukan ketika memerintah supir.
"Iya Mbak, ini sudah ngebut" sahut supir.
"Jadi kamu ngomel-ngomel sama supir?" tanya Adit tidak percaya dengan sikap istrinya.
"Ya gitu, Mas"
"Eh, ngomong-ngomong supir, aku baru ingat Mas, sisa pembayarannya, belum aku bayar." Mawar tepuk jidat.
"Ya Allah... kasihan tuh supir." saat itu. Mawar langsung kesakitan sampai tidak ingat supir yang sudah menemaninya dan membantunya sepanjang hari.
"Nanti kita tanyakan Papa Johan, mungkin beliau tahu, lagian kan kamu belum kemana-mana, masih disini, kalau belum di bayar pasti dia datang." pungkas Adit.
"Nanti aku check aplikasi dech Mas, mungkin nomernya masih ada" kata Mawar.
"Terus... bagaimana? kelanjutannya" Adit masih ingin mendengar.
"Terus-terus... entar dulu apa? capek mulutku tahu!" ketus Mawar.
"Oh, capek? minum dulu nih" Adit ambil air minum dalam botol kemudian menyerahkan kepada Mawar.
Mawar minum beberapa teguk, kemudian mengembalikan botol kepada suaminya lalu melanjutkan ceritanya.
"Aku bingung, stres banget, Mas, perutku rasanya kencang sekali" "Sampai di hotel pun nasibku sial, ditahan satpam nggak boleh masuk, karena tidak membawa undangan" "Aku dorong saja tuh satpam, terjengkang dech dia" Mawar jadi ingat satpam itu merasa bersalah, dan kasihan.
"Eh, nggak tahunya, begitu masuk sudah mendengar, sah, sah, sah." "Aku tuh Marah sekali Mas, kemarin."
Adit mengamati wajah Mawar mendadak merah seperti Marah. "Terus, bagaimana" kata Adit karena Mawar diam tampak berpikir.
"Gitu, dech, sampai dalam aku syok banget Mas, nggak bisa menggagalkan pernikahan itu." Mawar meraup wajahnya beruntung, Allah mempunyai rencana lain agar ijab kabul berjalan lancar, jika dirinya sampai berhasil menggagalkan pernikahan itu, pasti tidak akan memaafkan dirinya sendiri seumur hidupnya. Mawar bergidik ketakutan.
"Terus, begitu aku masuk melihat Papa Johan, aku hajar tuh pakai tas, tanpa ampun." Mawar mengingat itu menutup wajahnya, rasanya malu jika ingat.
"Aku ingat Mas, Papa Johan saat itu dengan seenaknya menjodohkan Mas dengan anaknya, terus aku pikir, kemarin tuh Papa Johan menikahkan Mas, dengan orang lain lagi." tutur Mawar mendadak sedih.
"Kamu memukuli Papa?" Adit ternganga. "Memang kamu nggak memperhatikan wajah pengantinya." Adit nggak habis pikir.
"Nggak kelihatan, hanya badanya saja, saat itu pengantinnya lagi menandatangani akta nikah"
"Aku malu Mas, aku menjadi tontonan banyak orang. Terus, perut aku semakin lama semakin bertambah mules."
__ADS_1
"Ya Allah... jadi begitu ceritanya?" Adit benar-benar tidak menyangka istrinya bertindak tidak di pikir dulu, padahal biasanya selalu hati-hati setiap melangkah.
" Iya, ini semua tuh gara-gara Mas!" Mawar jengkel menatap tajam Adit. Adit kemudian turun dari ranjang lalu duduk di samping Mawar.
"Loh kok aku?" Adit mengusap lembut punggung istrinya.
"Waktu itu aku ngantar makan siang buat Mas, soalnya kita kan jarang ketemu, aku ingin makan berdua sama kamu, terus kata Risky Mas sedang keluar sama perempuan cantik" Mengingat itu Mawar kesal. Pasalnya sudah capek-capek masak Adit malah kencan dengan wanita lain.
"Terus... terus, bagaiman" Adit menggaruk kepala merasa bersalah.
"Ya gitu, akhirnya aku sebel sama Mas!" Mawar menyikut suami di sampingnya.
"Aduh sakit yang." Adik meringis mengusap lengan atas yang kena sikut.
"Sukurin!" Mawar manyun langsung di cubit bibirnya pelan sama Adit.
"Terus..." ucap Adit.
"Aku tuh! keseeellll... akhirnya aku memesan taksi ingin pulang saja, sampai di jalan aku nggak sengaja lihat Mas lagi didepan Mall, Mas sedang jalan berdua sama anak gadis kan!"
"Terus..." Adit membelalakan mata.
"Ya gitu, aku ikuti saja Mas sama hadis itu"
"Jadi, kamu belajar menjadi detektif?" Adit tersenyum, padahal sebenarnya kasihan membayangkan Mawar mengikutinya dalam keadaan perut besar.
"Tuh kan, ngeselin! sudah tahu aku kesusahan, malah tersenyum bahagia!" Mawar mencubit lengan Adit.
"Ya Allah... lihat" Adit memperlihatkan tanganya yang merah bekas cubitan.
"Bodok!" Mawar membuang muka.
"Sekarang dengerin-dengerin. Aku mau cerita" Adit pindah duduk agar bisa berhadapan dengan Mawar.
"Assallaamualaikum..." seorang gadis cantik dan anggun datang kebengkel.
"Waalaikumsalam." Risky menjawab sallam.
"Ada yang bisa kami bantu Non? servis onderdil mobil, steam, ganti oil" Risky promosi ia pikir wanita cantik ini ingin memperbaiki mobilnya.
"Tidak bang, saya bisa bertemu dengan kak Adit?" tanya gadis itu.
"Oh sebertar, saya panggilkan dulu" Risky bergegas keruangan Adit, yang sedang mantengin komputer.
"Pak Adit, ada yang ingin bertemu"
"Siapa?" tanya Adit, tanpa menoleh Risky, tetap fokus dengan komputer.
"Saya tidak tahu pak, dia seorang gadis cantik" terang Risky.
"Gadis cantik?" Adit bingung bertanya-tanya dalam hati kemudian segera keluar, Risky membuntuti. Sampai di luar, seorang gadis sedang berdiri, terlihat tampilan dari belakang.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak" sapa Adit ramah.
Gadis itu menoleh, mendengar suara familiar yang sudah setahun tidak pernah bertemu.
"Kak Adit"
"Aisyah?"
Keduanya sama-sama terkejut.
"Kamu sama siapa kesini? Aditia kemana?" bola mata Adit berputar mencari sosok calon suami Aisyah.
__ADS_1
"Dia, masih di Jawa timur kak. Aisyah ingin ngobrol
nih, tapi pengen duduk" kata Aisyah, sebab kakinya sudah pegal tidak di suruh duduk.
Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, di bengkel ini tidak ada tempat duduk, selain yang di duduki Risky dan ruangan dia sendiri. Adit bingung tidak mungkin ngobrol di dalam ruangan, bisa-bisa menjadi fitnah. Yang kedua, menyuruh Risky kerja sambil berdiri juga tidak mungkin, sebab Risky tampak sibuk mencatat banyak mobil dan motor yang ngantri.
"Kak" panggil Aisyah, melihat Adit bengong.
Aisyah mengejutkan Adit. "Kamu sudah makan siang Syah?"
"Belum" sahut Aisyah.
"Kita kerumah saja Syah, makan dirumah kakak, sekalian kakak kenalkan sama istri kakak" usul Adit.
"Hanya berdua kak?" tanya Aisyah.
"Ya, iyalah. Memang ada siapa lagi?" Adit balik bertanya.
"Tak mau kak, Aisyah ingin kenalan sama istri kak Adit, tapi nanti sama suami Aisyah, tak enaklah kak, tiba-tiba datang kerumah kakak hanya berdua, kalau istri kakak salah paham bagaimana?" kata Aisyah memang benar adanya.
"Ya sudah, kita makan di restoran saja Syah, sekalian ngobrol" Adit tidak ada pilihan lain.
"Iya kak"
Adit kemudian ambil kunci mobil, ingin berangakat.
"Bentar kak, Ini aku titip undangan untuk keluarga kakak, dan teman dekat kak Adit di kantor ya" Aisyah menyerahkan undangan.
"Okay..." sahut Adit lalu meletakkan undangan di meja kerja, kemudian berangakat ke restoran tanpa pamit Risky.
"Kamu duduk di kursi belakang saja ya syah, biar kakak jadi supir nggak jadi masalah, kita jaga pasangan masing-masing" titah Adit, Aisyah menyahut dengan kekehan lalu masuk kedalam mobil.
Mereka pun berangakat kerestoran.
Sampai restoran mereka memesan makanan, setelah Wattress menyerahkan buku menu. Tidak lama kemudian pesanan datang mereka makan dalam diam.
"Kamu menginap di hotel mana Syah?" tanya Adit setelah menghabiskan makanya.
"Di hotel xxx kak, Umi sama Abi sudah disana"
"Tapi aku disuruh mampir ke pakde Johan dulu" terang Aisyah.
"Duuh... sudah pakde aja panggilnya" goda Adit terkekeh. "Katanya nggak mau tapi malah nyamperin kesini" sambungnya.
"Ih kakak, nyebelin! aku kan kesini memang kemauan dua belah pihak menikah disini. Ya wajarlah kalau aku datang" Aisyah kesal.
"Ya sudah iya. Terus kamu tadi mau ngomong apa sama kakak" tanya Adit serius.
"Kak aku mau beli gaun, tapi disini nggak ada teman"
"Minta ditemani Mama Latania dong." titah Adit.
"Bude Latania juga di Jawa timur, terus yang dirumah hanya ada Bibi."
Adit bingung, urusan di kantor Papa belum selesai, pekerjaan di bengkel menanti, dan yang membuat lebih bingung Istrinya akhir-akhir ini kurang perhatian. Adit menarik napas panjang kemudian melepaskan.
"Kak, temani aku ya, sekali... saja"
"Ya sudah ayu, tapi nggak lama ya"
"Nggak kak, kalau kelamaan juga pasti nanti Ummi marah."
Flashback off.
__ADS_1