
Keesokan harinya setelah shalat subuh berjamaah, Mawar dan Adit masih enggan untuk keluar dari kamar. Mereka berbincang-bincang sambil rebahan di kasur.
"Mas, aku mau bicara" ucap Mawar, tangannya memainkan bulu halus di dada suaminya karena mereka tidur berhadapan.
"Bicara saja, kan dari tadi kita sudah ngobrol terus, sampai mulutku berbusa." kata Adit sambil memejamkan mata.
"Iya, tapi buka matanya" Mawar membuka mata Adit dengan kedua jarinya.
"Apa? mau lagi?" Adit terkekeh, akhirnya membuka mata.
"Ihh, aku serius nih" Mawar cemberut.
"Ya sudah, aku juga dengerin dua rius kok" Adit terkekeh lagi.
"Begini Mas, waktu itu kan Mas punya rencana mau buka bengkel, tapi modalnya habis, aku pakai untuk modal minimarket" ucap Mawar tidak enak hati.
"Terus kenapa?" tanya Adit santai.
"Waktu itu aku sempat mencari orang yang mengerti di bidang itu, dan tahu tentang bagaimana cara mengelola usaha bengkel. Tapi, mereka kurang berminat Mas, sebab temanku rata-rata orang ekonomi." Mawar menjelaskan.
"Sempat juga pasang iklan di google, tapi rata-rata minta gaji besar, sedangkan kita kan baru mau mulai usaha." terang Mawar.
"Terus... aku kira Mas waktu sudah--" Mawar menjeda ucapanya.
"Sudah mati, gitu kan maksudmu?" tanya Adit tampak biasa saja.
"Maaf" lirih Mawar.
Adit menghela nafas panjang, kemudian menggenggam tangan Mawar. "Aku kan sudah bilang Maw, aku tahu semua yang kamu lakukan, dan apapun yang kamu rencanakan selagi itu positif aku selalu mendukung, kok." jujur Adit.
"Hanya aku minta, jangan terlalu capek, biar kita segera mendapat momongan." berbicara tentang momongan, Adit menatap Mawar penuh harap.
"Iya Mas, tidak hanya Mas Adit kok yang ingin segera punya anak, aku juga sama." Mawar pun menerawang memikirkan bayi yang lahir dari rahimnya reflek mengelus perutnya.
"Sebenarnya aku lebih senang, kamu kuliah saja, biar aku yang mencari uang, karena itu tanggungjawab aku" Adit penuh semangat.
"Tapi aku tahu, pasti kamu menolak jika aku menyampaikan hal itu." tutur Adit, tangananya masih betah menggenggam tangan Mawar.
"Ya jelas lah Mas, aku kan tipikal orang yang nggak mau diam dari dulu, lagian aku senang jika bisa membantu orang membuka lapangan pekerjaan." tutur Mawar bersemangat kali ini bisa mempekerjakan 4 orang termasuk adiknya.
"Untuk rencanaku membuka bengkel, aku akan tetap melanjutkan rencana ku" kata Adit. "Tetapi tidak untuk sekarang, kamu kan tahu, keadaan aku sekarang belum bisa beraktivitas terlalu berat." kata Adit semakin melemah.
"Yang sabar Mas, aku mendukung juga rencana kamu, tapi memang sebaiknya Mas keluar dari perusahaan Pak Johan, aku tidak ingin berlarut-larut dalam trauma Mas." Mawar ingin memulai hidup harmonis seperti dulu walaupun tidak banyak harta.
"Kita mulai dari awal Mas, nggak usah repot membuka usaha lagi kita jalankan saja, apa yang sudah ada."
"Iya aku tahu, maksudmu Maw, tapi aku tetap akan menjalankan cita -citaku yang sudah aku impikan sejak dulu"
"Sebenarnya, aku sudah punya modal untuk menyewa tempat, tapi tidak mungkin aku meninggalkan Papa Johan begitu saja Maw,"
"Setidaknya, aku ingin membayar hutang untuk biaya pengobatanku kemarin yang merogoh kocek" pikir Adit Papa Johan tidak mungkin mau di bayar biaya pengobatan kemarin dengan uang, maka dari itu lebih baik Adit membayar dengan pemikiran untuk membantu usahanya hingga beberapa bulan kedepan, tanpa harus menerima gaji.
"Ya Mas, semoga semua berjalan sesuai rencana, dan kamu cepat sembuh" Mawar mengelus tangan Adit.
"Aamiin" ucap keduanya.
__ADS_1
"Kita sarapan Mas, aku lapar" ucap Mawar kemudian ingin turun dari ranjang.
"Eh tunggu, aku mau lagi" Adit menahan kaki Mawar. "Mau ngapain?" sebenarnya Mawar tahu maksud Adit, tapi Mawar ingin cepat kebawah memberi kejutan kepada keluarganya jika suaminya telah kembali dengan selamat.
"Maw, please" Adit menatap istrinya penuh gairah.
*****
"Kok tumben, kakak kamu belum kebawah ya Mel?" tanya Bu Riska sebelum ke Toko mereka sudah menunggu Mawar di meja makan.
"Iya, nggak biasanya, kakak kamu turunnya terlambat" Pak Sutisna menimpali. "Biasanya paling pertama bangun, apa jangan-jangan dia sakit ya, Mel?" Pak Sutisna mendadak cemas.
"Biar saya panggil ya Bu" Melati menenangkan Bapak dan Ibunya.
"Biar saya saja Non" Mbok Paijem yang sedang menata makan pagi di meja makan menawarkan diri.
"Oh gitu ya Mbok" sahut Melati Simbok pun menaiki anak tangga. Tak lama kemudian Simbok kembali.
"Mana Mbok?" tanya Bapak, Ibu, dan Melati bersamaan.
"Katanya sebentar lagi Bu" ucap Simbok mendekati meja makan.
"Oh, ya sudah Mbok, kita tunggu saja saya pikir Mawar sakit." Ibu bernapas lega.
"Tak tak tak"
Semua penghuni meja makan menoleh cepat ke arah tangga. Dua sosok pasutri itupun berjalan beriringan. Semua tersentak dengan mulut menganga.
Adit menatap wajah Pak Sutisna tersenyum kikuk. Terakhir bertemu saat itu, Pak Sutisna sedang membencinya.
Pak Sutisna merasa lega, ternyata menantunya masih hidup. Walaupun Pak Sutisna sangat marah waktu itu. Namun biar bagaimana pun Adit adalah menantunya yang di cintai anaknya.
Kedua mertua dan menantu itupun larut dalam pikiran masing-masing.
"Bapak, Ibu" ucap Adit kemudian menyalami kedua mertuanya dan yang terakhir Melati.
"Alhamdulillah... Mas Adit, selamat dari kecelakaan itu Bu" Mawar menjelaskan kepada orang tuanya yang masih bingung.
"Alhamdulillah..." ucapnya bersamaan.
"Bapak sama Ibu apa kabar?" tanya Adit kemudian menarik kursi lalu duduk di samping Mawar.
"Sehat nak, kapan kamu sampai? kok Bapak sama Ibu tidak tahu?" tanya Bapak.
Adit pun menceritakan semuanya dari A sampai Z.
Bapak, Ibu dan juga Melati, mengangguk-angguk percaya.
"Oh, jadi begitu ceritanya nak" kata Ibu.
"Kamu sudah ketemu Bapak kamu?" tanya Pak Sutisna.
"Sudah Pak, maaf. Kemarin saya langsung kesana."
"Nggak apa-apa, Bapak malah senang, saya pikir kamu belum kesana." pungkas Bapak.
__ADS_1
"Sudah, makan dulu, lapar banget aku" ucap Mawar.
Mawar melayani makan Adit, kemudian dirinya sendiri, selesai makan mereka membubarkan diri bekerja sesuai tugas masing-masing kecuali Adit ia ikut Mawar mengecek minimarket.
"Oh, Toko nya, kamu beri nama Rose shop?" Adit tampak mengamati plang.
"Iya Mas, jelek ya?" tanya Mawar.
"Nggak lah, bagus malah, kamu memang cerdas" Adit menoel jidat Istrinya pelan.
"Mas, aku bantu Melati dulu ya" ucap Mawar tidak menyahut pujian Adit kemudian mendekati kasir, memang sedang mengantri panjang.
"Iya, sahut Adit.
Adit, menatap istrinya dari kejauhan tampak bersemangat melayani pelanggan sambil ketawa-ketawa Adit pun merasa turut bahagia.
Senyum terukir di bibir Adit. "Aku ikut senang, jika kamu juga senang sayang..." monolok Adit. Kemudian berjalan menuju warung sayur dimana Pak Renggono berjualan, tampak di kerubungi Ibu-Ibu.
"Selamat pagi" Adit menyapa Ibu-Ibu.
"Selamat Pagi, adik mau belanja juga ya?" tanya salah satu Ibu yang mengenakan baju daster.
"Ini anak saya Bu" Pak Renggono memperkenalkan anaknya.
"Oh gitu ya, saya pikir mau ikut belanja." Ibu itu menatap wajah Adit. "Ganteng banget" monolognya.
Adit tersenyum kemudian masuk kedalam membantu Bapaknya.
"Anaknya ganteng Pak" celetuk salah satu Ibu.
"Iya, kalau masih lajang, saya punya anak gadis yang belum menikah loh" kata seorang ibu setengah baya terkekeh.
"Yeah, Bu joko, nggak pantas lah, kalau perempuan melamar tuh" salah satu dari mereka tak mau kalah.
"Kecuali sama anak saya. Anak saya juga masih gadis loh" Ibu itu terkekeh
Ibu-ibu pun merebutkan pepesan kosong.
"Saya, suami Mawar bu" Adit akhirnya berkomentar sudah dari tadi ingin berucap tapi tidak bisa menyela Ibu-Ibu.
"Oh, pemilik Rose shop?"
Adit mengangguk.
"Oh, cocok sekali, yang perempuan cantik, dan yang laki-laki ganteng."
"Terus, apa yang Ibu-Ibu perlukan? nanti keburu datang pelanggan yang lain?" Pak Renggono sampai kakinya gatal karena berdiri menunggu 5 orang Ibu bukanya cepat belanja malah sibuk membicarakan Adit.
"Saya ini saja"
Para Ibu meletakkan belanjaan di atas meja kemudian Adit membantu Pak Renggono menghitung belanjaan.
******
"Perasaan di profel pembacanya banyak, tapi yang like hanya sedikit, budhe sadar, penulis kelas teri. Tapi tetap semangat." 💪💪💪
__ADS_1