
Hari-hari terlewati begitu indah perjalan cinta Abimanyu dengan Diah Susanti. Ya. Walaupun banyak batu sandungan. Tidak menghalangi langkah mereka untuk menuju Jalan yang lebih serius, yaitu pernikahan. Abim tidak memungkiri bahwa Diah wanita yang sulit ditebak kepribadiannya. Namun, itulah bagian dari tantangan Abim untuk menyibak misteri kekasihnya, dan membawanya menuju jalan yang lebih baik.
Mungkin benar kata pepatah jika cinta sudah melekat tai kucing rasa coklat.
Kendati demikian, Abim tidak menampik bahwa kedua orang tuanya tidak memberi restu. Karena beliau ada pilihan wanita lain yaitu; Melati.
Yang sudah dapat dipastikan Melati Wanita yang lembut, baik, dan sholehah. Tetapi masalah hati tidak ada nilai tawar bagi Abim.
"Diah maukah kamu menjadi istriku?" Abim menyelipkan sebuah cincin di jari manis kekasihnya itu.
"Aku bersedia Mas. Tapi... bukankah orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita?" Diah lemas mengingat itu.
"Tenang Diah, walau begitu orang tuaku pada dasarnya orang baik, saya akan berbicara kepada beliau." Mengusap lembut punggung tangan Diah yang masih di atas meja.
"Jadi... Mas belum minta restu!" Diah terkejut.
"Kamu tenang saja, sekarang juga aku akan membicarakan masalah ini kepada beliau." Dengan hati yang sudah mantap. Abim ingin pulang kerumah mengutarakan keinginannya kepada Papa dan Mama Sahina. Setelah mengantarkan Diah pulang kerumah sebab, mereka tadi sedang berada di taman.
*******
"Jadi? kamu mau menikahi wanita itu?" tanya Mama Sahina. Menyebut nama Diah saja rasanya malas.
"Keputusan Abim sudah bulat Ma, Pa. Abim minta restu," kata Abim sungguh-sungguh.
"Tidak! Mama tidak akan merestui kalian!" Mama Sahina tidak kalah tegas.
"Benar kata Mama kamu Bim, kami melakukan ini demi kamu, kami hanya ingin kamu hidup bahagia." Papa menimpali.
Abim diam merenung.
"Coba lah nak, berpikirlah secara dewasa, umur kamu sudah 28 tahun, seharusnya kamu sudah tahu mana yang terbaik." kata Mama lembut.
"Menikahlah dengan Melati. Melati itu kurang apa sih nak? dengan kamu menikahi wanita yang baik, dan shaleh seperti Melati, anakmu nanti pun akan menjadi anak yang sholeh. Insyaallah." tutur Mama.
"Tidak Ma, biar bagaimana Abim akan tetap menikahi Diah." pungkas Abim lalu pergi meninggalkan Papa dan Mama Sahina.
Mama hanya pasrah menatap kepergian Abim dengan mata yang berkabut.
"Abim yang dulu penurut mengapa sekarang menjadi pembangkang Pa." Mama menitikan air mata kecewa.
"Sudahlah Ma, kita hanya bisa berdoa, anak kita yang akan menikah kita hanya bisa berdoa semoga mereka hidup bahagia" Papa menggengam telapak tangan Mama Sahina yang sedang menangis.
Abim menjalankan motornya setelah menulis chat untuk seseorang.
"Kak Mawar. Kak Mawar..." Melati tersenyum senang melangkah cepat masuk kerumah Mawar.
"Kamu ini kebiasaan, kalau masuk tuh jangan lupa mengucap salam, biar keponakanmu meniru kebiasaan baik." Nasehat Mawar.
"Iya kak lain kali nggak gitu lagi."
"Terus kamu kenapa senang begitu? sedang mendapat lotre?" kelakar Mawar.
"Ini lebih dari sekedar lotre kak. Nih kak, kak Abim chat aku, agar aku menemuinya di cafe." Melati menunjukkan chat yang dikirim Abim beberapa menit yang lalu. Melati senang, pasti kak Abim akan mengutarakan perasaan cintanya kepadanya, yang selama tiga tahun ini melati nantikan.
Mawar menatap Melati dahinya berkerut. "Kamu sudah tahu untuk apa dia memanggilmu?"
"Aku yakin kak, kak Abim pasti akan menyetujui perjodohan orang tua kita." sahutnya berbinar.
Mawar menepuk pelan pundak adiknya. "Mel, apapun yang akan menjadi keputusan Abim kamu harus terima ya"
Mawar pesimis dengan Abim. Mana mungkin Abim akan menerima perjodohan ini mengingat cintanya kepada Diah adik iparnya itu sangat besar.
"Sudah ya kak Mawar, aku berangkat." ucapnya bersemangat.
"Iya hati-hati Mel" Mawar menatap langkah adiknya sendu. Orang bodoh pun tahu, jika Abim menyetujui perjodohan ini pasti akan datang kerumah. Bukan malah meminta melati untuk menemuinya di suatu tempat. Mawar menarik napas panjang.
Dengan semangat, Melati pulang kerumahnya sendiri yang tidak jauh dari rumah Mawar. Melati membeli rumah itu dengan cara mencicil setiap bulan.
Dengan hati yang berbunga-bunga Melati mengeluarkan motor dari garasi lalu bergegas menuju cafe dimana Abim menunggu.
Sampai di tempat, bola matanya berputar mencari dimana Abim duduk. Hingga menangkap sosok di sudut ruangan Abim sedang asik dengan gawai di tangan. Melati mengulas senyum menghampiri.
__ADS_1
Sebenarnya Melati agak ragu jika memang Abim menerima perjodohan orang tuanya. Masa iya? bukan dia yang mendatangi, justeru Melati yang diminta datang. Tetapi bukankah menembak pacar, atau melamar kekasih di cafe sungguh romantis? Melati kembali tersenyum berpikir positif.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Abim segera berdiri menarik kursi lalu mempersilakan Melati duduk.
Ya Allah... Kak Abim sungguh romantis.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Abim kemudian, setelah keduanya terdiam.
"Terserah kakak saja."
Abim segera memesan menu makan siang.
Melati menatap wajah Abim yang sedang menulis dibuku menu. "Oh Tuhan... tampan selali" batin.
Satu menit, dua menit, melati menunggu apa yang akan dikatakan Abim. Tetapi hingga menit kelima Abim justeru asyik dengan handphone.
"Kak" lirih Melati.
Ambim mengangkat kepala menatap mata melati yang sedang memperhatikan dirinya.
"Apa."
"Bukankah kakak tadi memanggil aku, itu artinya kak Abim ada keperluan kan?"
Abim memperbaiki posisi duduknya. "Mel, sebelumya saya minta maaf. Karena selama ini sulit untuk menentukan pilihan antara kamu dan Diah,"
Deg. Melati sudah bisa menangkap arah pembicaraan Abim.
"Saya tahu, kamu orang baik, dan tidak di ragukan lagi. Tetapi saya sudah pikirkan matang-matang ternyata kita tidak berjodoh."
Melati menunduk menahan bulir air mata jangan sampai jatuh. "Saya mengerti kak, yang namanya jodoh tidak bisa dipaksakan."
Abim menangkap kilatan kecewakan dimata Melati. Walaupun bibirnya berbicara begitu tetapi didalam hatinya menyimpan duka. Abim sebenarnya berat untuk menyampaikan ini.
"Hehehe... tidak kak Abim, jodoh, rejeki, maut sudah di tentukan. Untuk apa kita harus melawan takdir."
"Terimakasih Mel"
********
Assalamualaikum... apa kabar reader semua... semoga kalian sehat. Dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. 💕
Budhe akan lanjut menulis tentang Abim setelah lebaran dengan judul yang berbeda. Kenapa habis lebaran? sebab kisah Abim, akan mengandung bawang dan greget. 😢😢😢
Budhe kalau nulis suka baper, jadi budhe mau fokus puasa dulu.
Bagi sahabat Author yang ingin mampir budhe tidak menerima bomlike, mohon kerjasamanya.
Dalam rangka merayakan hari lebaran budhe akan membagi Pulsa masing-masing 20 ribu untuk 14 reader yang komentarnya membuat budhe semangat menulis, dan juga like tanpa skip. Khususnya karya CERITA MAWAR.
SUSWANTI
HELEN APRIANI.
SITI R.
__ADS_1
RABIATUL ADDAWIYAH.
SULIS KARTIKA
Fitri
Reva.
NURHIDAYAH.
9 . YUYUN YUNINGSIH.
ERLINA RINI.
MAZAIR 9
SRI MAELIZA NURJANAH.
SUPIAH BELITUNG.
YATIENEM.
Yang namanya di tulis diatas chat ya, kirim no handphone. Walaupun hanya pulsa tidak seberapa besar siapa tahu bisa untuk telepon nyokap bokap bagi yang tidak pulang kampung. ❤❤❤
__ADS_1