
Aditya PoV
Samar-samar aku mendengar perbincangan pelan. Suara itu seperti tidak asing di telinga. "Benarkah itu suara istriku? batinku.
Apakah aku sedang bermimpi, berhayal, atau berhalusinasi? karena sangking rindunya aku pada istriku. Aku ingin membuka mata, tapi merasa takut. Takut jika ini hanya mimpi.
"Mel, mendingan kamu shalat dulu gih?"
Oh, suara itu, memang suara istriku. Alhamdulillah... dia telah kembali.
"Kakak nggak apa-apa aku tinggal?"
Aku mendengar suara Melati menyahut, berarti benar, aku tidak sedang berhayal maupun bermimpi.
"Nggak apa-apa." sahutnya singkat.
"Ya sudah... baik-baik ya kak, aku akan segera kembali" ucap Melati kemudian aku mendengar derap langkah kaki yang beralas sepatu berjalan nyaring membuka pintu.
Aku membuka mata perlahan istriku duduk di atas kursi roda. Aku terperanjat mengapa, dan kenapa istriku menggunakan kursi roda?
"Mawar..." panggilku lirih. Karena hanya untuk bersuara pun tenagaku nyaris tidak kuat.
"Mas..." ucapnya satu kata, ia menatapku dengan wajah lelah, seperti banyak beban yang ia pikul.
"Sayaaang..." tanganku menggapai-nggapai ingin mengusap wajahnya tapi ia enggan mendekat.
"Kamu kemana saja... heemmm... nggak kangen sama aku?" tanyaku, aku tersenyum. Senyum yang tidak pernah terukir selama seminggu ini dibibirku.
"Mas, kenapa?" dia bertanya balik. Aku hanya menggeleng tidak menjawab.
"Mas sudah shalat?" pertanyaan itu yang selalu aku dengar, dan kini terdengar lagi setelah seminggu terasa sepi, sungguh aku bahagia.
"Belum?" jawabku.
"Sini dong... mendekat... memang kamu nggak kangen sama aku?" aku menatapnya lalu melihat jam di handphone masih tepat jam enam, berarti baru selesai adzan, bentar lagilah, pikirku.
"Ka- kangen" jawabnya terbata, tersenyum malu-malu.
"Kamu masih marah, sama aku?"
Dia menggeleng. "Mas kan belum menjawab pertanyaan aku, Mas sakit apa?" dia mengalihkan. Aku tatap wajahnya seperti menunggu jawabanku.
"Hanya sakit biasa saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, asam lambungku naik." sahutku enteng. Dia menatap aku tajam, tapi sudah mulai bawel, itu artinya hatinya mulai membaik. Sebab, jika sedang marah dia suka mendiamkan aku.
"Iya, karena nggak mau makan!" ketus nya, kemudian memalingkan muka.
"Habisnya... nggak ada kamu, aku jadi nggak lapar" ucapku pura-pura kesal.
"Kenapa nggak minta di temani gadis yang pakai baju syar'i itu!"
Deg. Aku mulai berpikir apa dia kemarin cemburu dengan adik angkatku yang dari Penang? hingga dia sampai pergi dari rumah.
"Aisyah maksudnya? kamu tahu darimana?"
"Mas nggak usah ingin tahu, aku tahu darimana? suamiku makan di restoran, belanja di Mall!" sinisnya.
__ADS_1
Aku benar-benar yakin, ternyata dia tahu ketika aku mengantarkan Aisyah membeli gaun dua minggu yang lalu. "Duh ya Allah..." Aku merasa bersalah.
"Tidak sulit kok bagi aku mengetahui Mas jalan dengan wanita lain selalu ada waktu! tapi giliran sama istri kenapa ya! bisa lupa?!" dia ngomel-ngomel sudah seperti biasa.
"Iya waktu itu aku memang sedang mengantarkan Aisyah, nanti aku ceritakan semuanya." kataku.
"Maaf ya, aku waktu itu lupa menjemput kamu. Aku tidak bermaksud membohongi kamu" kataku.
"Aku salah, padahal aku sudah berjanji ingin mengantarkan kamu kontrol" suaraku pun akhirnya mengalir begitu saja. Karena kehadiranya, terasa memberikan energi dalam tubuhku.
"Sini duduk di samping aku" aku tepuk ranjang.
Dia mendorong kedua sisi kursi roda dengan kedua tangannya tampak kesulitan. Namun akhirnya sampai juga disampingku.
Aku raba wajahnya, wajah yang aku rindukan seperti mengalirkan kekuatan baru, kepalaku menjadi terasa ringan.
"Kenapa kamu memakai kursi roda?" tanyaku namun dia tidak menyahut.
Aku mencoba bangun, menyusun bantal, kemudian duduk bersandar. Aku perhatikan wajahnya dari tadi seperti ketakutan untuk menatapku.
"Mas shalat dulu, keburu terlambat, tayamum saja kalau nggak kuat" ucapnya.
"Iya tapi aku mau kekamar mandi dulu" ucapku.
Dia hanya diam, mulutnya terbuka sedikit ingin berucap namun tidak jadi.
Aku turun dari ranjang, biasanya di bantu Diah maupun Bapak, tapi entah mengapa mereka belum datang.
"Aku bantu" ucapnya bersemangat, tetapi mengaduh ketika ingin berdiri.
"Sayang... kamu kenapa?" lalu aku menatap perutnya telah rata baru menyadarinya karena tadi terhalang ranjang, membuat jantungku ingin copot.
Karena tidak menjawab aku melingkarkan tanganku ke pinggang.
"Auw..." jeritnya, meringis menahan sakit.
Tidak banyak bicara aku buka retsleting daster panjangnya ada bekas jahitan, aku terkejut. "Mawar kamu kenapa?" tanyaku. Ia menitikkan air mata, lalu aku cium punggung tangannya.
"Maafkan aku Mas, aku ternyata belum bisa menjadi seorang ibu, belum bisa menjaga anak kita dengan baik." katanya disela-sela tangis.
"Maksudnya apa? cepat katakan" aku mulai berpikir buruk. Jika terjadi sesuatu dengan anakku ini salahku. Aku tidak bisa menjaga keduanya.
"Anak kita sudah lahir Mas, tapi sekarang masih di inkubator." tuturnya dengan linangan air mata.
"Maaf" ucapku lalu aku rengkuh tubuh langsingnya. Dia menumpahkan air matanya hinga kaos yang aku pakai basah. Aku biarkan saja ia menangis. Mungkin dengan menangis bisa mengurangi beban pikiranya.
"Anak kita masih di inkubator" ia mengulangi ucapannya. Aku mengurai pelukanku, lalu aku hapus air matanya dengan jari.
"Terus... bagaimana keadaan anak kita?" tanyaku.
"Aku belum tahu pasti, tapi ketika di gendong suster, kecil..." tuturnya sambil menunjukkan lenganya bahwa anak kami kecil.
"Kamu tidak salah sayang, aku yang salah, nggak bisa menjaga kamu," kembali aku rengkuh tubuh wangi nya. "Semoga anak kita baik-baik saja ya" doaku.
"Sudah, jangan peluk-peluk terus... shalat dulu," katanya sudah yang ketiga kali.
__ADS_1
"Iya"
Aku berdiri perlahan lalu aku copot botol infus yang menggantung di tiang. Aku mencoba berjalan kekamar mandi ini pertama kali aku jalan sendiri semenjak tiga hari yang lalu, kakiku masih gemetar.
Ia terus menerus menatapku dengan mata sembab habis menangis.
"Bagaimana, sakit sekali ya?" tanyaku selesai shalat kemudian merebahkan diri dikasur. Benar-benar tubuhku agak ringan karena kehadiranya. Walaupun hatiku tersayat saat mengingat perjuangan untuk melahirkan seorang anak. Sakitkku ini belum seberapa.
"Makan, dulu tuan" suster mengantarkan makan malam kemudian meletakkan diatas meja.
"Terimakasih Mbak" sahutku
"Sini kan makanannya sus" ucapnya, lalu suster memberikan nampan ke pangkuannya. Aku diam memperhatikan.
"Ini obatnya non" suster meletakkan obat dalam tempat kecil di atas nampan.
"Terimakasih sus"
"Aku perhatikan terus matakku seolah tidak mau berpaling dalam sekejap. Suster pun keluar setelah permisi.
"Aku suapi ya" ucapnya sambil memotong daging ayam dalam teromol.
"Aku makan sendiri saja, kamu kan lagi sakit" Aku kembali menumpuk bantal kemudian bersandar, ingin mengambil mangkok darinya.
"Jangan bandel, biar aku suapi" ucap nya.
Aku mengalah menerima suapanya. "Terimakasih ya" kataku.
Dia tidak menjawab menyuapi aku bubur ayam hingga habis, lalu memberikan obat dan menyerahkan botol minum. Selama seminggu baru kali ini aku makan sampai habis. Tenyata kehadirannya adalah obat yang ampuh bagi aku.
"Enak ya kalau kita romantis begini" aku usap-usap pipinya dengan jari.
"Iya, tapi kalau kita romantis kenapa ya, jempolnya reader di simpan di saku jaket? tapi kalau kita lagi bertengkar jempol dan komentar reader mbrubul."
"Apa tuh brubul?" tanyaku.
"Mbrubul, ya gitu, jempol berdatangan, terus komentarnya... rame dech"
"Kalau anak kita sudah sehat, dan kita sudah sembuh, aku mau bikin novel, menulis tentang ceritaku." katanya bersemangat.
"Ngapain cari kerjaan, cape-cape mikir dapat apa memang? kalau kamu menulis." tanyaku ada-ada saja istriku ini.
"Senenglah, bisa menghibur orang, bisa berekspresi, banyak teman lagi."
"Assalamualaikum"
Aku lihat Melati datang berjalan menghampiri kami setelah mencuti tangan.
"Kak adit sudah lebih baik?" tanya Melati sambil memegangi kursi roda istriku.
"Alhamdulillah... sudah enakkan kok Mel"
"Kak Mawar kita kebawah dulu, sudah waktunya makan soalnya." kata Melati kemudian di angguki Mawar. Aku seperti tidak mau perpisah dengan istriku, tapi mau bagaimana lagi? dia juga harus beristirahat.
"Nggak bisa makan disini saja ya Mel" benar-benar aku nggak rela Mawar meninggalkan aku pergi.
__ADS_1
"Maaf ya kak Adit, kasihan kak Mawar biar rebahan dulu dari habis operasi belum istirahat" ucap Melati kemudian mendorong kursi roda meninggalkan aku.
Segera aku ambil handphone menghubungi Risky agar mengurus izin pindah kamar, aku ingin menjadi satu ruangan dengan istriku.