
Kedua orang tua Mawar bersama adiknya, masih berbincang-bincang di depan televisi. Masih membahas Mawar yang berada jauh di rantau orang.
"Melati jadi kangen kakak Bu" ucapnya.
"Telepon saja nak" titah Ibu Riska.
****
Mawar Merah PoV.
Tepat jam sembilan pagi, aku sudah selesai menyerahkan berkas-berkas ke sekretariat penerimaan mahasiswa baru jalur beasiswa. Sampai di lobby, aku duduk dulu menunggu Intan keluar dari ruangan yang berbeda. Karena kami sudah janjian ingin silaturahmi kerumahnya.
"Sudah lama menunggu kak?" tanya Intan tampak terburu-buru.
"Belum, tidak usah terburu-buru gitu jalanya, nanti jatuh loh" selorohku. "Tidak mungkin juga kak, Intan jatuh seperti balita?" kami pun terkekeh.
"Kak Mawar, lihat tayangan di televisi itu dech. Itu kan serah terima jabatan Direktur utama, tempat kakakku berkerja." tutur Intan.
Pandanganku kontan tertuju ke televisi. Aku terbelalak kaget tatkala melihat siapa yang sedang di lantik di pt Primajaya.
"Suamiku? batinku. Sebab, aku belum sempat bertanya di perusaan apa suamiku berkerja. Kami sudah ribut terlebih dahulu. "Bukan ribut sih, sebenarya." Buktinya suamiku tidak melawan ketika aku marah.
"Oh, kakakmu bekerja di pt itu ya Tan?" tanyaku bersikap seolah-olah tidak mengenal siapa pria yang sedang di lantik.
Bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Padahal rasanya hancur hatiku. Betapa tidak? ternyata ini alasan suamiku menikah lagi. Mungkinkah dia ingin mencari wanita yang kaya agar bisa memberikan kehidupan yang layak? oh tidak. Suamiku bukan orang yang seperti itu. Batinku kini berperang.
"Kak Mawar kok bengong? mikir apa sih kak?" tanya Intan membuyarkan lamunan ku.
"Nggak apa-apa kok Tan. Mau berangkat sekarang?" tanyaku.
"Aku pesan taksi dulu ya kak" kata Intan.
Ku menangiiiissss...📞
Belum sempat menjawab pertanyaan Intan handphone aku berbunyi. Ku tatap layar ternyata Melati adikku yang telephone.
"Tan aku angkat telepon dulu ya..." kataku sambil berlalu.
"Iya kak" sahut Intan.
Aku keluar ke parkiran mobil kemudian mengakat telepon.
...Mawar: "Assalamu' alaikum... ada apa Mel?"...
...Melati: "Waalaikumusallam..." "Selamat ya kak. Kak Aditya hebat ya. Baru bekerja dua bulan sudah naik pangkat. Waah... keren pokoknya." cerocos Melati seperti rem blong....
...Mawar: "Terimakasih Mel... Ibu apa kabar? sehat kan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Tidak mau membahas tentang Mas Adit lebih banyak....
...Melati: "Baik kak, kami sedang menonton televisi bersama." sahutnya....
...Mawar : "Mana ibu? kakak mau bicara"...
__ADS_1
Ibu Riska: "Assalamu'alaikum..."
...Mawar: "Waalaikumusallam..." "Ibu... Ibu sehat kan? aku kangen sama Ibu"...
...Ibu: "Kabar baik sayang... Ibu juga kangen sama kamu. Kamu sehat nak?"...
Mawar: Alhamdulillah... bu sehat"
...Ibu: "Jaga diri baik baik sayang... Ibu sama Bapak akan selalu berdoa untuk kamu. Ya sudah. segitu dulu ya sayang"...
Mawar: "Terimakasih bu, Melati mana?"
Melati: "Iya kak, ada apa lagi?"
...Mawar: "Oh iya Mel, kakak punya kabar gembira nih, kakak mendapat biasiswa di Universitas ternama di Jakarta." kataku bersemangat....
...Melati: Alhamdulillah... selamat ya kak, tepat di hari ulang tahun kakak banyak keberuntungan buat kakak"...
...Mawar: "Alhamdulillah, Mel. Kakak selalu bersyukur, gitu dulu ya... kakak lagi ada yang nunggu nih"...
Melati: Okay... kak daaa."
Selesai mengankat telepon aku kembali menemui Intan di lobby. "Maaf ya Tan, kamu lama nunggu ya?"
"Adik aku telepon tadi" kataku. Nggak apa-apa kok kak, kita keluar lagi aku sudah pesan taksi" katanya sambil berjalan kedepan. Aku pun mengikuti langkahnya.
Tidak lama kemudian taksi pun datang. Kami segera masuk kedalam mobil.
"Perempuan, kenapa memang?" tanyaku menoleh ke arahnya
"Pengen kenalan saja kak, kalau baru lulus kemarin, berarti kami seumuran" sahutnya.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti. Ternyata kami sudah sampai dirumah Intan. Ternyata rumah Intan tidak jauh dari kampus.
"Mari kak" kata Intan setelah kami turun dari mobil. Rumah berlantai dua kira-kira sama dengan rumah fasilitas boss suamiku yang kami tempati.
Seketika aku berpikir, jika benar suamiku menikah dengan anak boss nya. Aku tidak mau tinggal dirumah itu. Lebih baik, aku mengontrak sepetak daripada tinggal di rumah mewah tapi milik maduku. "Oh tidak" nanti aku harus berbicara dengan suamiku.
"Masuk kak" Intan membuyarkan lamunan ku.
"Oh iya Tan" Intan langsung mengajak aku ke kamarnya.
"Ini kamar aku kak, terus yang sebelah kiri itu kamar kak Abim" katanya. Aku mengangguk saja. kami pun masuk ke dalam kamar.
Kami berbicara panjang lebar sampai akhirnya kami makan siang di rumah Intan. Bibiknya yang memasak.
"Memang Ibumu bekerja dimana Tan? kalau aku boleh tahu?" tanyaku.
"Dosen kak" jawabnya sambil membereskan meja makan. "Memang kenapa kak?"
"Oh dosen ya? aku pikir kerja dimana gitu"
__ADS_1
"Bukan ingin menyelidiki Tan, siapa tahu ada lowongan pekerjaan. Aku harus bekerja walaupun aku kuliah mendapat biasiswa tapi untuk kebutuhan yang lain aku perlu uang." jawabku.
"Oh gitu ya? nanti aku tanyakan kakak ya" katanya.
"Oh jangan!" tolakku cepat. Tidak mungkinkan aku bekerja di kantor suamiku.
"Memang kenapa kak?"
"Bekerja di Pt kan harus seharian penuh Tan, mana ada waktu aku"
"Lagian... lulusan SMA seperti aku paling menjadi OG" jawabku masuk akal.
"Iya juga kak, tapi Mama punya butik sih kak, nanti aku tanya ya... siapa tahu ada lowongan." pangkasnya.
"Loh kakak kan punya suami, aku pikir kuliahnya di biayai suami kakak" tanyanya.
"Hidup berumah tangga tidak sesederhana yang kamu pikir Tan. Kalau kamu sudah berumah tangga nanti, pasti mengerti" tuturku. Intan hanya mengangguk.
Kami ngobrol panjang lebar setelah shalat dzuhur aku pamit pulang.
Aku pulang dengan ojol.
****
"Eh baru pulang non?" tanya Simbok setelah aku sampai di rumah.
"Iya Mbok, main kerumah teman" jawabku. Aku segera masuk kedalam kamar. Mataku terbelalak kaget ternyata suamiku ada di dalam. Mas Adit cepat-cepat mengunci pintu kamar.
"Mau ngapain Mas di kamarku?" tanyaku tanpa menatapnya kemudian aku letakkan tas di atas meja kecil.
"Kita perlu bicara Mawar" ucapnya ia menarik pundakku. Aku singkirkan tangannya dari pundakku. Jujur. Aku rindu sentuhanya tetapi, rasa egoku mengalahkan semuanya.
"Aku capek!" ketusku.
"Maw, please... dengar dulu penjelasan aku sekali ini saja"
"Jika kamu tidak suka dan terus ingin hukum aku lakukan Maw"
"Jujur Maw. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu sayang"
"Aku rindu Mawarku yang selalu merekah setiap saat membuat aku ingin terus merawat Mawar itu" tuturnya panjang lebar.
"Iya! tapi, Mawar itu kini telah layu, bahkan hampir mati!"
"Dan itu karena apa? karena ulah sang pemilik Mawar yang sudah mulai abai"
"Bukan hanya tidak perduli lagi dengan Mawar itu. Tapi parahnya sang pemilik Mawar sudah menginjak injak Mawar hingga tidak berbentuk!" Jawabku sinis.
"Mawar..." Mas Adit kemudian memelukku dari belakang hingga aku terhuyung.
"Maafkan aku Mawar... jangan bicara begitu" Mas Adit menangis sambil memelukku hingga aku tidak bisa bergerak.
__ADS_1