
Keesokan harinya Pak Sutisna dan Bu Riska pamit pulang. Melati tidak ikut pulang kekampung, ia ingin tinggal bersama Mawar karena ingin bekerja di butik Mama Sahina.
Adit minta Melati agar menggunakan mobilnya saja untuk mengantar Ibu. Sedangkan Adit berangkat kerja akan menggunakan motor berboncengan dengan Mawar. Adit sudah lebih baik, tidak mungkin lama-lama dirumah pekerjaannya sudah menunggu.
Melati pun menurut.
"Bu, Pak, hati-hati ya... Maaf, aku nggak bisa ikut mengantarkan Ibu" sesal Mawar sambil menangis ketika sedang mengantar sampai halaman rumah bersama Adit.
"Iya Maw, kamu juga hati-hati, jaga diri nak" Ibu memeluk anak sulungnya.
"Nak, yang tabah ya, kamu sudah mengambil keputusan, tidak ada jalan lain, bapak hanya bisa merestui semoga kamu bahagia" sambung Bapak mengelus kepala Mawar.
"Dit, titip Mawar ya nak" ucap Ibu kedua orang tua Mawar pun tidak ada jalan lain, selain mendukung keputusan anaknya.
"Iya Bu... terimakasih. Ibu sudah percaya dengan saya" ucap Adit kemudian menatap Pak Sutisna tampak berekspresi datar.
"Bu, ini buat jajan di jalan" Adit menyerahkan amplop tebal, entah berapa isinya.
"Tidak usah nak, sekarang Bapak sama Ibu tidak perlu apa-apa lagi, Ibu hanya tinggal berdua, hanya mikir untuk makan, bapak masih bisa mencari" tutur Ibu panjang lebar.
"Tapi Bu, tolong terima uang ini, untuk keperluan Ibu di jalan" Adit membujuknya.
"Sekarang belum perlu nak, simpan saja ya, nanti kalau seandainya kami butuh, Ibu akan meminta" kekeh Ibu mendorong pelan tangan Adit. Ibu sudah menyiapkan uang untuk perjalanan.
Adit pun mengalah akhirnya menarik tanganya dan memberikan kepada Melati tanpa sepengetahuan Ibu, agar menyerahkan uangnya ketika di jalan nanti. Melati pun mengganguk.
Melati segera naik kedalam mobil disusul Bapak sama Ibu.
Mobil pun akhirnya berjalan, Mawar melambaikan tangan menatap mobil Ibu hingga hilang di tikungan.
"Mel, Ibu ingin bicara nak" kata Ibu, ketika mobil sudah jauh meninggalkan rumah Mawar.
"Sebenarnya Ibu ingin berbicara sama kamu dari tadi malam. Eh kamu malah tidur sama kakak kamu." ucap Ibu, tadi malam Mawar sedang kesal dengan suaminya makanya Mawar ikut Melati tidur di kamar tamu.
"Ada apa Bu? kok serius banget," sahut Melati menatap Bapak dan Ibu dari kaca spion.
__ADS_1
"Ina kemarin sudah berbicara dengan Ibu panjang lebar nak" kata Ibu lembut.
"Tentang?" tanya Melati, tatapanya tetap lurus kedepan.
"Kata Ina, mau menjodohkan kamu dengan anak laki-lakinya."
"Ciiiiitttt.
Melati mengerem mendadak terkejut, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Ibunya ingin menjodohkan dirinya. Apa lagi Melati sama sekali belum mengenal Abim, tahu wajahnya saja belum. Untung tidak ada kendaraan di belakang.
"Duuuh... hati-hati nak" ucap Bapak sambil memegangi dadanya.
"Habisnya, Ibu tuh Pak, ada-ada saja" adu nya kepada Bapak. Melati pun menepikan mobilnya agar Ibunya melanjutkan pembicaraan dulu.
"Yang di katakan Ibumu benar nak, Bapak trauma dengan kakakmu, nasibnya begitu menyedihkan, mana cinta yang selalu di agung-agungkan? nyatanya omong kosong," bapak sedih mengingat anak sulungnya.
"Tidak ada salahnya kamu menurut nak, Abim itu walaupun bapak belum pernah melihat orangnya. Tetapi dari didikan kedua orang tuanya dia pasti anak baik" Bapak berpendapat.
Melati hanya terdiam sejenak, mengingat dulu ketika masih sekolah, walaupun banyak temanya suka kepadanya tidak ada yang ia terima. Ia hanya ingin fokus sekolah, sebab Melati sadar, otaknya tidak secerdas kakak nya jika tidak fokus tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
*****
Mawar di dalam kamar berganti pakaian karena hari ini mulai bekerja. Mawar masih sangat menyesal karena tidak bisa mengantarkan Ibunya bersama Melati keterminal. Mawar melamun menatap dirinya di pantulan kaca.
Adit juga sedang bersiap-siap ingin berangkat ke kantor, mengenakan kemeja yang sudah disiapkan Mawar. Mawar masih mendiamkan suaminya dari sore hingga pagi ini.
"Maw, kamu kenapa sih?" tanya Adit memeluk istrinya dari belakang. Mawar tetap diam kemudian menyingkirkan tangan Adit.
"MAWAR! jawab dengan jujur, apa salahku?! Adit meninggikan suaranya karena setiap di tanya Mawar selalu menghindar. Adit lama-lama kesal juga.
"Nggak usah sewot! aku mau berangkat, nggak mau ribut pagi-pagi!" ucap Mawar ikutan kesal.
"Aku berangkat!" pamit Mawar hendak melangkah. Namun, sampai di pintu Adit menghadang tangannya memegangi kusen dan berdiri di tengah-tengah pintu menutup agar Mawar tidak bisa keluar.
"Awas Mas, aku mau lewat" ucap Mawar menatap kesal Adit.
__ADS_1
"Nggak akan aku ijinin sebelum kamu bicara." ucap Adit pelan.
"Awas Mas! nanti aku telat" Mawar ingin menerobos pintu. Namun Adit menangkap tubuh Mawar, karena tenaga Adit lebih kuat. Mawar justru jatuh ke pelukan Adit. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Adit kemudian membopong Mawar masuk kedalam kamar, mendudukkan di pinggir ranjang.
"Sekarang katakan! apa yang terjadi?! tanya Adit ngos ngosan memegangi pundak Mawar. Namun Mawar justeru berdiri berjalan mendekati Jendela.
"Katakan Maw, kalau kamu ingin aku menceraikan Silfi, okay...aku siap," ucap Adit tegas.
"Aku akan mundur dari jabatan ini, dan akan aku kembalikan semua aset perusahaan kepada dewan dereksi. Tapi setidaknya sampai silfi sadar dari koma." sambung Adit.
"Aku tidak mau kehilangan kamu Maw" Adit berdiri di pinggir ranjang.
"Tapi bukan hanya itu masalahnya Mas!" Mawar berteriak.
"Lalu apa Maw?" tanya Adit tidak kalah kencang, keributan di pagi hari pun tak terelakkan.
"Kenapa sih? ibumu itu selalu menyakiti keluarga aku Mas?" Mawar menyebut keluargamu mungkin karena sudah sangking kesalnya.
"Aku selama ini selalu mengalah sama Ibumu, karena aku pikir, akan lebih baik, karena aku tak ingin memperpanjang masalah" ujar Mawar kedua tangannya memegangi jendela menatap pepohonan di tanah kosong belakang komplek, air matanya membasahi pipi lalu ia hapus dengan kerudungnya.
"Tapi Ibumu sudah kelewatan Mas? jika hanya aku yang dihina Ibumu, aku bisa terima. Tapi, kalau sudah menyangkut bapak dan Ibuku aku tidak kuat lagi." kata Mawar dengan bibir bergetar karena menangis.
"Memang apa yang sudah Ibu lakukan Maw?" Adit berjalan mendekati Mawar. Mawar balik badan menatap Adit sengit.
"Tidak usah bertanya Mas! kamu sebenarnya selama ini tahu kok!"
"Hanya kamu itu jadi laki-laki nggak TEGAS!" sinis Mawar, kemudian berlari keluar.
"MAWAR..." pekik Adit, berlari menuruni tangga sampai di luar Mawar sudah tidak ada.
"Aaaggrrrr...!
"Buk" Adit meninju tembok hingga berdarah, kemudian masuk kedalam ambil kunci motor yang menggantung. Membuka garasi mengeluarkan motor, mengejar Mawar. Adit tidak perduli tangannya yang sakit ia bebat ketika masih di garasi tadi dengan sapu tangan. Namun, sudah jauh menyusuri jalan, Adit tidak bisa menemukan istrinya.
"Kemana kamu Ma?" gumam Adit. Adit bingung harus mencari istrinya kemana, tidak mungkin dalam keadaan begini langsung masuk kerja. Adit pun berbalik arah menuju kediaman Ibunya.
__ADS_1