Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Surprise.


__ADS_3

Malam ini Mawar maupun Adit langsung terlelap sehingga melewatkan makan malam.


Keesokan harinya,


mendengar adzan subuh, Adit bangun kemudian bergegas ke masjid melaksakan shalat berjamaah.


Sampai di rumah Mawar masih belum ada tanda-tanda bangun. Aditya pun duduk memandangi wajah yang masih terlelap dalam tidurnya.


Aditya PoV.


Selama sebulan ini aku disibukkan rapat, agar pt Primajaya memenangkan tender proyek pembuatan 1000 apartemen di kota xxx.


Pt Primajaya menerapkan kontraktor bangunan modern fase proses arsitektur. Kami telah menjalin hubungan kerja dengan pemasok, konsultan dan menyediakan layanan yang berkaitan dengan semua hal yang berkaitan dengan pembangunan. Hotel, apartemen, mall dan yang berkaitan dengan pembangunan.


Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor properti. Alhamdulillah perusahaan mertuaku berkesempatan memenangkan persaingan tender dan mendapatkan keuntungan yang fantastis.


Aku senang sekali setelah mendapatkan bonus. Aku akan memberi kejutan kepada Istri tercintaku. Aku membelikan rumah walaupaun tidak besar tetapi sangat asri pasti Istriku menyukainya.


Kasihan dia, kemarin Mawar ingin kontrak rumah. Tetapi, jalan kami di permudah. Allah swt telah memberikan rezeki yang lebih kepada kami berarti kami tidak harus mengontrak rumah malah bisa membeli.


Walaupun mertuaku sudah memberikan hak penuh atas perusahaan miliknya kepadaku. Namun, aku tidak bisa seenaknya menggunakan uang perusaan kecuali hasil dari keringatku sendiri.


"Maw bangun yuk" aku tepuk-tepuk pipinya karena sekarang sudah jam lima. Tumben belum bangun padahal biasanya dia bangun lebih dulu. Yah, aku tahu pasti dia kecapek an.


Aku genggam tangannya dan aku tempelkan di pipiku. Yah, mudah-mudahan dia tidak marah lagi kepadaku.


Dia mengerjapkan mata kemudian duduk. "Subuh dulu, tumben banget. Kamu bangun siang" ucapku tanganya belum aku pindahkan dari pipiku.


"Aku lagi nggak shalat" sahutnya kemudian ia berdiri lalu melangkah ke kekamar mandi.


Aku mengamatinya sambil bertanya-tanya kenapa dia marah kepadaku dari tadi malam? Aku rasa, bukan hanya masalah Silfi. Mungin ada masalah lain. Pagi ini harus bisa aku selesaikan tidak mau masalahnya hingga berlarut-larut.


"Mas sudah mandi?" tanya istriku walaupun sedang marah tetap perhatian dan menyiapkan keperluanku. Aku perhatikan dia sedang membuka lemari ambil kemeja yang masih digantung dengan hanger, celana panjang dan perlengkapan lainya.


"Sudah, tadi shalat subuh di masjid soalnya" jawabku.


"Maw, aku mau bicara, bisa duduk dulu?" aku tepuk sofa di sampingku.


Ia melangkah mendekatiku kemudian duduk dengan kasar. "Kenapa?" aku singkirkan rambutnya yang menutup wajahnya lalu aku selipkan di belakang telinga.


"Kenapa! Mas berbohong?! tanyanya ketus. Melirikku sebentar kemudian membuang muka.

__ADS_1


"Bohong? bohong masalah apa?" aku balik bertanya lembut.


"Kenapa? Mas nggak bilang! kalau Diah sama Ibu tinggal di Jakarta!"


"Aku kecewa sama Mas, bukan masalah, jika Mas ingin kontrakkan rumah untuknya"


"Aku nggak peduli, karena itu uang Mas, tapi setidaknya Mas bilang jujur kepadaku!"


Aku dengarkan dulu kemana arah pembicaraannya tidak aku jawab.


"Tunggu Maw, apa masuknya? Ibu tinggal disini? sungguh. Aku tidak tahu Maw" jawabku karena memang aku tidak tahu.


"Ah! bohong! mau sampai kapan Mas terus membohongi aku! hah?!


Aku melihat emosinya meluap-luap. Lalu aku rengkuh tubuhnya aku tenggelamkan di dadaku. "Maw, dengar" kataku mendengar tangisnya hatiku teriris.


"Aku sama sekali tidak tahu Maw, jika Ibu tinggal di sini? sumpah Maw" aku berusaha menjelaskan. Kemudian ia menatapku.


"Tapi, kata teman aku Ibu tinggal di sini dan mengontrak rumah bersama Diah. Terus Diah kuliahnya satu kampus dengan aku" tuturnya suaranya mulai melunak.


"Okay... untuk Diah waktu itu kan dia memang ingin kuliah, lalu aku kirimkan uang"


"Kalau tidak salah aku sudah bilang kan sama kamu?"


"Ya jelas aku nggak bolehlah... masa Bapak mau di tinggal sendiri di kampung" aku menjelaskan yang sebenarnya kepadanya.


"Terus... kalau bukan Mas, jika benar Ibu kontrak rumah di sini? siapa yang membayar Mas?" tanya dia kemudian.


"Nah justru itu, aku juga bingung" jawabku. Aku menggaruk-garuk kepalaku.


"Mungkin pacarnya kali Mas"


"Pacar?" tanya aku tersentak.


"Iya Mas, Diah sudah punya pacar, kemarin aku ketemu dia di kampus. Malah Diah marah-mara sama aku, di depan pacarannya lagi!" "Orang dia yang nabrak! malah Diah yang marah." adu nya kepada ku dengan bibir mengerucut. Membuat ku gemas.


"Ya, sudah... nanti aku telepon Bapak. Sekarang kamu mandi dulu, terus aku akan menunjukan sesuatu kepadamu" ucapku.


"Menunjukkan apa memang?" ia mengerut kan dahi."Surprise" sahut ku


Ia segera kekamar mandi setelah hilang dari pandanganku. Aku pun keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju garasi. Mendengar aku membuka garasi simbok segera berlari keluar membuka pagar.

__ADS_1


"Masih setengah enam kok sudah mau berangkat, Tuan?" tanya Simbok mendekati aku.


"Mau jalan-jalan dulu, sama Mawar Mbok" sahutku.


*****


Author


Mawar dan Adit masuk kedalam mobil kemudian berangkat.


"Mau kemana sih Mas? nanti aku telat lagi kekampus?" tanya Mawar, sebab Adit hanya bilang Surprise jika di tanya.


"Tenang Maw, kamu masuk ospek jam delapan kan? masih lama waktunya." tutur Adit.


Sepuluh menit kemudian, Adit memarkirkan kendaraan di kawasan perumahan. Walaupun mayoritas rumahnya tipe delapan puluh. Tetapi tampak mewah, lokasinya strategis berdekatan dengan kawasan hiburan dan juga bisnis.


"Ini punya siapa Mas?" tanya Mawar setelah masuk kedalam rumah.


"Punya kamu" sahut Adit kemudian melingkarkan tanganya di pundak lalu mengajaknya berkeliling melihat ruangan. Rumah berlantai dua, di atas ada dua kamar. Sementara di bawah ada satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga dan yang pasti dapur.


"Kamu kok nggak senang sih?" tanya Adit, melihat wajah Mawar dari tadi tidak ada ekspresi.


"Tapi ini rumah siapa? jawab dulu yang benar?" tanya Mawar.


Aditya kemudian menuntun istrinya ke balkon. Mereka berdiri menekan pagar keduanya memandangi matahari yang masih mengintai di ufuk timur belum seluruhnya tampak.


Adit kemudian menceritakan semuanya kepada istrinya dari mana ia mendapatkan uang untuk membeli rumah ini.


Mawar pun mengangguk percaya. "Oh... aku kira, rumah ini dari mertua Mas" "Maaf Mas, kalau aku sudah berprasangka buruk dari kemarin"


"Mengenai Ibu, mengenai rumah ini" sesal Mawar.


"Nggak apa-apa Maw, aku mengerti, mengenai Ibu, kamu tenang saja. Aku yang akan mengatasi" kata Adit. Adit sadar, Ibunya memang selalu bersikap kasar terhadap Mawar.


"Rumah ini, kan masih kosong, nanti kita isi sedikit demi sedikit ya" titah Adit.


"Nggak apa-apa Mas, nanti kalau aku sudah gajian aku yang beli sedikit demi sedikit" sambung Mawar.


"Kamu ini" Adit terkekeh. "Kalau kamu punya uang di simpan saja, sekarang aku yang akan tanggung jawab penuh atas dirimu" tutur Adit.


Kadang aku terlalu berprasangka buruk. Seribu kebaikan tertutup dengan satu keburukan. Sikap inilah. yang harus aku hilangkan.😢

__ADS_1



⚘Mawar Merah⚘


__ADS_2