
Aditya PoV.
Pada akhirnya aku benar-benar terasing oleh perbuatanku sendiri. Semua seolah menjauh dariku, menyalahkan aku. Namun, aku tidak akan menyalahkan siapapun aku akui, akulah sumber kekacauan ini. Seperti peristiwa yang aku alami pagi ini.
Aku turun dari tangga mencium aroma masakan, pasti istriku sedang memasak, padahal masih jam 5 lebih sedikit. Namun, perutku terasa keroncongan.
Selepas subuh tadi, aku check Imail pekerjaanku memang banyak. Sebab, kemarin tertunda karena konsentrasi ku ambyar sejak Silfia koma di rumah sakit. Walaupun kemarin-kemarin Silfia sering keluar masuk rumah sakit. Tetapi, hanya pingsan beberapa jam tidak sampai koma seperti sekarang.
Di pijakan tangga terakhir aku tersadar dari lamunan saat mendengar langkah kaki, aku menoleh kearah suara. Aku senang ternyata mertuaku sudah datang.
"Bapak..." sapaku senang, aku tersenyum riang. Senyumku pudar seketika saat mertuaku menepis tanganku ketika aku ingin berjabat tangan, menatap wajah mertuaku yang tidak bersahabat.
Mertuaku menyerang dengan membabi buta, aku biarkan beliau memukuli aku, aku sadar aku memang salah.
Kini keadaan tubuhku sungguh tidak berdaya, ternyata tenaga Pak Sutisna sungguh luar biasa. Istriku memang sangat baik ia merawatku dengan telaten, oh ingat Mawar, dialah perhiasanku.
Belum selesai satu masalah, masalah lain datang. Ibu telepon katanya ditahan polisi, aku menghubungi Diah berkali-kali. Namun tidak di angkat.
Dengan terpaksa aku menghubungi istriku, padahal aku tidak mau mengganggu karena sedang berkumpul dengan keluarganya. Tetapi, apa boleh buat hanya Mawar yang bisa menyelesaikan masalah Ibu.
Sebenarnya, aku tidak tega Istriku menemui Ibu seorang diri, bagaimana tidak? Ibu selalu berbuat semena-mena kepadanya.
Aku menunggu dia dengan gelisah duduk, bangun, dari jam delapan pagi hingga jam 12 belum juga pulang. "Apakah masalahnya tidak ada jalan keluar?" pikirku.
Yang lebih membuatku gelisah adalah... jika Ibu sampai menyakiti hatinya. Aku telepon tidak diangkat, chat juga tidak dibuka. Selepas dzuhur ia sampai dirumah membuatku lega. Namun, kelegaan aku mendadak sirna, saat dia menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan wajah kuyunya.
Dia terlihat lelah memijit pelipisnya. "Capek banget ya?" tanyaku lalu aku memijit betisnya yang dia tumpangan di pangkuanku.
"Banget Mas... kenapa sih... Diah itu sudah hampir 19 tahun kok, nggak mau belajar."
"Mencuci piring, menyapu, atau, paling tidak yaaah...belajar menyimpan baju kotornya sendiri di tempatnya! membuang sampah di tempatnya!" dia ngomel sambil terpejam.
"Ampuun... anak perempuan kok joroknya kelewatan! kalau di kasih tahu, marah!" sambungnya.
"Memang kenapa dia?" tanya ku menatap wajah kesalnya.
"Ah, nggak usah di ceritakan, yang jelas aku tadi bebenah sampai capek" sahutnya.
__ADS_1
"Terus, kamar mandi tuh, kotornya...ih, jijik."
"Aku khawatir saja sama Ibu, kamar mandi itu kan paling riskan, kalau sampai kepleset, bagaimana coba?" tuturnya panjang lebar.
Aku menghela nafas panjang, Ibu memang terkenal malas, dan menurun ke adikku. Dirumah dari dulu Bapakku yang selalu beres-beres padahal Bapak juga harus mencari uang untuk menghidupi aku, menyekolahkan aku, dan adikku.
"Kenapa Simbok nggak bekerja di rumah itu lagi sih Mas?" tanya dia mendadak bangun kemudian duduk di sampingku.
"Biasa, nggak kuat sama omelan Ibu, jadi Simbok lebih baik pergi, terus sekarang tinggal di rumah Mama" sahutku. "Aku waktu itu mau cerita sama kamu, tapi lupa" sambungku.
"Kasihan simbok" ucapnya bersedih.
"Iya, rencana simbok mau aku bawa kesini saja, biar bantu-bantu kamu, aku kasihan sama kamu, harus mengurus rumah, bekerja, kuliah" kataku. Dia hanya diam tidak mengiyakan dan tidak juga menolak.
"Eh, ternyata Ibu tadi, bukan di tahan polisi Mas..." katanya senyum-senyum. Aku mengerutkan dahi.
"Terus...kenapa?" aku penasaran.
"Iya, ternyata Ibu di tahan security. Sudah gitu, Ibu pakai sandal jepit beda warna lagi Mas..." sesalnya.
"Beda bagaimana?" aku di buat bingung.
"Aku malu Mas... terus uang yang Mas kirimkan selama beberapa bulan ini, kemana Mas? masa beli sandal jepit saja tidak mampu?" tanya dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya menandakan bahwa dia benar-benar malu.
"Ya aku nggak tahu Maw" sahutku, memang aku tidak pernah tahu kemana uang yang aku kirimkan kepada Ibu.
"Terus, kena biaya berapa tadi?" tanyaku mengganti topik pembicaraan. Sebab aku check (internet banking) tidak ada penarikan uang.
"Nggak usah di pikirkan Mas... toh, untuk keperluan Ibu ini" ucapnya sudah aku duga.
Tanpa pikir panjang aku langsung transfer uang ke rekening miliknya.
"Kruuuk...kruuuk" perutnya berbunyi.
"Kamu lapar?" tanyaku.
Iya mengangguk tersenyum.
__ADS_1
"Ayo kita makan" aku bersemangat ingin bertemu mertuaku, apakah beliau masih semarah tadi.
"Memang Mas sudah kuat?" tanya dia wajahnya tampak khawatir.
"Sudah nggak apa-apa kok" Jawabku, hanya tidak ingin merasa lemah di hadapan keluarganya padahal badanku rasanya sakit semua.
Author PoV.
Adit di gandeng Mawar keluar dari kamar menuju meja makan. Di meja makan tampak Melati sedang duduk sendirian.
"Loh, Bapak sama Ibu mana Mel?" tanya Mawar sambil menggeser kursi untuk suaminya.
"Masih di ruang tamu kak, aku panggil dulu" jawab Melati, lalu berdiri jalan kedepan memanggil Bapak sama Ibu. Tidak lama kemudian, beliau pun sampai di meja makan.
"Duduk Pak, Bu" ucap Mawar menarik kursi untuk kedua orang tuanya.
Adit seketika mlempem, setelah Pak Sutisna duduk tepat di depanya. Wajahnya menunduk tidak berani menatap sang mertua.
"Kamu, sudah lebih baik nak?" tanya Ibu mencairkan suasana bahwa ada ketegangan di meja makan.
"Sudah mendingan Bu" Adit pun menatap wajah Ibu Riska yang sedang duduk di sebelah suaminya. Tampak Pak Sutisna sedang menyeruput kuah sayur asam dengan sendok, tidak tahu apa yang beliau pikirkan saat ini. Yang Adit tahu wajah mertunya sudah melunak tidak sekaku tadi pagi. Aditpun merasa lega.
"Mas sudah bisa makan nasi belum?" Mawar mengejutkan lamunan Adit.
"Bubur saja" jawab Adit masih menatap mertuanya tampak menikmati sayur asam dalam mangkok.
"Kalau ada tamu lagi makan tuh, jangan di awasi, kesanya seperti nggak ikhlas" sindir Pak Sutisna, tahu jika dari tadi Adit memperhatikan dirinya.
Seketika Adit tertegun, mendengar ucapkan mertuanya tidak menyangka bahwa sang mertua memperhatikan dirinya walaupun terkesan cuek.
Mawar yang sedang mengambilkan makan untuk suaminya menggelengkan kepala melihat Bapak dan suaminya.
"Bapak..." ucap Ibu, mencubit pelan paha suaminya.
"Loh, memang benarkan Bu, coba? Ibu kalau datang bertamu terus... ketika sedang makan di lihatin, sama pemilik rumah, apa nggak terkesan tidak rela" tutur Pak Sutisna panjang lebar.
"Kok jadi debat terus... kapan makanya?" Melati menghentikan perdebatan.
__ADS_1
Makan siang yang penuh drama pun akhirnya selesai, kemudian Mawar membereskan meja makan, Melati membawa piring kedapur. Bapak keluar duduk di teras Adit membuntuti.