Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Aku Ingin Pulang.


__ADS_3

"Braakk"


"Booom"


Pesawat menabarak tebing di pinggir laut. Api berkobar-kobar jika ada yang selamat dalam kecelakaan tersebut berarti keajaiban Allah.


*****


Jet pribadi yang di kirim Papa Johan masih melaksanakan penyisiran berdasarkan informasi dari kapolres bahwa dari tempat situlah pesawat jatuh, kemudian mereka menyusuri kurang lebih dua jam. Sekitar jam 10 pagi baru menemukan TKP.


Di TKP Kepala Bidang Humas Kepolisian sedang mengevakuasi korban.


Pesawat di temukan salah satu warga di pinggir hutan di pesisir laut, dalam keadaan hitam menjadi mirip arang.


Timsar gabungan tampak memasukkan korban-korban yang tewas dalam kantong-kantong jenazah. Namun sudah tidak berbentuk.


Ada yang tinggal kepala, sepotong kaki, sepotong tangan. Kalaupun ada yang masih utuh sudah dalam keadaan gosong tidak di kenali.


Tim Disaster Identification (TDI) telah menerima 30 kantong Jenasah akan memulai proses identifikasi.


25 Dokter forensik mengidentifikasi jenasah korban bagi yang merasa kehilangan petugas meminta untuk melaporkan.


Pemilik maskai bertanggung jawab memulangkan korban kerumah duka atau kerumah sakit terdekat untuk memudahkan keluarga korban menjemputnya.


Jet yang dikirim pihak pt Primajaya, agar segera membawa Adit pulang dalam keadaan hidup atau sebaliknya, belum bisa menemukan jenazah Adit, apa boleh buat mereka harus bersabar.


😢😢😢😢😢😢


"Bu, Mas Adit masih hidup kan Bu? hiks hiks." tanya Mawar menatap nanar wajah Mama Latania. Mawar baru sadar dari pingsan, memaksa duduk walaupun kepalanya sakit.


"Tenang nak, jangan banyak bergerak dulu" titah Mama melihat Mawar memegangi pelipisnya yang terasa cenut-cenut.


"Bu antar saya. Saya mau menyusul Mas Adit. Mas Adit kedinginan di laut Bu" Mawar menarik-narik infus ingin melepas.


Mama Latania menatap sendu wajah Mawar.


"Kak, yang sabar kak, sekarang bobok lagi ya" Melati membaringkan tubuh kakaknya perlahan-lahan kemudian menyelimuti.


Melati menatap keadaan kakaknya hatinya terasa teriris. Melati membetulkan selang infus yang sedikit terkoyak.


"Mel... aku mau mati saja... aku mau menyusul Mas Adit..." Mawar merancau dengan mata terpejam air matanya membasahi pipi.


Mama Latania menyeka air Mata Mawar dengan jari. "Benar yang di katakan Adikmu nak, kamu lebih baik tidur ya."


Melati hanya bisa menghibur memandangi wajah pucat Mawar.


"Aku nggak bisa hidup tanpa Mas Adit Mel, dia jantungku, dia hatiku, dia organ tubuhku." sambungnya.


"Yang sabar ya nak, kita hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Adit


selamat" Mama mengusap-usap punggung tangan Mawar.


"Benar kata Ibu Latania kak, mana kakak aku yang kuat, yang selalu menasehati Adiknya."


"Mel, aku mau pulang kampung, mau ketemu Ibu" rengeknya.


Melati mengangguk. "Ya... tetapi tunggu kakak sehat dulu ya"

__ADS_1


"Nggak mau, aku mau sekarang" ucapnya.


Melati menarik nafas panjang. "Ya sudah, sekarang vidio call Ibu dulu ya" Melati sebenarnya tidak tega memberi tahu Ibunya, melihat keadaan kakaknya di rumah sakit.


Melati khawatir Ibunya akan bersedih.


Namun, mau bagaimana lagi? Melati juga tidak tega membiarkan kakaknya bersedih. Melati membuka handphone mencari nama Ibu.


Tempo hari, Ibu sudah di belikan handphone oleh Mawar.


Melati segera mengarahkan handphone ke hadapan kakaknya setelah memencet tombol video call.


"Ibu...hiks hiks, Mawar mau pulang, Mawar kangen Ibu" ucapnya.


"Ya Allah... kamu kenapa Maw?" Ibu terlihat panik. "Kamu sakit? sakit apa nak" Ibu Riska suaranya serak ingin menangis Melihat anaknya di infus.


"Ibu...aku mau pulang, terus... temani aku mencari Mas Adit ya" Mawar memang mengalami depresi.


"Memang Adit kemana? bikin ulah apa lagi si Adit?" Ibu terlihat kesal.


Melati kemudian berbicara dengan Ibunya. "Kak Mawar nggak kenapa-kenapa Bu, kemarin kakak, nggak mau makan jadi di Infus." terang Melati.


"Bentar ya kak"


Melati kemudian menjauh dari Mawar ingin bicara dengan Ibunya. Melati keluar setelah izin Mama Latania.


"Bu aku mau bicara" Suara Melati bergetar menahan tangis rasanya bebanya kini begitu berat memikirkan keadaan kakak Iparnya dan kakak kandungan.


"Kenapa Mel cerita sama Ibu sayang..." Ibu Riska dadanya terlalu sesak melihat kedua anak perempuanya yang tampak sedang di rundung masalah, tetapi tidak bisa memberi kekuatan.


"Apa?! Ibu tersentak kaget. "Terus bagaimana keadaanya?" tanya Ibu menggebu-gebu.


"Kami belum tahu Bu" suara Melati melemah. "Mertua Mas Adit baru menyelidiki"


"Terus Ibu yang dekat kamu tadi siapa?" Ibu Riska tampak berpikir.


"Dia Ibunya Mbak Selfi, untuung ada beliau bu, kalau nggak bagaimana coba? padahal beliu juga baru kehilangan anaknya Bu" terang Melati.


"Maksutnya?" Ibu masih belum bisa mencerna.


"Istri kedua kak Adit meninggal Bu"


"Ya Allah... ada apa lagi sih?" Ibu terlihat meremas rambutnya prustasi.


"Bu, terus bagaimana kakak ngajak pulang, sedangkan keadaan kakak lagi nggak sehat? Melati bingung Bu" Melati mengutarakan unek-uneknya.


"Memang mertua Mawar belum kesitu Mel?"


Melati menghela nafas berat. "Melati nggak mau kasih kabar Bu Reny Bu, kalau kak Mawar sedang di rawat di rumah sakit, bisa-bisa kak Mawar tambah setres." tegas Melati masuk akal.


"Besok Ibu yang akan datang kesitu Mel, nanti Ibu bicara sama Bapak ya" Ibu menenangkan.


"Benar Bu?" Melati tersenyum sumringah.


"Betul nak, beri pengertian kakak kamu dulu ya" pesan Ibu kemudian mengakhiri pembicaraan.


Melati kemudian kembali keruangan lalu menyimpan handphone ke dalam tas.

__ADS_1


"Tadi itu Ibumu nak?" tanya Mama Latania setelah Melati duduk kembali di ranjang samping kakaknya.


"Iya Bu" sahut Melati memandangi wajah kakaknya sudah terlihat lebih tenang.


"Bu Reny tidak di kabari nak?" Mama heran sebab mertua Mawar tidak menengok menantunya.


Melati tersenyum masam "Tidak usah Bu nanti repot"


"Kapan kita pulang Mel? Mawar ter nyata masih kekeh ingin pulang.


"Lusa Ibu mau kesini kok kak, jadi kita nggak perlu pulang" Melati menjelaskan.


Mawar mengangguk membuat Melati lega.


"Assalamu alaikum" ada dua orang laki-laki dan perempuan datang membawa parsel buah-buahan.


Mama Latania dan Melati menoleh.


"Waalaikumsalam"


Sahut Mama dan Melati bersamaan.


Melati tahu laki-laki itu karena waktu Silfi meninggal kemarin dia datang. Tetapi yang perempuan Melati belum pernah melihat.


Melati pandangannya tidak lepas dari wanita yang berpakaian santai kaos lengan pendek, celana jins selutut tampak enerjik.


"Kenalkan dek, namaku Rosita, sahabat Mawar, adek rupanya penasaran sama saya ya" Rosita seolah tahu apa yang di pikirkan Melati menyalami Ibu kemudian menyalami Melati.


"Iya kak Ros" sahut Melati terkekeh.


"Ini kalau tidak salah namanya Rony ya?" tanya Mama Latania ketika Rony menyalaminya.


"Betul Tante?" Rony mengangguk hormat.


"Loe kenapa Maw? sakit apa?" tanya Rosita belum tahu yang terjadi. Karena Mawar dua hari tidak ada kabar. Rosita tadi datang kerumah, dan kata Simbok dirawat di rumah sakit. Rosita pun telepon Rony mengajaknya menjenguk.


Alih-Alih Menjawab, Mawar justeru menangis.


"Suami aku Ros... dia kecelakaan Ros." hu huuu...


"Kecelakaan?" Rosita kaget, kemudian memeluk sahabatnya yang sedang berbaring lemas.


Rony yang berdiri di belakang Rosita hanya diam, memandangi kedua temanya itu.


Rosita melepas pelukanya kemudian mendekati Melati menarik pelan agak menjauh dari tempat itu minta penjelasan. Melati pun menceritakan semuanya.


"Astagfirlullah... jadi begitu ceritanya?"


Rosita kemudian mengerling ke arah sahabat yang tampak diajak ngobrol sama Rony. Rosita kasihan sekali dengan sahabatnya itu.


"Mel, mumpung kamu ada yang menemani Ibu pulang dulu ya nak, Papa pasti menunggu, nanti Simbok saya suruh temani kamu dan membawa baju ganti." terang Mama memegang kedua telapak tangan Melati kiri dan kanan.


"Baik Bu, terimakasih ya, jika tidak ada Ibu, apa yang akan terjadi?" sahut Melati.


"Jangan pikirkan yang tidak-tidak nak, Ibu pulang ya" Ibu mengusap kepala Melati, mencium pipi Mawar lalu pamit kepada Rosita, kemudian melangkah keluar menuruni lift' menemui Jono kemudian pulang.


"Loe yang sabar Maw" Rony menghibur Mawar setelah diceritakan oleh Rosita apa yang di alami Mawar.

__ADS_1


__ADS_2