Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Hari Anniverersary.


__ADS_3

Setelah minta kiss Adit telepon Riko minta di pesankan makanan tidak lama kemudian makanan datang. Mereka pun makan saling suap menyuap, lebay memang.


"Lanjut dong ceritanya" setelah makan Mawar menagih janji Adit agar melanjutkan ceritanya.


"Selama empat bulan itu aku benar-benar total di kursi Roda. Menginjak bulan kelima aku menjalani terapi jalan, di bimbing oleh perawat dan terus kontrol setiap minggu." kata Adit menatap jauh ke pantai yang berkilau karena sinar matahari.


Mawar mendengarkan penuturan Adit terbawa suasana.


"Dibulan keenam aku mulai belajar jalan dengan tongkat di bimbing perawat, hingga bulan ketuju aku mulai berjalan tanpa bantuan." tutur Adit mengingat ketika sudah mulai bisa jalan merasa senang.


"Ya Allah... kalau Mas kabari aku. Aku kan bisa merawatmu." sesal Mawar karena Adit melewati penderitaannya sendiri.


"Aku kan sudah bilang Maw, aku nggak ingin merepotkan kamu, mengganggu kuliah kamu." terang Adit, beralih menatap wajah Mawar.


"Yang penting aku sekarang sudah ada di sini, bisa bertemu lagi dengan kamu" Adit mengangkat kedua telapak tangan istrinya yang duduk bersila di depanya lalu menciumnya.


"Terus, kapan Mas sampai Jakarta?"


"Baru hari ini, tapi aku langsung ke kantor menyerahkan pekerjaan aku selama di Malaysia." jawab Adit seraya memainkan jemari Mawar.


Mawar mengangguk-angguk.


"Terus kenapa Mas bisa tiba-tiba ada di pantai ini?" Mawar mengerutkan dahinya.


Flashback on


"Boss mau di antar kemana nih?" tanya Riko mereka sedang di dalam taksi dari bandara.


"Kekantor Papa Johan dulu menyerahkan berkas." sahut Adit.


Taksi ferrari menuju pt Primajaya tak lama kemudian mereka sampai. Adit berjalan lebih dulu di ikuti Riko.


"Eh, itu bukanya Pak direktur?" tanya salah satu karyawan dengan mulut terngaga.


"Subhanallah... benar-benar masih hidup." sambungnya.


"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, memang semua sudah di atur." karyawan yang lain berpendapat.


Suasana menjadi riuh banyak mata yang terbelalak. Masing-masing mengomentari namun Adit tetap cuek dan segera naik lift.


"Pagi" sapa Adit ketika melewat sekretaris di depan ruangan dewan direksi. Adit bukan ke ruangannya melainkan ke ruangan Papa Johan.


"Pak Adit ya?" tanya Sekretaris tak kalah terkejut.


"Iya, Papa ada?" tanya Adit kemudian.


"Ada Pak silahkan masuk"


Tanpa bicara Adit langsung masuk keruangan Papa Johan.


Sekretaris memandangi Adit yang berjalan dengan kaki agak pincang hanya bisa berucap syukur alhamdulillah bahwa bossnya yang sudah di kabarkan hilang beberapa bulan yang lalu kini hadir kembali.


"Pagi Pa" ucap Adit kemudian berjabat tangan dengan mantan mertuanya itu ketika sampai keruangan tampak Pak Johan sedang berkutat dengan pekerjaanya.


"Pagi, kamu sudah lebih baik?" tanya Papa, menatap Adit.


"Alhamdulillah Pa, karena usaha Papa saya sudah lebih baik." terang Adit.

__ADS_1


"Jangan bicara begitu Dit, kamu sekarang bukan menantuku, tetapi setelah kepergian Silfi kamu adalah anakku." ucap Papa Johan tegas.


"Terimakasih Pa." sahut Adit.


"Duduk" sambung Papa Johan.


Adit kemudian duduk membicarakan tentang pekerjaan, selama satu jam. "Saya langsung pulang Pa, tapi mau ziarah kekuburan Silfi dulu" ucap Adit kemudian berdiri.


"Ya hati-hati, kamu jangan terlalu capek dulu Dit, kondisi mu belum pulih benar." pesan Papa Johan. "Kamu pakai mobil Papa saja, nanti kalau Papa sudah ingin pulang minta di jemput supir." saran Papa.


Terimakasih Pa"


****


"Rik, kita pakai mobil Papa saja" kata Adit setelah turun dari lift bersama Riko.


"Langsung pulang boss?" tanya Riko setelah di atas mobil.


"Kita ziarah ke makam Silfi dulu, setelah itu, antar saya ke pantai Jakarta." titah Adit.


"Pantai?" tanya Riko menoleh cepat. Riko merasa heran mengapa boss nya bukanya pulang menemui istrinya malah minta di antar kepantai.


"Iya, antar saya kesana, setelah itu, jemput istri saya, cari sampai ketemu hari ini, Rik." tegas Adit.


"Cari di tempat kerja, kalau nggak ada di sana, mungkin dirumah. Kalau ke kampus tidak mungkin, sebab dia kuliah malam." terang Adit.


"Tetapi jangan bilang saya menunggu, saya mau kasih kejutan, cari alasan yang tepat ya."


"Siap boss."


Flashback off.


"Belum, habis dari kantor ke kuburan langsung kesini."


"Sebenarnya aku sudah ingin pulang sejak seminggu yang lalu, tetapi aku tunda." tutur Adit.


"Kenapa?" Mawar mengakat tangan kirinya kemudian menopang dagu menatap wajah suaminya seksama.


"Kamu ingat nggak hari ini, hari apa?" Adit ikut menopang dagu.


Empat pasang mata mereka fokus ke wajah pasanganya.


"Hari rabu." sebenarya Mawar tau maksud pertanyaan Adit. Namun hanya ingin menggoda suaminya saja.


"Selain itu, hari apa lagi?" Adit berekspresi kecewa karena istrinya tidak ingat hari spesial mereka.


"Hari kita menikah sejak 6 tahun yang lalu."


Adit menarik tengkuk istrinya tiba-tiba. "ciut... ciut... ciut."


"Eemmppp" Mawar gelagapan di serang mendadak.


"Iihh... Mas mah, memperkosa!" Mawar cemberut, setelah Adit beraksi.


"Habisnya sudah nggak tahan, lihat sekuntum Mawar merah." Adit memainkan alisnya, sambil tersenyum.


"Sudah, jangan nggombal! terus lanjut cerita." Mawar pura-pura kesal tetapi sebenarnya hatinya senang.

__ADS_1


"Aku mencari waktu yang tepat, dan ingin merayakan ulang tahun pernikahan kita, makanya aku mau memberi kejutan buat kamu" Adit menekan kata kamu kemudian menoel hidung istrinya.


"Terus?"


"Aku minta di Antar Riko ketempat ini, karena tempat ini, tempat yang bersejarah bagi kita, aku terakhir bersama kamu waktu itu"


"Rencana aku akan menunggu disini agar Riko menjemputmu dimana kamu berada."


"Ternyata kita sehati, ketika aku baru sampai di tempat ini, dan duduk di tepi pantai melihat kamu berjalan dari kejauhan, aku menyuruh Riko agar segera menyingkir lalu aku bersembunyi di balik perahu." Adit terkekeh.


"Ih, Mas jahat! tahu nggak?" Mawar mlengos kesal.


"Kok jahat?" Adit menautkan alisnya.


"Ya kirain, Mas tadi buaya buntung yang ada di dalam dongeng, mana pakai kaos putih pula"


"Ahahaha" Adit terbahak-bahak.


"Kok malah ketawa sih?! ketus Mawar.


"Kamu ini kalau berpikir yang masuk akal apa? masa iya, siang-siang ada hantu." Adit geleng-geleng.


"Sudah sekarang aku punya hadiah buat kamu" ucap Adit, kemudian berdiri.


Membuka celana jins hingga terpampang celana pendek.


"Eh, Mas mau apa?" Mawar terperangah.


Adit tidak menjawab kemudian mengeluarkan benda berbentuk love kecil warna merah hati, kemudian memakai celananya kembali.


Mawar bernapas lega.


"Kamu kirain aku mau apa? aku juga masih waras kali? masa mau ngajak kamu anu-anu di sini, walaupun sebenarnya sudah tidak tahan menunggu nanti malam." ahahaha.


"Atau kamu ingin sekarang?" goda Adit senang melihat wajah Mawar yang merah.


"Maaasss... ih!" Mawar mencubit lengan Adit mlengos. "lagi sakit juga pikiranya ngeres!" sambungnya cemberut.


"Yang sakit kan pinggangku, sedangkan anuku nggak sakit kok." Ahahaha. Adit menertawakan kata-katanya sendiri.


"Tau ah!" Mawar kesal kemudian melempar-lempar kerikil kecil ke sembarang arah sambil manyun.


"Jangan begitu apa bibirnya dari tadi kamu nggodain terus." seloroh Adit.


Adit kemudian duduk kembali dan membuka benda tersebut.


"Ini, hadiah hari anniverersary kita." Adit maju kedepan hingga berjarak beberapa sentimeter.


"Aku pakaikan ya" Adit memasangkan kalung mas cantik lengkap dengan liontin initial M,A yang ia beli dari Malaysia.


"Terimakasih ya Mas" ucap Mawar tersenyum mengembang bibirnya yang hanya di poles perona merah jambu tampak terlihat natural membuat Adit berniat mengecupnya.


"Aku juga punya hadiah nih" Mawar membuka tas slempang kecil dan mengambil gelang couple. "Ini di pakai ya." Mawar membuka tautan gelang kemudian memasangkan ketangan Adit, kemudian ke tanganya sendiri.


"Happy anniverersary." ucap Mawar kemudian menjatuhkan wajahnya ke dada suaminya.


Adit mengusap lembut punggung istrinya.

__ADS_1


"Selamat anniverersary sayang, maafkan aku yang belum menjadi pasangan yang baik. Dan selalu menyakitimu, menorehkan luka terlalu dalam di hatimu. Namun yakinlah sayang, mulai hari ini masa depan kita akan lebih baik, lebih bermakna dan terus saling mencintai." janji Adit.


__ADS_2