Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Mawar Bertemu Adit.


__ADS_3

Mawar PoV.


"Maw, boleh ibu bicara nak?" tanya Ibu hati-hati, kemudian meletakkan steropom bekas aku makan di lantai, karena aku makan disuapi Ibu. Aku tatap Ibu, agak ragu ketika ingin bicara.


"Ada apa Bu? bicara saja aku pasti dengarkan kok" ucapku. Aku lihat adikku Melati yang sedang berbincang-bincang serius dengan Bapak di sofa berdiri kemudian membuang steropom ketempat sampah.


"Kamu tadi pagi datang ke pesta perkawinan di hotel kan, nak?" tanya Ibu. Mengingat itu aku menjadi kesal meremas sepray hingga berkerut. Aku diam, tidak menjawab pertanyaan Ibu.


"Maw" Ibu menggenggam tanganku lembut. "Kamu salah paham nak" ucapnya kemudian aku menatap wajah Ibu.


"Salah paham? maksud Ibu apa?" tanyaku memang aku tidak mengerti.


"Yang sedang menikah, dihotel dan bernama Adit itu bukan Adit suamimu nak"


Dug dug dug.


Jantungku berdegup kencang aku mulai bisa mencerna perkataan Ibu. Bagaimana mungkin nama bisa sama sedangkan di hotel pun terpampang nyata bernama Adit. Apa lagi sebelumnya Mas Adit memang terlihat akrab dengan seorang gadis. Lalu apa aku salah, jika berprasangka buruk?


"Hahaha... kenapa? Ibu mau membela laki-laki tukang kawin itu?!" aku pura-pura tertawa jawabku ketus, lalu mlengos kesal.


"Nak, dengarkan Ibu" Aku tatap Ibu kembali, tampak bersedih aku tidak tega.


"Yang Ibu katakan itu benar nak, kalau kamu tidak percaya ada kok buktinya." tuturnya. "Mel" Ibu melambaikan tangan kepada Melati.


Aku menoleh Melati yang sedang duduk bersama Bapak, bergegas membawa undangan mendekatiku, lalu menggeser kursi tunggu kemudian duduk di samping ranjang.


"Kak, Ibu benar, kakak salah paham" aku tatap Melati membuka undangan yang masih di disegel plastik. Rupanya keluarga aku sudah mengatur rencana ini, aku mulai percaya.


"Ini undangan keponakan Pak Johan nak, Adit suamimu yang membawa undangan ini untuk Bapak dan Ibu, tapi begitu mendapat telepon dari jeung Latania bahwa kamu masuk rumah sakit, Ibu tidak berpikir lagi untuk datang." tutur Ibu aku tatap kejujuran di netranya.


"Ini perhatikan kak, kakak membaca undangan hanya setengah-setengah, tidak kakak baca semua kan? hanya membaca kedua mempelai saja." terang Melati.


Aku ambil surat undangan tersebut membaca kedua orang tua kedua mempelai.


Abi ( Muhammad Nur Azis)


Ummi ( Ummu Kalsum)

__ADS_1


Ayah ( Ipnu Nugroho)


Ibu (Jenita Wati)


Aku terperanjat, kemudian melepaskan undangan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.


Malu yang aku rasakan, seketika aku ingat Papa Johan. Aku sudah memaki-makinya dengan tidak punya perasaan dan tidak mempunyai sopan santun tadi pagi.


"Oh kenapa? aku menjadi gila?" Batinku.


"Papa Johan kemana Bu?" tanyaku kemudian.


"Beliau pergi ke pesta dari tadi siang nak, ingin meluruskan permasalahan ini, karena... Aisyah sangat marah." terang Ibu.


Aku membisu, aku jahat, aku sudah membuat acara pernikahan orang menjadi kacau.


"Terus apa yang harus aku lakukan Bu? aku malu?" tanyaku, andai aku tidak dalam keadaan seperti ini ingin rasanya datang ke pesta dan meminta maaf.


"Tidak ada cara lain, selain menunggu Pak Johan, kamu yang tenang ya nak!" titah Ibu menekan kedua pipiku.


Aku mengangguk. Aku pindah tangan ibu aku dekap di dada agar bisa meringankan debar jantungku yang semakin kencang.


"Dia sakit nak" kata Ibu pelan.


"Sakit Bu?" Aku semakin panik.


"Iya, tapi tenangkan hatimu" Ibu memegangi kedua sisi pundakku aku pandangi Ibu menatapku teduh.


"Jangan bersedih nak, kita doakan saja semoga Adit cepat sembuh"


"Tapi Mas Adit sakit apa Bu? bagaimana keadaanya? terus dia sekarang dimana, sama siapa?" tanyaku tanpa jeda. Aku guncang lengan Ibu. Perasaan sedih, kwatir campur aduk.


"Tenang kak, dia dirawat disini juga kok" Melati menimpali.


"Antar aku kesana Mel, ayo Mel." gantian aku tepuk-tepuk tangan Melati.


"Iya kak, aku antar sekarang." ucap Melati kemudian ambil kursi roda. Bapak yang sedang duduk di sofa cepat menghampiri kami. "Mau dibawa kemana Mawar?" tanya Bapak kemudian membantu aku naik ke kursi roda.

__ADS_1


"Antarkan aku ketemu Adit Pak." aku tatap Bapak yang masih bingung.


"Biar Mela sendiri saja yang antar Pak, belum jam besuk soalnya, nanti malah nggak boleh masuk" terang Melati ketika Bapak ingin mendorong kursi roda.


"Oh begitu, ya sudah, hati-hati ya nak" Bapak mengusap kepala aku.


"Kalau ada apa-apa, telepon Ibu sama Bapak ya Mel, Bapak sama Ibu mau shalat maghrib ke mushola" pesan Ibu.


"Ya Bu"


Melati mendorong aku, naik lift menuju lantai tiga. Ternyata kata Melati, Mas Adit dirawat disana, sedangkan aku dirawat di lantai satu.


"Ini ruanganya kak" kata Melati.


"Mbak, Mbak. Tidak boleh masuk belum jam besuk" satpam menghadang kami.


"Saya tau Pak, tapi saya yang akan menemani pasien malam ini" jawab Melati keluar begitu saja, dari mulutnya. Pandai sekali adikku ini mencari alasan, padahal aku sudah khawatir tidak di izinkan.


"Tapi Mbak ini kan, lagi sakit juga? kenapa ikut?" satpam menatapku. "Waduuuh... nggak boleh masuk nih" batinku.


"Oh, ini istrinya habis caesar, kasihan lah Pak, sudah berapa hari nggak ketemu suaminya, coba kalau ini terjadi sama keluarga Bapak" lagi-lagi adikku yang menjawab.


"Ya sudah" sahut satpam kemudian meninggalkan kami. Aku merasa lega karena di diperbolehkan masuk. Setelah debat dengan satpam Melati membuka pintu perlahan, kemudian mendorong kursi rodaku masuk.


Aku terpaku disisi ranjang pasien memandangi wajah suamiku yang sedang tidur dengan wajah pucat terpasang selang infus, mulut terbuka sedikit memang begitu cirikas dia ketika sedang tidur.


"Mel kenapa Mas Adit nggak ada yang menemani?" tanyaku. Sebab, Mas Adit hanya tidur sendiri.


"Biasanya Pak Rengono, bergantian dengan Diah kak, mungkin saat ini beliau sedang shalat" jawab Melati.


Air mataku menetes. Pasalnya, pipi yang biasa berisi itu kini terlihat tirus, ada garis hitam dibawah lingkar mata. Terpampang perut hingga dada terlihat bulu halus yang sering aku mainkan menjelang tidur.


Segera aku ambil selimut menutupnya perlahan agar tidak mengusik tidurnya. Napasnya kembang kempis terlihat tidak berdaya.


"Sabar ya kak" ucap Melati berbisik, sepertinya adikku tahu perasaanku.


"Dia sakit apa Mel? kenapa bisa kurus begitu?" tanyaku dengan mulut bergetar tangisku agar tidak menimbulkan suara.

__ADS_1


Setelah kepergian kak Mawar, kak Adit stres kak, siang malam mencari kakak dengan mengendarai motor. Kadang pulang kehujanan, dia tidak mempedulikan tubuhnya sendiri. Dia takut kehilangan kakak untuk yang kedua kali." tutur Melati.


"Jika kami ajak makan, alasanya tidak lapar, setelah tiga hari kepergian kak Mawar. Kak Adit sudah demam tinggi, di buatkan bubur sama Bibi tetap tidak mau makan, malah nekat pergi mencari kak Mawar, walaupun sudah dilarang Bapak sama Ibu." Adikku menjelaskan panjang lebar aku semakin bersalah.


__ADS_2