
Rony menyuap makan pertamanya tidak semangat rasa lapar seolah menguap. Rony menusuk nusuk ayam dengan garpu untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.
Mau marah, entah dengan siapa? tidak ada yang patut di salahkan. Tetapi, hatinya lah yang harus di salahkan, mengapa harus berlabuh dengan orang yang tidak tepat.
Klontang"
Rony menjatuhkan sendoknya tidak menyadari bahwa dirinya disini tidak sendiri.
Mawar dan Rosita saling pandang. Seolah mereka bertanya. "Ada apa?" keduanya pun menggeleng tanda tak mengerti kelakuan sahabatnya yang tidak biasa.
"Kenapa sih loe? nggak ikhlas traktir makan gue?! omel Rosita yang dari tadi ia tahan pun nerocos juga.
"Iya, kenapa kamu Ron?" Mawar heran tidak biasanya melihat Rony, bersikap seperti itu. Yang Mawar tahu, selama dua tahun mengenal Rony pria ini tidak pernah serius jika berbicara selalu humoris dan blak- blakan.
"Oh, nggak kok, hehehe... tanganku kesemutan. Iya kesemutan." Rony beralasan mencoba tertawa mengibas kibas tanganya menyembunyikan rasa kegelisahannya.
"Ayo, makan-makan" Rony melahap Ayam seperti orang kalap di pegang dengan tangan menyingkirkan garpu dan mengunyah cepat. Semua terdiam masing-masing makan dengan caranya sendiri.
"Mau asinanya Ros?" tanya Mawar setelah menghabiskan dua potong ayam gebrek plus nasi telah habis. Mawar pun menyatap asinan.
"Nggak, kenyang gue, loe saja yang makan." sahut Rosita.
Mawar menyantap satu piring asinan hingga bersih.
"Kok kepala aku keliyengan ya Ros?" Mawar memijit pelipisnya.
"Kekenyangan kali loe? loe sih! makan nggak kira-kira" Rosita mengoceh tapi perhatian memegang dahi Mawar.
"Tapi nggak panas kok" ucap Rosita. Sedangkan Rony hanya diam meneguk air putih, ada perasaan ingin menolong Mawar, tetapi hanya di hati saja.
"Gue ke toilet dulu ya" pamit Rosita. "Nggak apa-apa kan gue tinggal?" Rosita menatap wajah Mawar agak pucat, sebenarnya tidak tega meninggalkan.
"Kebiasaan kamu tuh, makan yang lain belum udahan sudah ke toilet" Mawar menarik sebelah bibirnya.
"Yeee... namanya juga kebelet."
Rosita pun pergi ke toilet. Hanya tinggal Mawar dan Rony berdua yang berada di tempat itu.
"Loe kenapa Maw? kok pucat sih?" Rony tampak khawatir.
"Nggak tahu nih Rony, setelah makan kok kepalaku pusing" Mawar menunduk sambil memijit pangkal hidungnya.
"Mau gue antar pulang loe" Rony menawarkan diri.
"Nggak usah Ron, nanti aku di jemput kok, mungkin sebentar lagi." pungkas Mawar.
******
Adit sedang dalam perjalanan, hendak menjemput istrinya, saat melihat gerobak bermacam-macam keripik, Adit berhenti. Adit ingat irtrinya saat ini senang ngemil makanan ringan maka dari itu Adit berniat membelikan.
"Bang beli keripiknya ya" Adit membuka kaca mobil setengahnya.
__ADS_1
"Keripik apa Mas? ini ada kripik pisang, ubi, kentang, terus singkong" pedagang menyebut satu persatu dagangannya.
"Kasih semua saja bang, masing-masing dua pak ya" titah Adit.
"Baik Mas" tukang kripik senang sekali, kemudian memasukkan kedalam kantong plastik, lalu mendekati mobil menyerahkan kepada Adit.
"Ini Mas"
"Jadi berapa bang?" tanya Adit.
"Jadi 200 ribu Mas"
Adit membayar keripik kemudian melanjutkan perjalanan.
*****
"Mawar, Mawar. Kamu kenapa?" Rony kebingungan menepuk-nepuk pelan pundak Mawar sedangkan Rosita belum kembali dari toilet. Mawar telungkup di atas meja sepertinya pingsan. Warung ayam geprek pun sudah tutup suasana sangat sepi.
Buk. Buk. Buk.
Adit yang baru datang melihat pundak istrinya di pegang-pegang Rony. Adit seketika meradang beberapa pukulan singgah di wajah Rony.
"Ada apa ini?" Rosita yang baru datang melihat keributan, kemudian mendekati Mawar. Menyadari jika Mawar tidak melerai pertengkaran suaminya pasti ada sesuatu.
Karena pertanyaanya tidak di dengar oleh Adit dan Rony.
Rosita menegakkan kepala Mawar yang masih telungkup di atas meja. Mawar tampak lemas, kemudian Rosita menidurkan di lengannya tampak Mawar semakin pucat
"Loe yang BRENGSEEEK" sahut Rony.
Karena Rony merasa tidak bersalah ia memberi perlawanan, baku hantam pun tidak terelakkan.
"STOP" pekik Rosita.
Adit dan Rony pun menoleh.
"Kalian ini jadi laki-laki nggak bisa kontrol emosi! bisa berhenti nggak! lihat Mawar nih!" tukas Rosita.
Adit kemudian merengkuh tubuh istrinya.
"Sayang, bangun sayang" merasa tidak ada pergerakan Adit membopong tubuh Mawar kemudian membawanya ke mobil. Rosita yang mengikuti dari belakang segera membukakan pintu.
Adit menidurkan di jok tengah.
"Biar saya yang nyetir!" ucap Rosita jutek mengangsungkan tangan meminta kunci mobil kepada Adit.
"Terimakasih" sahut Adit.
Rosita melajukan mobil dengan cepat setelah kirim pesan kepada suaminya bahwa malam ini pulang terlambat.
"Kamu tadi tahu penyebabnya, kenapa Mawar bisa pingsan Ros?" tanya Adit tanpa menatap Rosita.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, dari tadi Mawar memang ngeluh pusing, keliyengan, terus saya tinggal ke toilet sebentar. Eh, malah pingsan" sesal Rosita karena meninggalkan Mawar.
"Anda jangan terlalu posesif kepada Rony, dia itu pria baik, selama anda tidak ada dulu, Rony lah yang selalu menjaga kami." Rosita menjelaskan.
Adit tidak menyahuti Rosita, menatap wajah Mawar seksama.
"Bangun sayang... kamu kenapa?" Adit merasa bersalah bukan cepat menolong istrinya ketika baru sampai tadi. Sebab, Mawar tampak pucat. Adit tidak merasakan sakit lagi pada bibirnya yang pecah karena tonjokan Rony tadi.
Tidak lama kemudian mobil sampai di rumah sakit.
Adit setengah berlari membopong tubuh Mawar, di ikuti Rosita. Rony pun cepat menyusul ternyata Rony tadi mengikuti mobil Adit dari belakang dengan motornya.
******
"Kenapa dengan istri saya dok" tanya Adit tampak memelas.
"Tidak apa-apa, selamat, anda akan menjadi Ayah" terang dokter.
"Apa? jadi istri saya hamil dok, alhamdulillah..." Adit sujut syukur di ruang dokter umum.
"Betul, untuk mengetahui lebih jelas jika Istri anda sadar nanti, segera temui dokter kandungan." titah dokter.
"Tapi kenapa istri saya bisa pingsan dok?" pertanyaan itu yang sudah dari tadi ingin Adit tanyakan.
"Ini karena perubahan kadar hormon, dalam tubuh istri anda. Hormon progesteron akan meningkat dan membuat tubuh istri anda melebar dan menyebabkan tekanan darah istri anda rendah dari biasanya." dokter menjelaskan panjang lebar.
Adit mengguk-angguk kan kepala.
"Bibir anda kenapa? anda tidak ingin berobat sekalian?" tanya dokter.
"Boleh dok" jawab Adit cepat tidak ingin menjawab pertanyaan dokter, sungguh sangat memalukan, pikir Adit.
Dokter segera memeriksa bibir Adit di kompres dengan alkohol kemudian di obati.
"Mas..." lirih Mawar rupanya sudah sadar.
"Iya sayang, kamu sudah sadar?" tanya Adit, berjongkok di samping ranjang Mawar, kemudian menciumi punggung tangan Mawar.
"Aku dimana Mas?" Mawar mengerling ke segala arah kemudian pandangannya tertuju pada pria berpakaian dokter di meja kerjanya Mawar baru menyadari.
"Aku mau pulang" Mawar kemudian bangun dan duduk.
"Kok lepalaku muter-muter sih Mas"
"Makanya jangan banyak gerak dulu" titah Adit.
"Sebaiknya Istri anda, biar menginap disini barang satu malam Mas" titah dokter.
"Baik dok"
******
__ADS_1
"Terimakasih, yang masih setia membaca sampai part ini, semoga kalian sehat selalu. 💪💪💪.