Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Cerita Mawar.


__ADS_3

Makan siang yang penuh drama pun akhirnya selesai, kemudian Mawar membersihkan meja makan, Melati Mencuci piring sedangkan Bapak jalan keluar di ikuti Adit.


Bapak duduk di pinggir kolam ikan mini, yang berada di teras rumah Adit. Beliau memperhatikan ikan kecil warna warni berlarian kesana kemari seolah damai tanpa beban. "Ah andai kehidupan manusia bisa setenang ikan" monolog Pak Sutisna.


Di pinggir kolam berjajar sederetan tanaman hias dalam pot termasuk bunga Mawar warna warni, Pak Sutisna mengangkat salah satu bunga mawar merah dalam pot kemudian di pandangi tanpa berani memetik.


"Boleh saya ikut duduk Pak?" Adit tiba-tiba berdiri di dekat Pak Sutisna, memberanikan diri untuk bicara.


Pak Sutisnya menggerakkan tangan tanda setuju tanpa bicara, fokus memandangi bunga Mawar lalu menyiprat kan air yang Bapak ambil dari kolam membasahi Mawar.


"Maafkan Adit Pak?" kata itu akhirnya keluar dari mulut Adit.


Pak Sutisnya menghela nafas berat lalu mengangkat bunga Mawar dalam pot kehadapan Adit.


"Kamu harus tahu Dit, mengapa Bapak memberi nama putriku dengan nama Mawar" Bapak menggoyang-goyang pot.


Adit mengangguk, kali ini berani menatap wajah mertuanya. "iya Pak." sahutnya pendek.


"Lihat Mawar ini, banyak duri-duri kecil agar bisa melindungi dirinya sendiri, agar bisa bersikap tegas, dan tidak mudah di remehkan oleh orang lain." tutur Bapak bercerita tentang Mawar.


"Tetapi, mengapa? orang yang sudah memetik Mawar, tidak bisa melindunginya? dan justru dia sendiri yang meremehkan?" "tes" air mata Bapak jatuh menimpa bunga Mawar yang beliu letakkan di hadapannya.


Deg deg deg jantung Adit terpompa cepat menyadari ucapan Bapak.


"Mawar lambang cinta dan kasih sayang, memberikan kita yang terbaik yang berharga dalam hidup kita."


"Tetapi... mengapa Mawar justeru menderita?"


"Dulu, dengan berat hati Bapak menyerahkan Mawar kepadamu. Namun, kamu ternyata tidak bisa memberikan cinta yang tulus kepadanya." air mata Pak Sutisna semakin deras. "Ternyata feeling orang tua itu tidak salah ya, Dit, dulu bapak melarang Mawar menikah dengan kamu karena feeling anak Bapak akan tersakiti. Dan ternyata tidak salah kan?" Bapak menekan-nekan dadanya.


"Bapak...jangan bicara begitu Pak" ucap Adit dengan mulut bergetar sambil memegang telapak tangan mertuanya.


"Bunga Mawar ini bisa ditanam di mana saja, mengajarkan kepada kita, asalkan kita punya komitmen dan prinsip dalam hidup, tidak akan menjadi masalah entah kita tinggal di desa maupun dikota pasti akan terlihat menonjol dan bisa menjadikan lingkungan yang menyukainya."


"Bukan seperti kamu, baru di iming-iming jabatan direktur, sudah berani berbelok arah dan membuat Mawar yang di banggakan banyak orang menjadi tidak berharga lagi." Pak Sutisna mengusap air matanya dengan punggung tangan.


"Bapak...jangan bicara begitu Pak... maafkan Adit" Adit memeluk kaki Pak Sutisna.

__ADS_1


"Ahahaha..." Pak Sutisna tertawa di buat-buat padahal sejatinya menangis membayangkan luka hati anaknya.


"Maaf, memang mudah untuk di ucap Dit, tapi kenyataannya Mawar sekarang telah layu berguguran sebelum waktunya." pungkas Pak Sutisna kemudian menyingkirkan tangan menantunya meninggalkan Adit yang masih terpaku menatap punggung Pak Sutisna hingga menghilang di balik pintu.


Dengan rasa bersalahnya Adit menyusul Pak Sutisna. Namun, beliau sudah masuk kedalam kamar. Aditpun masuk ke kamarnya sendiri di sebelah kamar Pak Sutisna tidak masuk ke kamar tamu lagi.


Keduanya berada di kamar masing-masing entah apa yang mereka lakukan.


*****


Di taman belakang rumah Mawar, kedua adik kakak sedang bersenda gurau menguyek-uyek kepala Ibunya mencari uban kecil-kecil yang baru tumbuh terasa gatal. Namun, terasa merem melek jika di cabut. ( pengalaman pribadi 🤣🤣🤣)


"Kamu nggak capek nak? harus bagi waktu, pagi bekerja seharian, malam kuliah, belum lagi bangun subuh beres-beres rumah." Ibu membayangkan betapa lelah anaknya, sedangkan Ibu hanya membereskan pekerjaan rumah saja rasanya sudah capek.


"Habis mau ngapain Bu, Mawar belum di kasih momongan. Mawar mau nabung dulu Bu, aku mempunyai cita-cita ingin membuka jahitan, di samping rumah ini kan ada tanah lebih, siapa tahu Mas Adit bisa membuat ruko, aku ingin membuka butik kecil-kecil lan baju kita buat sendiri." tutur Mawar bersemangat.


"Wuih...ide yang bagus kak, nanti aku bantu ya" Melati menimpali ikut bersemangat.


"Tentu, kalau kakak nanti sudah punya momongan, nggak mungkin kan? ninggalin anak dirumah, kalau kita punya usaha sendiri setidaknya bisa mencari uang tanpa harus meninggalkan anak." tutur Mawar antusias.


"Aamiin...mudah-mudahan kamu sukses nak" do,a Ibu.


"Makanya aku belum bisa membantu membiayai kuliah kamu Mel" sesal Mawar.


"Jangan pikirkan itu kak, kita sama-sama sudah dewasa, aku ingin bekerja mengumpulkan uang agar bisa mandiri seperti kakak"


"Walapun kakak membiayai kuliah aku dengan uang keringat kakak sendiri, pasti bayangan Mak Lampir, di sangka pakai uang anaknya." ingat Bu Reny Melati ngeri.


"Mak Lampir?" Ibu mengerutkan dahi.


"Mertua kakak itu bukanya seperti Mak Lampir Bu" sahut Melati ingat ketika Bu Reny memarahi kakaknya.


"Hus! nggak boleh bicara begitu!" Ibu menyentil mulut Melati menasehati anaknya.


"Aduh! sakit Bu" Melati memegangi bibirnya cemberut.


"Makanya... lain kali nggak boleh bicara begitu" titah Ibu Riska.

__ADS_1


"Iya Bu" sahut Melati.


"Kamu kerjanya jauh dari sini nak?" Ibu mengalihkan pembicaraan.


"Kalau dari sini agak jauh Bu, tapi kalau dari kampus deket."


"Oh iya Bu, aku lupa ngomong, yang punya perusahaan itu katanya sahabat Ibu" tutur Mawar.


"Sahabat Ibu? siapa?" tanya Ibu mengguncang tangan Mawar karena penasaran.


"Ibu Sahina, katanya sahabat Ibu waktu SMP" sahut Mawar mengingat Mama Sahina dulu pernah bercerita.


"Sahina?" Ibu Riska membulatkan mata. Lalu dengan gerakan cepat mengikat rambutnya dengan ikatan rambut yang beliau lingkarkan di tangan.


"Betul Bu, beliau ingin bertemu Ibu, sering banget bercerita tentang Ibu," tutur Mawar.


"Ibu jadi ingin bertemu denganya, tapi apa dia masih mau bertemu Ibu yang orang susah, sedangkan dia kan sudah kaya sekarang," semangat Ibu seketika mengendor. Ibu ingat waktu sekolah dulu suka berebut makanan. Tapi takdir berkata lain, nyatanya Sahina sudah menjadi orang sukses.


"Bu Sahina itu beda Bu, walaupun orang kaya, tapi tidak sombong. Besok, kebetulan aku nggak ada jam kuliah, beliau juga tidak ada jam ngajar, jadi kita bisa kesana." Mawar memberi usul.


"Aku boleh ikut nggak kak, siapa tahu ada lowongan kerja, aku mau melamar" Melati tak kalah bersemangat.


"Boleh dong" sahut Mawar.


"Mengajar? bukanya kamu bilang dia punya usaha kok, masih mengajar?" Bu Riska semakin penasaran.


"Usahanya yang mengurus kan anak buahnya Bu, lagian beliau mengajar karena cita-citanya."


"Dia punya anak berapa?" tanya Ibu sudah tidak sabar ingin tahu lebih jauh tentang sahabatnya dulu.


"Dua Bu, laki-laki sama perempuan, kebetulan Intan teman sekampus aku, tapi beda jurusan, dia ambil kuliah pagi sedangkan aku malam." Mawar menjelaskan.


"Intan kak? kok aku familiar ya?" Melati mengingat nama Intan.


"Ya mungkin kamu kenal, diakan sekolahnya di kampung" kata Mawar.


"Aku penasaran kak, pengen cepat ketemu sama dia juga." pungkas Melati.

__ADS_1


Obrolan pun berhenti, tatkala mendengar adzan ashar mereka masuk kedalam.


__ADS_2