
Mawar gelisah memikirkan Adit yang belum pulang hingga jam tiga pagi. Ia menuruni anak tangga ambil gelas kemudian memencet air dari dispenser lalu meneguknya hingga tandas.
Mawar sama sekali tidak bisa tidur semalaman, ingin membangunkan Melati namun tidak tega.
Mawar kemudian berjalan keruang tamu merebahkan diri di kursi sofa.
**
Di hari minggu Mawar berjalan-jalan dengan Adit di salah satu pantai. Sampai di pantai cuaca tidak mendukung, padahal ketika berangkat tadi sangat cerah.
Langit gelap, tertutup mendung suasana pantai sangat sepi, sebab pengunjung yang tadi sedang bermain air membubarkan diri.
Durrr
Guntur menggelegar. "Mas... ayo keatas" Mawar mengajaknya menepi namun Adit menolak.
"Mas... aku takut" Rengek Mawar.
"Tidak akan kenapa-kenapa sayang... kan ada aku" Adit merangkul Mawar menyemangati.
Mawar pun tersenyum manis memeluk Adit yang hanya memakai celana pendek, bertelanjang dada. Mereka senang sekali kejar-kejaran di air, kadang ber guling-guling di laut dangkal. Hingga mereka terlena tidak menyadari jiga gumpalan ombak menggunung, bergulung-gulung mendekat.
"Maasss... minggir..." Mawar berlari ke tepian namun Adit masih asyik tidak menghiraukan kata-kata Mawar.
"Mawar... tolong aku mawar..." Adit di hempas ombak tenggelam di laut berusaha untuk berenang. Namun tidak bisa.
Mawar yang sedang di pinggir laut hanya bisa terpaku, ingin rasanya menolong tetapi bagaimana caranya? sedangkan ombak terus berdebur-debur menjulang tinggi jika Mawar menerjang itu artinya bunuh diri.
"Mawaaarrr...toloooong..." tangan Adit menggapai-gapai kepermukaan air.
"Mas Adiiiitt... huaaa...bertahanlah..." Adit tergulung ombak hingga menghilang dari pandangan Mawar. Mawar berlari mencari pertolongan namun tidak ada siapapun.
"Mas Adiiittt... hu huuu"
"Kak, bangun kak" Melati mengguncang-guncang kaki membangunkan kakaknya yang sedang berteriak-teriak di sofa.
Mawar tersentak kaget kemudian duduk ngos ngosan. Keringat sebesar-besar jagung menetes dari dahi, padahal pagi ini sangat dingin. Mawar ternyata bermimpi padahal baru terlelap sebentar setelah shalat subuh tadi.
Melati bergegas ambil air minum untuk kakaknya, tak lama kemudian Melati kembali.
"Minum kak" Melati menyodorkan segelas air.
Melati khawatir melihat keadaan kakanya. Apa lagi, saat ini mereka hanya berdua. Sebab, Simbok masih di kediaman Mama Latania.
"Melati... hiks hiks." Mawar merangkul adiknya setelah menyecap sedikit air.
"Mas Adit Mel...Mas Adit... hiks hiks hiks."
"Kak Adit belum pulang kak?" Melati tahu maksud kakaknya.
Mawar mengangguk. "Aku takut Mel, Mas Adit kenapa-kenapa." Mawar sesegukan.
"Yang tenang kak, mungkin kak Adit langsung kerumah Pak Johan." Melati berpikir positif.
__ADS_1
Mawar menatap Melati seperti ada secercah harapan. "Aku telepon Pak Johan ya Mel." Mawar bersemangat mengusap air matanya membuka handphone. Sebelum telepon check pesan yang ia kirimkan ke Adit masih ceklis satu. Mawar kembali gusar.
"Tenangkan diri kakak" Melati menepuk pundak Mawar seolah tahu apa yang ada dalam pikiran kakaknya. Sebenarnya Melati pun merasakan panik, namun tidak ia tunjukkan kepada kakaknya.
Mawar segera memencet nomor Mama Latania.
📞Assalamu alaikum" suara Mama Latania.
"Waalaikumsalam"
"Bu, ini Mawar, saya mau tanya, apa Mas Adit sudah sampai di rumah Ibu?"
📞"Belum nak, saya pikir malah menginap di situ"
Deg.
"Bu, terus, Mas Adit kemana? seharusnya sudah sampai tadi malam?" cecar Mawar. Tubuhnya kembali berguncang menangis menatap adiknya.
"Sabar nak... saya bicara dengan Bapak dulu ya" Mama Latania menenangkan, kemudian memutus sambungan telepon.
Mawar masih memandangi handphone di tangannya, dengan harapan Adit menguhubungi. Namun ali-ali menghubungi pesan yang ia kirim tadi malam saja belum dibuka.
Mawar benar prustasi ingin rasanya memeluk Ibunya jika sedang dalam keadaan kalut seperti ini.
"Kakak, yang sabar" Melati terus mengusap-usap tangan kakaknya hanya menghibur yang bisa Melati lakukan.
Melati menarik tanganya lalu merogoh handphone, baru ingat jika dia belum minta Izin kirim pesan kepada atasannya, bahwa dirinya harus izin tidak masuk kerja. Tidak mungkin kan meninggalkan kakaknya dalam keadaan seperti ini. Bukannya dalam keadaan seperti ini ia masih memikirkan pekerjaan. Namun biar bagaimana dia punya tanggung jawab.
Mawar dan Melati bingung apa yang harus mereka lakukan.
Mawar mengangguk kemudian berjalan lemas menuju kamar mandi.
Melati menatap kepergian kakaknya hatinya sedih. "Ya Allah...kenapa kakakku selalu menderita" gumamnya kemudian menitikkan air mata yang sejak tadi ia tahan.
Melati ambil remote televisi yang tergeletak di kursi, kemudian memencetnya, menonton televisi mungkin sedikit menghibur pikirnya.
Melati terbelalak tatkala memindah setiap chanel menayangkan berita yang sama.
"Pesawat xx 162 dari negara C tujuan Indonesia meledak hingga menewaskan seluruh penumpang dan awaknya" begitulah berita di layar televisi.
Melati mengigit bibir bawahnya, mungkinkah ada nama kakak Iparnya di pesawat naas tersebut? Melati membatin.
Melati flashback sebelum keberangkatan kakak iparnya kemarin Mawar seperti sudah firasat sehingga tidak rela Adit pergi.
Melati kembali menatap televisi.
"Pesawat menabrak tebing tercatat kecelakaan terburuk dalam sejarah, 220 penumpang ditambah 10 awak semua tewas"
Deg
Seluruh tubuh Melati menjadi lemas tak mampu berdiri kemudian kembali memencet remote mematikan televisi.
Bagaimana caranya Melati harus menanyakan kepada kakaknya, semoga pesawat tersebut bukan yang Adit tumpangi doa Melati penuh harap.
__ADS_1
Melati menyembunyikan remote khawatir kakaknya menyalakan televisi.
Melati segera berdiri menuju dapur untuk menyiapkan makan pagi. Jika kabar tersebut memang ada nama kakak Iparnya, setidak kakaknya sudah makan.
Melati ambil roti ingin membuat roti bakar kesukaan kakaknya. Ia mengolesi roti dengan mentega membakar di teplon kemudian di letakkan telur ceplok di tengah.
Setelah matang di susun dalam piring lalu meletakkan di meja makan.
Tak tak tak
Suara langkah kaki menuruni tangga Melati menoleh. "Eh kakak, sudah selesai mandi ya?" Melati bersikap biasa saja khawatir kakaknya tahu akan kegelisahannya.
"Sudah" hanya satu kata jawabnya Mawar.
"Sini kak, sarapan dulu, sudah siap ini" ucap Melati sambil membuat teh hangat.
Mawar berjalan mendekati Adiknya. Kemudian berdiri di samping meja makan memandangi roti bakar kesukaannya itu tidak menggugah selera makan untuk saat ini.
"Duduk kak" Melati menarik kursi.
Mawar menurut, kemudian duduk. "Ayo sarapan dulu kak"
Mawar menggeleng. "Tidak napsu makan Mel."
Melati menarik nafas. "Kakak nggak menghargai aku, sudah capek loh aku membuat sarapan untuk kakak." Melati pura-pura marah sambil memiringkan badan tangan satunya memegangi kursi.
"Iya, aku makan" sahut Mawar melirik adiknya sekilas kemudian mengangkat satu tangkap roti.
Melati tersenyum senang. "Kok hanya di makan sedikit sih kak?" Melati kembali kecewa saat melihat hidangan kakaknya hanya di icipi sediki.
Mawar melihat reaksi Adiknya memelas. "Ya aku makan lagi" Mawar menghabiskan roti setengahnya.
"Kak" panggil Melati setelah makan.
Mawar mengangkat kepalanya menatap Adiknya. "Apa?"
"Pesawat yang di tumpangi kak Adit kemarin pesawat apa?" tanya Melati hati-hati.
"Xx 162, kenapa Mel?" Mawar menatap Melati curiga.
Deg
Dada Melati berpacu cepat.
Setelah Melati menanyakan pesawat, Mawar ingat lagi tentang suaminya yang belum ada kabar, kemudian membuka kembali handphone, yang beberapa saat ia lupakan.
Nomor Adit belum juga aktif. Mawar kemudian melihat nomor Mama Latania ternyata telepon berkali-kali.
Tengkong tengkong.
Bel berbunyi kemudian Melati bergegas kedepan membuka pintu.
****
__ADS_1
"Siapa yang datang dan ada kabar apa? besok jawabnya."