
Dari kampus, Adit menjalankan motornya dengan kecepatan 100 km menuju Pt Primajaya. Sampai di tempat, Adit tidak merespon sapaan orang-orang seperti biasa. Adit menjadi dingin, yang ia pikir hanya ingin mencari nomor telepon teman-teman SMA nya dulu yang tinggal di Jakarta, dan mencari tahu keberadaan istrinya.
Keluar dari lift Adit setengah berlari menuju ruangan, dengan cepat membuka laci, dan ambil handphone.
Adit membuka handphone ternyata Mawar kemarin telepon berkali-kali dan juga menulis chat.
Adit menjambak rambunya gusar. Ia duduk lesu di ruangan direktur yang pernah ia duduki dulu. Menyesal mengapa kemarin dia tidak membuka handphone setelah rapat bersama dewan dereksi, dan juga bagian keuangan.
"Kamu sudah sampai Dit?" Pak Johan sudah berdiri di sampingnya, tanpa Adit sadari kapan masuknya mantan mertuanya itu.
"Iya Pa, untuk hari ini saya izin dulu ya" Adit tidak mampu berpikir untuk melanjutkan rapat hari ini.
"Loh ada apa? berarti kita tunda rapat hari ini? sayang sekali, padahal misteri ini hampir kita pecahkan."
Adit diam, saat ini dia tidak bisa melakukan apapun kecuali fokus mencari Mawar, hanya itu yang ada dalam pikiranya.
Melihat mantan menantunya terlihat kusut Pak Johan hanya bisa mengiyakan.
"Ada masalah apa Dit? cerita, siapa tahu Papa bisa bantu" titah Pak Johan.
Adit menceritakan semuanya kepada Papa Johan, bahwa istrinya telah kabur.
Papa Johan mengangguk-angguk. "Tenang Dit, sekarang kamu pulang saja, tenangkan diri kamu, Papa akan kerahkan anak buah Papa untuk mencari istrimu." tutur Pak Johan.
Dulu ketika Adit dinyatakan hilang, saat semua menyerah untuk mencarinya. Namun, anak buah Papa Johan bisa menemukan Adit yang sudah di anggap meninggal. Itu berarti anak buah Papa Johan bisa di andalkan.
"Saya tinggal dulu ya, yang sabar. Bukan hanya kamu yang kehilangan istrimu Papa juga, istrimu itu kan anak Papa juga" Papa Johan menepuk-nepuk pundak Adit kemudian keluar ruangan.
Adit menulis di group, menyapa teman-teman SMA nya dulu, hanya ingin tahu reaksi teman-teman apakah ada yang menyinggung Mawar.
Padahal selama ini Adit paling tidak mau menanggapi kekonyolan teman-teman, jika sudah ngobrol di group yang di bahas tidak jauh dari seputar puser.
Dan benar saja setelah membaca chat di group hanya candaan yang kurang bermutu Adit akhirnya menutup aplikasi dengan kesal.
Adit menopang dagu dengan tangan kiri. Tangan kananya mencoret-coret kertas sekenanya yang ada di depanya, sambil berpikir apa yang harus ia lakukan.
*****
"Kenapa kamu Dit? wajahmu lecek kayak baju belum di gosok, ahahaha" kelakar Wawan ketika Adit sampai di rumah Wawan. Adit merebahkan diri di kursi panjang satu lenganya menumpang dahi.
Adit tidak menyahut melirik Wawan kesal.
Adit mencoba kerumah sahabatnya barang kali Mawar menginap dirumahnya.
Adit menarik napas, entah bagaimana akan memulai bicara. Jika ia bercerita tentang Mawar, itu artinya ia menceritakan aip rumah tangganya sendiri. Adit malah bingung sendiri tujuanya kesini menanyakan Mawar menemui jalan buntu.
"Yee... malah bengong!" Wawan menoyor jidat Adit.
__ADS_1
"San, anakmu sudah bisa apa?" Adit mengabaikan candaan Wawan menurutnya bukan saatnya untuk bercanda ria.
"Sudah bisa jalan Dit" sahut Santi yang baru dari dapur membuatkan teh sambil menggendong anaknya.
"Yah, yah" anak Santi mengangsungkan tangan ingin di gendong Ayahnya.
"Oh, sini-sini, anak Ayah..." Wawan memangku anaknya kemudian menciumi. Adit menatapnya terharu.
"Terus... bagaimana si Mawar, sudah berapa bulan dia hamil? pasti sudah besar ya?" tanya Santi tanpa jeda.
Inilah jawaban yang di tunggu Adit, walaupun jawaban Santi tidak sesuai kehendaknya. Adit tahu tanpa harus bercerita panjang lebar. Berarti Santi tidak tahu tentang Mawar.
"Sudah tuju bulan" Adit menjawab pendek.
"Berarti dua bulan lagi Dit, alhamdulillah... akhirnya setelah penantian panjang, Allah menjawab doa-doamu." Santi tersenyum senang.
Adit menggigit bibir bawahnya, tersenyum hambar.
"Coba tadi Mawar di ajak kesini Dit" ucap Santi kecewa karena Adit main ke kontrakannya tidak membawa serta Mawar.
"Lain kali ya" ucap Adit mencoba tenang.
"Nyum-nyum" Anak Wawan minta teh yang sedang di teguk Wawan, tanganya memegangi gelas.
"Bentar ya, duduk manis dulu, nanti Ayah kasih minuman" Wawan meletakkan gelas di atas meja kemudian memberi satu sendok menyuapi anaknya.
"Nyum-nyum" anak Wawan kemudian tertawa memamerkan empat giginya membuat Adit berpikir anaknya nanti pasti akan seperti itu. Adit kembali tersenyum.
Wawan mencium perut dan dada anaknya yang montok. Anak Wawan kegelian tertawa-tawa menggemaskan.
Senyum Adit seketika menghilang
bagaimana jika Mawar tidak bisa di temukan, atau Mawar menggugat cerai dirinya tentu tidak akan bisa berkumpul dengan keduanya. Dada Adit terasa terhimpit, tidak akan bisa dibayangkan mungkin dirinya bisa gila.
Adit benar-benar sedang dalam keadaan kacau kini terasa jatuh kedasar jurang setelah terbang tinggi.
"Aku pulang dulu Wan" ucapnya lemas, kemudian menarik jaket yang ia sampirkan di kursi.
"Kok buru-buru sih Dit, belum juga ngobrol" ucap Santi.
"Iya, mau ngapain sih Dit? mau anu-anu juga nggak bisa, istrimu bukanya lagi kuliah" kelakar Wawan.
"Kerja" ucap Adit singkat kemudian pergi.
******
"Plak"
__ADS_1
Satu tamparan keras hadiah dari Pak Renggono mendarat di pipi Adit ketika Adit sampai di kediaman orang tuanya. Setelah pulang dari rumah Wawan, Adit langsung ke rumah, siapa tahu Mawar ada di sana. Namun ketika baru menginjak lantai langsung di hajar Bapak kandungnya.
Plak, plak.
Bapak mengulangi, hingga Adit terhuyung pipinya memerah bekas lima jari milik Pak Renggono.
"Kesalahan apa lagi yang kamu lakukan Dit?! bentak Pak Renggono marah besar menatap Adit mengintimidasi.
Adit menunduk kedua tanganya meremas kaos bawahnya, tidak peduli dengan pipinya yang terasa perih.
"Lihat Bapak Dit? apa yang kamu lakukan kepada menantuku Dit?! Bapak mengangkat dagu Adit agar menatapnya.
Adit menggeleng. "Tidak Pak"
"Tidak apa maksudmu? hah?! Pak Renggono mengangkat tangannya kembali, siap menampar anaknya.
Adit memejamkan mata biar mati di tangan Bapak kandungan saat ini, Adit sudah menyerah hidup pun tak berguna.
"Hentikan Pak!" tukas Ibu Reny menarik tangan suaminya.
Pak Renggono mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
"Duduk Dit" Bu Reny menuntun Adit duduk di sofa.
Pak Renggono pun ikut duduk. Menarik napas berat.
Mau sampai kapan kamu menyiksa batin istrimu Dit?" suara Pak Renggono lirih.
"Bapak, selama ini tidak pernah mengajari kamu untuk menyakiti perempuan. Bapak malu Dit, malu pada Mawar, yang selama ini sudah berjuang hidup sabar mendampingi suami seperti kamu."
Adit hanya diam mendengar wejangan Bapaknya, Bapak yang tidak akan membela siapapun kalau salah tetap salah termasuk anaknya sendiri.
"Seandainya bukan Mawar, yang menjadi istrimu, pasti sudah tidak kuat mendampingi kamu Dit" Pak Renonggo memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Bapak malu pada keluarga Sutisna, yang tetap memperlakukan keluarga kita dengan baik walaupun perlakuan keluarga kita yang sudah kelewatan."
"Sudahlah Pak! lha wong Mawar yang pergi sendiri kok, kita kan nggak pernah ngusir!"
"Diam kamu Bu!" Bapak mlotot menatap Bu Reny.
"Ya ini, contoh keluarga yang tidak benar, setiap Bapak menasehati anak-anak, Ibu selalu membela walaupun itu salah."
Kata Bapak sebenarnya sudah malas menasehati istrinya yang tidak akan patuh terhadapnya.
"Lihat sekarang anakmu Bu, Bapak selalu memberi nasehat yang baik kepada anak-anak, tapi ibu selalu mencuci otaknya. Akhirnya anakmu menjadi kebingungan mencari jalan hidupnya, dan sekarang kehilang arah."
"Dan sekarang ibu sudah berhasil. Puas kan Ibu sekarang!" pungkas Pak Renggono kemudian pergi meninggalkan anak dan istrinya.
__ADS_1