
Sebulan kemudian, hubungan Mawar dengan Adit tidak pernah bertengkar lagi. Mawar juga dilarang Adit untuk menemui orang tuanya selagi Bu Reny belum bisa merubah sikapnya. Menjaga agar jangan sampai hati Mawar tersakiti.
Bu Reny juga sedikit takut karena kehadiran suaminya. Tidak ada pilihan lain Pak Renggono menuruti kata-kata Adit untuk tinggal di Jakarta.
Ruko yang sedang di bangun Adit sebentar lagi selesai, hanya tinggal finishing saja. Karena hari ini hari minggu Adit mengontrol para pekerja.
"Mas, kamarnya di cat putih saja, karena warna itu kesukaan istri saya" Adit memberi pengarahan para pekerja yang sedang merapikan butik. Saran Adit butiknya agar di beri kamar supaya memudahkan istrinya ketika ingin istirahat tidak harus mondar mandir kerumah.
Malam harinya Adit menurunkan koper dari atas lemari, karena
hari senin besok, Adit akan berangkat ke salah satu Negara. Yakni negara tersebut yang mempunyai peran kuat perusahaan kontraktor terbesar, untuk pembahasan kerja sama dalam pengerjaan proyek perumahan yang lebih dari 20 ribu unit.
"Mas, perginya nggak bisa di tunda ya?" Mawar tampak terlihat cemas ketika sedang menyiapkan pakaian Adit lalu memasukkan kedalam koper.
"Nggak bisa sayang... kamu kenapa sih, kok tumben?" Adit heran, biasanya dia pergi istrinya tidak sesedih ini. Namun Adit perhatikan Mawar dari kemarin tampak murung dan gelisah.
"Sini bobo, sudah malam" titah Adit menepuk bantal di sebelahnya.
Mawar pun menurut merebahkan diri di samping suaminya. "Sekarang kita tidur ya" Adit mengecup bibir istrinya kemudian memeluknya erat.
Adit tidur dengan nyenyak, namun tidak, dengan Mawar, pikiranya berkelana entah kemana. Baru setelah subuh Mawar mulai terlelap. Namun Adit membangunkan meminta lebih.
"Sayang" Adit menepuk pipi Mawar lalu menciumnya berkali-kali.
"Eemm...Mas..." Mawar menggeliat Manja. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Adit menyentuh tubuh sensitif istrinya terjadilah pergulatan di pagi hari.
Setelah sampai ke puncak surga dunia mereka membersihkan diri.
"Mas hati-hati ya, kalau sudah sampai kabari aku" Mawar memasang dasi Adit, ketika selesai mandi tadi mereka langsung siap-siap. Karena Adit berangkat jam delapan pagi, sebab jam 10 nanti harus sudah check in di Bandara.
"Iya sayang, kamu juga hati-hati di rumah ya" Adit mengacak rambut istrinya menatapnya lekat seiring hembusan nafas istrinya yang selalu membuatnya merindu.
"Kenapa sih, nglihatin aku terus?" Mawar terasa malu suaminya menatap terus, kemudian menunduk setelah dasi terpasang.
"Kamu cantik soalnya" Adit tersenyum senang menggoda Istrinya.
"Ih, gombal" Mawar menyebik.
"Kita sarapan dulu" kata Mawar, tidak menanggapi lagi gombalan suaminya, lalu mereka kebawah. Melati sudah menunggu di meja makan kemudian sarapan bersama."
"Mbok, saya titip istriku ya" titah Adit kepada Simbok, ketika sudah duduk di meja makan.
"Baik Tuan" sahut Mbok Paijem sudah satu bulan ini bekerja di sini.
"Kak Adit, berapa hari di luar negri?" Tanya Melati.
"Kurang lebih dua minggu Mel, kalau bisa cepat selesai mungkin bisa seminggu." sahut Adit.
__ADS_1
"Jangan lama-lama Mas" Mawar menimpali.
"Siap tuan putri" Adit kemudian tersenyum menghibur istrinya.
Adit kemudian berangkat di antar Mawar dan Melati. Mawar dan Melati, tadi sudah Izin berangkat kerja agak siangan.
Mereka sampai di Bandara kemudian Adit melangkah cepat setelah turun dari mobil, akan segera check in.
"Mas...hiks hiks." Mawar mengejar menubruk suaminya, menangis di dada Aditya, rasanya berat sekali untuk melepas kepergian suaminya.
"Ya Allah sayang... aku pergi hanya seminggu loh, jangan sedih ya" Adit menghibur istrinya. Mengusap-usap punggung Mawar yang masih bergetar di dadanya.
"Benar kak Aditya, kak Mawar, jangan menangis nanti kak Adit malah nggak tenang mikirin kakak terus di sana" Melati menarik bahu kakaknya. Sebab, Adit harus segera check in.
Mawar merenggangkan pelukanya kemudian mencium punggung tangan Adit.
Adit kemudian melangkah masuk lobby setelah memberi kecupan di pipi Mawar. Adit sebenarnya berat meninggalkan istrinya yang selalu ia rindukan.
Jika bukan karena tuntutan pekerjaan Adit rasanya enggan untuk pergi. Adit menoleh melambaikan tangan.
Mawar pun melambaikan tangan menatap punggung Adit hingga terhalang oleh tembok.
"Sudah kak, kita doakan saja, semoga Mas Adit lancar dalam perjalanan, dan selamat sampai tujuan" Melati menuntun kakaknya kemudian masuk ke dalam mobil.
*****
Keesokan harinya Mawar sedang sarapan yang sudah di siapkan simbok.
Derrr..derrrt.
Handphone Mawar yang diletakkan di atas meja bergetar, tertera nama Mama Latania. Mawar segera mengangkat.
"Assalamu alaikum wr wb" 📞 suara Mama Latania.
"Waalaikumsalam" 📞sahut Mawar.
"Bisa datang kesini nak" 📞
"Kapan Bu?"
"Sekarang nak"
"Baik Bu" Mawar kemudian menutup handphone dan memasukkan kedalam tas. Sebenarnya tadi sudah siap-siap ingin berangkat kerja setelah selesai sarapan. Namun setelah terima telepon, Mawar mengurungkan niatnya.
"Siapa yang telepon kak?" tanya Melati.
"Mamanya Mbak Silfia, aku nggak jadi berangkat bekerja Mel, aku mau ke rumah sakit menemui Ibu Latania."
__ADS_1
"Hati-hati kak" sahut Melati.
Mawar kemudian mengeluarkan motor, menghidupkan lalu melaju ke rumah sakit. 10 menit kemudian Mawar sampai di tempat, ia segera naik lift sampai si lantai dimana Silfi di rawat berpapasan dengan Papa Johan.
"Sudah sampai nak?" Papa Johan tampak bersedih.
"Sudah Pak" sahut Mawar singkat. "Ada apa ya Pak? Ibu tadi memanggil saya"
"Silfia ingin bertemu kamu nak" Papa Johan mengajak Mawar keruang rawat inap ternyata Silfi sudah di pindahkan.
"Baik pak"
Papa Johan mendorong pintu kemudian masuk di ikuti Mawar.
Mawar menatap Silfi yang tergolek lemah. Rasanya ingin menubruk dan memeluk wanita malang itu. Mawar kemudian mendekat.
"Ini Mawar nak, yang sering ibu ceritakan " Ibu menunjuk Mawar.
Mawar dan Silfi saling tatap, baru kali ini Mawar menatap dengan jelas wajah Silfi walaupun Mawar sering menemui Silfi. Namun dalam keadaan tidak sadar. Mata bulat, manik biru, bulu mata lentik, hidung mancung sungguh Silfi wanita yang sempurna. Walaupun dalam keadaan pucat Silfi masih tergurat kecantikannya.
"Namamu Mawar?" lirih Silfi tersenyum ramah membuyarkan lamunan Mawar.
"Iya Mbak" sahut Mawar membalas senyum Silfi.
"Namamu cantik, seperti wajahmu, dan sifatmu" Silfia memuji.
"Mbak lebih cantik, dan baik" sahut Mawar.
Kedua wanita itu saling mengagumi dan memuji.
"Mawar"
"Iya Mbak"
"Aku boleh peluk kamu" Silfi merentangkan tangan di ranjang pasien namun, hampir tidak berdaya.
Mawar memelut Silfi dengan rasa kasihan, sedangakan Silfi memeluk Mawar dengar rasa bersalah, kedua wanita itu larut dalam pikiran masing-masing. Silfi merenggangkan pelukanya.
"Duduklah Mawar..." ucap Silfia menepuk ranjang di sebelah.
"Iya Mbak"
"Maafkan aku Mawar, aku sudah berbuat jahat kepadamu. Andai aku tahu jika Adit sudah beristri aku tidak akan menerima dia Mawar" hiks hiks hiks.
"Air mata Silfi luruh, tidak menyangka bahwa laki-laki yang menjadi suaminya kini sudah beristri.
"Mbak tidak bersalah, Mbak jangan berpikir macam-macam ya, semoga Mbak cepat sembuh" Mawar menghibur Silfi.
__ADS_1
Papa Johan dan Mama Latania hanya diam menahan tangis masih terpaku di tempat memandangi kedua wanita itu.