
Mawar berlari menjauh dari tempat itu kakinya terasa berat untuk melangkah, hingga jatuh bangun. Dengan susah payah Mawar pun sampai di parkiran motor.
Mawar starter motornya ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Namun seolah motor pun tak ingin di ajak kompromi.
"Aahh... kenapa susah amat sih!" gerutunya.
"Brek. edek, edek, edek" (anggap saja suara starter begitu.) 🤣🤣🤣
Berulang kali Mawar starter tidak bisa menyala hingga akhirnya tangan kekar memeluknya dari belakang.
Mawar meronta-ronta ingin lepas dari pelukan seseorang, yang ada dalam pikiran Mawar pria itu jilmaan buaya buntung seperti cerita orang-orang ketika masih SD dulu.
Sang pria menjatuhkan dagunya di pundak Mawar. Bau parfum yang ia kenal membuat tersadar dari nalar bahwa pria itu memang suaminya.
Mawar diam menikmati hembusan nafas menyapu leher, Mawar pun memejamkan mata.
"Kamu kok lari sih? nggak kangen sama aku ya?" suara itu memang benar-benar Adit.
Mawar menyingkirkan lengan kekar yang melingkar di perutnya kemudian turun dari motor.
"Kamu benar, Mas Adit?" Mawar menelisik wajah suaminya itu. Tanganya dia angkat keatas gemetaran menelusuri wajah yang ia rindukan beberapa bulan ini.
Adit menggenggam tangan Mawar yang masih di area wajahnya. "Bagaimana kabar kamu?" tanya Adit lalu mencium tangan istri yang ia rindukan itu.
Mawar menarik tanganya kasar. "Kamu jahat Mas! kamu jahaatt..." huhu huuu.
Alih alih menjawab Mawar jurteru memukul-mukul pelan dada suaminya.
"Kemana kamu selama ini Mas? kamu nikah lagi kan Mas? siapa korban kamu selanjutnya, hah?! tukas Mawar wajahnya memerah.
Adit hanya diam, membiarkan istrinya meluapkan emosinya, karena selama ini dia memang salah, tidak memberi kabar.
Mawar menangis meraung-raung, sambil menumpahkan keluh kesahnya. Antara senang, sedih, dan kecewa campur aduk.
Senang karena suaminya kini telah kembali. Sedih karena apa yang sebenarnya suaminya alami selama ini Mawar tidak mengetahui. Kecewa bahwa suaminya itu tidak pernah kirim kabar.
"Seeettt" Adit merengkuh tubuh Mawar kedalam pelukanya.
"Tenang sayang, aku akan jelaskan semuanya." Adit mengusap lembut punggung istrinya.
Ya, Mawar juga trauma ketika pertemuanya dengan suaminya di Jakarta dulu, bersikap romantis seperti ini. Namun kenyataannya justeru suaminya itu menikah lagi. Mawar mendorong pinggul Adil hingga terhuyung.
"Auw" Adit meringis kesakitan memegangi pinggulnya. Kemudian duduk di pelataran parkir.
Mawar diam beberapa detik menatap suaminya memang tampak kesakitan. Mawar mengusap air matanya kemudian mendekat.
"Mas kenapa?" Mawar berjongkok menyinkirkan tanggan adit yang memegangi sendi antara tulang panggul dan paha atas. Menyingkap kaos ada bekas jahitan panjang.
Hati Mawar mencelos. Menghadapi kenyataan bahwa suaminya memang sedang tidak baik-baik saja. "Maafkan aku Mas. Maafkan aku..." Mawar memeluk kepala Adit. Mawar menyesal karena sudah ceroboh.
"Tuan baik-baik saja?" tanya seorang pria yang baru datang ternyata memperhatikan Adit sejak tadi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Riko, tolong bantu saya berdiri, ya." titah Adit kepada Asistennya.
"Kenapa musti sama orang lain kan ada aku." Mawar membantu Adit untuk berdiri.
"Kita duduk di sebelah sana ya." ucap Mawar. Mawar memapah suaminya, mengajak Adit duduk di atas tikar ditempat yang teduh. Tikar yang sudah di siapkan oleh orang yang menyewakan tikar tersebut.
"Mas tunggu disini sebebentar ya." Mawar berucap, kemudian menemui Riko yang masih berdiri di samping motor.
"Ada apa ini Pak Riko? apa yang terjadi dengan suami saya?! tanya Mawar kesal, mengatur nafas hidungnya kembang kempis, menahan amarah yang rasanya ingin meledak.
Mawar tahu, bahwa Riko ini Asisten Adit. Itu artinya, Riko tahu semua yang terjadi dengan suami
Tetapi Riko seolah menutup-nutupi. Pasalnya, beberapa waktu yang lalu Mawar bertemu dengan Riko namun Riko tidak berbicara apapun tentang suaminya.
"A-- anu" Riko ingin bicara. Tetapi Adit memanggil dari kejauhan.
"Maw, kok kamu malah ngorol sama Riko sih?"
Mawar menoleh tampak Adit berjalan terseok-seok. Mawar baru sadar bahwa suaminya ternyata masih pincang.
"Mas, diam di situ saja." titah Mawar, melihat keadaan suaminya ternyata pincang rasanya sedih. Mawar berlari menghampiri.
"Ayo duduk saja" Mawar menuntun suaminya.
"Mas aku minta maaf" Mawar menggengam tangan suaminya, menatap Adit sendu, air matanya menetes.
Kejadian kecelakaan itu sudah terjadi tujuh bulan yang lalu, tetapi suaminya masih kesakitan.
Betapa parahnya luka yang di derita suaminya.
"Kamu sudah makan?" tanya Adit. Adit duduk kembali di ikuti Mawar.
"Aku nggak mau makan, aku mau nangis saja" ucapnya kemudian menjatuhkan wajahnya kepanguan Adit.
Riko yang melihat dari kejauhan segera pergi membiarkan boss nya melepas Rindu. Kemudian pergi ketempat dimana mobilnya di parkir.
"Mas selama ini kamu kemana saja?" Mawar menatap suaminya yang masih betah di pangkuannya, saat ini posisinya terlentang.
Adit menghela nafas panjang.
"Ceritanya panjang Maw" sahut Adit kemudian menceritakan saat dia kecelakaan dari pesawat.
Mawar menangis sesegukan mendengar penderitaan suaminya.
"Oh jadi, Mas Adit ditolong orang malaysia?" tanya Mawar saat ini sudah posisi duduk di depan Adit. Karena terkejut mendengar Adit langsung bangun dari pangkuan suaminya.
"Iya, setelah aku sadar dari kritis, ternyata aku sudah dirumah sakit."
"Saat itu aku ingin pulang, dan segera bertemu denganmu tetapi, ketika aku ingin bangun badanku tidak bisa aku gerakkan Maw." lirih Adit mengingat ketika setengah badanya lumpuh dunia seakan terbalik.
"Terus Mas." Mawar mengusap punggung Adit memberi kekuatan.
__ADS_1
Flashback on
"Dok saya lumpuh dok, saya tidak bisa bergerak dok!" Adit tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya lumpuh. Hancur sudah harapanya jika tahu begini lebih baik mati kemarin saja.
"Sabar Pak, saya akan menuggu penanggukjawab anda, kemudian pihak kami akan segera ambil tindakan." terang dokter.
"Segera lakukan yang terbaik dok, saya Papanya, saya yang akan bertanggung jawab."
Papa Johan masuk kedalam ruangan bersama Azis dan Riko.
"Papa" lirih Adit. "Papa ada disini?" sambungnya.
"Ya kamu ingin segera bertemu istrimu kan?" tanya Papa Johan.
Adit mengangguk.
"Kamu yang sabar, sembuhkan dulu sakitmu, jika kamu tidak ingin istrimu bersedih." nasehat Papa Johan. Aditpun akhirnya di operasi. Setelah Papa Johan menandatangani selembar kertas yang di serahkan dokter.
Flashback off.
"Jadi Papa Johan mengetahui keadaan Mas sejak tujuh bulan yang lalu?" Mawar tersentak kaget.
"Ya, tapi bukan salah beliau Maw, aku yang melarang Papa bercerita kepadamu"
"Setelah operasi pun aku masih lumpuh, aku tidak mau merepotkan kamu Maw, aku merasa menjadi laki yang tidak berguna saat itu." tutur Adit berkaca-kaca. Adit merasa Inscure.
"Ish ini mulut ngomong apa sih!" Mawar merjewer mulut Adit.
"Kamu mulai kurang ajar ya" ucap Adit menggigit jemari Mawar.
"Ah sakit tuhu." Mawar cemberut. "Habisnya kenapa musti nggak enak aku ini istrimu Mas." omel Mawar.
"Terus... terus... bagaimana selanjutnya." Mawar ingin tahu cerita suaminya lebih lanjut penderitaannya di luar sana.
"Selama tiga bulan aku menggunakan kursi roda dan di sewakan apartemen Papa Johan di Malaysia." mengingat saat itu, Adit merasa tidak enak dengan Papa Johan.
"Aku minta Papa Johan, agar segera melantik orang yang tepat untuk menggantikan aku sebagai direktur, tapi Papa monolak."
" Tetapi Papa Justeru mencari perawat pria mengurusi kebutuhan aku, Riko juga selalu mendampingi aku."
"Lambat laun keadaan aku mengalami kemajuan, walaupun aku belum bisa berjalan tentu otak dan tanganku masih bisa bekerja kemudian aku mulai ikut rapat melalui zoom."
"Kruuuk, kruuuk." Mawar terkekeh.
"Kamu lapar kan? ayo makan dulu." ucap Adit juga terkekeh.
"Tapi aku masih mau mendengarkan cerita Mas" renget Mawar.
"Ya nanti kita sambung sekarang makan dulu."
"Tapi aku minta cium bibir dulu sedikit" Adit menarik tengkuk Mawar.
__ADS_1
"Aah... malu tahu!"
"Sedikiiiiiittttt. ciut... ciut... ciuuut."