
"Pa, bagiamana ini? tadi Mawar telefon, Adit belum pulang Pa" Mama Latania panik di selimuti pikiran negatif, menggoyang-goyang kaki suaminya yang masih termenung memikirkan anak perempuannya yang telah tiada.
Papa yang sedang bersandar selonjoran di gazebo tersentak kaget, karena terlalu memikirkan kepergian silfi lupa bahwa menantunya sedang diluar negeri.
Papa bergeser ke pinggir gazebo menatap lekat istrinya. "Mungkin dirumah Renggono Ma" sahut Papa Lirih masih belum bisa berpikir jernih.
"Oh iya Pa, Mama telepon ya" Mama mencoba telepon walau dalam hati tidak yakin menantunya ada di sana. Yang Mama Latania tahu Adit sangat mencintai istrinya. Sudah pasti jika pulang yang pertama dia datangi pasti rumah Mawar.
Deeerrrt deerrrttt.
"Hallo jeung?" suara Bu Reny di telepon.
"Hallo jeung Reny, apa Adit sudah sampai dirumah jeung Reny?" tanya Mama Latania to dhe point.
"Loh, kan lagi keluar negeri tiga hari lagi baru pulang, hebat to! anak saya" terdengar suara Ibu Reny tidak tahu situasi malah sombong.
"Iya hebat, ya sudah gitu saja" tut.
Mama Latania kesal langsung memutuskan sambungan. "Dasar wanita kampungan! nggak tahu apa orang lagi pada kebingungan!" omel Mama Latania.
"Ada Ma?" tanya Papa Johan penasaran tidak menanggapi gerutuan istrinya.
"Nggak ada Pa" Mama menjatuhkan bokongnya duduk lemas.
Keduanya saling diam merenung.
Deeerrrt deerrrttt.
Handphone Papa Johan ada panggilan masuk, Papa Johan memperhatikan layar nama siapa yang tertera, ternyata pihak penanggulangan bencana di perusahaan.
"Hallo! selamat pagi Pak"
"Selamat pagi"
"Pak mohon maaf, kami mengabarkan bahwa pesawat xx yang di tumpangi menantu Bapak terjatuh."
Deg deg deg. Papa Johan memegangi dada kirinya, rasanya limbung tapi Papa Johan berusaha untuk kuat.
"Lastas, bagaimana keadaan menantu saya?" suara Papa Johan melemah.
"Masih belum di ketahui Pak"
Prak.
Handphone Papa Johan terjatuh beliau mengakat kedua tanganya menatap handphone yang sudah terpisah-pisah gemetaran. Namun bukan hp yang beliu sesali, melainkan ujian yang datang bertubi-tubi. "Ada apa lagi ini?" Papa meremas rambutnya ia merasa di permainkan oleh takdir. Baru kemarin anaknya pergi dan saat ini harus menghadapi kenyataan bahwa menantunya entah dalam keadaan seperti apa saat ini.
Melihat gelagat suaminya Mama Latania bergeser memegangi tangan Papa Johan yang berkeringat dingin.
"Ada apa?" tanya Mama.
"Pesawat yang di tumpangi menantu kita jatuh Ma." lirih Papa Johan, beliau semakin hancur kenapa justeru yang masih muda, yang mengalami tragedi? kenapa bukan dirinya yang sudah tua ini? pertanyaan-pertanyaan itu muncul memenuhi kepalanya rasanya mau pecah.
Mama tidak bisa berkata apa apa lagi, yang ia takutkan benar-benar terjadi.
"Panggil Jono Ma, suruh siapkan mobil Papa harus keperusahaan." titahnya, mau tidak mau Papa harus bertindak demi menantunya.
"Iya Pa" Mama segera menemui supir yang sedang mengibas kibas mobil dengan kemoceng.
Melihat mobil sudah siap, Mama Latania pun ikut bersiap, ingin kerumah Mawar memberi tahu pelan -pelan, tidak mungkin kejadian tragis ini ia bicarakan di telepon.
__ADS_1
"Mbok Paijem"
Mama kedapur menemui Bibi.
"Saya nyonya" Mbok Paijem meletakkan serbet yang ia pegang, kemudian mendekati nyonya Latania.
"Simbok bersiap ya, Simbok harus segera kembali kerumah Mawar" titahnya.
"Baik nyonya"
Tidak banyak tanya, Simbok segera bersiap-siap.
Mereka pun berangkat, sebelum ke pt Primajaya, Jono akan mengantar nyonya Latania dan Simbok dulu kerumah Mawar.
******
Di pt Primajaya suasana pagi sangat tegang, pt ini sedang benar-benar berbalut duka. Baru kemarin putri sang pemilik pt meninggal, kini harus berduka lagi, tentang kabar pesawat yang di tumpangi dirut mengalami tragedi.
"Ya Allah... Pak Adit tragis banget sih, nasipnya" ucap salah satu karyawan wanita yang sedang di kubikelnya menjadi tidak fokus bekerja.
"Kasihan Pak Johan, baru kemarin loh, anaknya meninggal... tapi sekarang menantunya." sahut karyawan wanita satu lagi, sambil mantengin komputer.
"Itu artinya mereka memang jodoh, hidup rukun istri mati, suami menyusul, ada pepatah jawa, (sebaya mukti, sebaya mati" ) sahut karyawan pria yang baru masuk sambil membawa dua cangkir kopi.
"Kita doakan saja, semoga Pak Adit selamat" sambungnya.
"Aamiin" ucap mereka serentak.
Abim di kubikelnya tak kalah kaget mendengar pimpinannya kecelakaan. "Yang benar loe, Vin?" tanya Abim kepada Alvin teman kerja nya satu tim.
"Oh my gosh, loe molor bangun jam berapa sih Bim?" Alvin menggelengkan kepala pasalnya berita sudah tersebar di media massa, media cetak, di televisi Abim masih belum tahu berita ini.
Abim memang bangun dari subuh harus membersihkan kamar sendiri nyapu, ngepel, dan lain-lain. Begitulah Mama Sahina walaupun ada ART kedua anaknya harus mandiri.
Jadi Abim tidak sempat membuka handphone, menonton televisi, apa lagi membaca koran.
"Pak Johan sudah di beri kabar Vin?" tanya Abim.
"Sudah" sahut Alvin.
"Ya sudah, kita kerja lagi" pungkas Abim mereka melanjutkan pekerjaannya.
****
Papa Johan setelah sampai di kantor kemudian, menemui bagian humas mengadakan rapat langkah apa yang harus mereka ambil.
Papa Johan memerintahkan anak buahnya untuk menyewa jet pribadi mendatangi TKP.
*****
Tok tok tok.
Dirumah Mawar.
Ketika Mawar sedang kacau memikirkan suaminya ada yang mengetuk pintu. Melati segera melangkah keluar membuka pintu.
Ceklek
Pintu di buka Melati, ternyata Mama Latania dan Simbok yang datang.
__ADS_1
"Oh Ibu, masuk Bu" ucap Melati mengangguk hormat.
Mama Latania masuk setelah mengucap salam.
"Kakak kamu ada nak?" tanya Mama setelah di persilakan duduk.
"Ada Bu" Melati kemudian masuk di ikuti Simbok memanggil Mawar yang sedang melamun di meja makan.
"Kak" Melati baru mau berucap Simbok sudah mendahului Melati.
"Non, yang sabar ya" tiba-tiba Simbok memeluk Nona mudanya, menahan tangis ikut merasakan kesusahan Mawar.
Ada apa Mbok?" Mawar mendorong pundak Simbok kemudian menatap wajah Simbok tampak menyimpan raut kesedihan. Dari ucapan Simbok pun, Mawar sudah memperkirakan bahwa Simbok membawa berita buruk.
"Tu... tuan... anu" Simbok bingung entah harus memulai darimana.
"Mbok biar saya yang bicara" titah Mama Latania ternyata menyusul ke dapur.
"Nak kita duduk yuk" kata Mama Latania lembut kemudian menggandeng tangan Mawar duduk di ruang keluarga.
Mama menceritakan semuanya mengenai Adit pelan-pelan.
"Apa? tidak mungkin Bu... tidak mungkiiinnn...jerit Mawar kemudian berdiri dengan rasa gundah gulana.
"Sabar nak, yang sabar ya?" Mama ikut berdiri memeluk wanita malang itu kemudian mengelus-elus punggungnya.
"Kita berdoa ya nak, semoga ada keajaiban untuk Adit"
"Nggak mungkin...hu huuu, saya mati saja, saya mau matiii..." pekik Mawar.
"Kakak... istighfar kak" Melati merangkul kakaknya dari belalang yang masih dalam pelukan Mama.
"Mel, kakak mau ikut Mas Adit" ucap Mawar lirih.
Mendadak hening Mama Latania sadar kemudian merenggangkan pelukanya, ternyata Mawar sudah tidak sadarkan diri.
"Mawar pingsan nak" ucap Mama kemudian menidurkan Mawar di kursi sofa.
"Mbok ambil minyak angin" titah Mama.
Simbok mencari kotak P3k di ruang kerja kemudian kembali.
"Ini nyonya" Mama menerima minyak angin lalu membaluri leher Mawar kemudian mendekatkan ke hidung Mawar.
"Simbok telepon supir ya, kita segera membawa Mawar kerumah sakit" titah Nyonya.
"Baik nyonya" Simbok segera kedepan rumah menghubungi salah satu supir.
"Bu, saya takut Bu, kakak saya kenapa Bu?" Melati yang jongkok di pinggir sofa seraya memegangi lengan kakaknya menangis sesegukan.
"Sabar nak, saya tahu, kamu lebih kuat dari kakak kamu, maka dari itu kamu yang sabar, kalau kamu ikut tumbang, siapa yang akan menjaga kakak kamu" Mama Latania mengusap kepala Melati.
"Terimakasih Bu" Melati mengusap air matanya. " Aku harus kuat yang di katakan Ibu Latania benar" Melati menyemangati diri sendiri.
"Sini nak, duduk di dekat Ibu" titahnya.
Melati menurut duduk di sebelah Mama Latania. Mama kemudian mengusap-usap punggung Melati memberi kekuatan.
Mama menghela nafas berat. Ia harus bertanggung jawab dengan kedua wanita ini menatap Mawar dan Melati bergantian. Mama Latania sadar keluarganya lah yang sudah membawa kedua anak ini ke dalam rumitnya kehidupan.
__ADS_1