
Setelah sadar dari pingsanya, Mawar di rujuk ke dokter obgyn. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan melalu usg. Mawar di nyatakan hamil 4 bulan.
Menurut keterangan dokter, Mawar harus di rawat di rumah sakit. Adit segera menghubungi keluarganya.
"Saya pulang ya Maw, kak Adit, sudah malam soalnya." pamit Rosita.
"Terimakasih Ros" sahut Mawar, dan Adit bersamaan. Rosita pun keluar dari ruangan memesan taksi online kemudian pulang.
"Selamat ya sayang, yang kita nantikan selama ini akhirnya hadir" Adit mencium bibir Mawar, kemudian mengusap perut Mawar dengan rasa sayang.
Mereka tidak menyadari jika ada sesosok manusia yang melihat keharmonisan mereka di luar pintu. Awalnya ia ingin masuk, tetapi mengurungkan niatnya. Hatinya remug tak berbentuk.
Ya, dia adalah Rony, setelah mengetahui bahwa Mawar sudah hamil, dan berkumpul lagi dengan suaminya. Hanya bisa mendoakan. "Semoga kamu selalu bahagia Mawar" gumamnya kemudian pergi. Pergi membawa sesal, mengapa harus bertemu Mawar sekarang? kenapa bukan dari dulu.
Rony ke tempat parkir menyalakan motor kemudian ngebut dengan kecepatan di atas rata-rata.
Rony singgah di taman setelah berhenti membeli rokok di pinggir jalan, kemudian ia duduk di kursi, menatap tanaman yang di sorot lampu temaram.
Rony mematik korek setelah menyulut rokok kemudian mengibas-ngibas agar api padam. Rony menyesap nikotin yang sudah dua tahun ini ia tinggalkan. Hanya ini yang bisa menghiburnya saat ini.
Selama satu tahun Rony rajin menabung menyisihkan gajinya sedikit demi sedikit, kini setelah kumpul berniat melamar Mawar. Namun, kekecewaan yang ia dapat. Roni merogoh cincin emas dalam kotak dari jaketnya, yang ia beli seminggu yang lalu minta di temani Ibunya. "Selamat tinggal Mawar" ia berteriak sambil melempar kotak entah dimana benda tersebut jatuhnya.
*******
"Kakak... kakak kenapa?" suara Melati kencang kemudian mencium pipi Mawar.
"Eh, pelankan suaramu Mel, ini rumah sakit loh" ucap Mawar pelan.
Melati datang bersama Bapak dan Ibunya. "Katanya kamu hamil nak? syukurlah... Ibu mau punya cucu" Bu Riska senang kemudian menghujani ciuman ke wajah anaknya.
"Sudah berapa bulan nak?" tanya Pak Sutisna.
"Empat bulan Pak" sahut Mawar.
"Ya Allah... kalian ini, hamil sudah empat bulan loh, masa nggak nyadar sih?" omel Bu Riska.
Adit hanya tersenyum menggaruk tengkuknya, kikuk.
"Tidak apa-apa Bu, yang penting sehat" Bapak Menengahi.
"Kok kakak, nggak muntah-muntah kayak orang-orang" Melati menimpali.
"Pernah sih, dua bulan yang lalu, kadang terasa mual, tapi hanya mual sedikit." kata Mawar mengingat-ingat pernah mual-mual tapi ia pikir hanya masuk angin.
Mawar memang tidak menstruasi setiap bulan. Kadang kalau banyak pikiran haid nya terlambat hingga tiga bulan, dan mengalami pusing-pusing. Jadi menurut Mawar hal ini sudah biasa, hanya bedanya sekarang menjadi doyan makan.
"Ini Ibu bawakan cemilan sehat" Ibu membawa kantong plastik kemudian meletakkan di atas meja.
"Assalamu, alaikum" keluarga Mama Sahina datang menjenguk.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" semua menoleh melihat siapa yang datang semua tersenyum ramah.
"Selamat sayang, muach, muach." Mama Sahina mencium Mawar, di susul Intan memeluk sahabatnya, setelah menyerahkan parsel buah-buahan kepada Melati.
"Selamat ya kak" ucap Intan.
"Terimakasih Pak, Bu, Intan" sahut Mawar mengabsen.
"Selamat nak Adit" ucap Mama dan Papa. Sementara Abimanyu hanya diam berdiri di samping Adit.
"Terimakasih Om, tante" Sahut Adit kemudian Adit dan Abim berbincang-bincang.
Pak Wahit menyalami Pak Sutisna kemudian Mama Sahina cipika cipiki dengan sahabatnya.
"Kita ngobol di sana yuk" Bu Riska mengajak Sahina duduk di sofa. Papa Wahit dan Pak Sutisna menyusul.
Mawar, Melati, dan Intan langsung ngobrol entah apa yang mereka bicarakan.
"Keluar yuk Bim" Adit mengajak Abim keluar dari ruangan mereka melanjutkan ngorol di ruang tunggu tentang pekerjaan.
*******
Tiga bulan kemudian kandungan Mawar genap tujuh bulan. Selama hamil Adit semakin perhatian apa pun yang Mawar minta di turuti.
Namun, berbeda sejak dua minggu terakhir ini. Adit sangat sibuk mengurus cabang bengkel di luar kota. Bahkan seminggu ini pun Adit pergi, baru pulang tadi malam dan paginya langsung akan berangakat kerja.
"Nanti pulangnya jangan terlalu malam Mas, kita akhiri-akhir ini jarang ngobrol loh" protes Mawar sambil memakaikan dasi Adit.
"Nanti kalau sudah selesai urusanya, dan bengkelnya sudah di kelola orang lain, kita akan banyak waktu kok."
"Aku ingin saat lahiran nanti urusan kita sudah selesai dan aku bisa fokus merawat kamu dan anak kita." Adit meyakinkan.
"Senyum dong" Adit mengangkat dagu Mawar.
"Iya" Mawar pun tersenyum.
"Aku berangkat ya"
"Hallo, baby. Jaga bunda ya, Ayah berangkat" Adit menyibak daster Mawar kemudian mencium perutnya.
"Hati-hati Mas" Mawar mencium punggung tangan suaminya kemudian mengantar Adit sampai di depan pintu.
"Cup" "iya sayang" Adit pun berangkat.
"Hari ini mau masak apa ya non, Simbok bingung" kata Simbok mendekati Mawar yang sedang duduk sendiri di sofa sambil mengotak atik ponsel mencari artikel tentang melahirkan di google. Sedangkan yang lainya sudah berangkat ke toko.
"Hari ini biar saya saja yang memasak ya Mbok, saya ingin mengantarkan makan siang ke bengkel untuk Mas Adit" Mawar akan mengalah lebih baik dirinya saja yang ke bengkel biar bisa makan siang bersama.
"Oh, gitu, saya bantu ya non"
__ADS_1
"Iya Mbok"
Mawar bersemangat memasak, ingin membuat rica-rica ayam kampung kesukaan suaminya.
Di bantu simbok menguleg bumbu masak ayam kampung dengan api kecil hingga lunak, dan menyerap bumbu.
Setelah matang Mawar menata di tupperware kira-kira cukup untuk dua orang.
Tepat jam sebelas, Mawar sudah siap berangkat sebelumya pamit Ibu Riska dulu di warung baso.
"Kamu mau kemana Maw" tanya Ibu melihat tampilan anaknya sudah cantik.
"Aku mau ke bengkel dulu ya Bu, mengantar makan siang untuk Mas Adit" Mawar bersemangat.
"Naik apa nak?" tanya Bapak.
"Naik taksi Pak, sudah pesan kok, tinggal menunggu"
"Oh hati-hati nak" ucap Bapak dan Ibu.
Mawar pun berangkat setelah taksi menunggu di pelataran Rose shop.
Sepuluh menit kemudian Mawar sudah sampai di bengkel. Banyak mobil dan motor antri minta di servis.
"Eh Bu Mawar" sapa Risky anak buah Adit. "Mau ketemu bapak ya Bu" sambung Risky.
"Iya, Mas Adit ada di dalam tidak?" tanya Mawar. Ingin segera masuk keruangan.
"Tapi Pak Adit sedang keluar Bu" jujur Risky.
"Sudah lama belum, Ris?"
"Sejak jam sepuluh tadi Bu"
"Oh, sama siapa? ada rapat di luar ya Ris?"
"Tidak Bu, ta-- tadi, keluar bersama anak gadis" Risky menjawabnya gugup.
"Anak gadis?" Mawar mengerutkan dahi. Apa Mas Adit pergi sama Diah ya, tapi masa sih? perasaan selama ini Mas Adit tidak pernah pergi berdua bersama Diah.
"Tunggu di dalam saja Bu, mungkin pak Adit sedang makan siang di luar" kata Risky mengalihkan, tidak ingin ada pertanyaan lagi dari boss perempuanya ini.
"Anak gadisnya ciri-cirinya seperti apa? pakai kerudung tidak Ris?" selidik Mawar jika pergi dengan Diah tidak mungkin Diah mengunakan kerudung.
"Pakai Bu, rapat malah, kalau saya dengar dari logat bahasanya sepertinya dari seberang, wajahnya cantik" jujur Risky.
"Deg"
Tidak bicara lagi Mawar bergegas masuk ke dalam.
__ADS_1
****