Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Terbuat Dari Apa Hatimu.


__ADS_3

Silfi menangis memandangi foto seorang gadis cantik berjilbab merasa dirinya tidak ada apa apanya jika di bandingkan gadis tersebut.


Ceklek.


Mendengar pintu di buka Silfi segera meletakkan foto pada tempatnya, dan segera menghapus air matanya.


Silfi cepat-cepat duduk di sofa. "Sudah lama menunggu Sil?" tanya Adit mendekati Silfi.


"Belum kok Dit, baru 10 menit" jawab Silfi dengan suara yang masih serak.


Adit kemudian duduk di sofa sebelah Silfi. "Kamu menangis Sil, kenapa?" Adit memutar bahu Silfi agar menghadapnya.


"Nggak kok Dit, aku tadi kesini membawakan kamu makan siang" Silfi tampak sibuk membuka rantang.


"Ini aku yang masak sendiri loh Dit lihat resep di google" sambung Silfi terkekeh.


Adit hanya diam melihat Silfi yang sengaja menutupi kegundahan hatinya.


"Ayo Dit dimakan, kok malah bengong sih?" Silfi mendorong rantang lebih dekat kedepan Adit.


"Oh iya, ayo di makan, kamu masak sendiri ya?" hibur Aditya, padahal tidak usah tanya, Silfi tadi sudah memberi tahu.


"Iya"


Adit menelisik masakan dalam rantang daging teriaki dimasak dengan bawang bombay, cabai hijau dan tomat setengah matang, tampak menggugah selera.


Adit menyuap yang pertama kali menggelembungkan pipinya.


"Nggak enak ya? baru masak pertama sooalnya" terang Silfi menatap gaya makan suaminya tampak tidak seperti biasa.


"Enak-enak, cobain" Adit menyuapi satu sendok kepada Silfi.


"Hah? Adit! kamu bohong" ucap Silfia terkejut saat mencoba masakanya rasanya manis seperti kolak pisang. Hanya rasa manis dan pedas tidak ada rasa asin sama sekali.


"Sudah, jangan di makan Dit. Maaf ya, aku memang nggak bisa apa apa" ucap Silfi sedih merasa gagal menjadi Istri nyatanya masak saja tidak bisa. Silfi ingin membenahi rantang namun tanganya di cegah Adit.


"Orang lagi di makan kok, malah di benahi sih!" Adit tetap menghabiskan makanannya ingin menghargai Silfi yang sudah berusaha memasak untuknya.


"Tapi itu kan nggak layak di makan Dit, padahal tadi perasaan nggak aku kasih gula hanya kecap" Sifi mencoba menginggat ketika masak tadi. Berarti serbuk putih dalam toples tadi bukan garam melainkan gula.


"Sudah Sil, nggak usah di pikirkan, aku nggak bakal keracunan karena makan manis" pungkas Adit.


Silfi senang sekali demi menjaga perasaannya. Adit menghabiskan makanan yang dia sendiri saja tidak mau.


"Dit, aku mau bicara" ucap Silfi lembut, setelah membenahi rantang.

__ADS_1


"Mau bicara apa?" Adit membetulkan posisi duduknya.


"Siapa foto gadis di atas meja itu Dit?" tanya Silfi dengan mata mulai berair.


Adit tersentak menatap foto sekilas, rasanya ingin menceritakan semuanya inilah saat yang tepat. Namun bagaimana dengan kesehatan Silfi? Adit benar-benar kebingungan.


"Katakan saja Dit" kata Silfi seolah tahu jika Adit sedang kebingungan.


"A-- aku..." Adit terbata-bata.


"Dit, please... aku tahu, gadis cantik itu pacar mu kan? "Iya kan?" Silfi membrondong pertanyaan.


Adit menghela nafas panjang ia berdiri melangkah ke depan jendela menatap hutan belantara di belakang pt.


Air mata Silfi bercucuran, segera Silfi menyusul Adit berdiri di sampingnya, lalu menggenggam tangan Adit.


"Di-- dia... istriku Sil" jawab Adit.


Jegeeeerr.


Bagai petir di siang bolong Silfi mendengarnya. Silfi mengoyak tangan Adit.


"Sejak kapan? kamu menikah dengannya Dit?" nafas Silfi memburu.


"Hampir enam tahun Sil?"


Silfi kemudian merosot kelantai, selama 4 bulan ini ia berbahagia. Tetapi ternyata ia berbahagia di atas penderitaan orang lain.😢😢😢


Silfi menangis meraung-raung. Adit pun berjongkok menggenggam telapak tangan Sifi yang terasa dingin.


"Sil, kamu baik-baik saja kan?" tanya Adit khawatir.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi Dit, aku akan menerimanya." Lirih Silfi.


Adit pun menceritakan semuanya dari A sampai Z.


"Jadi semua ini karena Papa Dit! ceraikan aku Dit?! "CERAIKAN AKU DIT." Silfi bangkit berdiri melangkah dengan sisa tenaganya yang mulai limbung. Silfi terus menangis tidak perduli menjadi pusat perhatian para karyawan.


Ia masuk kedalam lift di dalam lift cukup ramai, lagi-lagi Silfi masa bodoh. Sampai di bawah Silfi segera keparkiran. Melihat nonanya datang bodyguard langsung mengikuti langkah Silfi. Sampai parkiran sopirnya langsung membukakan pintu mobil untuknya.


Di dalam mobil tidak ada yang berani berbicara membiarkan sang Nona menumpahkan air matanya.


"PELAKOR, PELAKOR, PELAKOR" Otak Silfi di penuhi jeritan hatinya.


10 menit kemudian sampai di rumah kebetulan jalanan tidak begitu ramai.

__ADS_1


"Silfi kamu kenapa nak? mana Adit?" tanya Mama Latania, yang sedang bersantai di rumah. "Papa kemana Ma?" tanya Silfi kemudian menarik kasar kerudungnya kemudian melemparkan ke sofa sehingga terlihat kepala pelontosnya.


"Papa di ruang kerja nak" jawab Mama Latania pelan.


Silfi kemudian masuk keruang kerja melihat Papa Johan sedang sibuk dengan komputer.


"Loh kamu sudah pulang nak?" tanya Papa Johan menoleh sebentar namun tidak menyadari bahwa anaknya kini sedang tidak baik.


"Kenapa Papa selama ini berbohong! Papa ingin aku bahagia. Tetapi nyatanya Papa menyakiti hati wanita di luar sana" cecar Silfi dengan gigi gemerutuk menahan marah.


"Sabar nak, Papa akan jelaskan."


Bruk.


Silfi jatuh terkulai lemah di lantai. Adit yang tadi mengejar Silfi sudah sampai di rumah mendengar kegaduhan di ruang kerja kemudian masuk. Mengangkat tubuh Silfi lalu dengan cepat membawanya masuk kedalam mobil. Sopir meluncur dengan cepat menuju rumah sakit.


*****


"Oh ya Allah... jadi di balik ketegaran kamu, kamu ini di madu Maw?" tanya Rosita mereka sedang ngobrol di kantin kampus. Sebab mereka ambil kuliah malam menunggu jam masuk.


"Yah... begitulah Ros" jawab Mawar. Baru pertama kali ini Mawar menceritakan masalah pribanya kepada orang lain. Sebab Mawar yakin, Rosita orang yang bisa di percaya.


"Kurang ngajar laki loe tuh! kalau gue jadi loe! sudah goe hajar laki-laki brengsek seperti dia!" Rosita nyap-nyapan.


"Enak aja loe mau hajar suami aku" Mawar menoyor kepala Ros. "Aku tidak bisa menyalahkan suamiku Ros, dia mengambil keputusan ini pasti dia juga dalam pilihan yang sulit"


"Tidak ada cara yang lain bagi kami menerima skenario hidup kami yang mungkin sudah gariskan" terang Mawar.


" Ya Allah... terbuat dari apa sih hati kamu ini Mawar. Kok kamu bisa sabar sih Maw?" tanya Rosita heran. Menatap sahabatnya yang selama ini Rosita kira tidak punya masalah. "Kamu nggak cemburu?" sambung Ros.


"Cemburu itu pasti, aku kira semua wanita akan mengalami rasa itu. Bahkan, Aisyah Istri Nabi pun mempunyai rasa cemburu"


Di ceritakan dalam salah satu hadist, ada kisah ketika Aisah cemburu. Yakni Istri Rasulullah yang cemburu kepada Siti Khadijah yang bahkan sudah wafat. Kala itu Aisyah cemburu karena Nabi sering menyebut nama Khadijah.


Karena sifat cemburu Aisyah merupakan bukti rasa cintanya kepada Rasulullah. Bahkan rasa cemburunya Aisyah melebihi cemburunya kepada Istri-istri yang lain.


Rosita Mangut-manggut. "Tapi kalau goe nggak akan bisa seperti loe"


"Loe tuh kenapa nggak minta pisah saja sih Maw" Rosita menjadi propokator.


"Awalnya aku juga begitu Ros, tapi ada kalanya kita harus mengalah"


"Dulu aku pikir suami aku itu milik aku seutuhnya"


"Tapi dengan kejadian ini aku sadar, nggak semua yang kita ingin bisa kita capai."

__ADS_1


"Kalau kamu melihat keadaan maduku pasti kamu nggak akan tega." tutur Mawar.


__ADS_2