
Setelah kedatangan Pak Renggono, Ibu Reny tidak berkutik karena takut.
Bu Reny di tarik paksa Pak Renggono mengajaknya turun ke lantai satu, dan duduk di kursi. Atas perintah Mama Sahina agar berbicara dengan kepala dingin.
"Maaf Bu, kalau anak dan Istri saya membuat onar di sini" kata pak Renggono kepada Mama Sahina beliu terlihat menutupi rasa malu, menatap istrinya jengkel.
Saat ini semua berkumpul di ruang tamu, termasuk Mawar tadi minta untuk turun juga.
Abim, Melati, dan Intan duduk di kursi panjang tampak Melati memainkan kuku Intan.
"Jangan minta maaf sama saya Mas, harusnya keluarga Mas yang Minta Maaf kepada Mawar" Mama berkata tegas.
"Semua bisa di bicarakan Mas Renggono. Saya tidak habis pikir mengapa Mbak Reny berkata Mawar anak membawa sial, tentu saya tidak setuju" Mama Sahina merangkul pundak Mawar yang hanya diam di sebelahnya sambil menangis karena kata-kata dari mulut mertuanya itu lebih tajam dari pisau belati.
"Tidak ada anak membawa sial, Mbak, lain kali jika bicara di jaga" ucap Mama Sahina kesal namun tetap berusaha untuk bersabar di depan Mertua Mawar itu.
Bu Reny melirik Mama sekilas, namun entah apa artinya, memang mendengarkan atau pura-pura tidak dengar hanya Ibu Reny yang tahu.
Semua tampak terdiam tak ada sepatah katapun yang berada di ruangan itu untuk menjawab.
"Mbak tahu, sangking tidak inginnya Mawar kehilangan anak Mbak Reny, Mawar sampai dirawat karena stres loh, memikirkan suaminya, yang sampai saat ini belum ada kabarnya." Mama Sahina sebenarnya tidak berkepentingan menasehati orang semacam Reny. Tapi semua ini ia lakukan demi Mawar yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Tetapi kenapa sih? Mbak Reny bukanya berdoa untuk keselamatan anak Mbak, malah bertingkah seperti anak kecil." Mama Sahina menatap wajah Reny tajam. Tapi yang di tatap hanya menunduk.
"Kita semua disini sangat berduka Mbak, keluarga saya, keluarga Latania, semua bersedih loh!" tukas Mama Sahina.
"Tetapi, herannya keluarga Adit sendiri justru malah nggak ada masalah." cecar Mama Sahina. Membuat Reny dan Diah menoleh cepat ke arah Mama Sahina.
"Padahal sudah nyata-nyata Mawar yang paling kehilangan di sini, tapi Mbak Reny seolah menimpakan masalah kepada menantu Mbak." Kata Mama Sahina, panjang lebar.
"Mawar... yang sabar ya nak, Mama pulang dulu. Jangan merasa bersedih jika hanya tidak di sukai satu atau dua orang, banyak orang di sekeling kamu yang menyangimu." sindir Mama Sahina. Kemudian pamit pulang, setelah pesan kepada Simbok dan Melati agar menghibur Mawar.
Pak Renggono menghela nafas berat, selama ini sebenarnya mempertahankan istrinya hanya karena Adit yang tidak ingin Bapak, dan Ibunya berpisah. Tetapi Pak Renggono saat ini rasanya sudah lelah akan semua kepura-puraan ini.
Pak Renggono kepalanya sudah ingin pecah semua persoalan dari dulu hingga usia tuanya tentang rumah tangganya semakin rumit saja.
Di tambah lagi saat ini belum tahu bagaimana kabar anaknya. Seharusnya istrinya bisa berpikir bagaimana nasib anak laki-lakinya. Namun, dalam keadaan masih berduka pun istrinya memaksanya untuk mencari uang. "tes" Pak Renggono menitikan air mata.
Sore harinya, Pak Renggono juga pamit pulang. "Bapak pulang ya Maw, kata-kata Ibumu jangan di ambil hati ya nak." ucapnya saat ini beliau sedang di kamar Mawar bersama Melati.
"Iya Pak" sahut Mawar singkat dan berusaha untuk tersenyum kepada mertua laki-lakinya itu.
"Bapak tahu nak, kamu pasti berat memikirkan Adit, Bapak pun sama. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain hanya berdoa." Bapak berbicara semakin lirih.
__ADS_1
"Tadi pagi Bapak menemui Pak Johan, kata beliau anak buahnya masih terus melakukan pencairan." tutur Bapak.
Mawar hanya mengangguk-angguk mendengarkan.
"Bapak pulang dulu nak, besok, kalau Sutisnya sudah datang kabari Bapak ya, Bapak kesini lagi" pungkasnya.
" Iya Pak, terimakasih, Bapak sudah berkunjung" Mawar bersalaman dengan Bapak.
"Titip Mawar ya Mel"
"Baik Pak" sahut Melati.
Mawar menatap punggung mertua laki-lakinya itu hingga menghilang di balik pintu. Selama ini hanya beliau yang baik kepadanya.
*****
Keesokan harinya Mawar sudah merasa lebih baik, walaupaun masih bersedih.
Selesai shalat subuh, Melati mengajaknya jalan kaki keliling komplek. Selain untuk menghibur Mawar juga ingin melemaskan otot yang mungkin terasa kaku karena tiduran terus.
Dari kejauhan Mawar melihat Pak Sutisna dan Bu Riska sudah didepan rumah baru turun dari taksi.
"Mel, lihat. Siapa yang datang" Mawar menunjuk orang tuanya berbinar-binar.
Mawar berjalan cepat, kedatangan orang tuanya menambah energi baru. Badanya terasa ringan.
"Ibu... Bapak..." Mawar memanggil Ibunya yang sudah di bukakan pagar oleh Simbok.
"Mawar... Melati..." pekik Ibu, lalu
menjauhkan tas yang di tentengnya, kemudian memeluk Mawar dan Melati. Mereka larut dalam tangis. Antara sedih dan bahagia campur aduk.
"Kata adikmu kamu sakit nak, sudah lebih baik?" Ibu menatap lekat wajah Mawar pipinya terlihat kurus tangisnya semakin kencang.
"Sudah lebih baik Ibu" sahut Mawar, dengan suara serak.
" Eheem..." Bapak berdehem untuk meredakan tangis anak dan Istrinya.
"Kok Bapak di cuekin sih?" Bapak bersedekap menatap anak dan Istrinya.
"Bapak..." hiks hiks. Mawar dan Melati menubruk Bapak hingga terhuyung kebelakang. Bapak mengusap punggung kedua anaknya, yang bergetar menangis di sisi kiri dan kanan.
"Kalian apa kabar nak?" Bapak merenggangkan pelukanya menatap kedua anaknya.
__ADS_1
"Kami baik-baik saja Pak." sahut mereka bersamaan.
"Sebaiknya ngobrolnya di dalam saja non." kata Simbok menghentikan tangis mereka.
"Oh iya" Mawar dan Melati mengusap air matanya kemudian masuk kedalam.
Mawar dan Bapak, rebahan di karpet, setelah sarapan yang di sediakan oleh Simbok. Melati membantu Simbok membereskan meja makan, sedangkan Simbok mencuci piring.
Sementara Ibu sedang kekamar mandi membersihkan tubuhnya naik bus semalaman rasanya lengket.
"Suamimu belum ada kabarnya nak?" Bapak menelisik wajah Mawar yang sedang tiduran di sebelahnya.
Mawar menggeleng, setiap mengingat suaminya air matanya pasti luruh.
"Apa yang terjadi dengan suamimu kamu harus terima nak." Nasehat Bapak.
"Bapak pernah bilang sama kamu kan nak. Jangan mencintai apapun didunia ini, melebihi cintamu kepada Allah" kata Bapak bijak.
"Semua yang ada didunia ini tidak ada yang abadi, Bapak mengerti kamu pasti kehilangan suami kamu."
"Tetapi terimalah kemungkinan seberat apapun, kamu tidak boleh terus meratap karena selain Adit tidak akan tenang disana. Juga akan menyakiti dirimu sendiri." nasehat Bapak panjang lebar.
Mawar terdiam, masih segar dalam ingatannya seminggu yang lalu, dia bisa menasehati Pak Johan agar mengikhlaskan Mbak Silfi. Tetapi ikhlas itu tidak semudah bibir berucap. Mawar memeluk lututnya sendiri pikiranya berkelana.
Pak Sutisna menatap sendu kepala anaknya langsung mengusap-usap. Pak Sutisnya menyesal dua bulan yang lalu telah memukuli menantunya hingga babak belur hatinya mencelos.
Jika tahu Adit akan pergi secepat ini tentu beliau bisa sedikit mengontrol emosinya. Namun semua sudah terjadi hanya tinggal penyesalan yang Pak Sutisna rasakan.
*****
Di laut perbatasan antara Indonesia dan malaysia dua orang nelayan sedang mencari Ikan. Netranya tertuju sesosok manusia yang mengapung.
"Bang, ada orang di sebelah sana" ucap salah satu nelayan itu menunjuk.
"Ya Allah... kira-kira masih hidup apa sudah mati ya?" tanya salah satu nelayan.
"Ya mana saya tahu." jawabnya.
"Daripada penasaran, kita lihat saja Bang."
"Baiklah."
Kedua nelayan itupun mendayung mendekati, manusia yang mengapung itu.
__ADS_1
.