
Di pantai kecamatan baregbeg tidak ada yang bisa Mawar lakukan dengan keadaan perut besar, selain hanya duduk dan menyaksikan deburan ombak.
Mawar di temani Bibi menikmati kuliner cumi dan udang goreng tepung.
"Bibi nggak suka ya, dari tadi kok aku terus yang makan?" tanya Mawar sambil mengunyah melihat Bibi hanya minum air jahe tidak makan apapun.
"Bibi tuh, sudah bertahun-tahun menikmati makanan laut, jadi kalau sudah nggak kepingin lagi ya wajar Maw." jawab Bibi memang benar, sebagai istri nelayan yang suaminya geluti bertahun-tahun Bibi lah yang selalu memasak, menjemur, dan menjual walaupun tidak makan pun sudah merasa kenyang.
"Iya juga ya Bi" Mawar kembali menyocol cumi dengan saos lalu menyantapnya.
"Beli apa kamu nak?" Paman tiba-tiba datang membawa ikan cukup besar yang sudah di bakar.
"Cumi sama udang Paman."
"Ini di habiskan ya" ucap Paman meletakkan ikan di depan keponakannya.
"Masyaallah... Paman... yang benar saja aku di suruh makan ikan sebesar itu." Mawar menggeleng mentang-mentang doyan Pamanya ini ada-ada saja.
"Ya, nanti kalau tidak habis di bawa pulang Maw" sahut Paman enteng terkekeh.
"Memang siapa yang bakar ikanya Bah" tanya Bibi.
"Teman-teman, pada kumpul di sebelah sana, mau ikut?" Paman menunjuk serombongan nelayan yang sedang beristirahat.
"Nggak Bah, di sini saja, kasihan Mawar atuh" kata Bibi. "Kamu nggak mau mencicipi Ikan bakarnya Maw?" Bibi menatap Mawar yang sedang tersenyum melihat anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran dengan Ayahnya.
"Nggak Bi kenyang" sahutnya kemudian mengalihkan pandangan dari anak tersebut.
"Ya sudah, Bibi bungkus saja ikanya ya Maw" Bibi akhirnya membungkus ikan.
"Iya Bi"
Mawar di tempat itu hingga menjelang waktu adzan dzuhur, kemudian kembali pulang.
Sore hari selepas Ashar Mawar duduk di balai bambu bersama Nini.
"Kamu hamil sudah berapa bulan?" Nini menelisik perut Mawar.
"Tujuh bulan Ni" sahut Mawar sambil memijit-mijit kaki Nini.
"Pijatanmu, enak juga" Nini akhirya luluh karena pijatan Mawar. Nini dari tadi memuji terus padahal dari kemarin sikap Nini kepadanya acuh tak acuh.
"Masa sih Ni?"
"Beneran" ucap Nini sambil terpejam.
"Mawar seketika ingat Adit, dulu waktu masih di kampung setiap malam Adit memijit kakinya. Rasanya ingin kembali seperti dulu.
"Bibi kamu kemana sih? dari pagi Nini nggak di kasih makan" adu nya.
"Oh ya Ni, Mawar ambilkan makan ya" Mawar menggeleng, baru satu jam yang lalu Nini makan, katanya nggak dikasih makan sama Bibi.
Mawar berjalan kedapur ambil nasi dari bakul memasukkan kedalam piring lalu meletakkan lauk di atasnya.
__ADS_1
Mawar bangga kepada Bibinya penyabar dan memaklumi mertuanya, jarang menemui wanita yang sayang kepada mertuanya seperti Bibi.
*****
Selama tiga hari, Adit seperti anak ayam kehilangan induknya. Dengan perasaan, menyesal, sedih, galau, Ia mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi hanya ingin mengenang momen kebersamaan mereka. Setelah mencari keteman-teman kuliah Mawar, yang sekiranya kenal ia datangi. Namun mereka tidak ada yang tahu.
Adit sudah mencari kemanapun tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya. Mengabaikan perutnya yang sakit dari kemarin, mungkin asam lambungnya sedang naik. Pasalnya sudah tiga hari pula Adit tidak berselera untuk makan.
Badanya terasa demam, kepalanya sakit. Tetapi semua itu tidak menjadi hambatan baginya untuk mencari dimana istrinya kini berada. Membayangkan istrinya berjalan dengan perut buncitnya seharusnya ada dirinya disampingnya.
Adit menghela nafas berat kemana sekarang harus melangkah.
Hanya satu yang belum Adit kunjungi, selain menemui Rony. Adit terpaksa menggadaikan hargadiri dan rasa malunya. Notabene harus menanyakan istrinya kepada orang yang pernah ia pukuli dulu. Walaupun kemungkinan Rony tahu keberadaan Mawar hanya 0, 5 persen. Apa salahnya berusaha.
Dengan wajah merah karena menahan rasa demam, Adit nekat mengendarai motornya. Adit mendatangi tempat kerja Rony di Grocery Store. Sengaja Adit datang pada waktu istirahat agar tidak mengganggunya saat bekerja.
Adit mengikuti saran Rosita menunggu di kantin Grocery Store. Setelah mengirim pesan kepada Rony. Bola matanya berputar beberapa bulan yang lalu Adit pernah mendatangi kantor pemilik Grocery Store saat mengadakan rapat penandatangan mendirikan Apartement ketika masih bekerja di kantor Papa Johan ketika itu.
Karyawan kantor satu persatu berdatangan mungkin perut mereka sudah keroncongan minta diisi. Namun tidak bagi Adit mulutnya terasa pahit.
"Ada apa loe! datang kemari?" sinis Rony kemudian menjatuhkan pantatnya didepan Adit. Mematik korek dan menyalakan rokok semenjak tiga bulan yang lalu Rony menjadi kecanduan menghisap nikotin tersebut.
"Bagaimana kabar loe?" Adit balik bertanya menatap Roni yang duduk miring tidak mengabaikan keberadaannya.
"Sedang tidak baik!" Rony kembali ketus.
"Cepat katakan! jangan mengalihkan, apa tujuan loe datang kesini? bentar lagi gue masuk" Rony beralasan padahal baru saja dia beristirahat, kembali menghisap rokok yang ia selipkan di antara kedua jarinya.
Adit gelagapan bagaimana ia akan memulai bicara, pertanyaan Rony terasa sulit di jawab bak rumus matematika yang tidak bisa ia pecahkan.
"Gue apa?! Rony mengerutkan dahi, kali ini menatap wajah Adit yang dulu garang kini tampak lemah, pucat dan sedang tidak baik-baik saja.
"Gue mau tanya, barang kali loe tahu dimana istri gue" Adit akhirnya bertanya dengan lancar.
"Ahahaha..." Rony tertawa terbahak-bahak tidak peduli menjadi pusat perhatian orang sekeling.
"Gue serius" Lirih Adit.
"Loe pikir, gue selama ini memata-matai bini loe? ngapain tanya bini loe ke gue! atau loe memang nggak becus mengurus bini, sampai bini loe minggat? iya kan. Ngaku?! Rony menunjuk Adit.
Adit tidak berkutik.
"Ahahaha... ternyata dugaan gue benar, loe tuh, ternyata menjadi suami yang tidak punya tanggung jawab, kenapa Tuhan harus memberi jodoh Mawar dengan cowok brengsek seperti loe!"
BRAAK.
Adit berdiri menggebrak meja, walaupun sudah berusaha untuk sabar tetapi Rony menginjak-injak harga dirinya.
Membuat Rony terjingkat kaget kemudian ikut berdiri.
"Gue tanya baik-baik, tapi loe nyolot dari tadi! kalau sekiranya loe nggak tahu, tinggal jawab. Tidak!"
Bentak Adit orang yang berada di sekeliling berbisik.
__ADS_1
"Ada apa sih?" tanya salah satu karyawan wanita menghentikan makan siangnya.
"Nggak tahu, kayaknya mereka sedang bertengkar" jawab karyawan yang lain.
"Eh itu kan Pak Rony menejer pemasaran, biasanya dia ramah kok"
"Ramah apaan? norak! gitu, masa ribut di tempat umum."
"Terus... yang satu itu, siapa?"
"Nggak kenal gue"
"Iihh, satpam pada kemana sih... entar kalau bunuh-bunuhan bagaimana?"
Mereka pun sibuk dengan komentarnya masing-masing.
Hingga akhirnya seorang pria berwajah tampan dan gagah berwibawa terlihat matang di usianya yang ke 40 tahun. Menggandeng anak dan istrinya melintas hendak keluar mungkin ingin makan siang bersama keluarganya.
Semua karyawan bergeming kembali duduk menyantap makanan yang masih tersisa. Lain halnya Adit dan Rony masih bersi tegang, Rony ingin menonjok wajah Adit.
"Ada apa ini?" pemilik Grocery Store pun menginterupsi kedua pria tersebut.
Adit dan Rony seketika menoleh. "Pak Adit?" pemilik Grocery Store tampak terkejut melihat rekan bisnisnya.
"Bung Daniel?" sahut Adit.
"Om, kata Ummi saya, tidak boleh main pukul-pukulan. Dosa" kata anak berusia 5 tahun yang sedang menggandeng tangan Umminya.
"Seeettt... tidak boleh begitu, sayang... Om bukan mau pukul- pukulan tapi sedang rapat" terang wanita berwajah cantik berpakaian syar,i itu berjongkok. Kontan semua menatap anak yang wajahnya 11 12 mirip Uminya itu dengan gemas.
"Oh, berarti Papa kalau lagi rapat suka begini-gini ya" anak cerdas mengacung-acungkan tinjunya menirukan Adit dan Rony tadi.
" Sudah... ayo salim sama Om" titah Uminya, agar salim kepada Adit dan Rony.
"Maaf Om" Anak laki-laki itu mengangsungkan tanganya.
"Tidak apa-apa sayang... namanya siapa?" tanya Adit menyejajarkan tubuhnya dengan anak tersebut.
"Ainas Om" sahut anak itu.
"Oh namanya bagus" kata Adit menatap anak Daniel, lagi-lagi Adit ingat Mawar anaknya nanti akan tumbuh menjadi seperti ini tapi mungkinkah?
"Pak Adit, sepertinya anda sedang tidak sehat?" tanya Daniel menatap wajah Adit yang pucat.
"Tidak apa-apa Bung, mungkin sedang masuk angin" sahut Adit.
"Kalau lagi masuk angin Ummi suka di kerok" sahut Ainas. Semua pun akhirnya tertawa.
"Kenalkan Pak Adit, ini anak kedua saya, lalu wanita cantik ini istri saya" Daniel kontan memeluk pundak istrinya.
"Saya Rani, Pak Adit" Rani menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Adit mengangguk sopan membalas memperkenalkan diri.
__ADS_1
Rony yang melihat Adit dan boss nya sedang berkenalan. Kesempatan ini ia gunakan untuk pergi. Rony berjalan mundur setelah luput dari pengamatan Daniel dan Adit mempercepat langkahnya masuk kedalam lift.