Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Kepergok.


__ADS_3

"Loe kenapa Mawar? apa yang loe rasain?" tanya Roni yang jika bicara biasanya selalu berseloroh kali ini tampak serius. Ia berdiri di samping Mawar.


Mawar hanya menggeleng.


"Sabar ya Maw, cepat sembuh ya" ucap Rosita. Namun Mawar tidak mampu untuk menjawab hanya anggukan tanda setuju.


Sudah habis kata-kata Rosita, dan Rony, namun Mawar tetap tapa bicara. Rosita dan Rony pun pamit pulang.


*******


Sudah dua hari Mawar di rawat, ia sudah di Izinkan pulang. Kemarin sore Jono dan Mama Latania yang menjemput.


Karena ketlatenan Melati menyuapi kakaknya, Mawar sudah mau makan walaupun sedikit. Namun masih sangat depresi betapa tidak? sudah tiga hari suaminya belum ada kabarnya.


"Nanti sore Bapak sama Ibu sampai disini loh kak, jadi kakak harus makan, nanti kalau Bapak sama Ibu melihat kakak lemas, tidak bertenaga, terlihat menyedihkan, pasti Bapak sama Ibu akan bersedih" "Kakak nggak kasihan apa? kalau Bapak sama Ibu banyak pikiran?" terang Melati panjang lebar, ketika kakaknya tidak mau sarapan.


"Benar yang di katakan Melati, Non Mawar" imbuh Simbok yang membawakan segelas sereal ke kamar Mawar untuk sarapan.


Mawar mengangguk kemudian menyeruput sereal yang masih hangat.


"Mel" Mawar ingin bicara tetapi terasa kelu.


"Kenapa kak, ada yang sakit? apa yang dirasakan kakak?" Melati menggenggam tangan Mawar.


"Mas Adit belum meninggalkan aku kan Mel?" lagi-lagi cairan bening keluar dari pelupuk matanya.


Melati diam sejenak tampak berpikir bagaimana harus menjelaskan kepada kakaknya. Mungkinkah Adit masih ada kemungkinan selamat? sedangakan sudah tiga hari ini, tidak ada kabar tentang kakak Iparnya.


"Mel, kenapa diam?" Mawar menatap kosong Adiknya.


"Tidak ada yang tidak mungkin kak, jika Allah berkehendak, kak Adit akan pulang dengan selamat" Melati berkata yakin hanya ingin menghibur kakaknya. "Kak Mawar harus bangkit, hanya doa yang bisa kakak lakukan." sambungnya.


Teng tong teng tong.


Terdengar bel berbunyi, Simbok segera kedepan mengintip dulu dari jendela siapa gerangan yang datang sebelum membuka pintu.


Simbok membuka kunci kemudian menarik handle pintu.


Seorang wanita setengah baya bersama anak remaja laki-laki dan perempuan datang bertamu.


"Selamat pagi, apa benar ini rumah Mawar?" tanya seorang Ibu tersebut tersenyum ramah.


"Betul Bu" sahut Simbok belum mempersilakan wanita itu masuk. Masih berbincang-bincang di tengah pintu.


"Siapa Mbok?" karena Simbok lama tidak kunjung masuk Melati menyusul kedepan.


"Saya nak" belum di jawab Simbok Ibu dan anak gadis itu menjawab dan tersenyum senang.

__ADS_1


"Tante? Intan?" Melati memekik kegirangan mencium punggung tangan Mama Sahina, menyalami Abim, kemudian memeluk Intan.


"Masuk Tante, Intan, kakak" Melati mengabsen tamunya.


Mereka pun masuk ke dalam.


"Bagaimana keadaan kakakmu nak?" tanya Mama Sahina.


"Sudah mendingan Tan, sudah mau makan walupun sedikit." terang Melati.


"Dimana dia nak?" Mama Sahina ingin segera melihat keadaan Mawar.


"Mari Bu, saya antar" kata Melati kemudian melangkah kekamar di ikuti Mama Sahina dan Intan. Sedangkan Abim menunggu di Sofa.


"Kakak..." pekik Intan, kemudian mendekati Mawar lalu memeluknya.


"Intan...Ibu..." lirih Mawar.


"Iya sayang... apa yang di rasa?" Mama Sahina memegang dahi Mawar.


"Maaf ya nak, kemarin saya tidak bisa menjenguk kamu kerumah sakit" Mama mengusap sisa air mata Mawar dengan tisue lalu melempar ketempat sampah.


"Nggak apa-apa Bu" sahutnya, sudah tiga hari Mawar baru kali ini mau ngobrol.


"Bu...suami saya hilang" hiks hiks hiks. Mawar pun mengingat suaminya lagi.


"Suami kak Mawar, kecelakaan dalam pesawat tempo hari Bu" kata Melati.


Melati pun menceritakan dari A sampai Z. Tentang Mawar yang selama 5 bulan dimadu.


"Kenapa kalian menutupi dari Mama?" Mama menatap Melati dan Intan bergantian. Melati dan Intan hanya diam. Mama Sahina kemudian mendekati Mawar memeluk tubuh ramping Mawar dengan rasa kasih sayang.


"Tan aku keluar dulu ya" ucap Melati. Intan mengangguk kemudian mendekati Mamanya yang sedang menasehati Mawar.


"Mbok, sudah membuat minum belum?" tanya Melati setelah keluar dari kamar kemudian kedapur berniat membuatkan minum untuk ketiga tamunya.


"Sudah Non" sahut Simbok, kemudian ingin mengangkat tiga gelas teh dalam nampan.


"Biar saya saja Mbok" Melati kemudian ambil alih nampan dari tangan Simbok kemudian membawanya ke depan.


"Minum dulu kak" Melati menurunkan gelas satu persatu. Yang satu gelas ia letakkan di depan Abim yang sedang asyik dengan benda pipih tidak menyadari obyek di depanya.


"Terimakasih" ucap Abim kemudian menyimpan hp kedalam saku mengangkat kepalanya menatap Melati, dua pasang mata itu pun saling bertemu.


Deg deg deg.


Dada Melati berpacu cepat, tatkala menatap wajah Abim yang tampan, kulit kuning langsat, hidung mancung, potongan rambut top knot, terlihat simple dan rapi. Melati tetap berdiri memeluk nampan masih enggan berpaling dari wajah Abim membuat sang pemilik wajah merasa risih.

__ADS_1


"Eheemmm..."


Deheman Abim membuat wajah Melati merah karena malu. Sebab, kepergok mencuri pandang.


"Diminum kak, permisi" Melati kemudian berlalu, namun baru beberapa langkah suara berat menghentikan.


"Sopan ya? ketika ada tamu tidak di temani?" Abim menyenderkan badanya di Sofa, bersedekap.


"Bu-- bukan begitu kak, kan mau menemani Tante Sahina." Melati beralasan. Padahal hanya ingin menyembunyikan rasa gugupnya.


"*D*on't look for excuses" Abim mencebik. "Duduk" Imbuhnya.


Seperti kerbau di cucuk hidungnya, Melati pun duduk tidak berkutik. Rasanya campur aduk, antara senang, grogi, dan malu berkumpul menjadi satu.


Keduanya saling diam, hingga menunggu beberapa menit. "Kenapa ya, dia menyuruhku duduk, apa jangan-jangan... dia punya perasaan sama aku? aaah... mikir apa sih aku?" monolok Melati dalam hati. Melati menunduk tidak berani menatap Abim Ia gelisah karena Abim tak kunjung bicara.


"Dulu, kamu satu sekolah sama Diah?" tanya Abim menatap Melati intens.


Melati mengangkat wajahnya cepat, namun tidak menjawab. Melati kesal sudah ditunggu dari tadi tetapi Abim justru menanyakan Diah.


"Kok diam" Abim berujar.


"Bukan!" Melati menjawab ketus.


"Bukan apa?" tanya Abim.


"Ya tadi kakak bertanya apa?" Melati mlengos.


"Sopan ya? kalau di tanya jawabnya begitu?"


"Nggak!" tukas Melati.


"Nggak apa?" Abim tersenyum samar melihat wajah Melati yang sedang uring-uringan tampak lucu.


"Nggak tahu! kalau sudah nggak ada yang di tanya saya mau masuk!" Melati pun berdiri berjalan melewat Abim. Namun tanganya di cekal Abim.


Melati menatap tangan Abim yang memegang pergelangan tanganya. Menghirup parfum yang Abim pakai sungguh memabukkan membuat rasa kesal Melati pun hilang rasanya ingin berlama-lama di dekat pria yang akan di jodohkan denganya itu.


"Plok plok plok"


Mendengar suara tepuk tangan keduanya menoleh.


Tampak dua orang wanita datang mendekat.


****


Siapa kira-kira dua orang wanita itu? ayo mana komentarnya? rajin komen budhe jadi semangat nulis loh"💪💪💪

__ADS_1


__ADS_2