Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Pindah Kamar.


__ADS_3

Adit menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebelum kekantor ia akan kerumah istri mudanya dulu. Sebab, pesan yang di kirimkan Silfi dari kemarin tidak ia balas. Walau bagaimana ia harus bersikap adil walau hanya sekedar membagi waktu.


Kenyataannya memang tidak bisa di pungkiri, bahwa saat ini ia mempunyai istri dua. Sudah cukup menyakiti Mawar, tidak ingin Silfi merasa tersakiti juga.


"Mawar... apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak kuat Mawar... sakitmu sakit ku juga" Monolognya.


Sepanjang jalan ia merutuki dirinya sendiri, kadang meraup wajahnya, menjambak rambutnya.


Sampai di kediaman Papa Johan.


Adit parkir di halaman yang sangat luas. Kemudian, masuk ke dalam rumah. Papa Johan, Mama Latania, dan juga Silfi sedang sarapan pagi. Mendengar langkah kaki yang cepat sontak mereka menoleh.


Mereka melihat pemampilan Adit terlihat sangat menyedihkan. Rambut tidak di sisir, kemeja tidak di masukkan matanya terlihat redup. Tidak seperti biasa. Silfi sudah membuka mulut ingin bertanya mengapa dari kemarin tidak memberi kabar. Namun begitu melihat wajah Adit yang sedang tidak baik-baik saja Silfi terdiam.


"Sarapan dulu nak" titah Mama Latania.


"Tapi saya tidak lapar Ma" sahutnya lirih. Papa Johan menelisik wajah Adit tidak bicara apapun seolah tahu apa yang terjadi.


"Sarapan sedikit Dit" imbuh Silfi. Silfi cepat ambil roti mengolesi dengan mentega, di tambahkan keju kemudian menyusun di piring kecil meletakkan di depan Adit.


Karena ingin menghargai Silfi, Adit menggigit roti sedikit dan mengunyah, menelan dengan susah payah. Sambil mengunyah, Adit ingat Mawar matanya berkabut. Dulu momen sarapan pagi tidak pernah ia lewatkan berdua. Melihat Adit sedang gelisah Silfi bertanya.


"Kenapa?" Silfi menatap suaminya sendu tanganya mengelus bahunya.


"Nggak apa-apa kok Sil, kamu juga sarapan dong" ucap Adit.


"Sudah selesai sarapan aku mah" sahut Silfi.


"Kalian lanjutkan sarapan, Papa bersiap dulu" tanpa menunggu jawaban Adit maupun Silfi Papa Johan beranjak di ikuti Mama Latania.


"Aku berangkat dulu ya" Pamit Adit hendak berdiri namun tanganya di tahan oleh Silfi.


"Tunggu sebentar" ucap Silfi melangkah ke kamar tidak lama kembali lagi membawa sisir.


"Aku sisirin dulu, yang rapi dong Dit" ucap Silfia kemudian menyisir rambut adit.


"Rambutmu tebal banget ya Dit, setahun yang lalu sebelum aku di kemo rambutku juga tebal Dit" ucap Silfia sedih.

__ADS_1


"Sudah... jangan bersedih, kalau kamu sudah sembuh. Rambutmu juga akan tumbuh lagi kok" hibur Adit, padahal hatinya saat ini terasa hancur. Namun tetap tegar di depan Silfi.


"Tapi nyatanya hidupku tidak akan lama lagi kan Dit" ucap Silfia dengan bibir bergetar sambil memegang kepala pria yang kini telah menjadi suaminya.


"Seeett...duduk sini" titah Adit agar Silfi duduk. Silfi pun duduk kembali setelah selesai menyisir rambut.


"Hidup mati seseorang itu, rahasia Allah, dokter, kita atau siapun tidak akan tahu rahasia ini" terang Adit sungguh kasihan melihat gadis yang menjadi istrinya kini.


"Terimakasih ya Dit" kata Silfia menyeka air matanya.


"Mulai besok kalau kamu hendak kemanapun, lebih baik pakai jilbab, daripada pakai rambut palsu." titah Adit. Silfi mengangguk patuh.


Adit kemudian mengecup dahi Silfi kemudian berangkat. Silfi mengantar Adit sampai halaman melambaikan tangan menatap mobil Adit hingga tidak nampak lagi.


Silfi jika sedang tidak kambuh tampak seperti gadis sehat. Namun jika mendadak kambuh tidak berdaya.


*****


Dirumah Adit. Mawar keluar dari kamar tamu setelah di pastikan Adit sudah tidak ada. Matanya sembab, sebab semalaman tidak berhenti menangis dan tidak tidur.


"Sudah bangun Non?" tanya Simbok yang sedang menyapu lantai.


"Sarapan dulu Non, Simbok sudah membuat nasi goreng" titah Simbok menyudahi menyapunya lalu mendekati Mawar yang sedang duduk di kursi meja makan.


"Ini loh Non" Simbok membuka tutup saji. "Nanti dulu ya Mbok. Kalau sudah lapar saya cari sendiri" sahut Mawar pagi ini tidak ada rasa lapar sama sekali.


"Mbok, kamar di sebelah simbok itu kosong ya?" tanya Mawar.


"Kosong Non, memang kenapa?" tanya Simbok dengan dahi berkerut.


"Kita lihat Mbok" ucap Mawar kemudian beranjak berjalan menuju kamar ART di sebelah Simbok.


Kamar kecil cukup satu orang, ada lemari kecil, tempat tidur ukuran kecil pula. Mawar segera masuk. Kamarnya masih bersih karena selalu di bersihkan oleh simbok.


Dulu kamar ini di tiduri teman Simbok ketika Nyonya Latania masih tinggal di sini.


"Saya mau pindahkan pakaian saya kesini Mbok" kata Mawar kemudian keluar meninggalkan kamar.

__ADS_1


"Tapi Nona, tidak boleh tidur di sini, kamar mandinya juga tidak ada" Simbok mengejar Mawar memegangi tangannya memberi penjelasan.


"Kamar yang besar ada tiga kenapa justeru memilih kamar yang sempit tanpa kamar mandi maupun AC." cecar Simbok


"Nggak apa-apa Mbok, saya akan lebih nyaman tidur disini"


"Mbok pikir saya ini siapa? saya ini orang miskin, dulu tinggal di kontrakan yang sempit" "Bukan Nona-Nona yang seperti Mbok bayangkan" tutur Mawar kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar atas.


Simbok masih berdiri mematung, menatap langkah Mawar, hingga hilang di tangga terakhir.


Mawar segera masuk kedalam kamar suaminya yang baru sepekan ia tiduri. Ia ambil tas kemudian memasukkan pakaian yang hanya sedikit tidak akan kerepotan.


Sebab, Mawar hanya membawa baju sedikit sebagian ia tinggalkan di rumah Ibunya di kampung.


Mawar menelisik seluruh isi kamar setelah selesai mengemas pakaian. Ia membuka lemari pakaian pintu sebelah yang tersusun rapi pakaian suaminya.


Tidak percaya pernikahanya yang sudah ia jalani selama lima tahun, tanpa ada masalah serius. Jika hanya omelan mertua yang selalu menghinanya tidak pernah ia hiraukan. Tetapi pernikahannya kini, menjadi samar untuk menapaki langkahnya kedepan.


Nyatanya Adit sudah memiliki wanita selain dirinya. Entah apa alasanya suaminya yang sangat ia cintai bisa menduakan.


Akan di bawa kemana pernikahan ini oleh suaminya Mawar pasrah. Yang penting ia menghindari suaminya dulu akan lebih baik dari pada ribut.


Mawar menutup pintu lemari kembali, kemudian menuruni anak tangga menuju kamar sebelah Simbok lalu membereskan pakaian.


*****


Selepas maghrib suara deru mobil memasuki halaman rumah. Simbok bergegas kedepan membuka pagar. Setelah memasukan mobil ke dalam garasi Adit bergegas masuk kedalam rumah ingin segera menemui istrinya.


Yang ia tuju pertama kali kamar tamu dimana tadi malam Mawar tidur. Adit mendorong handle pintu tidak di kunci. Namun di dalamnya kosong.


Adit segera jalan cepat menaiki anak tangga. Sampai di kamar bola matanya mengerling kesana kemari tetapi tidak ada sosok wanita yang ia rindukan. Dengan was-was Adit membuka lemari.


Jantungnya hampir compot tatkala lemari baju istrinya kosong. "Ya Allah kemana kamu Maw?" batinya. Ia segera keluar dari kamar.


Tak tak tak


Adit setengah berlari menuruni tangga. "Mbok! Mawar kemana?" pekiknya.

__ADS_1


"Di kamar sebelah saya tuan" sahut Simbok segera meninggalkan pekerjaannya menghampiri Tuanya.


"Ya Allah... Mbok, kenapa dia pindah kesitu?" Adit hatinya terasa nyeri memandangi kamar yang sempit itu. Segitu tidak inginya ia bertemu dirinya hingga pindah kekamar yang jauh darinya.


__ADS_2