
"Kamu dulu yang bicara Maw" ucap Adit saat mereka ingin berbagi cerita.
"Mas dulu" sahut Mawar karena sangat penasaran apa yang akan di katakan Adit.
Adit menarik napas panjang siap membuka mulut ingin jujur kepada Mawar.
Tok tok tok
Namun, ketika baru ingin berucap pintu kamar pun di ketuk. Mawar berjalan cepat membuka pintu.
"Non, ada yang ingin bertemu tuan" kata Simbok.
"Siapa Mbok?" tanya Mawar masih berdiri di pintu kamar.
"Kurang tahu Non, katanya anak buahnya di kantor" sahut Simbok, Mawar berbalik badan kemudian menemui suaminya.
"Mas ada tamu tuh" kata Mawar kemudian kembali ke tempat tidur. "Temui dulu" sambung Mawar.
"Siapa?" tanya Adit menatap Istrinya.
Mawar mengedikkan bahu sambil mengangkat kedua tanganya.
"Aku keluar dulu ya" ucap Adit.
"Iya Mas."
Mawar Merah PoV.
Baru berapa hari aku tinggal di rantau. Namun, aku melihat perubahan sikap suamiku yang cenderung pendiam dan aneh menurut aku. Pulang kerja tidak tepat waktu, dan banyak alasan, kadang terbersit rasa curiga di benakku.
Deerrr deerrr derrr
Suara handphone nya bergetar hingga beberapa kali.
"Biar saja lah..." pikirku. Tidak sopan juga kan? kalau aku mengangkat telepon yang di tujukan kepadanya?
Deerrr deerrr derrr
Karena terlalu lama berbunyi akhirnya aku memberanikan diri berniat mengangkat. Siapa tahu penting dari kampung misalnya.
Aku melihat nama yang tertera saat hp bergetar. SJ. Siapa tuh SJ? tanyaku dalam hati.
Dengan tangan bergetar aku geser tombol hijau.
"Dit, kok kamu tidak angkat telepon aku sih? pesanku juga nggak kamu balas" tut. Suara seorang wanita nyerocos ngomel.
__ADS_1
Deg deg deg. Jantungku berdegup kencang. Siapa wanita ini? kalau adiknya Mas Adit yang tinggal di kampung tidak mungkin hanya memanggil sebutan nama, pasti ada embel-embel kakak.
Aku coba membuka pesan karena penasaran. Masa bodo lah, mau di bilang lancang, toh sudah terlanjur penasaran.
Aku buka WA ada 10 pesan dari SJ.
"Dit, kamu masih di kantor ya? padahal baru tadi siang kita bertemu tapi... aku kangen banget sama kamu" 💖
Jedeeeer
Bagai di sambar petir aku membaca pesan ini. Jadi benar kecurigaan aku bahwa suamiku ada wanita lain? Aku coba membuka pesan satu lagi.
"Dit, malam ini kamu pulang jam berapa? jangan terlalu malam ya.. pulangnya, sekalian beli martabak" Isi pesan wanita tersebut.
Aku sudah tidak kuat lagi, melanjutkan membaca.
Aku tutup lagi handphone suamiku kemudian aku letakkan di tempat semula. "Oh ternyata begini kepercayaan aku selama ini ia sia-siakan. Sakit hati seorang wanita yang tidak akan terobati ketika di dua kan oleh suaminya. Dan nyatanya aku yang mengalami.
Ceklek
Dia masuk kedalam kamar. Aku menoleh masih bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Mas Adit kemudian merebahkan tubuhnya di samping ku. Aku bergeser memunggungi. Dia memeluk perut kemudian aku pindahkan tangannya.
Tangan ini sudah tidak sesuci dulu, ketika dia hanya memeluk aku. Tetapi... tanganya saat ini untuk menyentuh, memeluk, bahkan lebih untuk wanita lain. Rasanya benci sekali. Walaupun aku tidak tahu sebenarnya. Dari pesan tadi aku sudah bisa menyimpulkan.
Aku bangun menyentak hingga dia terkejut.
"Mawar... kamu kenapa kok aneh?" tanya nya.
"Apa Mas! Mas bilang aku aneh? aku atau kamu yang aneh Mas?" aku emosi ber api-api.
"Apa maksudmu Maw?" dia duduk di ranjang berhadapan denganku kemudian mengecup punggung tanganku.
Aku hempaskan tangannya dengan kasar, kemudian aku turun dari ranjang lalu berdiri menatapnya sinis.
"Sekarang jelaskan padaku siapa wanita itu Mas! JELASKAN!!" bentakku.
Dia menunduk, mungkin mulai menyadari kesalahannya. "Kenapa kamu diam Mas? KAMU NGGAK BISA JAWAB KAN MAS!!" bentakku.
"Kamu tahu darimana Maw?" tanyanya dengan mata memerah.
"Tidak penting! aku tahu dari mana! yang jelas! Mas sudah menyia-nyiakan kepercayaanku."
Air mataku mulai jatuh. Sungguh, selama menikah dengannya hingga lima tahun kami belum pernah bertengkar sampai serius.
__ADS_1
Inikah hadiah yang suamiku persembahkan di usiaku yang menginjak usia 23 tahun?
Bahkan, hari yang spesial ini pun ia lupa. Dulu walaupun sekedar ucapan pasti ia sempatkan.
"Ma-- maafkan aku Mawar?" ucapnya lemah tidak berani menatapku.
"Ternyata, ketulusan gampang aku dapat. Ketika kondisi berjuang! dan saat berhasil kamu bagaikan kacang lupa kulit Mas" ucapku.
"Aku tidak percaya ini Mas...hu huuu...aku nggak percaya..."hu huuu. Aku menangis meraung di dalam kamar.
Dia kembali mendekat lalu memeluk aku erat. Aku mencoba lepas dari pelukanya. Namun tidak bisa.
"Maafkan aku Mawar... aku memang salah, ini tidak seperti yang kamu kira Mawar." tuturnya ia pun ikut meraung. "Aku akan lakukan apa pun demi kamu Maw, aku hanya minta satu, jangan tinggalkan aku, aku mencintai kamu" ucapnya sendu.
"Apa Mas bilang! cinta? ahahaha... OMONG KOSOG!!" jawabku ketus.
Kami berdua larut dalam tangis. Bibirku rasanya sudah sulit aku gerakkan.
Aku mendorong tubuh kekarnya lalu aku perlihatkan telapak kakiku.
"Lihat telapak kakiku ini Mas, masih kapalan, karena aku berjalan kaki tanpa mengenal lelah. Dan ini aku lakukan demi siapa Mas? demi kamu Mas!" 😢😢😢
Kemudian aku perlihatkan telapak tanganku. "Dan lihat ini baik-baik Mas, telapak tangan ku ini." "Di mana tangan ku ini harus mencabut singkong di kebun dengan susah payah karena tenagaku tidak sekuat tenagamu. Tetapi... aku tanpa meminta bantuanmu"
"Dan mengiris singkong dengan cepat bahkan kadang tergores pisau nggak pernah aku rasakan."😢😢😢
"Dan dengan telapak tangan yang kasar ini, sebagai saksi ketika aku menggoreng keripik hngga larut demi untuk mencari sesuap nasi. Dan eronisnya kamu malah mendengkur." Ucap ku menumpahkan segala penderitaanku.
"Mawar...maafkan aku. Aku hilap Mawar" ucapnya. Namun, aku tidak mau menatapnya.
"Hahaha... ternyata aku bodoh Mas..., aku memang bodoh Mas!" "kamu sudah berhasil membodohi aku Mas!" hu huuu. Aku menangis tertawa seperti orang gila.
"Baru dua bulan jauh dari aku kamu sudah menduakan aku kan Mas..."hu huuu.
Aku bangkit berdiri kemudian berlari menuruni anak tangga lalu masuk ke kamar tamu dan menguncinya.
Mas Adit mengejar sambil mengetuk-ngetuk pintu tetapi tidak aku hiraukan. Menghindar darinya saat ini mungkin akan membuatku tenang. Hingga waktu jam 11 malam tidak lagi mendengar gedoran pintu dari Mas Adit, kemudian
Aku masuk kekamar mandi membasuh muka ambil wudhu.
Dan bersujud berserah diri, aku tumpahkan rasa sakit hati ini mengadu kepada Allah.
Dalam doaku. Aku minta di kuatkan imanku. Agar aku tidak jauh dari sang pencipta walaupun badai mengguncang.
Selama ini aku sudah salah mencintai Mas Adit terlalu berlebihan dan ketika dikecewakan merasa menjadi porak poranda.
__ADS_1
Selesai shalat aku merasa tenang segera merebahkan tubuhku. Namun, dengan susah payah mata ini tidak mampu untuk terpejam.