
"Pelan-pelan Jono" titah Mama Latania ketika supir mengangkat tubuh Mawar. Mawar akan di bawa kerumah sakit.
"Baik Bu" Jono membawa Mawar kedalam mobil disusul Mama Latania dan Melati.
Mawar di tidurkan di jok tengah kepalanya di pangku nyonya Latania. Sedangkan Melati duduk di depan bersama supir.
Jono menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Melati menoleh kebelakang menatap Mama Latania yang sedang merapikan kerudung Mawar dalam pangkuannya, dengan penuh rasa kasih sayang.
Melati terharu, biar saja mertua kakanya itu membencinya. Namun ada dua sosok Ibu yang menyangi kakaknya di Jakarta ini, yakni Mama Latania dan Mama Sahina.
Melati menjadi kangen kepada Ibunya nanti akan segera telepon memintanya datang ke Jakarta. Melati senang jika kakaknya senang. Sejak tadi malam baru kali ini bibirnya mengulas senyum. Melati kemudian kembali menatap kedepan.
"Jon, apa yang kamu dengar di pt tadi tentang perkembangan pesawat yang jatuh?" tanya Mama jari telunjuknya terus mengusap pipi Mawar seperti mengelus pipi bayi.
"Pak Johan sedang mengirimkan jet pribadi ke TKP Bu" sahut Jono pandanganya lurus ke depan.
Mama mmengguk-angguk. "Semoga Adit pulang dalam keadaan sehat ya Mel" do,a Mama.
"Aamiin" Melati meraup wajahnya.
Sepuluh menit kemudian sampai di rumah sakit. Jono membopong Mawar membawanya ke UGD.
"Tolong anak saya dok" Mama Latania mengikuti dokter yang sedang memeriksa Mawar.
Dokter memeriksa dengan teliti. "Anak saya kenapa dok?" tanya Mama Latania tegang karena khawatir.
"Tekanan darahnya terlalu rendah Bu, sepertinya putri Ibu tidak makan dari kemarin." terang dokter.
"Astagfirlullah..." Mama menoleh menatap wajah Mawar yang tergolek lemah.
"Tolong anak saya dokter beri pengobatan yang terbaik" Mama menatap dokter memohon.
"Putri Ibu harus di infus paling tidak sehari semalam Bu, jika tekanan darahnya sudah normal baru di izinkan pulang" terang dokter.
"Lakukan yang terbaik dok" titah Mama. "Saya ingin anak saya segera di bawa keruangan" sambung Mama.
Mama kemudian keluar menemui Melati, sebab, tadi Melati tidak di izinkan masuk oleh dokter.
"Mel" Mama Latania mendorong pintu UGD.
"Iya Bu" Melati yang sedang duduk di samping pintu segera berdiri. "Apa kata dokter Bu" Melati sudah tidak sabar ingin tahu perkembangan kakaknya.
"Kakak kamu harus di rawat nak" Melati memegangi tangan Mama Latania. "Tapi Kak Mawar sakit apa?" Melati serak rasanya ingin menangis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kamu yang tenang" Mama menggenggam telapak tangan Melati. "Kata dokter, Mawar terlalu setres, dehidrasi, tekanan darah dan hb nya rendah" Mama bertutur lembut Membuat Melati merasa lebih tenang.
"Ayo kita kedalam" Mama Latania mengajak Melati masuk melihat Mawar.
Sampai di dalam Mawar sudah di pindah kan. "Loh pasien yang di sini tadi kemana sus" Mama bertanya kepada suster yang sedang merapikan tempat tidur.
"Oh, sudah di pindahkan keruang rawat Bu"
"Di Ruangan apa? saya minta anak saya di rawat di ruangan yang terbaik" Mama kesal karena baru pergi sebentar saja tidak di beri tahu.
"Oh, di ruang VIP no 02 Bu, sesuai yang ibu minta." sahut suster, membuat Mama lega.
Mama tidak menjawab kemudian bergegas mencari ruangan tersebut bersama Melati.
*****
Di negara C Riko, Asisten Adit saat ini masih berada di ruang rapat. Namun otaknya sudah bleng tidak bisa berkonsentrasi.
Riko memikirkan Adit, kenapa peristiwa naas menimpa boss nya itu.
Flashback on
Saat Silfi meninggal, Mawar telepon Adit berkali-kali, tetapi Adit saat itu sedang rapat. Dalam rapat tersebut, Adit mematikan handphone.
Karena tidak tahan ingin buang air kecil Adit meninggalkan ruang rapat segera menuntaskan hajatnya di kamar mandi.
Adit berstandar di tembok mengaktifkan handphone, berniat mengirimkan pesan.
Padahal tadi malam sudah ngobrol panjang lebar. Namun saat ini Adit ingin berbalas chat dengan istrinya. Adit tersenyum lebar namun senyumnya menghilang berganti dengan kerutan dahi saat handphone aktif.
Adit terbelalak, ketika melihat serentetan pesan dari Mawar, Abim Mama, mengabarkan bahwa Sifi telah tiada.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun."
Adit tercengang, betapa tidak? sudah dua bulan Silfi koma belum juga sadar, tapi Silfi seolah-olah ingin pergi agar tanpa sepengetahuan Adit.
Bertepatan dengan itu, Mawar telepon, setelah mengangkat telepon dan berbincang sebentar dengar Mawar.
Adit memutuskan untuk pulang ke Indonesia, biar bagaimana Silfi adalah Istrinya, dan tanggung jawabnya.
Adit kembali ke ruang rapat memberi kode pada Riko agar mengikuti dirinya kebetulan rapatnya di adakan di hotel tersebut.
"Rik, saya mau pulang duluan, kamu tetap disini, meng handle rapat, hingga selesai." titah Adit. saat itu Adit sedang berkemas di kamar hotel.
"Ada apa boss?" tanya Riko menatap gerak tangan boss nya yang sibuk berkemas.
__ADS_1
"Silfi meninggal Rik" Lirih Adit hampir tidak terdengar.
"Innalillahi... baik boss" sahut Riko tak kalah terkejut, menatap wajah Adit pucat pasi tersirat gurat kesedihan yang mendalam. Adit memasukkan baju kedalam koper asal masuk tidak dilipat.
"Segera pesan tiket Rik, yang bisa berangkat saat ini juga" ucapnya sedikit menekan. Membut Riko mengalihkan pandangannya ke laptop.
"Baik boss" Riko segera membuka laptop kemudian memesan tiket.
"Sudah boss, satu jam lagi berangkat " ucap Riko sambil mengotak atik laptop.
"Saya berangkat Rik" Adit menarik koper di antar Riko, segera turun ke lobby lewat lift, sebab taksi sudah menunggu.
"Hati-hati boss" pesan Riko, namun tidak ada jawaban dari Adit hanya melambaikan tangan.
Adit segera masuk kedalam taksi, tidak sampai 10 menit supir sampai bandara. Adit segera check in setelah memasuki lobby Bandara.
Tidak lama kemudian pesawat lepas landas. Saat itu cuaca mendung gelap.
Saat pesawat terbang dalam ketinggian 36 ribu kaki. Namun, lama kelamaan pesawat terbang di ketinggian maksimum.
Pesawat terbang masuk kedalam awan menabrak-nabrak awan di tambah lagi ada gangguan pada mesin.
Angin tertiup kencang pesawat terasa terombang ambing. Ada kecepatan aliran udara menyebabkan goncangan berat pada pesawat skala besar.
Gredeg gredeg.
Pesawat oleng, jerit para penumpang histeris. Saat orang-orang menjerit-jerit, Adit terus melantunkan doa hanya ini yang bisa ia lakukan menjerit sekencang apa pun tidak ada yang memberi pertolongan selain Tuhan NYA.
"Ya Allah... banyak dosa yang hamba perbuat beri kesempatan hamba untuk bertaubat Ya Allah..."
"Ya Allah... selamatkan hamba, jika boleh memohon. Hamba belum menepati janji untuk membuat Mawar bahagia."
Adit terus berdoa membaca surat-surat pendek yang ia hafal.
"Mawar doakan aku" monolog Adit.
Jerit tangis para penumpang terus histeris seiring dentuman pesawat yang menabrak nabrak awan Adit terus berdoa memulihkan kesadaran menunduk ambil pelampung yang tersimpan di bawah jok, kemudian memakainya.
Kedua mesin pesawat gagal. Pilot tidak dapat menghidupkan mesin.
"Braakk."
"Booom."
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Kecelakaan tak tak terelakkan pesawat membentur tebing pesawat pun terbakar bersama orang-orangnya.
__ADS_1
****
"Apa yang terjadi????