Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Ratu Bohong.


__ADS_3

Waktu sudah sore setelah ashar Mawar ingin memasak kesukaan Bapak dan Ibu. Kapan lagi? selagi, masih berkumpul.


"Mau masak apa kak?" tanya Melati selesai shalat, ia ke dapur hendak membantu kakaknya yang sedang memilah-milah sayuran dari kulkas.


"Buat soto ayam saja Mel" sahut Mawar. Mawar membagi tugas ia membuat bumbu soto, dan ayam goreng. Sedangkan Melati membuat sambal, dan mencuci sayuran lalu memotong-motong. Jam 5 sore, masakan sudah matang, setelah menyusun di atas meja, Mawar hendak mandi dikamarnya.


"Aku mandi dulu ya Mel" ucap Mawar seraya mengambil handuk lalu menyampirkan di pundak.


"Iya kak, aku juga mau mandi" sahut Melati.


"Nanti malam kamu tidur di kamar tamu Mel, seprainya di ganti ya, ambil saja di lemari" titah Mawar.


"Aku tidur sama Bapak, Ibu, saja kali kak" sahut melati sambil mencuci perabot bekas memasak.


"Ngaco kamu! masa tidur sama Bapak, Ibu, memang kamu anak balita apa?" Hihihi...keduanya cekikikan.


Mawar kemudian menanjak tangga sampai di kamar suaminya masih bergulung selimut.


"Mas... hee... bangun, sudah shalat belum?" Mawar membangunkan suaminya menusuk-nusuk pipinya dengan telunjuk. Merasa ada yang mengusik tidurnya. Adit membuka mata. "Sudah shalat kok" sahut Adit mengucek-ucek matanya kas bangun tidur, kemudian menarik tubuh istrinya hingga jatuh di dada bidangnya.


"Hee... aku mau mandi dulu, gerah" ucap Mawar ingin lepas dari kungkungan suaminya.


"Aku kangen" ali-ali melepas Adit justru mengencangkan rangkulanya. "Aku bau nih, mau mandi dulu" kekeh Mawar tidak bisa bergerak rangkulan Adit cukup kencang. Adit memang kangen akhir-akhir ini kurang memperhatikan istrinya.


"Nggak bau kok, masih wangi" ucap Adit membelai rambut istrinya.


"Masih sakit nggak? Mawar mengangkat wajahnya dari dada Adit menelisik wajah suaminya, lebam di pipi bagian bawah, dan memar-memar di sudut bibirnya.


"Nggak kok" sahut Adit kali ini memang sudah terasa enteng setelah tidur siang, tinggal bekas pukulan di wajah yang masih nyeri.


Adit menatap bibir indah istrinya yang tanpa polesan rasanya ingin melahapnya, tetapi apalah daya bibirnya masih sakit.


"Iih...kok nglihatin terus" ucap Mawar, merasa salting di lihatin terus.


"Habisnya kamu cantik" sahut Adit tersenyum.


"Gombal!" Mawar mencubit perut suaminya, kemudian merosot ke samping.


Mawar menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya. Membuat Adit ingin meminta lebih.


"Cantikkan mana sama Mbak Silfia?" tanya Mawar hanya ingin tahu, reaksi suaminya.


"Jangan bahas orang lain." pungkas Adit kemudian melancarkan aksinya.


Terjadilah pergulatan sore, meskipun kurang greget karena hanya memakai pemanasan sedikit. Sebab, nyeri di bibir Adit masih mengganggu.

__ADS_1


"Aku mandi dulu ya" ucap Mawar setelah pergulatan, segera turun dari ranjang dengan tubuh polosnya. Ambil handuk yang tersampir di kursi sofa lalu menutup tubuhnya.


"Kita bareng saja" Adit beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi besama istrinya karena sudah sering mereka lakukan.


30 menit mereka mandi terdengar adzan maghrib kemudian shalat berjamah.


"Kita makan malam dulu" kata Mawar setelah melipat mukena.


"Bapak masih marah nggak ya Maw?" Adit mendadak gusar.


"Kalau masih marah, tugas Mas meluluhkan hatinya, bukan malah menghindar!" ketus Mawar, tapi dalam hati kasihan melihat suaminya seperti ketakutan.


"Iya" sahut Adit, hanya dalam mulut sebenarnya hatinya takut ingat siang tadi ketika Pak Sutisna marah kepadanya.


Sampai di meja makan ternyata semua sudah menunggu. Seperti biasa Mawar menyendokkan nasi untuk suaminya. Begitu juga Ibu. Kali ini semua makan dalam diam, Bapak tampak acuh kepada Adit. Namun, Adit pura-pura tidak tahu. Selesai makan semua berkumpul berbincang-bincang di depan televisi.


"Mas, besok aku kan libur, mau mengajak Ibu sama Bapak, kerumah boss aku boleh nggak?" tanya Mawar mengawali pembicaraan.


"Boleh... tapi aku belum bisa nganterin, nanti orang lihat muka aku bertanya-tanya." jawab Adit.


Ibu sama Bapak seketika menatap Adit.


"Nggak apa-apa Mas. Mas istirahat saja dirumah, nggak apa-apa kan aku tinggal?" Mawar tampak khawatir


"Nggak apa-apa, bawa mobil saja ya, jangan naik taksi." saran Adit.


"Oh iya Dit, besok sebelum kerumah teman Ibu. Kami mau silaturahmi ke Ibu kamu dulu ya" Ibu Riska menimpali.


"Yah... tapi aku nggak mau loh, kalau di suruh beres-beres" sambar Melati ingat tadi pagi ketika beres-beres sampai sekarang capeknya belum hilang.


Adit menatap Bapak, dan Ibu bergantian wajahnya merah menahan malu.


"Beres-beres apa?" tanya Bapak belum mengerti arah pembicaraan.


"Ya gi--" Melati ingin menjawat tapi tangannya di teplek Mawar agar tidak melanjutkan.


"Kenapa Mel? mau ngomong kok tidak jadi?" tanya Bapak.


"Nggak apa-apa Pak. Bapak besok ikutkan kan?" Melati mengalihkan.


"Ikut, soalnya lusa bapak sudah mau balik ke kampung" sahut Bapak.


"Kenapa terburu-buru Pak? hari minggu saja, nanti saya antar" Adit memberi usul.


"Nggak usah repot! saya bisa sendiri!" ketus Bapak mlengos.

__ADS_1


"Maaf ya Dit, Bapak sama Ibu mau mampir ke Ciamis dulu, sudah lama nggak silaturahmi kesana" Ibu menengahi.


"Oh, berarti naik bus lagi ya Bu?" Tanya Adit, ia pikir jika berangkat hari minggu akan di antar naik pesawat saja.


"Iya Dit, sekalian mumpung kami mau jalan" sahut Ibu.


"Yah... Bapak sama Ibu mau ke rumah Ambu ya? nggak bisa ikut dech" sesal Mawar, sebenarnya ingin ikut kerumah neneknya yang di Ciamis tetapi harus kerja dan kuliah.


"Lain kali saja nak, jika ada waktu luang kita kesana lagi" pungkas Ibu.


Pak Sutisnya berasal dari Jawa Barat. Nanum beliau menetap di Jawa tengah mengikuti Ibu Riska.


Perbincangan berakhir karena sudah jam sembilan malam masing-masing masuk kedalam kamar.


******


"Jam segini kok baru pulang sih Diah...? kemana saja kamu?! tukas Ibu Reny berkacak pinggang setelah membukakan pintu untuk anaknya.


"Ngerjain tugas lah Bu, memang ngapain?" sahut Diah, menjatuhkan bokongnya di kursi seraya mencopot sepatu dan kaos kaki, kemudian melempar kesembarang arah. Namun Bu Reny seolah tidak perduli.


"Lapar Bu. Ibu masak apa?" tanya Diah tidak perduli Ibu Reny masih terlihat marah.


"Enak saja! pulang-pulang minta makan!" ketus Bu Reny.


"Lihat apa! Ibu capek habis beres-beres rumah." kilah Bu Reny, minta di kasihani. Padahal seharian hanya menonton televisi sambil makan cemilan yang ia beli di warung dekat rumah sekalian membeli sandal jepit.


Diah pandangannya mengitari seisi rumah tampak bersih dan rapi hanya di ruang telivisi yang banyak kulit kacang bekas Ibu. Diah percaya tidak tahu bahwa Mawar dan Melati yang mengerjakan semuanya.


"Tumben! Ibu mau beres-beres? biasanya, Diaaaaah... sapu lantai dulu!" kata Diah menirukan omelan Ibunya ketika memarahi dirinya sambil mencebikkan bibirnya.


"Ibu, gilu loh" ucapnya, berbangga diri menepuk dada kemudian ikut duduk di samping Diah.


"Sekarang kamu pesan makanan pakai hp saja, Ibu juga lapar ini." Ibu mengelus perutnya.


"Uangnya mana?" Diah menggesek-gesekan jempol dan telunjuk, kearah Ibunya.


"Ibu nggak punya uang. Uang darimana Ibu? sedangkan uang dari Adit kemarin kan kamu yang pegang" bohong Ibu Reny seperti Ratu bohong, padahal uang dari Mawar baru di belanjakan 100 ribu.


"Ya elah Bu, uangnya Diah simpan di Bank kok, nggak aku pakai" sahut Diah entah benar atau tidak hanya Diah yang tahu.


"Ya ambil saja di Bank, kan bisa pakai hp" Ibu tidak mau kalah.


"Ya sudah, tapi nggak usah pesan online ya... beli di warteg depan saja 10 ribu murah meriah." pungkas Diah.


"Terserah yang penting kenyang" sahut Ibu Reny.

__ADS_1


Diah pun mengalah akhirnya kembali keluar rumah membeli nasi di warteg. "Kasihan juga Ibu capek, habis beres-beres." pikirnya.


__ADS_2