
Papa Johan, Mama Latania, dan juga Mawar masuk kedalam mobil. Mawar duduk di depan sebelah supir.
Sementara Papa dan Mama duduk di jok tengah, tampak Mama mengusap-usap punggung suamainya. Tidak sampai dua puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah.
"Kamu harus ikhlas Han, jangan terlalu menangisi kepergian anakmu, kasihan dia disana" Papa Wahit, memberi nasehat sahabatnya.
Papa Wahit dan Mama Sahina tadi pulang dari kuburan terlebih dahulu, lalu menunggu sahabat SMA Itu di rumah.
"Terimakasih Hit" lirih Papa Johan. Johan, Latania, Sahina, Wahit, dan juga Mawar berbincang-bincang di ruang tamu.
"Minumnya Pak, Bu." Tampak Melati membantu Bi Paijem membawa nampan, kemudian Bibi membawa piring kue.
Melati tadi tidak ikut ke kuburan. Sebab, membantu Bibi dan ART lainya merapikan rumah duka.
"Duduk sini nak" Mama Sahina menggeser duduknya agar Melati duduk di sebelahnya.
"Baik Bu" Melati pun ikut bergabung setelah memberikan nampan kepada Bi paijem.
"Suami anakmu belum pulang dari luar negeri Han?" Papa Wahit menyelidik.
"Belum" Begitulah jawaban Papa Johan jika di tanya hanya menjawab satu kata.
"Assalamu alaikum" suara salam dari arah pintu, seketika semua menoleh ke asal suara. Tampak Abim dan ketiga rekan kerjanya baru datang.
"Waalaikumusalam"
"Masuk nak" Mama Latania menyambut kedatangan mereka.
"Maaf Om, Tante, saya terlambat, turut berduka cita ya..." Abim dan rekanya menyalami Papa Johan, dan Mama Latania.
Kemudian menyalami Papa dan Mamanya sendiri, melirik Mawar dan Melati sekilas, ketiganya saling melempar pandang namun mereka tidak saling menyapa.
"Terimakasih nak, silahkan duduk" titah Mama Latania.
Abim dan ketiga temanya bergabung turut berbincang-bincang.
Jika di luar kantor Abim memanggil Papa Johan Om. Namun beda jika di kantor akan memanggilnya Pak.
"Kenapa kamu tidak datang bersama karyawan yang lain Bim?" tanya Papa Wahit, sebab semua karyawan tadi turut mengantar jenazah Silfi ke kuburan.
"Tadi sedang rapat di luar kantor Pa, mewakili Mas Adit, biasanya Riko yang mewakili jika Mas Adit tidak ada, tapi Riko juga ikut kesana" tutur Abim.
Mawar menatap Abim mendengar suaminya di sebut, lagi-lagi keduanya saling tatap.
"Selamat sore" datang lagi tamu menjeda obrolan. Semua menoleh, tampak Rony dan kelima teman kuliahnya hadir.
"Selamat sore" jawabnya serentak.
__ADS_1
"Masuk nak" kata Mama Latania.
Merekapun masuk kedalam. "Turut berduka cita Tante, maaf kami terlambat." ucap Rony dkk.
"Kalian siapa?" Papa Johan menatap mereka satu persatu.
"Kami bertiga mahasiswa Om" sahut Rony, Papa pun mengangguk paham.
"Duduk nak" titah Mama Latania.
"Terimakasih Tante"
Keempat teman Rony duduk di karpet.
Sedangkan Rony, duduk di sebelah Mawar. Mawar menggeser duduknya memberi jarak.
"Loe siapanya Bu Silfi Maw?" tanya Rony.
"Sama seperti kamu, saya kan mahasiswi" sahut Mawar masuk akal. Rony hanya mengguk-angguk.
Pelayat masih terus berdatangan mengingat Papa Johan adalah penguasa terkenal. Rekan bisnis, dan juga teman-teman Silfi, teman Mama Sahina hingga sore hari. Padahal tadi siang di halaman rumah yang luas Papa Johan di penuhi para pelayat.
"Cletek, cletek, cletek."
Suara sandal jepit swalow berwarna kuning tanpa di lepas, seorang Ibu berusia 45 tahun masuk kedalam rumah tanpa permisi.
Membuat seisi ruang tamu menatapnya, jika bukan suasana berduka pasti, terpingkal-pingkal.
Dasar Rony pria slengek an itu tidak betah jika tidak jahil.
Abim merasa malu menatap Bu Reny bergantian menatap diah yang tersenyum kepadanya. "Huh untung nggak jadi mertua gue." batin, namun pura-pura masa bodoh.
Bu Reny mengenakan celana merah polos menyala, baju berwarna balonku ada lima, rupa-rupa warnanya melangkah dengan angkuh.
Di ikuti seorang Bapak dan anak gadis yang masih ragu untuk masuk dan berdiri di depan pintu.
"Masuk saja pak" titah satpam yang mengantarkan beliau tadi.
"Hiks hiks...jeung kamu tega! menantuku meninggal tidak memberi tahu!" sergahnya ia melankah melewati Mama Sahina karena posisi duduk paling pinggir.
Mama Sahina dan Melati memiringakan lutunya agar tidak menghalangi.
Mama Sahina melirik Diah membatin "Oh ini to Ibunya, pantas. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Mama Sahina begidik ngeri.
Bu Reny telungkup di lutut Mama Latania sok dramatis.
"Hu huuu... menantu kesayangan aku telah pergi... hu huuu..." Bu Reny menangis jarinya ia renggangkan sedikit, mengintip Mawar yang duduk di samping Mama Latania, melotot tajam, Mawar tahu itu tapi mengabaikan saja.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk" Rony meneguk air pura batuk, semua pandangan beralih kepadanya. Rony kesal melihat ekting wanita itu.
"Sudah jeung kita ikhlaskan saja" sahut Mama Latania.
"Turut berduga cita Pak" Pak Renggono menjabat tangan besanya mengangguk sopan.
"Terimakasih" sahut Papa Johan kemudian menyuruh besanya duduk.
"Sebelah sini Pak masih kosong" Mawar menunjuk kursi di sebelah Rony yang masih kosong. Mawar melihat mertua laki-lakinya tampak kebingungan mencari tempat duduk.
"Sana, kamu geser gih" Mawar menyuruh Rony bergeser agar mertuanya laki-lakinya duduk di sebelahnya.
"Elah, loe!" sungut Rony tak urung geser juga.
Pak Renggono duduk di sebelah menantunya.
Kemudian Diah menberi kode teman Abim yang duduk di sebelah Abim agar pindah.
Teman Abim pun turun dari kursi pindah kelantai bergabung dengan teman Rony.
Dengan santainya Diah duduk di sebelah Abim, tapi belum sampai menyapa. Abim mengedipkan mata ke Mama Sahina sambil menunjuk jam.
Mama Sahina pun mengerti waktu
sudah menjelang Magrib. Mama Sahina dan Papa Wahit pamit undur diri.
Abim berdiri tidak menghiraukan Diah kemudian berbicara dengan temanya.
Diah mengeram kesal merasa di abaikan meremas celananya.
Abim berpisah dengan temanya karena ingin pulang bareng bersama Papa dan Mama. Abim yang menyetir mobil sedangkan Papa dan Mama duduk ditengah.
Mawar dan Melati pun pamit juga berboncengan motor melaju lambat di belakang Mobil Papa Wahit.
"Papa merasa aneh tidak, dengan kedekatan Mawar dan keluarga Johan?" Sahina akhirnya bertanya kepada Papa karena ingin menghilangkan rasa pemasarannya.
"Ibu ini, besanya Johan kan kampungnya dekat sama Mawar, ya pasti kenal dari mereka lah!"
"Iya juga ya Pa" pungkas Mama Sahina.
Mobil Mama Sahina berpisah dengan motor Mawar, saat sampai lampu merah.
Mawar pun langsung pulang. Sampai dirumah mandi kemudian beristirahat merebahkan diri di kasur.
Waktu bergulir, sudah pukul 00 Adit belum sampai di rumah. Mawar gelisah, betapa tidak? tadi siang Adit berangkat jam dua siang. Dari negara C ke Indonesia seharusya hanya dengan jarak tempuh delapan jam 15 menit.
Seharusnya jam 10 malam sudah sampai di bandara. Mawar mencoba berkali-kali menghubungi namun handphone Adit tidak aktif.
__ADS_1
Dari bandara menuju rumahnya dalam keadaan macet pun hanya dua jam, dan seharusnya jam 12 tadi sudah sampai.
"Kamu kemana sih Mas..." Mawar tampak prustasi matanya terasa kering, mencoba untuk tidur pun tidak bisa. Pikirannya mengembara kemana mana.