
Mobil Adit meluncur dikendarai oleh Risky. Tidak memakai waktu lama mereka sampai tujuan.
"Nah, disini tempatnya Dit" Wawan menunjuk lokasi, ternyata Wawan bukan menyewa Ruko melainkan tanah kosong dan sudah di plester dan di tutup dengan kanopi di atasnya.
"Kalau mau Ruko di sebelah ini di jual Dit, tapi dana kami tidak mencukupi." Wawan dan teman-temanya, mengajak Adit beserta Mawar melihat Ruko.
"Kita bisa bertemu pemiliknya Wan" Adit melihat-lihat Ruko sepertinya cocok. Jika harganya cocok, Adit berniat membelinya.
"Okay... aku antar" Adit beserta rombongan menemui pemilik Ruko yang tinggalnya hanya beberapa meter dari lokasi. Koh Ahong pria keturunan akhirnya menjual rukonya kepada Adit setelah tawar menawar.
Setelah sepakat, Adit mengajak istrinya bersilaturahmi ke kontrakan Wawan. Teman-teman Wawan yang lainya pulang kerumah masing-masing.
"Mawar..." Santi menghambur ke pelukan Mawar, setelah sampai di tempat. Mereka cipika cipiki tanya kabar dan bercerita panjang lebar.
"Oek... oek..." suara bayi terdengar dari kamar. Santi pun bergegas menggendong anaknya dan mengajaknya keruang tamu.
"Ya Allah... lucu banget anakmu Wan?" Mawar tampak berbinar.
"Boleh aku gendong San?"
"Boleh, biar cepat nular" Santi terkekeh, kemudian menyerahkan bayinya kepada sahabatnya itu, lalu kedapur membuat minuman.
Mawar pun menggendong anak Santi yang baru berumur dua bulan.
"Sudah cocok kamu yank" Adit menelisik bayi dalam gendongan Istrinya. "Andai saja kita sudah punya anak seperti ini Maw" monolog Adit.
"Andai aku dulu, tidak menunda kehamilan, mungin saat ini aku sudah memiliki dua anak. Dan kemungkinan, cerita hidupku akan berbeda tidak akan terjadi seperti ini." Mawar menatap Bayi dalam gendongan nya berkaca-kaca.
"Kalian kurang cuspleng ya, masak menikah sudah 6 tahun kok belum punya anak" ahahah. Wawan bercanda.
"Kita dong, walaupun baru menikah setahun langsung brojol." hahaha. Wawan terbahak-bahak tidak tahu jika pasutri sahabatnya itu sedang galau.
"Hus! nggak boleh bicara begitu" Santi mengingatkan suaminya seraya meletakkan air sirup di atas meja. Santi tahu jika sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
"Anak, rezeki, jodoh itu sudah ada yang mengatur, yang penting kita tetap berusaha." Santi menceramahi Suaminya.
"Iya Bu Uztadzah" sahut Wawan.
Setelah puas ngobrol mengenang cerita di masa-masa SMA dulu.
Mawar dan Adit pun pamit pulang.
***********
6 bulan kemudian, setelah Adit mulai merintis usaha. Kini sudah berjalan, dan sudah ramai. Adit promosikan kepada teman-teman, rekan kerja, dan kepada warga sekitar.
Adit sudah mengundurkan diri sebagai dirut sejak dua bulan yang lalu. Kondisinya pun sudah pulih tidak lagi kontrol ke dokter.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Mas, bengkel kamu sudah ramai" ucap Mawar tidak berhenti mengunyah satu kantong plastik cemilan makanan ringan ia lahap habis.
"Alhamdulillah yank, berkat doa kamu" Adit menoleh cepat kemudian kembali fokus kedepan. Saat ini Adit mengantar Mawar ke kampus.
"Kamu nggak kekenyangan Maw" tanya Adit heran, sudah menghabiskan sekantong cemilan masih meneguk susu UHT 250 ml hingga tandas.
"Hehehe, nggak" ucap Mawar cepat. "Aku kok akhir-akhir ini jadi rakus ya Mas?"
"Ya nggak apa-apa biar sehat" sahut Adit tanpa menoleh.
"Iya, tapi aku takut gemuk, lihat apa perutku?" Mawar menyingkap kemejanya hingga memperlihatkan perut mulusnya dan agak menonjol.
Adit menoleh sekilas kemudian kembali fokus menyetir.
"Kamu menggoda yank" Adit terkekeh.
"Aahhh...serius nih" Mawar cemberut. Begitulah Mawar saat ini setiap makan kadang nggak kontrol, tetapi sesudahnya menyesal.
"Ya terus kalau gemuk kenapa memang? aku tetap menerima kamu apa adanya kok" sahut Adit. Mobil pun sampai di depan kampus.
"Aku turun ya Mas" Mawar hendak membuka pintu.
"Kiss me" Adit menahan tangan Mawar. Mawar mencium tangan Adit.
"Yang ini belum" Adit menunjuk pipinya. Mawar mencium pipi Adit. Dengan cepat Adit melingkarkan tanganya di tengkuk istrinya dan ******* bibir Mawar dengan lembut.
"Iihh... kebiasaan dech Mas" Mawar cemberut kemudian merapikan kerudungnya yang berantakan karena ulah Adit. Mawar pun akhirnya turun kemudian melambaikan tangan didepan pintu mobil.
Adit tersenyum, "Ya sudah, hati-hati ya, nanti pulangnya aku jemput" titah Adit.
Adit memutar mobilnya balik pulang kerumah setelah istrinya hilang dari pandangan.
Mawar sampai di kampus, setelah pelajaran selesai, ia kekantin bersama Rosita. Di sana sudah ada Rony yang menunggu setelah hampir satu tahun mereka tidak pernah bertemu.
Rony menatap wajah Mawar tidak berkedip, dengan ekspresi wajah kagum wanita yang sudah lama ia tidak jumpai, kini semakin cantik pipinya berisi tubuhnya pun bertambah molek.
"Hai... bidorani cantik... kamu semakin cantik" Rony terkesima dengan Mawar.
"Jangan nggombal! ada apa? tumben. Kekampus?" tanya Mawar kemudian duduk di depan Rony.
"Paling minta di jajanin iyakan? ngaku!" tandas Rosita.
"Nggak, gue mau bayar hutang, kan gue dulu pernah janji ingin membayar hutang kalau gue sudah bekerja." kilah Rony.
"Ya sudah... mau bayar berapa?" tangan Rosita ngansung di hadapan Rony.
"Nggak lah, Mawar kan sudah kaya sekarang, nggak akan guna gue bayar tunai." Rony tersenyum sumringah menatap Mawar.
__ADS_1
"Ah, kamu bisa saja Ron" jawab Mawar.
"Gue traktir kalian saja, makan malam di kafe sebelah ya"
"Bagaimana Mawar? loe mau?" Rosita menoleh Mawar. Rosita akan ikut, jika bersama Mawar.
"Bagaimana ya? maaf dech Ron, lain kali saja ya" tolak Mawar jika Adit tahu pasti akan marah padanya.
"Elah loe! tega amat sih? gue sengaja sempetin datang kesini tuh, karena ingin ketemu kalian. Bentar saja ya Maw, please." Wajah Rony memelas.
"Ya sudah, tapi nggak usah jauh-jauh makan Ayam geprek di depan kampus saja ya" Mawar memberi solusi. "Di situ saja enak kok" sambungnya.
"Iya dech" Rony mengalah.
"Ya sudah, ayo" Rony cepat-cepat berdiri melangkah menyeberang jalan di ikuti Mawar dan Rosita.
Mereka memesan makanan di kedai depan kampus.
"Mau pesan apa kalian?"
"Gue ayam geprek satu, nasi setengah porsi, minum air putih saja" tegas Rosita.
"Gue Ayam geprek dua, nasi satu porsi, asinan satu porsi" ucap Mawar sambil ketik pesan untuk mengabari suaminya agar menjemputnya di tempat ini.
"Yakin loe Maw, akan makan sebanyak itu? biasanya pesan nasi seperempat saja loe nggak habis." kata Rosita menatap heran sahabatnya.
"Kita lihat saja nanti" sahut Mawar.
"Eh tunggu, gue perhatiin loe gemukan? loe hamil kali Maw?"
Deg" Rony mengangkat kepalanya cepat menatap wajah Mawar intens.
"Nggak tahu" Mawar hanya menggeleng.
Rony terkejut mendengar pertanyaan Rosita. Yang Rony tahu, saat ini Mawar sudah janda dan secepatnya akan mengutarakan perasaanya yang selama ini ia pendam.
Rony jatuh cinta pada Mawar semenjak pandangan pertama. Namun setelah mengetahui Mawar mengenakan cincin kawin Rony mundur teratur.
Setelah mendengar suami Mawar kecelakaan pesawat waktu itu, entah rasa senang atau sedih yang Rony tahu ia masih ada kesempatan untuk mendekatinya.
Pesanan pun datang. "Kita makan" ucap Rosita seraya ambil garpu dan sendok dari tempatnya.
"Kok kamu bengong sih Ron" Mawar memperhatikan Rony yang sedang melamun. Namun Rony tidak mendengar pertanyaan Mawar. Mawar menoleh Rosita.
Dok dok dok. "woe? kesambet apa loe?! Rosita menggetok-getok meja di depan Rony dengan gagang sendok untung pembeli saat ini sedang tidak ramai.
"Eh, ah, uh. I- iya" gugup Rony.
__ADS_1