
Kemarin saat Mawar baru keluar dari rumah sakit. Mawar ingin memesan taksi, tapi mengurungkan niatnya.
Mawar PoV.
Sebaiknya aku hubungi Mas Adit sekali lagi, siapa tahu di angkat. Aku lapar, dan ingin makan bersamanya.
"Mbak nunggu siapa?" tanya scurity menghampiriku, saat ini aku bersandar di salah satu tiang rumah sakit.
"Menunggu di jemput suami Pak." jawabku tersenyum yang aku paksakan.
"Silahkan duduk Mbak" scurity memberikan kursinya agar aku duduk, mungkin kasihan melihat aku berdiri dalam keadaan perut besar.
"Oh baik sekali orang ini" batinku.
"Terimakasih Pak"
"Sama-sama Mbak"
Aku duduk di dekat resepsionis, menekan tombol, telepon suami tapi tidak juga di angkat.
Aku kesal, akhirnya aku putuskan berjalan kaki menuju warung kecil penjual nasi rames ala kadarnya. Aku makan, kasihan anakku akhir-akhir ini aku sering terlambat makan.
Setelah kenyang aku akhirnya mengambil keputusan lebih baik pergi dulu untuk sementara waktu menenangkan diri. Rupanya Adit sudah tidak bisa di ajak musyawarah. Aku kemudian memesan taksi.
Dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Jika memang dia bekerja mengapa tidak pernah ada di bengkel setiap aku kunjungi.
Jika tadi dia menepati janjinya tentu aku tidak akan nekat seperti ini, aku tahu jika Istri pergi dari rumah di lihat dari sudut pandang manapun tetap salah, tetapi apa aku salah jika hanya ingin sekedar menghibur diri.
Jika tadi dia datang aku ingin mengajaknya makan dan momentum itu akan aku gunakan sebaik mungkin, berbicara dari hati ke hati.
Mau di bawa kemana rumah tangga ini. Dan juga aku ingin minta penjelasan mengapa dia akan menikah lagi dengan gadis Malaysia yang aku baca di undangan kemarin Aisyah Nur Azis.
Jika mengingat itu rasanya aku menyerah. Aku akan mengakhiri rumah tangga ku, walaupun aku sudah berjuang keras untuk bertahan. Aku hanya wanita pada umumnya yang punya batas kesabaran.
"Nona Mawar ya?"
Supir taksi mengejutkanku. "Oh iya Pak"
"Sebentar ya" sahutku kepada supir taksi. Lalu aku membayar nasi rames.
"Berapa Bu?" tanyaku kepada pedagang nasi.
"12 ribu saja Mbak"
"Baik Bu" Aku segera membayar nasi rames kemudian naik kedalam taksi aku matikan handphone. Biar aku beri pelajaran Adit, apakah dia akan kehilangan jika aku pergi. Setelah sampai tujuan nanti aku akan mengabari Melati pinjam handphone siapapun disana agar keluargaku tidak kebingungan.
"Non hanya sendirian?" tanya supir taksi kira-kira berumur 30 tahunan.
"Iya Pak"
"Jangan panggil Pak, Mbak, panggil saja Mas, biar awet muda" hehehe. Kelakar supir.
"Oh iya, saya panggil abang saja ya" sahutku lebih baik mengalah sebenarnya aku malas untuk berbasa basi.
"Boleh non, asal jangan panggil Bapak."
"Elaah... non, mau pergi jauh kok sendirian, sudah gitu lagi hamil pula." kata supir tampak banyak bicara.
__ADS_1
"Nggak apa-apa bang" aku menjawab seolah tidak terjadi apa-apa.
"Memang suami Non, nggak bisa nganterin dulu gitu? kok tega amat sih sama istri" omel tukang taksi.
Aku tidak menyahut batinku kesal ngapain sih? supir taksi ini ikut campur urusan orang lain.
"Soalnya istri saya lagi hamil delapan bulan non, mood nya kadang berubah, rubah. Tetapi saya senang bisa melewati momen ini, apapun yang dia minta saya turuti." tuturnya terkekeh mungkin dia ingat istrinya.
Aku tetap tidak menjawab pandanganku tertuju ke trotoar ada wanita hamil besar sedang berjalan di gandeng suaminya. Aku menelan saliva andai aku bisa seperti itu. Air mataku tidak bisa aku tahan. Bohong jika mulutku berbicara untuk tidak menangis lagi. Jujur hatiku menjerit.
Aku tidur miring di jok menyembunyikan tangisku kepada supir taksi yang dari tadi ngecipris membuatku semakin kesal.
*****
"Non, bangun, ini sudah sampai." aku mendengar suara berat membangunkan aku.
"Heeemm" jawabku. Aku seperti bermimpi di bangunkan Mas Adit.
"Sudah sampai Ciamis Non" aku baru sadar ternyata sedang di dalam mobil ketika supir taksi mengulangi dan memanggilku Non.
Aku membuka mata, kemudian duduk ambil handphone lalu memeriksa jam, ternyata sudah hampir maghrib, berarti perjalan mobil tadi hampir tiga jam.
"Sudah sampai Ciamis, terus kita kemana?" tanya supir.
"Saya belum shalat ashar bang, singgah sebentar di masjid depan itu ya" Di depan aku melihat ada Masjid.
"Baik non, saya juga mau shalat kok, sekalian maghrib ya" ucapnya. Supir lalu menepi.
"Iya" jawabku pendek, kemudian kami masuk kedalam masjid yang tidak jauh dari jalan. Setelah shalat ashar aku istirahat sebentar sambil menunggu adzan maghrib. Aku shalat mengunakan mukena Masjid karena aku memang tidak membawa apapun selain baju yang melekat di badan.
Setelah shalat aku membaca doa untuk Ibu, Bapak, dan juga untuk rumah tanggaku agar kami masih bisa bersatu, tidak ada orang ketiga. Sungguh berat aku menjalaninya.
"Antar saya ke kecamatan baregbeg bang, tapi sebelumnya mampir supermarket dulu, saya mau beli oleh-oleh"
"Baik Non"
Aku perhatikan sopir dari belakang, ternyata orangnya baik, aku salah sudah sempat kesal kepadanya tadi siang. Ternyata orangnya disamping tanggung jawab juga perhatian.
"Supermarket di depan itu non?"
"Betul bang"
Sopir parkir di depan swalayan kemudian aku membeli oleh-oleh dan juga membeli beberapa baju yang hangat. Sebab, biasanya di kampung Nini, suka dingin karena dekat dengan pantai.
"Ini buat abang" aku berikan cemilan juga untuknya agar buat nyemil di mobil waktu dia pulang ke Jakarta nanti.
"Terimakasih non, alhamdulillah... rezeki pasti istri senang, dia memang selama hamil suka ngemil" katanya.
Aku terharu supir ini ternyata sayang sekali dengan istrinya. "Ya Allah... Aku ingin suamiku seperti itu" aku membatin.
"Bang, sebaiknya kita makan saja dulu" kataku khawatir dia lapar kasihan juga menyetir setengah hari.
"Tidak usah non, paling nanti sampai di rumah jam sembilan, paling telat jam sepuluh, kasihan istri saya, pasti menunggu" tuturnya, aku lihat di matanya memang jujur.
Aku menjadi ingat Adit, sebelum ada orang ketiga dia sayang kepadaku. Apakah, saat ini dia juga masih sayang seperti dulu? entahlah.
Sejurnya aku rindu padanya.
__ADS_1
"Sampai disini saja bang" ucapku aku sudah sampai di pelataran rumah Nini. Nini adalah nenekku Ibu dari Bapakku.
"Oh, baik Non, dibantu bawa belanjaannya nggak?"
"Nggak usah bang, enteng kok, terimakasih ya" ucapku tanpa menunggu jawaban supir aku segera masuk halaman.
Aku lihat paman Jajang, sedang duduk di balai bambu di teras rumah, masih memakai baju koko dan peci. Tampaknya baru pulang dari Masjid duduk membaca yasin tanpa sadar kehadiranku.
"Assalamu alaikum"
Paman mendongak menatapku.
"Waalaikumsalam"
"Siapa kamu?" tanya Paman.
"Paman lupa ya? saya Mawar Mang"
Paman tertegun memandangku dari atas sampai bawah, maklum sudah lama juga kami tidak pernah bertemu. Terlebih, aku datang dalam keadaan hamil besar.
"Ya Allah... Mawar... kamu sama siapa? mana suamimu, mana si Entis?" Paman clingukan mencari dengan siapa aku datang.
"Saya sendirian Paman" aku tersenyum. Aku perhatikan Paman syok menerima kenyataan bahwa aku datang sendirian.
"Keterlaluan ya si Entis!" Paman tampak marah. Entis panggilan Bapak di keluarganya.
"Paman, jangan marah, saya nggak disuruh masuk? pegel nih" aku mengalihkan.
"Oh iya, ayo masuk nak" Paman mendorong pintu tergesa-gesa.
"Mak, Mak. Keluar Mak" Paman heboh memanggil Bibi.
"Apa sih, Abah, teriak-teriak begitu?" Bibi keluar membawa keranjang tempat ikan yang sudah setengah kering melipir di sampingku.
Braak.
Bibi menjatuhkan keranjang.
"Ka-- kamu Mawar kan?"
Aku mengangguk. "Iya Bik" rupanya Bibi masih ingat kepadaku.
"Kamu apa kabar nak?" Bibi memelukku.
"Alhamdullilah Bi"
"Eni sama Ridwan kemana Bi?"
"Mereka sedang ada kegiatan remaja Masjid nak"
Aku mengangguk.
Eni anak Bibi yang tertua yakni kelas tiga SMK, aku sering chatting dengannya. Sedangkan Ridwan masih SMP kelas tiga.
"Nini kemana Bi"
"Di kamar, kamu ingin segera bertemu? ayo Bibi antar."
__ADS_1
Kami sampai di kamar Nini. Beliau tampak sedang tidur. Nini menurut Bapak sudah sembilan puluh tahun walaupun masih sehat sudah pikun kami tidak nerani membangunkan karena kasihan biar besok saja.
Flashback off.