Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Karut marut.


__ADS_3

Adit menjalankan motornya menuju kediaman Ibu Reny dengan perasaan gundah gulana. Ia merasa sedih, dan kecewa. Dulu ketika tinggal di kampung tidak pernah merasa sekarut marut sekarang. Ternyata yang ia kehendaki di kota besar tidak berjalan sesuai ekspektasi nya.


Adit sampai di kediaman Ibunya ia mengangkat tangan, ingin memencet bel. Namun ia urungkan.


Rasa kecewanya kepada Ibu yang melahirkan dirinya 24 tahun yang lalu, kini sudah sampai puncak. Adit khawatir tidak bisa mengontrol emosi.


Bukan hal sepele bagi Adit, untuk mencapai kata kompromi dengan sang Ibu yang berbeda dua hingga tiga dekade dalam konteks orang tua yang selalu merasa benar.


Mengutarakan pendapat yang benar di anggap tidak menghormati. Dan berakhir dengan pertengkaran. Adit mendesah kasar mengangkat tangan kirinya mengetuk pintu, karena tangan kananya sakit.


"Ceklek" Pintu di buka Ibu menyembulkan kepalanya melongok siapa gerangan yang bertamu.


Adit menatap Ibunya masih memakai daster kumal, rambut acak-acakan tidak di sisir. Boro-boro mandi cuci muka saja belum. Tetapi bukan tujuan Adit datang kesini untuk mengomentari itu ada hal yang lebih penting rasa sesak di dada ingin segera ia longgarkan.


"Dit, kok tumben, kamu pagi-pagi sudah kesini? memang kamu tidak bekerja?" Ali-ali menanyakan kabar Bu Reny justuru khawatir jika Adit tidak bekerja tentu tidak akan mencukupi kebutuhan dirinya.


"Terus... kenapa dengan muka kamu?" cecar Ibu dengan beberapa pertanyaan menunjuk wajah Adit.


"Nggak usah basa basi, Bu!" ucap Adit kesal, kemudian masuk kedalam tanpa disuruh. Menerobos Ibunya yang masih berdiri di pintu kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan kasar.


Bu Reny menutup pintu kemudian menyusul anaknya berdiri di depan Adit.


"Kenapa kamu Dit? datang-datang kok marah-marah?! tukas Ibu sambil berkacak pinggang.


"Apa yang sudah Ibu katakan kepada Ibunya Mawar?! tanya Adit to the point.


"Ibu sudah menyakiti hatinya kan...? IYA KAN...!! bentak Adit lalu berdiri. Menatap Ibunya nyalang.


"Tundukkan kepalamu Dit!" ucap Bu Reny merasa takut menatap anaknya menatapnya devil. "Demi membela mertuamu sampai kamu berani membentak Ibumu yang sudah melahirkan kamu Dit." Jika sudah terdesak kata melahirkan menjadi senjata bagi Ibu Reny.


Adit mengatur nafasnya yang kembang kempis. Kemudian kembali duduk.


"Ada apa ini? teriak-teriak?" tanya Diah yang baru menuruni anak tangga, kemudian mendekati kakak dan Ibunya yang masih menegang.

__ADS_1


Mendadak hening ketiga orang itu larut dalam pikiran masing-masing. Diah menatap wajah kakaknya yang menahan marah lebih baik diam kemudian ikut duduk.


"Apa yang ibu katakan kepada mertua Adit Bu?" Adit mengulangi pertanyaanya kali ini menurunkan intonasi suara.


"Loh, loh. Memang Ibu bilang apa sama mertua kamu? sudah ngadu apa istri kebanggaan kumu itu!" kata Bu Reny dengan nada mengejek.


"Brak! Adit menggebrak meja. Membuat Ibu Reny dan Diah terkesiap.


"Katakan Bu!" Adit kembali berteriak. Diah mengangkat pundak memirigkan kepalanya seperti orang yang takut di pukul. Diah menciut tidak berani berkutik


"Ibu nggak bilang apa-apa kok, hanya bilang menantuku yang kedua ini kaya, memberikan rumah, tidak seperti anakmu yang hanya bisa menadah" Ibu menirukan kata-katanya sendiri ketika bicara dengan besanya kemarin dengan lancar tanpa ada rasa menyesal.


Adit menatap tajam Ibunya, jika bukan orang tua yang melahirkanya mungkin sudah di buat perkedel.


"Ya nggak salah to! Ibu bilang begitu! karena memang kenyataanya begitu!" Ibu kekeh dengan pendiriannya.


"Astagfirlullah Ibu... Ibu harus tahu, Adit bisa begini, karena siapa Bu? karena Mawar Bu" Adit benar-benar bingung dengan sikap Ibunya.


"Mawar dari dulu hingga sekarang sudah berjuang demi kita, tapi dengan seenak udel Ibu bicara begitu."


"Belum lagi aku sudah menyakiti hatinya karena menikahi wanita lain,


tetapi Ibu justeru menambah luka di hatinya."


Adit bingung harus memberikan pengertian dengan cara apa, dengan cara halus nggak bisa, apa lagi dengan cara kasar. Adit menghela nafas berat. Di satu sisi beliau Ibunya, tetapi di sisi lain Ibunya harus di berikan peringatkan.


"Mulai bulan ini, saya tidak mau memberikan jatah uang bulanan kepada Ibu" kata Adit akan memberikan pelajaran kepada Ibunya.


Ibu dan Diah menatap Adit cepat.


"Adit akan cukuputi kebutuhan Ibu, saya belikan sembako komplet, dan keperluan lainya"


"Ya terserah kamu Dit, lha wong kemarin kamu beri uang saja dihabiskan sama Diah kok, Ibu hanya di jatah 500 ribu." adu Ibu kali ini benar yang di katakan Ibu Reny. "Itu juga ibu pakai buat beli keperluan dapur" sambung Ibu Reny.

__ADS_1


Adit menatap Diah tajam.


Diah menunduk memainkan kukunya tidak berani menatap kakaknya.


"Kamu buat apa uang yang selalu aku transfer Diah? bukankah uang kuliahmu sudah aku jatah sendiri!" Adit marah kepada adiknya.


"An- anu kak" sahut Diah gagap.


"Tidah usah anu-anu kamu Diah, mulai semester depan kamu harus mencari biaya kuliah sendiri, jika kamu ingin lanjut kuliah." ucap Adit tegas.


"Ya nggak bisa begitu kak, terus hanya ijazah SMA mau cari kerja apa aku?" protes Diah.


"Itu terserah kamu Diah, Mawar juga hanya lulusan SMA tapi bisa kok, mencari uang sendiri, bahkan bisa mengantarkan kakak hingga menjadi sarjana, kamu harus belajar sama Dia." pungkas Adit.


"Adit pulang Bu!" Adit keluar rumah setelah menyalami ibunya, kemudian setarter motor melesat pergi meninggalkan tempat itu.


Bu Reny menatap kepergian anaknya dari pintu kemudian masuk kedalam dan menguncinya.


"Benar apa kata kakakmu, kamu harus cari kerja!" tukas Ibu Reny kemudian duduk.


"Ibu sih? suka nggak kontrol bicara, begini kan jadinya?! ketus Diah, tidak mengoreksi diri, padahal dirinya pun kelakuanya sama.


...Keduanya terdiam akal bulusnya mulai ia terapkan demi dirinya sendiri. "Aku harus mendekati Abim kembali, apa pun caranya. Hanya dengan merengek saja, Abim pasti akan menurut." Diah tersenyum licik. ...


Lain Diah lain Ibu. "Tidak ada cara lain aku harus mendekati besan" Bu Reny mengangguk-angguk sendiri.


****


"Loe kenapa Mawar, loe nggak kerja? terus kenapa muka loe kusut begitu?" Rosita mencecar pertanyaan sabatnya. Karena tidak biasanya sahabatnya itu main kerumah pagi-pagi. Apalagi sambil menangis.


Mawar tidak menjawab justeru memeluk tubuh sahabatnya menumpahkan air matanya.


Rosita pun hanyut terbawa perasaan ikut menangis.

__ADS_1


"Sudah Mawar, duduk yuk" ucap Rosita memeluk pundak sahabatnya kemudian mengajaknya duduk. Rosita merasa kasihan melihat keadaan sahabatnya.


Rosita tidak mungkin menanyakan panjang lebar tentang apa yang di rasakan sahabatnya dalam keadaan seperti ini. Rosita kemudian kedapur menemui Bibi agar membuatkan minuman hangat untuk sahabatnya itu.


__ADS_2