Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Reny vs Paijem.


__ADS_3

Melati menatap tangan Abim yang masih memegangi pergelangan tanganya. Melati menghirup parfum Abim sangat memabukkan, rasa kesalnya pun hilang. Ingin rasanya berlama-lama dekat dengan pria yang di jodohkan orang tuanya itu.


"Plok, plok, plok"


Terdengar tepukan tangan mereka menoleh.


Dua orang wanita pengganggu datang mendekat.


"Oh, kamu menjauhi anak saya selama ini, karena dia to?" Bu Reny menunjuk Melati menyeringai.


Bola mata liar Bu Reny pun langsung jelalatan, mengitari seisi ruangan memang tampak mewah. Sederet furnitur kayu jati yang tersusun rapi. Siapa lagi yang mengisi perabot kalau bukan Mawar sendiri yang memilih. Setiap habis gajian Mawar membeli perabot untuk mengisi rumahnya yang masih kosong waktu itu.


Melati menatap tidak suka. "Kenapa sih! dua orang itu harus datang kesini?" Melati membatin.


Melati memang tidak mengetahui kedatangan Bu Reny. Karena melihat pintu rumah Mawar terbuka Bu Reny dan Diah langsung masuk tidak permisi dulu.


Diah tidak mempedulikan ucapan Ibunya. Sebab, bola matanya melotot melihat tangan Abim yang masih memegangi pergelangan tangan Melati. Diah menahan rasa emosi.


Melihat tatapan devil Diah, Abim kemudian melepas tangan Melati.


"Kamu sudah masuk perangkapnya to? hahaha... pasti kamu sudah kena pelet!" Bu Reny tertawa di buat-buat, menuduh dengan seenaknya.


Abim tidak menyahut kemudian duduk bersilang kaki, merogoh handphone kemudian mengotak atik.


"Hati-hati loh Bim, mendekati keluarga sial seperti mereka, nanti kamu pasti ketularan sial." oceh Bu Reny, namun Abim hanya bersikap datar.


Melati juga ingin masuk saja, mendingan berkumpul dengan Intan dan Mama Sahina daripada mendengarkan omelan yang bukan siapa-siapa nya itu.


"Tunggu!" sarkas Bu Reny, menghentikan langkah Melati. "Mana si pembawa sial itu! gara-gara dia anakku mati!" Bu Reny menunjuk-nunjuk Melati.


Abim terperangah mendengar omelan Bu Reny, yang kasar. Namun dia hanya diam saja.


Melati tidak menghiraukan ucapan Bu Reny tetap melangkah pergi, bukanya tidak sopan, tetapi sikap mertua kakanya sudah keterlaluan.


Bu Reny mengejar Melati.


Sementara Diah duduk di sebelah Abim. "Ada hubungan apa kakak sama Melati?" sergah Diah, menatap Abim kesal.


"Walaupun saya ada hubungan, dengan siapapun! apa urusanmu?! tukas Abim.


"Secepat itu ya? kakak melupakan aku?" Diah memiringkan wajahnya ingin menatap wajah Abim lebih dekat. Sekesal apapun kepada pria yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun itu, Diah masih sangat mencintainya.

__ADS_1


"Ish, apa sih kamu, miring-miring begitu?" "Nggak jelas!" Abim kesal kemudian menggeser duduknya. "Tidak usah drama Diah! kamu kan? yang sudah memutuskan aku!" Abim ingin berdiri namun tanganya ditarik kasar oleh Diah, hingga kembali duduk.


"Ayo lah kak... jangan begitu kek, aku yakin kok, kalau kamu masih mencintai aku." dengan percaya dirinya Diah berucap, sebelah tanganya merangkul pinggang Abim.


Abim menyingkirkan tangan Diah dari pinggangnya. "Sudah berapa kali gue bilang Diah, jangan suka menyentuh tubuh gue?! kali ini Abim berdiri lagi menatap sinis Diah, berkata gue karena saking kesalnya.


"Alaah... jangan munafik Abim, buktinya baru saja kamu pegang-pegang Melati kan?! tukas Diah kemudian ikut berdiri melotot tajam, sambil tolak pinggang.


Abim tidak menimpali justru keluar meninggalkan Diah yang masih emosi.


Diah mengepalkan tangannya masih ngos ngosan karena emosi. Diah kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi.


****


"Kemana si pembawa sial itu?! sarkas Bu Reny ingin masuk kedalam kamar Mawar. Namun di halangi oleh Simbok. Simbok merentangkan kedua tangannya kedua sisi pintu.


"Awas... minggir!" Bentak Bu Reny, mendorong tubuh Simbok kesamping, tetapi tenaga Simbok lebih kuat.


"Minggir nggak!" Ancam Bu Reny mengangkat sapu yang tadi di bawa-bawa Simbok mengacung acungkan kearah Simbok.


"Apa? mau nantangin? ayo!" Simbok menyingsingkan lengan baju, siap bertanding. "Anda boleh pakai sapu, saya bertangan kosong." kata simbok menepuk-nepuk dadanya mencibir. Dua wanita itupun mengambil ancang-ancang.


"Brak" Bu Reny memukul Simbok dengan gagang sapu. Namun Simbok berkelit ke samping hanya kena pintu. Bu Reny melakukan sekali lagi Simbok berkelit lagi.


"Apa kamu bilang?! Bu Reny semakin emosi di bilang begitu.


"Hahaha... anda masih kurang jelas? yang suka bertengkar dengan kucing dan selalu kalah itu siapa?! Simbok terbahak-bahak.


"Tikus!" Bu Reny menjawab dengan lancar.


"Hahaha... berarti anda ini tikus!" Simbok menunjuk dada Bu Reny. "Ahahaha..." Simbok memegangi perutnya, karena kebanyakan tertawa.


Bu Reny semakin marah, karena terjebak dengan kata-katanya sendiri.


"Iya, kalau saya tikus, berarti kamu itu kucing!" Bu Reny tak mau kalah.


"Memang saya kucing, kucing itu banyak di sukai orang, sedangan tikus? hiii...menjijikkan." ujar Simbok mlengos.


"Kurang ngajar?! Bu Reny merasa kalah telak, mengangkat sapu.


"Brak" Bu Reny memukul pintu kamar Mawar karena Simbok masih kekeh menghalangi pintu.

__ADS_1


Untung kamarnya kedap udara jika tidak, mungkin semua sudah kebisingan mendengar pertengkaran mereka. Namun walaupun kedap udara jika di gebrak pintunya tentu orang yang sedang di dalam akan terdengar.


Mendengar kegaduhan, Mama Sahina, Intan dan Melati, keluar dari kamar setelah Izin sama Mawar.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Mama Sahina lembut.


"Mana wanita pembawa sial itu? saya ingin bicara!" Bu Reny ingin menerobos masuk.


"Hait... tidak bisa!" Simbok mencekal lengan Bu Reny dan memutarnya kebelakang seperti tahanan polisi.


"Ada apa ini? semua masalah bisa di bicarakan Mbak." kata Mama Sahina lembut.


"Suruh wanita sialan ini! melepas tangan saya!" Bu Reny menggerak-gerakkan tanganya ingin lepas tetapi tenaga Simbok sangat kuat.


"Lepaskan Mbok" titah Mama Sahina.


"Tapi nyonya?" Simbok menatap Mama Sahina jika melepas Bu Reny khawatir masuk kekamar Mawar.


"Lepas Mbok" titah Mama Sahina. Simbok melepas tangan Bu Reny. Namun sebelumnya mengedipkan mata kepada Melati dan Intan seolah berkata. "Jangan biarkan wanita ini masuk."


Melati dan Intan merapat menghalangi pintu.


"Sebainya kita bicara di bawah saja Mbak, kasihan Mawar kebrisikan, sedang sakit soalnya" kata Mama Sahina bijak.


"SUDAH SAYA BILANG! SAYA MAU BICARA DENGAN MENANTU PEMBAWA SIAL ITU...!!!"


"Pret... pret... prepeeetttt..."


Bu Reny berteriak, tak hayal angin dari dalam perut berhembus dengan kencang. Bau comberan menguar. Mama Sahina yang berdiri paling dekat mengibas kibas tangangannya di bawah hidung.


"Hoek, hoek..." Simbok yang berdiri tepat di belakang Bu Reny ngibrit kekamar mandi.


"Hihihi... Melati dan Intan yang masih menjadi penjaga pintu cekikikan menutup mulutnya.


Langsung mendapat plototan dari Ibu Reny. "Ngapa kamu ketawa?!


"Melati... Intan..." Mama sahina menatap Melati dan Intan memperingatkan, walaupun bagaiman Ibu Reny orang tua. Anaknya harus bersikap sopan.


"Ibu... astagfirlullah... apa yang Ibu lakukan di sini?" Pak Renggono suami Bu Reny datang ngos-ngos san dengan wajah kuyu.


Tadi Pak Renggono sedang jualan sayuran, mendengar tetangganya bahwa Bu Reny berkunjung kerumah Mawar.

__ADS_1


Pak Reggono pulang jualan bergegas menyusul istrinya. Pak Renggono khawatir istrinya berbuat macam-macam. Dan ternyata benar adanya.


__ADS_2