
Ibu Reny sampai di teras rumah merogoh kunci dari kantong dengan wajah merengut kemudian membuka pintu.
Ceklek.
Braaak.
Ibu Reny membuka pintu dengan kasar hingga membentur tembok. Kemudian masuk kedalam tidak perduli dengan dua wanita di belakangnya, tidak menyuruh masuk, dan tidak juga melarang.
Dengan santainya, Mawar mengekori sambil menggandeng Melati.
Mawar menelisik seluruh penjuru ruang tamu hingga ruang keluarga yang ia tinggalkan sejak dua bulan yang lalu, sungguh berantakan.
"Memang Mbok Paijem kemana Bu?" Mawar belum tahu jika Mbok Paijem tidak bekerja di rumah ini lagi.
"Sudah di pecat!" jawabnya sambil ngeloyor meninggalkan menantunya.
Mawar menggelengkan kepala, kaos kaki bekas pakai mungkin milik Diah berada di atas meja.
Dua handuk masih tersampir di kursi, debu berada di mana-mana. Dengan memencet hidung, Mawar menjinjing kaos kaki dengan dua ujung jarinya karena tidak kuat mencium kaos kaki yang bau bentek lalu melemparkan kemesin cuci.
Mawar mencari sapu di dapur, keadaan dapur pun lebih parah, setumpuk piring kotor di wastafel. Panci, penggorengan semua terbalik. Mawar lagi-lagi geleng-geleng kepala.
"Mel... kesini, bantu kakak" panggil Mawar agak kencang.
"Iya kak" Melati yang sedang di ruang tamu menghampiri kakaknya. Matanya terbelalak tatkala melihat keadaan dapur hampir semua perabot terlentang sudah gitu berkerak semua.
"Kamu cuci piring gih, kakak mau nyapu, ngepel dulu" ucap Mawar kemudian ambil sapu.
"Ya ampuun...adik iparmu itu perempuan bukan sih kak!" gerutu Melati sambil mengumpulkan perabot hingga menimbulkan bunyi karena kesal.
"Kalau kerja yang ikhlas... biar dapat pahala Mel" nasehat Mawar sebenarnya Mawar pun merasakan hal yang sama.
Mawar, dan Melati dengan cepat membereskan rumah hingga kinclong.
Setelah selesai Mawar ke kamar mandi karena menahan pipis, di kamar mandi harus extra hati-hati. Sebab, kamar mandinya berlumut hijau kehitaman "Ih jijik" gerutu Mawar segera keluar dari kamar mandi untuk yang ini Mawar membiarkan.
Mawar berjalan ke meja makan, ingin minum membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Sebab, niat awal ingin minum tadi lupa karena melihat keadaan rumah.
Ali-ali berterimakasih, Ibu Reny justru bicara ketus.
__ADS_1
"Kalau mau minum ambil air putih saja! di sini nggak ada gula" ketus Ibu Reny memencet air minum dari dispenser kemudian meneguknya sambil berdiri, padahal di meja dapur tadi Melati membereskan gula yang di kerubungi semut karena tidak di tutup.
"Kalau saya... minum sambil berdiri begitu, suka di marahi sama Ibu" sindir Melati.
"Nggak usah sok ngajari! bocah kemarin sore kamu tuh!" omel Ibu Reny.
"Uhuk uhuk uhuk" Bu Reny batuk-batuk hingga wajahnya merah.
"Pelan-pelan Bu, bener kata Melati kata dokter juga kalau sedang minum harus duduk" ucap Mawar. Melati yang masih berdiri di samping Mawar tertawa di tahan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kenapa kamu tertawa? orang lagi tersedak juga! NGGAK SOPAN!" tukas Ibu kesal.
"Nggak Bu, maaf" ucap Melati.
Ibu kemudian berjalan menuju kursi menjatuhkan bokongnya dengan kasar.
Mawar, dan Melati kemudian menyusul masing-masing membawa gelas.
"Kemana si Adit?" tanya Ibu Reny setelah duduk, tanpa menoleh lawan bicaranya.
"Mas Adit lagi nggak enak badan Bu" sahut Mawar.
"Nggak apa-apa Bu, paling masuk angin" bohong Mawar, jika cerita yang sebenarnya bisa-bisa Bu Reny ngamuk.
"Ibu nanti ikut kesana!" ketus Ibu Reny.
"E, anu, besok saja Bu, saya jemput pakai mobil, kalau sekarang kan saya membawa motor" Mawar beralasan. Jika ikut sekarang melihat keadaan Adit bisa panjang urusanya.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Ibu kepada Melati. Tetapi tidak menatap wajahnya. Mawar mendengar mertuanya mengalihkan pembicaraan agak lega.
"Saya Bu?" Melati menunjuk dirinya.
"Ya siapa lagi? memang ada orang lain! selain kamu!"
"Oh kirain? soalnya... Ibu bicara melihat tembok sih, saya kira Ibu bicara dengan tembok" jawab Melati meledek, langsung di sikut Mawar.
"Ya kamu itu, muka tembok!" Ibu membalikkan kata-kata.
"Oh sama Bapak, Ibu" jawab melati kemudian.
__ADS_1
"Oh, orang tua kalian ikut to? benar kan, kata saya...pasti mau minta uang!" sinis Ibu Reny skeptis.
"Sudah siang Bu, saya pulang dulu ya..." pamit Mawar sudah capek beres-beres, menahan lapar, di tambah mendengar hinaan mertuanya, Mawar ingin cepat pulang.
"Iya, kamu pasti lapar kan? lagian! saya nggak masak!" tukas Ibu tampak membuang muka tadi sempat melihat Mawar mengelus perut karena lapar.
Melati mengepal tanganya dan memperagakan ingin memukul wanita setengah baya yang sedang menoleh, karena saking jengkelnya.
"Ini, Ibu beli lauh saja, nggak usah masak, pasti Ibu capek kan? habis debat dengan satpam hampir setengah hari?" Mawar menyerahkan uang merah 10 lembar. Ibu Reny menoleh cepat, kemudian menerima.
"Huh, ini uang Adit kan?! Ibu menghitung lembar demi lembar dengan semangat.
"Bukan Bu, ini uang saya sendiri, yang buat nebus pajangan tadi juga uang saya kok." pungkas Mawar memang benar uang itu miliknya sendiri.
"Ya sudah. Saya nggak mau menerima kalau begitu!" meletakkan kembali uangnya di atas meja, entah gengsi atau apa padahal kalau melihat duwit biasanya langsung hijau.
"Oh, gitu... ya sudah... kalau Ibu nggak mau menerima... saya ambil lagi ya" Mawar pura-pura melipat uang kertas tersebut. Namun, secepat kilat Ibu Reny merebut dari tangan Mawar. Lagi-lagi Melati tertawa di tahan menelungkupkan wajahnya di badan Mawar, rasa kesalnya tiba-tiba menguap.
Mawar pun akhirnya pulang, setelah mencium punggung tangan Ibu. Kali ini membiarkan tanganya di cium menantunya itu. Sebab, sudah mendapat uang merah 10 lembar kemudian membeber uang bergambar Pak Soekarno tersebut di atas meja. Senyum merekah di bibirnya, tidak perduli Mawar dan Melati sudah keluar meninggalkan dirinya.
Sejak bertemu Mawar, baru kali ini Ibu Reny tersenyum.
"Lumayan... buat beli sandal jepit" gumamnya, sambil berjalan kedepan kemudian mengunci pintu.
Mawar mejalankan motornya kali ini lebih santai, tidak sampai 10 menit sudah sampai di rumah. Sebab, tengah hari jalanan cukup lengang.
"Ahahaha..." Melati kemudian tertawa terbahak-bahak di depan garasi ingat tingkah Ibu Reny yang merebut uang tadi sungguh menggelikan.
"Ngapain sih kamu? anak perempuan kok ketawanya begitu!" omel Mawar menoyor kepala adiknya kemudian masuk kedalam rumah.
Bapak sama Ibu ternyata sedang duduk di ruang tamu. "Kalian sudah pulang nak?" tanya Ibu Riska.
"Ahahaha..." Ali-ali menjawab Melati justeru melanjutkan tertawanya sambil memegangi perutnya. Ibu sama Bapak mengerutkan dahi, kemudian menatap Mawar minta penjelasan.
"Ih! kamu ini nggak boleh loh, mentertawakan orang tua! dosa tahu!" omel Mawar.
"Sudah cuci tangan sana! terus siapkan piring kita makan siang dulu" ucap Mawar kemudian meninggalkan Melati masuk kekamar melihat keadaan Adit.
"Eh, baru pulang Maw? kok lama?" tanya Adit, kali ini Adit sudah duduk, mungkin sudah lebih baik. "Terus bagaimana masalahnya sudah selesai?" Adit menyambung pertanyaan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Beres" sahut Mawar kemudian menjatuhkan tubuhnya di kasur karena lelah. Adit menatap istrinya yang terpejam sedang memijit pelipisnya. Adit sudah tahu, pasti Ibunya sudah berbuat yang tidak menyenangkan.