
Saat Ibu Riska dan Mama Latania berbincang-bincang membicarakan Mawar. Papa Johan dan Pak Sutisna pun sama.
"Jadi Mawar kemarin mengamuk di acara pernikahan keponakan Pak Johan?" Bapak terperangah, mendengar cerita Pak Johan. Pasalnya, anaknya yang biasa mengalah sampai berani nekat melabrak pernikahan orang yang belum jelas pernikahan siapa.
"Iya, tapi Mas Sutisna, tenang saja, Mawar belum sempat menemui pengantinya, begitu dia saya sapa malah melampiaskan kekesalanya kepada saya." tutur Johan, menggeleng ingat tadi pagi.
"Astagfirlullah..." Pak Sutisnya meraup wajahnya.
"Terus... bagaimana sebaiknya Pak, apa Mawar kita beritahu sekarang, tentang keadaan Adit?" tanya Pak Sutisna.
"Jangan dulu, Mas, sebainya kita tunggu sampai selesai caesar nanti sore" saran Papa.
"Saya khawatir, jika Mawar melihat keadaan Adit, justeru semakin setres, padahal kita sudah susah payah menenangkan Mawar." imbuh Papa Johan, lalu di angguki Pak Sutisna.
"Tapi, memang dua minggu yang lalu, saya perhatikan Adit sibuk sekali Pak, setiap hari pulang hingga larut malam. Mungkin, Mawar menjadi curiga membaca gelagat yang tidak beres." tutur Pak Sutisna.
"Ketika saya tanyakan kepada Adit. Adit bilang sedang membantu Bapak" sambung Pak Sutisna.
"Benar, dan itu memang kesalahan saya" Papa berkata jujur.
"Kesalahan? maksudnya?" Pak Sutisna penasaran.
"Perusahaan kami kehilangan dana hingga milyaran" Pak Johan menarik napas panjang kemudian melepaskan.
"Setelah kami selidiki dengan Aditia keponakan saya, ternyata ada tiga karyawan yang melakukan korupsi saat perusaahan masih di pimpin Adit" terang Pak Johan.
"Tapi bukan Adit yang melakukan, kan Pak?" cecar Pak Sutisna.
"Ya jelas bukan Mas, kami kemudian mememui Adit untuk membantu mencari tahu siapa karyawan yang tidak bertanggung jawab saat itu." Papa Johan tampak menahan marah.
"Perusahan kami sedang mengalami krisis, dan kehilangan banyak dana, padahal dana itu untuk membayar gaji karyawan." Pak Johan terlihat risau.
"Itu masalahnya Mas, mengapa Adit selalu pulang malam, saya pikir Adit sudah menceritakan kepada Mawar." sesal Papa, mengapa Adit tidak berbicara dengan istrinya sehingga menjadi kesalah pahaman.
"Lalu, apakah sudah di ketahui siapa pelakunya Pak?" Pak Sutisna masih mencecar pertanyaan.
"Alhamdulillah, berkat bantuan Adit, misteri itu bisa kami pecahkan, ternyata ada tiga orang karyawan di bagian keuangan yang menipu kami." Papa menggeleng ingat ketiga karyawannya yang saat ini sudah di tahan, dan sedang proses persidangan.
Pak Sutisna manggut-manggut mendengarnya.
"Mas Sutisna, saya mohon maaf sepertinya saya harus kembali ke hotel, pasti saat ini keadaan disana sedang kisruh" Pak Johan seketika ingat pesta, membayangkan apa yang terjadi dengan pernikahan Aditia keponakannya.
"Silahkan Pak, saya minta maaf atas nama Mawar" sahut Pak Sutisna tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas, Mawar tidak bersalah, Mawar hanya korban keegoisan saya, sehingga membuatnya trauma." lagi-lagi Pak Johan menyesal.
"Saya yang akan bertanggung jawab meluruskan masalah ini." tekat Pak Johan. Pak Johan sebenarnya tidak tega meninggalkan Mawar, tapi apa boleh buat, Pak Johan memikirkan perasaan Aisyah juga, pasti sedang tidak baik-baik saja. Seharusnya sedang berbahagia disaat pernikahannya. Namun semua sudah terjadi, Pak Johan lah yang harus bertanggung jawab.
Pak Johan pun berangakat bersama istrinya kembali ke hotel.
*******
Jam berlalu, sore pun tiba. Mawar dan Melati melaksanakan shalat Ashar di kamar inap. Sedangkan Pak Sutisna beserta ibu, shalat berjamaah di mushola.
"Kak, kakak yang kuat ya, jangan stres, semoga operasinya lancar" nasehat Melati setelah selesai shalat sambil melipat mukena.
"Aamiin..." sahut Mawar, setelah kehadiran keluarganya Mawar saat ini sudah lebih tenang, ia terus berdoa untuk keselamatan anaknya, berusaha untuk tidak memikirkan apapun.
"Masih bergerak-gerak seperti waktu itu nggak kak?" tanya Melati memegangi perut Mawar.
"Ya nggaklah, kan sudah mau lahir" Mawar menoleh Melati saat ini mereka duduk di sofa.
"Oh kirain kak"
"Menurut cerita orang, katanya kalau lahir tujuh bulan, lebih tua dari delapan bulan ya kak?" tanya Melati.
"Awalnya kakak juga berpikir begitu Mel, tapi kata dokter itu hanya mitos." terang Mawar.
"Oh, iya sih, aku juga pernah membaca katanya seperti itu kak"
"Kak, aku mau tanya, sebenarnya kakak kemana sih... pergi selama seminggu kemarin?" tanya Melati hati-hati, mengganti topik pembicaraan.
"Kerumah Nini" jawab Mawar sambil meringis menahan sakit.
"Oh ya Allah... kalau tau kakak kesana aku kemarin ikut, kakak sih... kemarin pergi nggak bilang-bilang." Melati cemberut, sebenarnya Melati tidak masalah, yang penting kakak nya senang, da pun ikut senang. Melati hanya ingin tahu kemana kakaknya pergi.
"Nanti kalau anak kakak sudah beberapa bulan gitu, kita kesana" Mawar membayangkan anak yang lucu dalam gendongannya tersenyum, melupakan sejenak perutnya yang sakit.
"Iya, ya, kak. Sudah lama juga aku nggak kesana, tapi Nini sehat kan kak?"
"Alhamdulillah... tapi sudah pikun. Kamu tau nggak? waktu kakak baru datang nggak di anggap." Mawar kembali tersenyum, mengingat neneknya.
Melati menatap kakaknya senang, sekarang sudah mau tersenyum, tidak seperti ketika siang tadi.
"Sakit lagi ya kak?" tanya Melati mengusap pundak Mawar, melihat kakaknya sampai berjongkok di lantai dan membenamkan wajahnya di sofa.
Mawar tidak menyahut.
__ADS_1
"Masih lama nggak sih..." Melati sudah tidak sabar operasi kakaknya ingin dipercepat tidak tahan melihat kakanya menahan sakit.
"Sudah siap Mbak, kita segera keruangan bersalin ya" dua orang suster masuk kedalam mendorong kursi roda, Melati bernapas lega.
"Sudah sus" sahut Melati senang, sedih, tegang, campur aduk. Mengingat kakaknya akan di operasi. Melati mengikuti suster mendorong Mawar keruang operasi.
"Mbak menunggu di luar ya" ucap suster, ketika Melati ingin ikut masuk kedalam. Melati tidak menyahut, patuh menunggu di luar ruangan. "Semangat ya kak" Melati melambaikan tangannya kepada Mawar. Mawar mengangguk tersenyum.
10 menit kemudian. "Mel, kakakmu kemana?" Pak Sutisna dan Ibu Riska berjalan tergesa-gesa. Pasalnya, setelah shalat tadi mencari anaknya keruangan rawat tidak ada.
"Sudah di dalam Bu" sahut Melati. Bapak dan Ibu paham kemudian melantunkan do'a-do'a dalam hati agar caesar berjalan lancar.
50 menit kemudian. "Selamat Nona, bayi anda laki-laki." ucap suster. Bayi mungil dengan berat 2, 3. Lahir kedunia, buah cinta Mawar dengan Adit.
Mawar menitikkan air mata. Air mata bahagia. Walaupun Mawar belum melihat seperti apa wajah baby boy. Karena suster segera membawa baby boy, keruangan inkubator setelah di bersihkan. Sementara Mawar dipindahkan keruang rawat.
"Selamat ya kak, muach... muach" Melati mencium pipi kiri kanan Mawar.
"Bagaimana keadaanmu nak?" ibu tampak khawatir kemudian memasangkan kerudung yang di lepas ketika operasi tadi.
"Tidak apa-apa kok bu, hanya nyeri di bagian bekas jahitan" lirih Mawar.
"Tapi aku, masih memikirkan anakku Bu, bagaimana keadaanya?" Mawar sedih, sebab tadi mendengar selentingan dari dokter, dan suster, kemungkinan anaknya akan di inkubator selama satu bulan.
"Yang sabar... serahkan kepada Allah... teruslah berdoa ya, nak" nasehat Ibu.
"Memang, bagaimana keadaan baby boy kak?" tanya Melati.
Mawar menggeleng. "Semoga sehat ya Mel" sahutnya.
"Sekarang kamu mau apa nak? Bapak carikan ya..." hibur Pak Sutisna.
"Aku mau makan, aku lapar..." kata Mawar perutnya kruk-kruk minta diisi.
"Oh iya, mau makan apa? Bapak belikan nak" sahut Pak Sutisna semangat.
"Apa saja, tapi yang hangat-hangat" sahut Mawar.
"Iya nak" Pak Sutisna senang sekali, sudah berapa tahun anaknya tidak lagi bermanja-manja kepadanya, dan saat inilah kesempatan untuk memanjakan anaknya.
Bapak kemudian keluar membeli cah brokoli dan juece alpukat tanpa ice di restoran sebelah. Tidak lama kemudian kembali
"Ini... Bapak belikan sayuran, bagus untuk wanita setelah melahirkan, dulu ibumu waktu melahirkan kalian, Bapak yang memasak sayuran berwarna hijau." tutur Bapak sibuk mengeluarkan makanan dari kantong dan memberikan kepada Mawar.
__ADS_1
Mawar kemudian duduk. "Sini Ibu yang suapi ya" Ibu menyuapi Mawar.
Mawar menatap Bapak dan Ibunya bergantian selama menikah tidak pernah lagi sedekat ini kepada kedua orang tuanya.