Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi

Cerita Mawar Suamiku Menikah Lagi
Buaya Buntung.


__ADS_3

Minimarket sudah tersusun rapi lengkap dengan pemasangan CCTV biar bagaimana cara ini harus tetap dilakukan untuk menghindari maraknya pencurian.


Mawar juga memerintahkan anak buahnya untuk membagikan brosur kerumah-rumah dalam rangka promosi.


Karena toko Mawar berada di kawasan komplek perumahan. Mawar cenderung lebih banyak stok barang sembako, rokok, makanan ringan dan minuman.


Sepanduk terpampang lebar bertuliskan (ROSE SHOP.) Toko Mawar red. Itulah nama yang di cantumkan Mawar.


Tempat yang strategis, dan tersedia lahan parkir ini sudah di persiapan oleh Adit karena rencananya memang untuk usaha.


Tepatnya hari minggu Mawar mulai green opening. Untuk menarik pelanggan.


Mawar mengadakan pemotongan harga lima persen setiap belanja 100 ribu kepada setiap pengunjung.


Mengapa hari minggu? sebab jika hari minggu kebanyakan penghuni komplek dan warga sekitar kebanyakan libur.


Pelanggan mulai berdatangan Mawar dan Melati berkutat di depan kasir di bantu kedua orang karyawan.


"Selamat ya Maw, loe hebat" kedua sahabat Mawar datang berkunjung.


"Jangan hanya memberi selamat, belanja dong." kelakar Mawar kepada kedua sahabatnya Rosita dan Rony.


"Pasti lah nanti goe borong" sahut Rosita. "Nanti gue beli susu buat anak gue." sambung Rosita.


"Gue juga mau ngutang sembako buat nyokap, nanti kalau gue sudah gajian gue bayar." kelakar Rony langsung kena omelan Rosita.


"Boleh sih ngutang, tapi jam yang kamu pakai buat jaminan." sambar Mawar terkikik.


"Yeah nggak bisa begitulah, jam tangan ini ada sejarahnya sama mantan, kalau loe mau, akik gue saja nih buat jaminan." Rony menunjukkan akik bermata ungu kepada Mawar.


"Idih buat apa?" Mawar meremehkan.


"Ye loe nggak tahu saja, akik ini ada isinya loh, usaha loe semakin laris." jawab Rony asal.


"Ah dasar, kamu musrik Rony!" sergah Rosita.


"Kesini ikut aku" Mawar mengajak kedua sahabatnya masuk ke ruang istirahat para karyawan.


"Mau minum apa?" tanya Mawar.


"Minumannya gratis kan?" seloroh Rony.


"Dasar loe! sudah kerja juga masih minta gratisan terus." Rosita menoyor jidat Rony.


Mawar hanya menggeleng melihat Rosita dari dulu selalu konyol kepada Rony. Mawar kemudian mengambil teh kotak dan kacang untuk menjamu temanya.


"Eh gue mau ke sebelah mau makan baso" kata Rosita.

__ADS_1


"Ayo" Mawar mengajak kedua sahabatnya ke sebelah, setelah pamit Melati dulu.


"Tapi loe bayarin gue ya Ros" imbuh Rony.


"Ih, dasar loe! cowok nggak mau modal!" sungut Rosita saat berjalan menuju kios baso, kata-kata itu sudah sering Rosita ucapkan.


"Tenang Ron, kalian kan tamu, makan sepuasnya gratis kok" Mawar menengahi.


"Tapi cowok ini kebangetan Maw, kalau punya bini bagaimana kalau pelit begitu?" omel Rosita.


"Ya beda lah, kalau sama bini mah jangankan duwit, jerohan gue saja gue kasihin kok." sahut Rony tak mau kalah.


"Idih wanita mana yang bakal mau sama cowok kaya loe! jerohan sih loe kasih! yang ada jerohan itu di buang ke wc." kata Rosita mlengos kesal.


"Eh! yang gue maksud jerohan dodol! bukan isi jerohan!" Rony ikut kesal.


"Ya ampun... kalian ini kalau nggak ribut sekali saja kenapa sih." lerai Mawar.


"Apa lagi wanita di sebelah gue ini yang menjadi bini gue, jantung hati gue saja kalau dia minta gue serahin." Rony tersenyum menaik turunkan alisnya, menatap Mawar.


"Ngaco kamu! kalau jantungmu kamu kasih ke aku nanti kamu mati." jawab Mawar. Terkekeh.


"Sini duduk" ucap Mawar setelah sampai di kios baso.


"Selamat sore Bu" Rosita menyalami Ibu Riska di susul Rony bergantian menyalami Pak Sutisna.


"Anwar lagi di ajak jalan sama mertua Bu." jawab Rosita kemudian duduk di kursi di samping Rony.


"Ini spesial buat kalian" Mawar membawa baso sebesar bola, namanya baso raket.


"Bujuk buneng! loe yang bener saja Maw, gue nggak bakalan habis lah." Rosita merasa kenyang melihat tampilan baso.


"Sudah tinggal makan saja, repot loe, tenang saja kalau loe nggak habis gue jadi penadah." pungkas Rony.


"Memang dasar loe mah, perut gentong! seberapa pun muat!" pungkas Rosita, kemudian minta mangkok kosong basonya di belah dua separoh di letakkan di depan Rony setengahnya di makan.


Mereka pun menikmati baso, dalam diam.


"Kamu katanya sudah kerja, kerja dimana Ron?" tanya Mawar setelah menyecap teh kotak yang ia bawa dari minimarket tadi.


"Gue kerja di Grocery Store, yang terkenal itu." sahut Rony.


"Wah... hebat kamu, aku juga di ajak kerja sama. Sama pemilik Grocery Store. Yang menawarkan malah prmiliknya langsung." Mawar pun menerawang ingin menjadi pengusaha sukses seperti beliau.


"Sebagai apa loe, bekerja di sana Ron?" Rosita menimpali.


"Manajer pemasaran." sahut Rony lalu menghabiskan minuman kemudian mereka pamit pulang.

__ADS_1


****


Rose shop sudah berjalan satu bulan stok opname sudah di lakukan oleh karyawan Mawar. Dari hasil laporan karyawan. Hasilnya sudah memenuhi target, Mawar tersenyum mengembang.


Namun senyum itu menghilang tatkala mengingat bahwa hari ini tepat 6 tahun ulang tahun pernikahannya dengan Adit.


Kenangan masalalu kembali hadir, dalam ingatan Mawar. Moment seperti ini selalu ia rayakan berdua walau dalam keadaan senang maupun susah.


Mawar meletakkan berkas di atas meja kerja kemudian kekamar. Mawar membuka laci ambil foto selfi mereka berdua ketika di pantai. Kemudian membawanya ketempat tidur.


Mawar menelusuri wajah dalam fose foto yang berdiri di sebelahnya, dengan jari telunjuk. Pria tinggi, berwajah mirip Anjasmara.


Yang ia cintai selama 10 tahun tidak mampu bergeser dari hatinya sedikitpun.


Air mata Mawar pun lolos, walaupun pria ini sudah melukai hatinya. Namun rasa sakit itu hilang ketika mengingat hal-hal baik yang pria ini lakukan.


Tidak menyangka ternyata foto ini hari terakhir untuk mereka bertemu.


Mawar kembali meletakkan foto kedalam laci, kemudian ambil jaket milik Adit yang ia gantung dalam lemari. Yang dipakaikan Adit ketika di pantai saat itu.


Mawar lalu memakai kembali jaket itu. Ambil kunci motor, bergegas keluar lalu pergi setelah pamit kepada Bapak dan ibunya ke sebelah.


Mawar menuju pantai di mana terakhir mereka bertemu. Sepuluh menit bukan waktu yang lama Mawar sampai di tempat. Tempat ini sangat sepi karena bukan hari libur.


Mawar duduk di tepi pantai memandangi laut luas, terik matahari tidak menghalangi langkahnya hanya ingin mengenang kembali saat terakhir mereka bertemu.


"Kamu dimana Mas Adit?" hiks hiks Mawar berbicara sendiri, sambil menatap laut.


"Aku di sini sayang..."


Mawar terperangah ketika ada suara yang ia kenal.


"Aah... aku sudah gila! karena terlalu berhalusinasi sampai mendengar suaranya." Mawar kembali berbicara.


"Kamu tidak berhalusinasi sayang..." suara itu terdengar kembali.


Mawar merinding bulu kudunya naik semua. Suara itu semakin jelas di telinganya. Bola mata Mawar mengerling ke segala arah.Tetapi tidak melihat siapa pun.


"Jangan bingung, aku disini" pria yang di cintainya itu muncul dari balik perahu, hanya setengah badan. Menggunakan kaos putih lengan pendek, memakai topi hitam trendy sangat tampan dan lebih putih dari terakhir ia bertemu. Ia tersenyum memamerkan gigi putihnya.


Mawar menggigit bibir bawahnya diam membisu. Berekspresi takut, apa iya suaminya memang benar-benar masih hidup? Mawar lalu membuka mulutnya membentuk hurup o matanya tidak berkedip.


Mawar seketika ingat dongeng buaya buntung berwarna putih yang menjelma menyerupai manusia. "Ya Allah... aku di hantui hantu buaya buntung" gumamnya.


Memang dalam keyakinan dirinya bahwa suaminya itu masih hidup. Tapi secara logika mana mungkin? suaminya itu benar-benar masih hidup, sudah jelas pesawat yang di tumpanginya meledak saat itu. Mawar mencubit lengannya sendiri. "Mimpikah aku? tapi kok sakit." gumamnya.


"Kok melamun?" Adit melangkah keluar dari persembunyian hingga terlihat celana jins hitam yang ia kenakan, berjalan mendekati Mawar.

__ADS_1


"Hantuu..." Mawar berlari tunggang langgang menjauh dari tempat itu hingga terjatuh kemudian bangun kembali.


__ADS_2