
Adit menggandeng Mawar keluar dari mushala kemudian menuju restoran dekat rumah sakit.
"Mau pesan apa Mas?" tanya Mawar sambil membolak balikkan buku menu.
"Kamu sendiri pesan apa?" Adit balik bertanya.
"Gurame saos padang, enak kali ya Mas" Mawar menjawab.
"Ya, samain saja pesanya" ucap Adit.
Mawar kemudian memesan menu setelah Wattress datang.
"Mas" panggil Mawar, menatap Adit yang sedang check email.
"Kenapa?" Adit menyimpan handphone kemudian menatap lekat wajah Mawar.
"Minggu depan kata Melati Bapak sama Ibu mau kesini" tutur Mawar.
"Oh ya bagus Maw, nanti kita jemput saja kekampung" ucap Adit bersemangat.
"Ih, nggak semudah itu Mas, Mbak Silfi itu sedang meregang nyawa masa kita tinggalkan sih!" ucap Mawar cemberut.
"Nanti kita titip Mama dulu Maw, minta jagain Silfi, lagian naik pesawat kan bisa pp, naik penerbangan yang pagi hari." jawab Adit enteng.
"Nanti kita bicarakan lagi ya Mas sekarang kita makan dulu" ucap Mawar, sebab Wetress sudah membawa makanan.
"Ayo" sahut Adit.
Satu ekor gurame saos padang sudah tersedia di meja. Adit sudah mulai melahap makanannya. Namun, Mawar hanya mengamati saja.
"Ayo di makan Maw, kok dilihatin terus" Adit memperhatikan istrinya yang sedang melamun.
"Aku kasian sama Mbak Silfi Mas, kita makan enak, terus Mbak Silfi menahan rasa sakit" Mawar terlihat sedih.
"Sudah lah Maw, semua sudah menjadi kehendaknya, kita sedihpun tidak akan membantu. Justru kita nanti yang akan sakit, kita hanya bisa berdoa." nasehat Adit.
Mawar kemudian mengangguk, menyuap makan siangnya walaupun hanya sedikit.
Selesai makan mereka kembali kerumah sakit, di depan ruang ICU Mama Latania tampak mengamati anaknya dari kaca, di dalam sedang ada dokter tidak ada yang boleh masuk.
"Ma" suara Adit mengejutkan Mama.
"Eh kamu Dit" ucap Mama Latania kemudian menatap wajah Mawar.
"Mama sendirian, Papa kemana?" pandangan Adit menyusuri sekeling tidak tampak Papa Johan.
__ADS_1
"Papa tadi pulang lagi, setelah mengantar Mama, katanya ada keperluan" sahut Mama.
" Oh, iya, kenalkan Ma, ini Istriku" ucap Adit.
Mawar mengangguk hormat kepada Mama Latania kemudian mencium punggung tangannya.
Di luar dugaan, Mama Latania tiba-tiba merosot kelantai bersujut mencium kaki Mawar. "Maafkan Mama nak, maafkan Mama... hiks hiks.
Mawar tersentak kaget, secepat kilat berjongkok membangunkan Mama Latania. Mengakat pundaknya yang terasa lemas.
"Ibu... jangan begini Bu" Mawar berusaha membangunkan Mama Latania namun terasa berat, Adit pun akhirnya turun tangan.
"Maafkan Mama nak, hiks hiks, sekali lagi maafkan Mama... hu huuu..." Mama Latania menangis pilu setelah berhasil duduk sambil memeluk tubuh Mawar hingga sulit untuk bernafas.
"Sudah Bu...semua sudah takdir" sahut Mawar sudah tahu arah pembicaraan Mama Latania.
Adit hanya diam mematung memandangi dua wanita yang duduk berpelukan di lantai rumah sakit.
"Mama sudah memutus jalanmu kedepan nak, andai Mama bisa memutar waktu, Mama akan terima yang sudah digariskan oleh Allah" kata Mama serak air matanya membasahi baju Mawar.
Mawar tidak menjawab hanya mendengar keluh kesah wanita yang berusia sekitar 60 tahunan itu.
"Sudah Ma, duduk di atas yuk" Adit kemudian menarik tangan Mama Latania agar berdiri. Ketiganya berjalan menuju kursi ruang tunggu kemudian duduk, lalu Mama Latania melanjutkan mengeluarkan beban berat yang Mama tahan selama ini.
"Sampai-sampai Mama ribut besar sama Papa" Mama mengingat kejadian saat Adit masih kuliah dulu Papa Johan sudah menyusun rencana.
"Hingga Mama dan Papa selalu bersi tegang selama kurang lebih tiga bulan. Tapi rupanya tekat Papa sudah bulat, tidak mendengar kata-kata Mama lagi" jujur Mama.
Mawar melirik wanita yang duduk disebelah kananya terlihat rapuh, Mawar merasa kasihan. Sedangkan Adit duduk di sebelah kiri Mawar menggenggam tangan Mawar.
"Ketika Papa sedang bingung, saat menyusun rencana bagaimana caranya agar bisa mencari jalan untuk mendapatkan suami kamu. Mama selalu berdoa agar tidak ada jalan"
"Karena Mama tahu, jika Adit sudah beristri. Seandainya Adit bisa bersatu dengan Silfi pun, pasti banyak orang yang akan tersakiti" Mama merogoh tisue dari dalam tas dan menghapus air matanya.
"Tetapi entah kenapa bak gayung bersambut suami kamu melamar pekerjaan di kantor kami"
"Papa seperti mendapatkan angin segar begitu Adit melamar kerja di kantor langsung memulai ide gilanya" tutur Mama Latania panjang lebar.
"Sudahlah Bu... jangan terlalu di pikirkan, tidak semata-mata salah suami Ibu, toh Mas Adit sendiri pun menerimanya" ucap Mawar lirih.
Adit yang dari tadi hanya diam pun terjingkat kaget mendengar ucapan Mawar.
"Terus sekarang apa yang harus Mama lakukan nak, agar bisa menebus kesalahan Mama?" Mama Latania kembali berjongkok di lantai.
"Tidak ada cara lain Bu, kecuali saya mengikuti alur cerita hidup saya yang mungkin sudah di takdirkan walaupun terasa kejam. Allah tidak akan menguji hambanya, di luar batas kemampuan" tutur Mawar membuat Mama Latania semakin bersalah.
__ADS_1
"Ya Allah nak... kenapa masih ada di dunia ini, wanita seperti kamu" puji Mama.
"Saya sudah bertekat Bu, akan saya jalani semua ini, biarkan orang berbicara apa"
"Walaupun awalnya saya merasa hancur berantakan dalam hidup saya, karena merasa di bohongi oleh Mas Adit"
Adit menoleh cepat melirik Mawar ada rasa penyesalan yang semakin bertambah.
"Tetapi, apa bedanya jika saya membenci, itu artinya saya menjadi pendendam. Dan justeru akan membuat hati saya tidak tenang" pungkas Mawar.
"Tidak ada pilihan lain untuk saat ini yang harus kita lakukan, kecuali kita berdoa untuk kesembuhan Mbak Silfi Bu" pungkas Mawar.
"Terimakasih nak"
Setelah mengeluarkan unek-uneknya Mama sedikit lega kemudian menyarankan agar Adit mengajak Mawar pulang.
*****
Dua hari berlalu, jam 4 sore Mawar sudah selesai bekerja, ia turun dari lift, bergegas ke parkiran setelah membaca chat dari suaminya.
"Sudah lama Mas?" tanya Mawar mencium punggung tangan suaminya, kemudian Adit mencium kening Istrinya.
"Belum kok" sahut Adit.
Mawar masuk kedalam mobil setelah Adit membukakan pintu. Mobil meluncur kekampus seperti biasa setelah pulang kerja Mawar langsung kuliah.
Tidak jauh dari situ Abim sedang mengawasi dari dalam mobilnya gerak gerik Aditya yang saat ini menjadi boss nya di kantor, dan juga sahabat adiknya.
"Pak Adit menjemput Mawar? ada hubungan apa mereka?" monolog Abim jarinya mengetuk-ketuk setir sambil berpikir keras. "Gue harus selidiki" gumamnya sambil melempar kunci mobil keatas kemudian menangkapnya.
Yang Abim tahu, Adit adalah suami Silfi pemilik perusahaan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Abim turun dari mobil ingin mengantar berkas milik Papanya yang tertinggal di rumah.
"Oh goe tahu, pasti mereka berselingkuh di belakang pasangan mereka! kurangajar!" Abim mengepalkan tangan.
"Sore Pa" ucap Abim setelah sampai di ruangan Papa Wahit.
"Sore nak" sahut Pak Wahit.
"Ini berkas yang Papa suruh ambil, tapi kenapa tidak besok saja sih Pa? inikan sudah waktunya pulang kerja."
"Iya, tapi berkas ini penting sekali" sahut Papa sambil meneliti berkas yang Abim bawa khawatir ada yang tertinggal.
"Kapan sih Bim? kamu mau menggantikan Papa memimpin konveksi ini?" tanya Pak Wahit.
Abim tidak menjawab pertanyaan Papanya.
__ADS_1