
"Mbak, Mbak. Sudah sampai Jakarta" supir membangunkan Mawar ketika di pom bensin.
Mawar mengerjapkan mata, melihat sekeliling tampak kebingungan.
"Mbak, kita sudah keluar tol, terus kita mau kemana?" tanya sopir taksi sopan dan lembut. Sopir paham, jika Mawar masih belum sepenuhnya sadar dari kas bangun tidurnya.
"Oh, ya Allah... iya pak, saya bingung" Mawar menyingkap lengan baju muslim untuk melihat jam, saat ini sudah jam delapan.
"Pak, hari ini bisa minta tolong nggak? mengantarkan kemana pun saya pergi?" Mawar menatap sopir taksi yang masih menunggu petugas pom selesai mengisi bensinya.
"Oh, tentu bisa Mbak" sopir taksi bersemangat.
"Untuk biaya perjalanan dari Ciamis sampai kesini, saya bayar dulu. Selebihnya, setelah acara saya selesai, bagaimana?" Mawar memberi penawaran.
"Siap Mbak" sopir menoleh Mawar tersenyum.
Mawar mengeluarkan sejumlah uang sesuai tarip, lalu menambahkan sedikit. "Ini terima dulu Pak"
"Terimakasih, Mbak" ucap sopir kemudian menghitung uang. "Ini kelebihan, Mbak" sopir tampak jujur.
"Biar saja Pak, sengaja saya lebihkan" sahut Mawar, sambil memasukkan dompet nya kembali kedalam tas slempang.
"Terimakasih Mbak, semoga lancar rezekinya"
"Sama-sama Pak. Aamiin." ucap Mawar.
"Bapak sudah sarapan?" tanya Mawar khawatir sopir taksi belum sarapan.
"Hehehe... belum" sopir menggaruk tengkuknya. "Kalau boleh saya mau izin sarapan sebentar Mbak" sopir menambahkan.
"Ya sudah, kita jalan saja, nanti cari restoran yang di pinggir jalan" titah Mawar.
"Siap Mbak" sopir menyahut, kemudian menjalankan mobilnya.
"Di depan itu ada warung nasi padang Pak, saya juga mau ikut sarapan" Mawar ingin makan untuk mempersiapkan energinya, tadi pagi hanya menyuap bubur sedikit tentu tidak nendang untuk wanita hamil sepertinya.
"Baik Mbak" sopir taksi parkir setelah sampai di depan restoran, kemudian turun membukakan pintu untuk Mawar. Mereka masuk kedalam restoran memesan makanan. Selesai makan Mawar minta di antarkan ke butik.
"Pak, di dekat sini ada butik nggak?" tanya Mawar sambil melihat-lihat di pinggir jalan barang kali melewati butik.
"Ada Mbak, butiknya sudah terkenal, saya sering mengantar orang kesitu." terang sopir.
"Oke, antar saya ya, Pak."
"Siap Mbak"
__ADS_1
Sopir mengantarkan Mawar ke butik kemudian sopir menunggu di samping mobil, mengeluarkan rokoknya yang sudah ia tahan dari tadi pagi.
Mawar memilih baju hamil untuk pesta pernikahan. "Yang ini bagus sis, cocok untuk anda" penjaga butik memberikan gaun warna merah marun. "Ini tidak ribet sis, nyaman di pakai untuk wanita hamil, atau mau yang sarimbit, suaminya mana?" sambungnya.
"Baik Mbak, saya ambil yang ini saja" Mawar tidak mau menanggapi pertanyaan penjaga butik. Setelah mendapatkan yang ia cari Mawar meminta sopir taksi agar mengantarkan ke salon.
Sampai di salon kecantikan, Mawar segera minta izin ke toilet menuntaskan buang air seni yang dari tadi dia tahan. Mawar kemudian duduk di kursi didepan kaca.
"Ada yang bisa di bantu Sis? mau potong rambut, lulur, creambath, atau yang lain?" tanya seorang pria yang menyerupai wanita menghampiri lalu mempromosikan salonya.
"Mau dirias bang" sahut Mawar.
"Jangan panggil bang Sis, panggil saja fransisca" tolaknya.
"Oh, maaf, fransisco" Mawar menyeringai.
"Fransisca Sis, bukan Fransisco!" tolak waria.
"Sis mau di rias? mari" datang wanita cantik menghampiri Mawar. Mawar tampak lega bisa bebas dengan laki-laki kemayu tadi.
"Iya" singkat Mawar.
Mawar kemudian di rias sangat cantik. Setelah selesai,
Mawar minta izin keruangan tertutup. Kemudian mengganti pakaiannya dengan baju muslim yang indah.
"Kita perjuangkan Ayahmu nak" gumamnya tersenyum.
******
Sementara itu, disalah satu hotel terbesar di Jakarta, yang biasa di gunakan untuk fasilitas umum sudah di persiapkan. Ballroom hotel sudah di hias dengan pernak pernik mewah untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan yang akan di langsungkan setelah dzuhur nanti. Sementara akad nikah akan di laksanakan jam 11 di ruang musholla hotel.
Diruang kecantikan seorang gadis cantik sedang dirawat dan di manjakan, dengan segala perawatan kecantikan yang telah di sediakan pihak hotel, dan sudah di rias oleh MUA.
"Aisyah, kamu sudah mencintai calon suami kamu?" tanya Zulaiha, sahabat Aisyah yang mendampinginya dari Penang.
Aisyah menggeleng. "Nggak tahu, Zul, tapi aku nyaman ketika sedang bersamanya." tuturnya dengan kas bahasa Malaysia
"Semoga kamu bahagia ya Syah" Zulaiha mendoakan.
"Aamiin... terimakasih ya Zul, aku sebenarnya belum mau menikah secepat ini, kamu kan tahu, kita baru berumur 20 tahun." Asiyah terlihat resah.
Aisyah sebenarnya masih ingin kuliah, tanpa ada yang menggangggu. Namun Nur Azis pria kelahiran dari Jawa timur yang menikah dengan wanita asli Malaysia itu kekeh anaknya ingin segera menikah.
Mau tidak mau Aisyah menurut dengan cacatan ia ingin tetap kuliah sampai selesai. Dengan senang hati Nur Azis menyanggupinya. Akhirnya Aisyah gadis cantik kelahiran Malaysia itu, di jodohkan dengan pria pilihan orang tuanya.
__ADS_1
******
Diruang hotel 003 seorang pria yang akan menjadi suami Aisyah pun sudah selesai di rias. Dengan pakaian adat jawa terselip keris di punggung yang sudah dihias dengan bunga melati, sangat gagah dan berwibawa. Namun, ia tampak tidak tenang.
"Loe kenapa sih? dari tadi mondar mandir terus?" tanya sahabatnya yang menemani.
"Gue nervous Yon" sahutnya.
"Loe, kaya yang baru pertama kali menikah saja" sergah sahabatnya menyeringai.
"Loe sudah mencintai bocah kecil itu?" tanya temanya jika menyebut Aisyah bocah kecil karena usianya baru menginjak 20 tahun.
Calon pengantin pria itu memang sedang bingung, mungkin ini salah satu ujian ketika akan melangsungkan pernikahannya
Keraguan untuk meneruskan menikah pun muncul, terutama di hari H. Keraguan, ketakutan, membuatnya stres, dan menjadi lebih sensitif. Seseorang yang spsial dimasa lalu tidak mau enyah dari ingatan.
Pria itu menarik napas panjang, jujur dia belum bisa melupakan istrinya yang terdahulu. Namun, siapa yang akan menolak jika di jodohkan dengan gadis cantik seperti Aisyah. Aisyah bukan hanya cantik, baik soleh, dan yang jelas lemah lembut jika bertutur kata.
Tok tok tok.
Pintu kamar ada yang mengetuk salah satu MUA membukanya.
"Tuan, mohon segera kebawah, penguhulu sudah menunggu" titah salah satu pemandu pernikahan.
Pria itu turun dari lift di temani tiga orang pria temanya, kemudian duduk didepan penghulu. Akat nikah ini hanya di hadiri keluarga terdekatnya.
*****
Diluar, wanita yang sedang hamil ingin masuk namun di tahan scurity karena tidak menunjukkan undangan.
"Bu, mohon kerja samanya, saya hanya menjalankan tugas" titahnya.
"Pak tolong saya, pak. Saya mohon. Saya jauh-jauh datang kesini untuk menghadiri acara pernikahan saudara saya" kilah Mawar.
"Kami hanya menjalankan tugas Bu"
Mereka pun berdebat saling bersi tegang. Mawar melirik jam sudah hampir jam 11, itu berarti ijab kobul akan segera di laksanakan. Mawar mendorong scurity sekuat tenaga, kemudian menerobos masuk dengan cepat. Samar-samar Mawar mendengar ijab kabul sedang di laksanakan.
"Wahyu Aditia, saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau, dengan ananda Aisyah Nur Azis dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya, Aisyah Nur Azis bin Nur Azis dengan mas kawin tersebut, tunai."
Sah
Sah
__ADS_1
Sah
Mawar berdiri di pintu mushola menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Kini harus menerima kenyataan, bahwa harus siap menjadi janda di usianya yang ke 25 tahun. Mawar mengelus perutnya kini ia menangis bukan untuk diri sendiri. Namun ia menangis untuk anak yang di kandungnya.